Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Maukah kau menikah denganku?


__ADS_3

Selesai menyantap makanan mereka masing-masing, Fariz beranjak dari kursinya menuju meja kasir dan membayar tagihan makanan yang mereka makan. Setelah itu Fariz kembali ke mejanya dan mengajak muridnya pulang.


"ayo kita pulang, nanti orangtua kalian khawatir jam segini belum pulang!" ajak fariz lugas.


Nia, zhilla dan Dhea beranjak dari kursi mereka menuju mobil Fariz. Setelah mengantar Dhea dan Zhilla, Fariz mengajak Nia untuk berjalan-jalan sebentar.


"Noa, apa kamu gak keberatan kalau kamu saya ajak jalan-jalan sebentar?" tanya Fariz sambil terus fokus mengemudi.


"Nia ijin dulu sama ibu da ayah!" jawab Nia.


"tidak usah! saya sudah minta ijin duluan sama ayahmu!" balas Fariz satai.


"hm..kalau gitu ngapain nanya NIa! kan udah pasti di ijinin sama ayah!" ujar Nia yang terus memandangi jalanan di luar jendela.


"hm.." gumam Fariz.


Fariz melajukan mobilnya ke sebuah restoran miliknya, yang di sekelilingnya ditumbuhi tanaman cantik, di bawah bilik bambunya terdapat danau buatan sekaligus sebagai kolam ikan yang luas. Membuat restoran tersebut terasa sejuk dan asri. Nia yang menyadari tempat itu adalah sebuah restoran memandangi Fariz dengan heran, karena baru juga selesai makan.


"ini kan restoran mas!" ujar Nia seraya melihat sekeliling restoran.


"yang bilang ini pacuan kuda siapa?" jawab Fariz mengejek.


"aishhh...." geram Nia.


"ayo turun!" ajak Fariz seraya membuka pintu.


"tapi mas...kita kan baru selesai makan!" ujar Nia.


"emang yang ngajakin kamu makan siapa?" balas Fariz yang kini sudah berdiri diluar mobil.


"mas Farizzz!" teriak Nia kesal.


"ayo cepat turun!" menuntun Nia kelar dari mobilnya.


"kalo bukan karena mau makan kita ngapain sih kesini mas?!" tanya Nia kesal.


"ada yang ingin saya tanya sekaligus bicarakan sama kamu!" jelas Fariz berjalan di samping Nia.


"Hm.." gumam Nia mengikuti Fariz.


"Selamat datang tuan fariz!" sapa seorang wanita mengenakan pakaian khas seorang pelayan restoran dengan ramah.


"segera antarkan semua yang sudah saya bicarakan tadi!" perintah Fariz.


"baik tuan!" jawab pelayan seraya membungkukkan badannya.


tuan Fariz? kapan dia ngenalin dirinya ke pelayan tadi? tanya Nia heran dalam hati.

__ADS_1


"ini restoran milik saya, jadi jangan heran jika semua yang bekerja disni mengenali saya" ujar Fariz seakan dapat membaca pikiran Nia.


Wah...dia bisa baca pikiranku ternyata! gumam Nia dalam hati.


"ini restoran punya mas Fariz?" tanyaNia kagum ketika melihat sekeliling restoran.


"benar!" jawab Fariz santai.


Mereka berjalan menujju bilik khusus VIP yang sudah disiapkan oleh pelayan yang sudah di pesankan oleh Fariz, Nia mengagumi ruangan tersebut. Bilik tersebut di pasangi jendela dan juga pintu geser yang menyerupai jendela yang lebar. Di bawahnya terdapat kolam ikan yang sangat jernih, kala itu cuaca agak sedikitmendung, membuat suasan menjadi semakin sejuk. Di restoran tersebut di putar pula lagu kesukaan Nia yang berjudul Hotel California.


Nia sangat menikmati suasana restoran itu, sehingga membuatnya lupa dengan kehadiran Fariz yang sudah duduk di sebelahnya.


"kamu suka?" tanya Fariz lembut.


"Astagfirullah! kaget aku mas! perasaan tadi masih duduk di sebrang Nia." ucap Nia kaget saat mendapati Fariz sudah duduk di sebelahnya.


"hehe..maaf kalo membuatmu kaget!" balas Fariz.


"Hm.." gumam Nia kembali menikmati suasana.


"kamu suka?" tanya Fariz kembali.


"suka banget mas!" jawab Nia seraya menoleh ke arah Fariz.


"saya yang mendesignnya!" balas Fariz dengan percaya diri.


"serius mas? keren! Nia belum pernah dateng ke restoran kaya gini sebelumnya! nggak ngebosenin." ungkap Nia jujur.


"oya, BTW tadi katanya mas mau nanya dan bicarain sesuatu, tentang apa?" tanya Nia serius.


Disaat Fariz membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan NIa, pelayan Restoran datang mengantarkan menu makanan yang sudah di pesan oleh Fariz.


"kita makan dulu, setelah itu akan saya lanjutkan!" ucap Fariz.


"tapi kita kan baru selesai makan mas! lagian tadi mas juga yang  bilang kita kesini bukan mau makan!" Nia mengerutkan dahinya.


"saya masih lapar!" jawab Fariz singkat.


"huftt!" Nia menghela nafasnya kasar.


tadi katanya bukan mau makan, ehh sekarang malah katanya laper! gumam Nia dalam hati.


