
"Maafkan aku ibu karena tidak bisa lagi mengantarmu ke rumah sakit untuk kemoterapi." ujar Valerie Dominguez pada sang ibu pagi itu. Morning Sickness yang ia rasakan selama hampir 3 bulan ini membuat tubuhnya menjadi sangat kurus dan lemas.
Julia Dominguez, sang ibu memeluk putrinya itu dengan menitikkan air matanya. Pikirnya setelah menikah maka Valerie akan bahagia dengan suaminya yang terkenal kaya dan tampan itu tetapi ternyata tidak.
Sejak hari pernikahan itu, Bradley Timothy tidak pernah lagi datang menemui putrinya. Yang pada akhirnya adalah kecurigaannya terbukti ketika ia memaksa Valerie untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan aku ibu, karena aku hanya sekedar melahirkan putra untuknya. Setelah itu kami akan berpisah."
"Oh ya ampun. Kutukan apa yang aku dapatkan ini sampai engkau mengalami nasib yang sangat menyedihkan ini putriku, hiks."
"Yang terpenting adalah ibu bisa sembuh dari penyakit ibu, 9 bulan ini tidak akan lama." jawab Valerie sembari mengelus lembut perutnya yang semakin hari semakin membesar.
"Valerie, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan anakku." ujar Julia lagi dengan tubuh bergetar karena menahan tangis.
"Berjanjilah padaku, kalau ibu akan segera sembuh dan kita akan meninggalkan negara ini." Julia mengangguk berusaha tersenyum meskipun hatinya sangat miris.
Valerie Dominguez pun mengantar ibunya sampai ke pintu apartemen yang sudah disiapkan oleh Jackson Thomson. Sebuah apartemen mewah di kawasan kota sibuk New York.
"Ueeeekkk ueeeekkk Ueeeekkk," Valerie segera berlari ke kamar mandi karena rasa mual itu kembali datang.
Huuuft, Valerie mencuci wajahnya dan menatap dirinya di dalam cermin. Wajahnya semakin kurus saja. Tulang-tulang pipinya bahkan sudah sangat jelas sekarang.
Dengan langkah perlahan ia keluar dari kamar mandi dan segera berbaring. Setiap pagi ia akan mengalami hal ini sampai sekitar jam 10 pagi setelah itu ia bisa beraktivitas.
"Aku baru merasakan lapar, tapi ya ampun belum ada makanan yang tersedia di sini," ujarnya kemudian bangun dari tempat tidur. Tubuhnya yang sangat lemas ia paksaan untuk bangun karena tidak ada seorang pun yang akan melayaninya.
Jackson Thomson memberinya seorang pelayan perempuan tetapi ia harus menemani sang ibu untuk memeriksakan kesehatannya di Rumah Sakit menggantikan dirinya.
"Ternyata mencari uang dengan cara seperti ini juga tidak mudah, hmmm," ujarnya sembari melangkah ke arah meja makan.
__ADS_1
"Susu dan buah mungkin cukup untuk kita sayang," Valerie mengelus lagi perutnya kemudian segera meminum vitamin dan susu rasa coklat favoritnya.
Ia tersenyum setelah merasa mempunyai tenaga lagi pagi itu. Ia mulai mengajak bayi dalam kandungannya untuk mengobrol apa saja. Perempuan cantik itu berusaha untuk tetap bahagia meskipun ia juga sangat membutuhkan perhatian dari seorang suami.
Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan hingga membuat dirinya kadang sangat manja dan berharap Bradley Timothy datang untuk melihatnya meskipun itu hanya dalam bentuk pesan-pesan manis.
"Valerie, jangan serakah. Kamu sudah mendapatkan uang yang banyak dan tempat tinggal yang sangat bagus, harusnya kamu bersyukur." ujarnya untuk menyemangati diri sendiri.
"Baiklah sayang, ibu akan membacakan satu cerita yang sangat menarik." tangannya mulai mencari sebuah buku cerita fantasi yang juga sudah disiapkan oleh Jackson Thomson.
"Aaawwwww, kamu mendengarku anakku?" Valerie menitikkan air matanya karena merasakan sesuatu bergerak sangat lembut dan pelan di dalam perutnya.
