Hanya Sekedar Melahirkan

Hanya Sekedar Melahirkan
Bab 11 HSM


__ADS_3

Valerie Dominguez segera keluar dari kantin itu karena tidak sanggup melihat tontonan yang sangat menyakitkan hatinya itu.


Valerie, kamu hanya sekedar melahirkan bayi pria yang bernama Bradley Timothy itu, jadi jangan terpengaruh Okey?


Sisi hatinya terus berteriak mengingatkannya kalau ia tidak boleh sedih.


Kalian berdua sama sekali tidak ada hubungan perasaan jadi kamu jangan berpikir akan cemburu, camkan itu Val!


Tapi bagaimana nanti dengan nasib anakku jika harus hidup dengan ibu dan saudara tirinya?


Mana mungkin aku tega meninggalkanmu sayang dengan mereka.


Aaaaaaaa, kenapa hatiku jadi sakit begini?


Valerie terus membatin sembari melangkah ke arah lift untuk kembali ke kamar ibunya. Tetapi kemudian ia membatalkan langkahnya karena tiba-tiba ia mengalami kontraksi yang sangat hebat pada perutnya.


"Oh my God, ini lebih sakit daripada yang tadi," ujarnya sembari menyandarkan tubuhnya di dinding Rumah Sakit itu. Tangannya berusaha mengelus lembut perutnya sembari menarik nafas dari hidungnya kemudian mengeluarkannya lewat mulut.


"Nyonya, anda tidak apa-apa?" seorang pria berpakaian dokter menegurmya karena merasa ia sedang tidak baik-baik saja.


"Aku perlu ke ruangan dokter obgyn. Bisakah anda menemani saya ke sana?"


"Tentu saja, saya akan membantu anda. Mari Nyonya." ujar pria itu dengan senyum diwajahnya. Ia memberikan tangannya untuk dipegang oleh Valerie Dominguez.


"Maaf, saya masih bisa jalan sendiri. Takutnya orang akan menganggap anda adalah suami saya."


"Ah iya, maafkan ketidaksopanan saya nyonya."


"Tidak apa tuan." jawab Valerie Dominguez tersenyum. Ia pun mulai melangkah saat merasa perutnya sudah mulai nyaman.


"Ini ruangannya dan saya akan meninggalkan anda di sini."


"Terimakasih banyak tuan..."


"Anda bisa memanggil saya William."


"Ah ya. Terimakasih banyak tuan William." pria itu pun pergi dari sana setelah memastikan perempuan hamil itu akan segera ditangani oleh rekannya sesama dokter.


"Silahkan berbaring nyonya. Saya akan memeriksa keadaan kandungan anda." ujar sang dokter sembari menyapukan cairan berbentuk jelly ke atas permukaan kulit perut Valerie Dominguez.


"Apakah anda sudah sering mengalami kontraksi nyonya?" tanya sang dokter dengan mata terus memandang layar monitor yang menunjukkan posisi bayi dalam kandungan perempuan cantik itu.


"Hanya hari ini saja, 2 kali. Apakah aku akan segera melahirkan dokter?" tanya Valerie sembari ikut memperhatikan gambar di layar yang menunjukkan tampilan keadaan bayinya.

__ADS_1


"Jika Intensitas kontraksi meningkat menjadi 60 – 90 detik dan serviks melebar 7 – 10 cm dengan jeda 2 menit dan keluar lendir bercampur darah, maka pastinya anda akan melahirkan Nyonya."


"Oh begitu ya dokter, berarti belum ya?" dokter itu tersenyum lalu mengangguk.


"Tapi posisi bayi anda sudah sangat bagus Nyonya. Lihat dia pintar sekali mencari jalan lahirnya sendiri."


Valerie Dominguez merasakan hatinya menghangat. Ia menatap layar itu dengan air mata haru.


Putraku akan lahir sebentar lagi dan aku akan meninggalkannya dengan orang asing yang sama sekali tidak mempunyai rasa kasih sayang padanya.


Oh tidak, Maafkan aku sayang.


"Putra anda bergerak nyonya. Apakah anda mengatakan sesuatu padanya?" tanya sang dokter dengan wajah gembira.


"Ia sepertinya sangat tahu apa yang anda rasakan saat ini."


"Detak jantungnya bahkan berdetak lebih cepat." dokter itu memperdengarkan bunyi detak jantung sang bayi agar Valerie bisa mendengarkannya.


