
Selesai berbincang-bincang, Fariz berpamitan kepada Nurmala dan Nia. Fariz harus kembali ke kantor, masih ada urusan yang harus di selesaikannya.
"Fariz pamit tante, Nia!" pamit Fariz.
"Iya nak! kamu hati-hati ya!" balas bu Nurmala lembut.
"Iya mas hati-hati di jalan!" timpal Nia.
"Fariz!" panggil Nurmala.
"Iya tante?" sahut Fariz.
"Jangan panggil saya tante! mulai sekarang panggil saya ibu ya!" pinta Nurmala.
Nia dan Fariz mengalihkan pandangannya ke Bu Nurmala, ia hanya tersenyum.
"Iya..panggil saya ibu mulai sekarang!" perintah Nurmala.
"Baik bu!" Fariz menuruti perkataan Nurmala.
"yasudah, saya pamit ya! Assalamualaikum!" ucap Fariz memasuki mobilnya.
__ADS_1
"Waalaikumussalam..." jawab Nia dan Bu Nurmala berbarengan.
Nia memperhatikan mobil Fariz hingga tidak terlihat lagi di ujung jalan komplek. Nia dan bu Nurmala kembali ke dalam rumah, Nia berjalan menuju kamarnya dan menaruh barang-barangnya di atas sofa kecil yang ada di dekat kasurnya. Lalu Nia menuju kamar mandi untuk mandi setelah itu Nia memakai pakaiannya seperti biasanya, baju dan celana panjang tak lupa jilbab simple langsung pakai. Memakai sedikit lipbalm supaya bibirnya tidak kering.
Setelah selesai merapikan diri, Nia duduk di kursi meja belajarnya. Nia membuka bukunya, dia mulai menyicil belajarnya untuk persiapan UN yang akan di lakukan bulan depan.
1 Bulan kemudian,
UN pun tiba, dengan segala kesiapan yang matang. Pelajaran yang sudah di pelajari baik di sekolah maupun di ulang kembali dirumah, semua murid siap menghadapi UN.
Begitu juga dengan Nia dan dua sahabatnya, Nia dan Dhea berada di satu ruangan, sedangkan Zhilla berada di ruangan sebelah. Karena nama Zhilla berada di urutan terakhir, sehingga membuatnya berada di kelompok kedua.
"Perasaan yang biasa nyontek kalo ujian tu kamu deh Dhe!" balas Zhilla.
"Mon maap ni yee..biasanya yang suka nyontek kan lo Dhe!" ejek Nia mengikuti gaya bicara dan bahasa Dhea.
"Khem..ahhahaa" Nia dan Zhilla terkekeh.
"Udeh ketawanya? pake nasi biar kenyang!" umpat Dhea kesal.
"Khemm...hahaha mana bisa ketawa sambil makan Deot! keselek nantii!" ujar Zhilla dan Nia.
__ADS_1
"Ah..sudahlah..terserah kalian!" balas Dhea dengan nada malas.
"Ciyee ngambek ciyee..duh tuan putri kalo ngambek tambah cantik deh!" goda Nia seraya menoel pipi chubby Dhea.
"Hemm..." Dhea melengos pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
Nia dan Zhilla hanya tertawa melihat Dhea ngambek, mereka sudah tau bagaimana sifat Dhea. Dia tidak akan bisa ngambek lama-lama dengan sahabatnya, karena baginya Nia dan Zhilla adalah sahabat terbaiknya.
Nia dan Zhilla berlari mengejar Dhea yang sedang berjalan menuju kelas, dan membujuk sahabatnya itu.
"Tuan putri Dheaaa, masih marah nih sama kita-kita?" goda Nia.
"Hmm" gumam Dhea sambil menopang dagunya dengan sebelah tangannya tanpa melihat ke arah Nia dan Zhilla.
"Kayaknya ada yang beneran ngambek Nia! kita panggil ketua OSIS aja yuk buat bujuk Dhea!" goda Zhilla.
"Eeehh... iya iyaa gak ngambek lagii!" menahan tangan Zhilla dan Nia yangvhendak pegi.
"Ahahhaha...kan ku bilang apa Nia! dia kalo udah bawa-bawa si ketua OSIS itu, Dhea pasti langsung sensitif dah!" celetuk Zhill.
Ketua OSIS mereka pernah memacari Dhea, namun karena ada pihak ke tiga di antara mereka, membuat Dhea dan sang ketua OSIS menyudahi hubungannya. Dhea sangat kecewa dengan mantan kekasihnya itu, karena sudah menghianati dirinya. Bahkan, sampai saat ini pun ia enggan untuk berkomunikasi lagi.
__ADS_1