
Kriingg..kriinngg..
Suara alarm terdengar dari benda pipih yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur Nia, waktunya untuk menunaikan sholat subuh.
Nia mengerjap-ngerjapkan bulu matanya yang lentik, menghalau sinar lampu yang baru saja di hidupkan oleh bu Nurmala.
"Nia! bangun nak..kita sholat subuh bareng-bareng!" panggil bu Nurmala dengan lembut seraya menggoyang-goyangkan tubuh mungil anak gadisnya.
"emh..iya bu! Nia bangun.." jawab Nia dengan suara khas bangun tidur "Hoooammhh!!" Nia menutup mulutnya yang menguap.
"Yaudah buruan cuci muka, gosok gigi, lalu ambil Wudhu..ibu sama ayah tunggu di ruang sholat ya!" ucap bu Nurmala seraya berjalan meninggalkan Nia.
"iya bu!" jawab Nia singkat lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Selesai membasuh dirinya dengan air Wudhu, Nia menghampiri kedua orangtuanya yang sudah menunggunya di ruang sholat dan langsung melaksanakan sholatnya. Setelah selesai Sholat, sperti biasa Nia menyalami kedua orangtuanya lalu beranjak kembali ke kamar tidrunya.
Saat di kamar, Nia menatap cincin yang kemarin di sematkan oleh Fariz di jari manisnya. Entah perasaan apa yang kini sedang menghampirinya, kini terlukis senyum indah di wajah Nia.
Jarum pendek yang tertaut di benda bulat yang berada di atas meja rias Nia sudah menunjukkan angka 6, Nia bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah untuk mendapatkan informasi kelulusannya.
Kini Nia sudah siap dengan seragam sekolahnya yang rapi, bersih dan wangi vanilla yang sangat di gemarinya. Dengan polesan bedak yang tipis dan lipstik berwarna peach, membuatnya semakin terlihat cantik.
Nia keluar, menuju meja makan untuk sarapan bersama bu Nurmala dan pak Siddiq. Disana sudah tersedia nasi goreng makanan favoritenya.
"Hmm..nasi goreng!" ucap Nia senang seraya menatap nasi gorengnya.
"Hm..bentar lagi kamu yang nyiapin ini semua untuk suami dan mertuamu!" ujar bu Nurmala menepuk bahu Nia.
"iya bu! untuk ibu dan ayah juga donk pastinya!" balas Nia tersenyum lembut memegang tangan bu Nurmala.
"Yaudah ibu panggil ayahmu dulu, terus kita makan!" ucap bu Nurmala.
"Iya bu!" balas Nia.
Keluarga kecil yang bahagia itu mulai menyantap sarapannya, tanpa ada suara yang keluar sedikitpun. Hanya dentingan antara sendok garpu dan piring yang saling beradu. Setelah menyelesaikan sarapannya, Nia membawa piring-piring kotor yang telah di pakai ke dapur untuk dicuci.
Setelah semua selesai, Nia dan pak Siddiq berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Pak Siddiq melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang, tak lama kemudian mereka sampai di area parkir sekolah.
__ADS_1
Nia dan pak Siddiq berjalan melewati koridor sekolah yang masih terlihat sepi, baru beberapa siswa yang nampak hadir. Karena hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar seperti biasa, hanya pengumuman kelulusan untuk kelas XII.
Nia memasuki ruang kelasnya, di dalam kelas nampak teman laki-laki Nia yang sudah hadir. Ghiffari namanya, dia tersenyum ke arah Nia lalu di balas senyuman ramah oleh Nia.
"Selamat pagi Nia!" sapa Ghiffari seraya melambaikan tangannya ke arah Nia.
"Pagi juga Ghif!" membalas lambaian Ghiffari "tumben cepet dateng kamu ghif?" lanjut Nia.
"Hehe iya, kebetulan papaku hari ini yang anter. Jadi aku ikut berangkat pagi!" sahut Ghiffari seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Emh..gitu!" Nia menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju mejanya.
Setelah tidak ada lagi yang di bicarakan oleh Ghiffari, Nia merogoh tasnya meraih benda pipih berwarna rose gold. Dia mengabari sahabat-sahabatnya melalui chat grup, bahwa ia telah sampai di sekolah.
Nia : Pagi guys! aku udah sampai nih!
