
Fariz pun mengalihkan pandangannya, di lihatnya sekeliling untuk menghapus rasa gugupnya. Nia pun berbuat hal yang sama, jantung mereka serasa ada yang memainkan drum dengan sangat kencang.
Dari arah belakang, orangtua mereka melihat dan mendengarkan apa yang di bicarakan oleh Nia dan Fariz. Mereka hanya saling pandang, lalu Suhendar mengatakan untuk segera melamar Nia untuk Fariz.
"Saya ingin mereka segera bertunangan lalu menikah!" ucap Suhendar tegas.
Pak Siddiq, bu Nurmala dan bu Sofi hanya saling pandang lalu mengangguk menyetuji perkataan Suhendar.
"Fariz, Nia!" panggil pak Siddiq
Mereka menoleh kebelakang ke arah sumber suara.
"Iya yah.." jawab Nia
"Ayo masuk, ada yang ingin kami bicarakan!" ucap pak Siddiq.
Nia dan Fariz saling pandang, merasa bingung apa yang akan di bicarakan oleh orangtua mereka.
"Ayo masuk mas!" ajak Nia sambil berdiri.
"Iya, kamu duluanlah. Aku menyusul!" jawab Fariz.
Nia hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Fariz, entah perasaan apa yang dia rasakan sekarang. Dia merasa ada rasa yang aneh setelah saling bertatapan dengan Fariz. Apakah bilur-bilur cinta itu mulai tumbuh?
__ADS_1
Kenepa secepat ini? apaa....ahh gak mungkin! gumam Nia kesal dalam hati.
Nia duduk di antara kedua orangtuanya, dan di sebrang sofa mereka sudah duduk kedua orangtua Fariz.
"Mana Fariz?" tanya pak Suhendar.
"Tadi katanya nyusul om." jawab Nia sambil sedikit menunduk.
"Baik!" ucap Pak Suhendar.
Tak lama kemudian, Fariz memasuki ruang tamu lalu duduk di antara kedua orangtuanya. Matanya kembali bertatapan dengan Nia, lalu mengalihkan pandangannya keluar. Untuk menghindari bertatapan dengan Nia, karena dia tahu bahwa Nia pun pasti merasa risih dengan tatapan itu.
"Baik, kita mulai saja! karena semua sudah disini." pak Suhendar membuka suara.
"Papa ingin menjodohkan kamu dengan Nia!" ucap Suhendar.
"Ya ampun pah, kirain ada apa. Kalau itukan papa dan amma udah berulang kali bilang sama Fariz!" Fariz pun hendak beranjak dari duduknya namun ditahan oleh mamanya.
"Dan hari ini.." Suhendar melihat ke arah Sofi, Hendrawan , Nurmala lalu Nia.
Bu Sofi, pak Siddiq dan bu Nurmala hanya mengangguk lalu tersenyum menandakan untuk melanjutkan pembicaraan Suhendar.
"Apa pah?" tanya Fariz lagi tanpa menoleh ke papanya.
__ADS_1
"Hari ini, papa dan mama akan melamar Nia untuk kamu!" lanjut Pak Suhendar.
"Apa pah?! ngelamar Nia ? untuk Fariz?!" Fariz tercengang.
"Iya Fariz!" jawab bu Nurmala.
Nia juga terkejut dengan apa yang di katakan oleh Suhendar, dia belum terlalu siap untyk semua ini. Apalagi bila harus segera menikah, bagaimana sekolahnya?.
"Papa dan mama gak bisa kaya gini donk! Kalian gak ada pembicaraan terlebih dahulu dengan Fariz? lagipula apa Nia setuju dengan pertunangan ini?!" sambil melihat ke arah Nia.
Nia sedikit menggeleng lalu menundukkan kepalanya, dia merasa campur aduk sekarang.
"Nia sudah pasti setuju nak Fariz! om yakinkan itu!" menmpelkan telapak tangannya ke pundak Nia "Iya kan nak!" lanjut pak Siddiq lalu menoleh ke arah Nia.
Mata Nia mulai berkaca-kaca dan mengangguk pelan, dia tidak bisa mengatakan tidak. Dia takut ayahnya malu bila menolak perkataan pak Suhendar. Fariz pun teruduk dan mengusap kasar wajahnya.
"Baik! hari minggu ini, kita adakan acara pertunangan anak-anak kita secara resmi. Dan setelah itu segera menentukan tanggal pernikahan mereka. Saya harap semua niat baik ini berjalan dengan lancar!" ucap Pak Suhendar tegas.
Nia terus menunduk sambil terus menahan air matanya yang sedari tadi sudah menumpuk. Dunianya serasa berputar dengan cepat, penglihatannya menjadi hitam. Tubuhnya menjadi lemas dan tak bisa menopangnya dengan baik, badannya pun tersentak kebelakang. Mereka yang melihat itu segera membangunkan Nia, namun tak ada respon dari Nia. Pak Siddiq mengangkat dan membawa tubuh mungil putri nya itu ke kamar.
Bu Nurmala dan bu Sofi serta pak Suhendar dan Fariz mengikuti dari belakang. Pak Suhendar merasa bersalah, dia merasa Nia pasti shock dengan keputusan mendadak ini. Suhendar pun segera meminta maaf dengan pak Siddiq dan bu Nurmala, karena dia Nia jadi pingsan. Namun pak Siddiq dan bu Nurmala tidak menyalahkan Pak Suhendar, karena mereka pun merasa tidak enak karena Suhendar menyalahkan dirinya sendiri.
Lalu setelah membawa Nia ke kamarnya, mereka kembali menuju ruang tamu dan melanjutkan rencana acara resmi pertunangan Nia dan Fariz. Fariz hanya terdiam mengingat kejadian yang baru saja terjadi, Nia yang di kenalnya sewaktu di sekolah dan di rumah sangatlah berbeda. Sewaktu di sekolah Nia sangatlah periang dan penuh semangat, namun Nia yang ada di hadapannya sekarang begitu rapuh dan lemah.
__ADS_1