Valerie Dominguez semakin tak bisa menahan perasaannya. Ia menutup wajahnya dan menangis. Perempuan itu menyesal dan merasa bersalah jika meninggalkan putranya saat lahir nantinya.


"Ada apa nyonya? apakah ada masalah?" tanya sang dokter merasa penasaran.


"Usahakan membuat diri Anda bahagia. Jangan tertekan dan bersedih. Karena apapun yang anda rasakan akan sangat berpengaruh pada kondisi psikis bayi anda."


"Iya dokter. Aku akan selalu merasa bahagia agar putraku juga bahagia." ujar Valerie sembari menghapus airmatanya. Saat-saat terakhir bersama sang putra harus ia isi dengan kegiatan yang menyenangkan.


"Iya Dokter. Terimakasih banyak."


"Boleh saya mengatakan sesuatu?" Valerie mengangguk dan tersenyum.


"Anda sangat cantik. Dan dengan rajin berhubungan dengan suami Anda, saya yakin hati anda akan lebih senang dan juga santai. Hal tersebut juga bisa membuat persalinan menjadi lancar."


Deg


Valerie Dominguez merasakan hatinya tiba-tiba nyeri, apalagi mengingat kejadian tadi di Kantin. Ia kembali bersedih tetapi berusaha ditutupinya dengan senyum.


"Anda sangat baik dokter. Akan aku lakukan saran anda, terimakasih banyak."


"Aku permisi dokter. Ibuku sedang dirawat di lantai 6 Rumah Sakit ini. Dan kurasa ia pasti sudah bangun."


"Ah ya, silahkan nyonya Dominguez. Semoga hari anda menyenangkan."


"Terimakasih." ucap Valerie lagi kemudian meninggalkan ruangan dokter obgyn itu. Perempuan cantik itu melihat jam tangannya dan baru sadar kalau ia telah meninggalkan ibunya sangat lama.

__ADS_1


"Oh ibu, maafkan aku." ucapnya terus menerus sembari melangkah ke arah lift yang akan membawanya ke lantai 6 Rumah Sakit itu.


Valerie Dominguez membuka pelan pintu ruang perawatan sang ibu dan mendapati perempuan yang telah melahirkannya itu masih tertidur dengan pulas.


"Huffft syukurlah, ibu masih belum bangun." ucapnya sembari duduk di atas sofa di dalam ruangan itu. Perutnya kembali bergerak dengan sangat kuat dan intens.


"Oh sayangku, kamu ingin mendengarkan sebuah lagu ya?" bisiknya sembari mengelus lembut perutnya.


"Kalau kamu lahir nanti, jangan salahkan mama ya? ini karena keadaan yang memaksaku sayang."


"Aku pun tak ingin berpisah denganmu my boy." perutnya kembali bergerak. Bayinya seakan mendengarkan keluh kesahnya.


"Aawww. Kamu marah dan menendang mama ya?"


"Oh my boy, jangan marah, aku akan selalu bersamamu, hatiku, cintaku, dan perasaanku akan kuberikan semua padamu." Valerie terus mengelus kulit perutnya yang sudah berbentuk lain dari yang lain karena tendangan baby boy itu di dalam sana.


Sekali lagi ia memandang penanda waktu di pergelangan tangannya dan merasa ibunya sudah terlalu lama tertidur.


Akhirnya ia bangun dari duduknya dan menghampiri ranjang sang ibu.


"Ibu," panggilnya dengan perasaan khawatir. Tubuh sang ibu ia rasakan sangat dingin dan tidak bereaksi samasekali.


"Ibu," panggilnya lagi kemudian memeriksa denyut nadi perempuan tua itu yang ternyata sudah tidak beraktivitas lagi.


Tangannya ia bawa ke hidung dan mulut ibunya berusaha mendeteksi oksigen yang mungkin bisa membuat hatinya tidak merasa takut.


"Ibu! dokter!" Valerie Dominguez berteriak kencang sembari memandang alat pengukur detak jantung yang tergantung diatas kepala Ibunya.


Lurus


"Ibu! kenapa kamu tinggalkan aku! siapa lagi yang akan menemaniku di Dunia ini!" perempuan itu terus berteriak histeris karena menyadari kalau ibunya benar-benar sudah pergi darinya.


"Ibu!"


"Ibu!"


Bugh


Valerie Dominguez ikut terjatuh dan tak sadarkan diri.


🍀


*Bersambung

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk Valerie Dominguez yang sedang bersedih. Semoga ia kuat menghadapi kerasnya dunia ini 😭😭😭


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2