Dhea : gilee..pagi amat lo nyampenyaa..buka sekolah lo Nia! wkwkwk
Zhilla : Aku juga baru mau mandi ini wkwkkw
Nia : ckckkc...mentang-mentang gak belajar, males-malesan yee ni orang pada!
Nia : iya dah iyaa..udah buruan wee...aku dikelas ini sama Ghiffari, ga enak berduaan!
Dhea : ya lo keluar aja! jangan sampe ada fitnahan lagi lo!
Zhilla : iya Nia, kamu nunggu di luar ajaa!
Nia : mager akutuh! udah wee cepetann!
Dhea : iya..iyaa..
Zhilla : hmm...wait!
Setelah mengabari Zhilla dan Dhea, Nia melihat kontak teleponnya, dia mencari-cari nama Fariz dalam daftar kontaknya. Dia lupa ternyata dia belum bertukar kontak dengan Fariz, Ghiffari yang sedari tadi memperhatikan Nia sedang sibuk dengan ponselnya itu mendekati Nia, mencoba untuk mengajaknya bicara.
"Nia!" panggil Ghiffari yang masih berdiri di samping meja Nia.
__ADS_1
"I.iya!" jawab Nia terbata-bata seraya menundukkan kepalanya.
Nia merasa takut dengan kehadiran Ghiffari di sampingnya. Dia takut bila tersebar berita yang tidak mengenakkan lagi tentangnya, apalagi setelah seluruh isi sekolah mengetahui bahwa dirinya kini sudah bertunangan dengan Fariz.
"Orangnya sebelah sini Nona!" sahut Ghiffari menepuk pundak Nia pelan.
Nia tersentak, lalu menggeserkan duduknya. Ghiffari yang melihat reaksi Nia seperti tadi menyadari bahwa Nia merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.
"Maaf kalau buat kamu gak nyaman Nia, aku cuman mau tanya!" ucap Ghiffari seraya duduk di sebrang Nia.
"emh..ma.mau tanya apa ghif?" tanya Nia kembali dengan terbata-bata.
"kamu beneran bertunangan dengan pak Fariz?" tanya Ghiffari.
"Iya ghif!" jawab Nia singkat.
"emmh..gitu ya!" sahut Ghiffari dengan tatapannya kini mulai sendu.
Ghiffari sangat mengagumi Nia, bahkan menyukai Nia dalam diamnya. Dia tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Nia, dia takut bila Nia menolaknya. Karena sudah banyak teman laki-laki yang ada di sekolah ditolak oleh Nia. Dan kini Ghiffari juga harus merasakan ditolak oleh Nia walaupun secara tidak langsung.
Matahari semakin meninggi, jam di ponsel Nia sudah menunjukkan pukul 7.25. Siswa-siswi mulai berdatangan, ada yang menggunakan seragam sekolah seperti biasa, ada pula yang mengenakan pakaian bebas. Ada yang datang dengan orangtuanya, dan mungkin ada juga yang datang dengan kekasihnya.
Dari arah pintu, terdengar suara ketukan.
Tok..tok..tok..
Fariz kini menampakkan batang hidungnya, semua murid yang berada dalam kelas dengan gerakan spontan menoleh ke arah Nia.
Wajah Nia merona, seperti sedang di datangi seorang pangeran tampan berkuda. Kelas menjadi riuh dengan sorakan menggoda Nia.
"Ciee..Nia, tuh di datengin sama kakanda tercinta!" goda Dhea.
"Apaan sihh kamu dheot!" memukul pelan pundak Dhea.
"sana samperin!" sahut Zhilla.
Nia berjalan menuju Fariz, lalu disambut dengan hangat oleh Fariz. Mereka berjalan menuju lapangan untuk bersiap-siap mengikuti upacara perpisahan sekaligus pengumuman kelulusan siswa-siswi kelas XII .
__ADS_1
Disana sudah berdiri kepala sekolah, pak Siddiq dan juga guru-guru yang lain dan disusul oleh murid-murid. Kepala sekolah meulai mengumumkan hasil UN mereka, dan seluruh siswa-siswi kelas XII dinyatakan LULUS 100% tanpa terkecuali. Lalu mereka mengadakan perpisahan dengan mencoret-coret kain putih panjang yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah, dengan begitu tidak ada lagi aksi coret mencoret baju baik di area sekolah maupun luar sekolah.