"Apa aku tega meninggalkanmu dengan orang lain sayangku?" tangannya bergerak mengelus lagi perutnya dengan penuh kasih sayang.
🍀
Hari ini adalah jadwal kemoterapi yang keempat untuk Julia Dominguez. Perempuan itu sekarang sudah botak. Rambutnya sudah berguguran akibat dari pengaruh kemoterapi itu. Dan baru kali ini juga Valerie sang putri bisa menemani perempuan yang sangat disayanginya itu ke Rumah Sakit.
Seorang perawat khusus sudah ia persiapkan untuk merawat ibunya jika sedang tidak bisa seperti itu.
"Ibu, kali ini aku yang akan menemanimu saat proses kemoterapi itu." ujar Valerie dengan tatapan penuh kasih sayang pada sang ibu yang semakin hari tidak terlalu menunjukkan kemajuan yang berarti meskipun sudah mengikuti rangkaian operasi dan juga kemoterapi yang begitu menyiksa.
"Val, terimakasih banyak sayang." ucap Julia berusaha tersenyum. Sebenarnya ia sudah pasrah dan tidak ingin lagi melanjutkan pengobatan ini yang ia rasakan sia-sia saja.
Tubuh tuanya sudah tidak kuat menerima obat-obatan yang cukup keras yang selalu masuk ke tubuhnya. Tetapi jika mengingat perjuangan putrinya yang rela menikah untuk hanya melahirkan seorang penerus bagi keluarga kaya di negara ini, ia mendapat semangat baru.
"Ibu jangan bersedih. Ini semua kulakukan untukmu supaya kamu bisa sembuh." Velerie meraih tubuh ibunya dan memeluknya.
"Seharusnya kamu tak perlu melakukannya nak. " Julia kembali menyusut airmatanya saat ia mengingat bagaimana keadaan putrinya yang sangat tersiksa dengan kehamilannya saat itu.
__ADS_1
Dan tak sekalipun Bradley Timothy sang suami untuk datang merawat dan menunjukkan kasih sayangnya.
Sedangkan ia sendiri sedang sakit dan tidak bisa merawat putrinya itu.
"Ibu jangan khawatir. Masa-masa itu sekarang sudah berlalu. Dan sekarang aku sudah sehat. Babyku juga sudah besar. Sisa sebulan ibu, anak ini akan lahir." ujarnya dengan lelehan airmata yang selalu menemaninya.
"Val, maafkan ibumu yang melahirkanmu dalam keadaan miskin."
"Ibu, jangan pernah mengatakan hal itu. Aku sungguh bahagia karena lahir dari rahimmu. Engkau ibu yang kuat. Mampu membesarkan aku disaat-saat yang paling susah sekalipun." Valerie memeluk tubuh ringkih sang ibu.
"Val, andaikan ibu tidak kuat lagi menghadapi kehidupan ini, berjanjilah pada ibu untuk mencari kebahagiaanmu nak."
"Ibu akan sehat dan kemoterapi ini adalah yang terakhir. Aku yakin ibu akan baik-baik saja." Valerie berusaha menahan airmatanya agar tidak tumpah.
Tapi tubuh ibu sudah tidak kuat Val, kamu tidak tahu betapa sakitnya seluruh tubuh ini setelah proses kemoterapi itu. Rasanya nyawa ini pun tak sanggup lagi untuk bertahan.
Julia membatin dengan perasaan nyeri. Entah kenapa ia ingin sekali mundur dan beristirahat saja di rumah dan menghabiskan waktu berkualitas dengan putrinya serta cucu yang tidak akan dimilikinya.
"Ibu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Valerie dengan wajah khawatir. Julia mengangguk.
"Ayo kita berangkat Val." Julia menarik tangan putrinya untuk keluar dari apartemen itu. Ia tak mau membuat putrinya itu bersedih.
Valerie Dominguez tersenyum kemudian menggenggam tangan ibunya yang ia rasakan sangat dingin.
Kamu akan sehat ibu, dan kita akan bahagia. bisiknya dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri yang entah kenapa merasa sangat was-was.
🍀
*Bersambung
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