
Nia tercengang dengan kehadiran Fariz gurunya yang akan menjadi suaminya. Dia sudah bisa membayangkan hari-harinya setelah menikah dengan Fariz. Dengan segala aturan yang di buat oleh Fariz dan tidak boleh di langgar.
Ohh..gak mungkin! tapi ini nyata Nia.. Dia akan menjadi suamimu! Dia emang ganteng, cool, pinter.. tapiii terlalu banyak aturan!! Batinnya dalam hati.
Nia menundukkan kepalanya, saat Fariz menangkap pandangan Nia yang sedang menatapnya. Fariz tersenyum tipis dari salah satu sudut bibirnya yang tipis dan merah itu. Lalu menyalami kedua orangtua Nia.
"Wah! Sudah besar kamu nak Fariz. Ganteng, tinggi. Sama seperti ayahmu! hhhhh" puji pak Siddiq sambil tersenyum, lalu di jawab senyuman juga oleh Fariz.
"Iya nak Fariz, sudah lama skali kita tidak ketemu. Kamu sudah sebesar ini!" timpal bu Nurmala.
"Om dan tante bisa aja, tentu Fariz sekarang udah besar donk hehe..masa mau kecil muluu hehehe" canda Fariz.
Para orangtua ikut tertawa mendengar candaan Fariz, begitu juga dengan Nia ikut tertawa kecil.
"Fariz, ini Nia.. wanita yang kami jodohkan dengan kamu." ucap pak Suhendar.
"Iya pa, Fariz udah kenal koq. Iya kan Alnia Hendrawan?" Fariz menatap Nia yang sedari tadi masih tertunduk.
"Ehm..iya pak!" jawab Nia gugup.
__ADS_1
"Loh, koq pak? panggil saja Fariz atau mas Fariz." timpal pak Suhendar.
"Maaf om, pak Fariz itu kan guru Nia di sekolah. Jadi Nia terbiasa manggil bapak." Nia kembali tertunduk.
"Hmm..gak apa2 nak, nanti lambat laun akan terbiasa koq. Jadi mulai sekarang panggil mas Fariz saja, tapi kalau di sekolah tetap panggil bapak!" ucap Bu Sofi.
"I.iya tante." menoleh ke arah bu Sofi lalu kembali menundukkan kepalanya.
Dalam hati, Nia merasa gugup, takut, senang, dan juga ada rasa ragu. Nia merasa Fariz sangat tertekan dengan perjodohan ini. Dari raut wajahnya saja sudah kelihatan, tidak ada pancaran bahagia di wajahnya Fariz.
Apakah kau merasa tersiksa dengan perjodohan ini pak guru? aku juga pak! aku masih belia, perjalananku masih panjang. Tapi aku juga tidak bisa egois sendiri! ahh entahlah! Gerutu Nia dalam hati.
Nia masih saja tertunduk, kristal2 bening dari ujung matanya mulai mengalir. Buru2 ia mengusapnya, agar tidak ada yang melihatnya.
Nia pun terpukau dengan bacaan Doa yang di bacakan oleh Fariz, suaranya merdu dan penuh hikmat. Pantas saja ayah ngotot menjodohkan Nia dengan Fariz.
Suara mengajinya merdu sekali, bacaan Doa makan saja bisa semerdu ini! Apalagi bacaan yang lain?! Gumam Nia dalam hati.
Setelah selesai membacakan Doa makan, mereka mulai makan. Tidak ada satupun yang mengeluarkan suara, hanya terdengar dentingan pelan antara sendok garpu dengan piring. Setelah semuanya selesai makan, bu Nurmala menghidangkan cemilan penutup dan juga minuman. Ada beberapa cemilan di atas meja, mulai dari agar2, kue bolu yang sudah di potong2, kue2 kering dan minuman yang berwarna (alias syrup 😀).
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, satu per satu meninggalkan ruang makan menuju ruang TV. Pak Siddiq mengajak mereka bersantai di ruang TV, dan mengobrol dengan pak Suhendar. Bu Sofi membantu membereskan meja makan bersama bu Nurmala dan Nia, Fariz pergi ke ruang tamu.
Melihat Fariz pergi ke ruang tamu, bu Sofi meminta Nia untuk menemani Fariz. Bu Sofi bermaksud untuk membuat mereka saling mengenal terlebih dahulu. Jadi nanti saat bu Sofi melamar Nia untuk Fariz, mereka sudah tidak kaget lagi.
"Nia, tante bisa minta tolong gak nak?" sambil tersenyum ke arah Nia.
"Apa itu tante yang bisa Nia bantu?" jawab Nia sambil membalas senyuman bu Sofi.
"Kamu..temenin Fariz ya, ajak dia ngobrol." sambil menoleh ke arah Fariz.
"Emm..tapi tante Nia mau ban..." belum sempat menyelesaikan bicaranya sudah di potong oleh ibunya.
"Iya Nia, kamu temani Fariz gih. Ajak dia ngobrol ya, biar ini semua ibu yang beresin. Lagi pula ada bik Puji." memotong pembicaraan anaknya.
"Iya Nia, ada tante juga kan bantuin ibu kamu. Kamu sama Fariz aja ya." timpal bu Sofi sambil melirik ke arah bu Nurmala mengerlingkan satu matanya.
"Tapi..." lagi2 Nia belum menghabiskan bicaranya sudah di potong oleh ibunya.
"Sudah Nia, sana!" sambil mengarahkan badan Nia untuk berjalan ke ruang tamu.
__ADS_1
"Iya udah Nia ke depan ya bu..tante.." menoleh ke arah bu Nurmala dan bu Sofi.
Langkah Nia gontai saat menuju ruang tamu, jantung berdebar sangat kencang. Ia tidak tahu perasaan apa yang menghampirinya saat itu, apakah rasa takut, gugup atau bahkan rasa yang lain.