"kalo kamu nggak mau makan gapapa, biar saya aja yang makan!" ujar Fariz seraya menuangkan nasi beserta lauk pauknya ke dalam piring.


"Nia makan ini aja, boleh?" sahut Nia seraya menunjuk kentang goreng yang ada di hadapannya.


"HM.." gumam Fariz menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Setelah Fariz menghabiskan makanannya, ia beranjak dari duduknya menuju westafel untuk mencuci tangan dan berjalan menuju panggung yang biasa di gunakan untuk live music pada hari sabtu malam minggu. Fariz duduk di hadapan sebuah piano berukuran sedang di atas panggung, seketika musik yang sedang di putar di restoran ittu berhenti. Fariz pun mulai memainkan jarinya dengan lincah di atas tuts piano, ia juga menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Marry Me.


Nia yang sedang sibuk berpose mengambil gambar dirinya melaul ponselnya, mengalihkan pandangannya ke arah Fariz yang sedang berada di atas panggung.


Untuk siapa dia menyanyikan lagu itu? tanya Nia dalam hati.


Tiba-tiba seorang pelayan laki-laki menghampiri Nia dengan membawa sebuah buket besar isi coklat di tangannya.


"ini dari tuan Fariz nona!" ucap pelayan itu seraya tersenyum lalu menyerahkan buket tersebut pada Nia,


"terimakasih!" balas Nia tersenyum lembut.


Pelayan tersebut menganggukan kepalanya, lalu berjalan meninggalkan Nia yang sedang mengamati dan mengagumi Fariz dari kejauhan. Terlukis senyum manis dan merona di wajah Nia, saat ia menyaksikan video yang diputar di atas layar yang berada dipanggung. Didalam video tersebut terlihat Nia kecil yang menggemaskan, sampai Nia yang saat ini sudah dewasa.


"Dari mana dia dapet foto-fotoku?"  tanya Nia pada dirinya sendiri.


FLASHBACK.


Sewaku Nia pingsan, Fariz menyempatkan ngobrol dengan Bi Puji. Dia menanyakan perihal Nia semasa kecil, karena yang ia tau bi Puji sudah sangat lama bekerja dengan keluarga Suhendar. Saat itu juga bi Puji menceritakan dan juga menunjukkan foto-foto keluarga Suhendar yang di dalamnya terdapat foto seorang anak perempaun yang di kenali Fariz, yaitu Alni.


Dia menanyakan siapa anak perempuan kecil yang ada dalam foto itu, bi Puji mengatakan bahwa itu adalah Nia yang di kenal oleh Fariz dengan Alni. Pada saat itu juga, Fariz menjadi bersemangat menjalani perjodohan itu. Karena kini ia tau, siapakah sebenarnya wanita yang akan menjadi istrinya itu.


FLASHBACKK OFF.


Fariz menyelesaikan lagu yang ia nyanyikan, dan memanggil nama Nia dengan MIC yang ada di atas panggung. Lalu seorang pelayan wanita kembali menghampiri Nia dan menuntun Nia untuk naik ke atas panggung. Di atas panggung, Fariz menyambut Nia dengan sangat lembut. Lalu dengan sorakan gembira dari para pengunjung restoran, Fariz ingin mengungkapkan maksudnya, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah yang di hiasi pita cantik di atasnya. Dan di layar kain putih yang berada di belakang mereka terdapat tulisan yang sudah di siapkan oleh pengelola restorang yang di percayakan oleh Fariz, tertuliskan "MAUKAH KAU MENIKAH DENGANKU?"


Fariz menyimpuhkan 1 kakinya dengan di topang 1 kakinya yang lain,


"Alnia Suhendar!" menyebut nama Nia dengan menggunakan MIC.


"iya!" jawab Nia lirih.


"Hari ini aku ingin melamarmu!" ucap Fariz seraya menatap Nia dengan penuh kelembutan.


Wajah Nia memerah, dan matanya mulai berkaca-kaca.


"tapi kita kan sudah bertunangan mas!" jawab Nia pelan.


"Waktu itu, orangtuaku yang melamarmu untukku! Tapi hari ini, Al-Fariz Hendrawan melamarmu untuk diriku sendiri!" ungkap Fariz tanpa ragu.


Seketika keadaan dan sorakan semakin ramai ketika Hendrawan, Siddiq dan kedua istri mereka menaiki panggung dengan membawa beberapa bingkisan yang sudah terbungkus rapi dan cantik untuk Nia.


Nia semakin terharu dengan apa yang terjadi saat ini, dia memeluk bu Nurmala dan pak Siddiq bergantian lalu memeluk kedua calon mertuanya juga, dan kembali menghadap ke Fariz.


Fariz kembali menanyakan pertanyaannya yang belum di jawab oleh Nia.


"Nia, maukah kau menikah denganku? menjadi pendampingku untuk menemaniku sampai hanya mautlah yang dapat memisahkan kita? tanya Fariz.

__ADS_1


"iya, Nia mau!" jawab Nia seraya menganggukkan kepalanya.


Fariz berdiri dan membuka kotak kecil yang ada ditangan kirinya itu, lalu mengambil cincin yang ada dalam kotak itu dan memakaikannya ke jari manis di tangan sebelah kiri Nia. Semua orang yang ada di restoran tersebut bersorak gembira dan bertepuk tangan serta memberi selamat kepada Nia dan Fariz yang sedang berbahagia, setelah semuanya selesai mereka kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang berbahagia.


__ADS_2