
Cassandra mengamuk dengan tangan melempar semua barang yang ada di dalam kamarnya. Pretty sang asisten sudah tidak tahu harus membujuk agar sang model bisa menurunkan emosinya.
"Cassy, kontrol emosimu. Kamu sedang hamil." Pretty berteriak keras saat model cantik itu berusaha menyakiti dirinya sendiri. Kedua tangannya ia gunakan untuk memukul dadanya kemudian menangis sejadi-jadinya.
"Cassy!" Pretty meraih perempuan itu ke dalam pelukannya.
"Menangislah tetapi jangan menyiksa dirimu. Bayimu sangat mengharapkan kamu hidup dan merawatnya." ujar sang asisten sembari mengelus lembut punggung Cassandra yang masih bergetar karena menangis.
"Aku benci bayi ini Pretty! aku benci! aku kehilangan kontrak kerjaku karena bayi sialan ini! dan sekarang Bradley justru menghindariku. Ia bahkan memblokir nomorku. Ia tidak bisa lagi kuhubungi. hiks."
"Padahal pria itu yang menginginkan bayi Pretty! dan sekarang kenapa ia malah tidak mau bertemu!" Cassandra kembali histeris dan menyalahkan semua orang.
Dua hari ini ini Bradley Timothy tak bisa dihubungi sedangkan karirnya kini berada diujung tanduk. Semua jadwal pemotretannya dibatalkan oleh agency karena ia hamil, belum lagi pinalti yang harus ia ganti.
"Aaaaaaaa Pretty! tolong hubungi Bradley dan katakan kalau aku sedang sakit! aku bisa mati Pretty!"
"Baiklah Cassy, aku akan mencoba mencari tuan Timothy." jawab sang asisten kemudian mencoba mencari nomor handphone pacar dari Cassandra itu. Tetapi setiap dihubungi selalu berada di luar jangkauan.
"Aku akan ke kantornya atau ke Rumahnya. Sekarang kamu tidur dan istirahat, okey?" ujar Pretty kemudian membawa sang model yang sedang berada disaat-saat sulit itu ke tempat tidurnya.
Gadis itu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Cassandra dan memberinya obat penenang.
"Aku akan membawa tuan Bradley kesini. Jadi Tenanglah." Pretty meninggalkan apartemen mereka lalu Mambawa mobilnya ke arah kantor atau tempat kerja tuan muda pebisnis hebat Bradley Timothy.
"Permisi. Saya Pretty Stewart. Apa aku bisa bertemu dengan tuan Timothy junior?" tanyanya pada resepsionis yang berjaga di depan lobi Perusahaan besar itu.
Gadis itu akan memberanikan dirinya untuk menemui Bradley Timothy meskipun ia harus memohon-mohon karena ia begitu kasihan pada Cassandra yang sangat menderita saat ini.
"Apa anda ada janji sebelumnya Miss Stewart?" tanya sang resepsionis sembari memandang wajah gadis itu yang nampak sedang kebingungan.
"Hum, sebenarnya aku belum membuat janji tapi aku ingin sekali bertemu dengan tuan Timothy karena ini menyangkut nyawa seseorang." jawab gadis asisten itu dengan senyum meringis.
"Sebenarnya ini rahasia perusahaan. Tapi baiklah aku akan memberi tahu anda nona. Dua hari ini tuan Bradley Timothy tidak pernah masuk kerja. Semua urusan perusahaan jadi sangat kacau. Hingga big bos turun tangan."
__ADS_1
"Big bos?"
"Ya, Mr. David Timothy is a big bos. Dan entah kemana sekarang tuan Bradley Timothy menghilang setelah skandalnya dengan model papan atas itu ketahuan ke publik."
Pretty Stewart menarik nafas panjang. Rupanya pria itu juga sedang dalam masalah besar. Ia pun segera pamit dari sana dan melajukan mobilnya ke arah apartemen Bradley Timothy. Ia pernah mengantar Cassandra ke tempat itu jika mereka berdua sedang ingin bersenang-senang.
Dan gadis itu berharap, pria yang sedang dicarinya ada di sana.
Tok
Tok
Tok
Seorang pria muda seumuran Bradley Timothy membukakannya pintu. Pria itu adalah Jackson Thomson sang asisten pribadi dari pria yang sedang dicarinya.
"Anda?" dua orang itu sama-sama mengucapkan kata yang sama kemudian saling tersenyum.
"Aku Pretty Stewart asisten Cassandra, boleh aku bertemu dengan tuan Bradley Timothy?"
"Cassandra sedang ingin mencoba menyakiti dirinya dan sangat ingin bertemu dengan tuan Timothy." jawab gadis itu dengan wajah serius.
Asisten pribadi Bradley Timothy itu tidak mengucapkan sepatah katapun tetapi langsung membuka pintu lebar-lebar agar gadis itu bisa masuk ke apartemen mewah itu.
Sesampainya di dalam sana, Pretty Stewart tercengang dengan apa yang ia lihat. Seorang Bradley Timothy yang selama ini selalu tampil rapih dan tampan kini menunjukkan sisi lain dari dirinya.
Tampilannya sangat berantakan dengan rambut yang acak-acakan dan sangat berantakan. Wajahnya dipenuhi bulu-bulu halus seperti tak pernah tersentuh pisau cukur.
Pria itu sedang menghadapi gambar-gambar Cassandra dengan pacar gelapnya yang bernama Jason Derylo. Seorang model pria yang juga sedang naik daun itu.
"Apa ada lagi bukti yang ingin anda tambahkan nona Stewart?" tanya Bradley Timothy dengan nada dingin dan datar.
"Hum, ti-tidak tuan. Aku hanya ingin melihat keadaanmu." jawab gadis itu dengan gugup. Ia seperti sedang masuk ke dalam kandang harimau dan sudah lama ditunggu oleh penghuni kandang itu.
__ADS_1
Tubuhnya gemetar ketakutan sampai tak sanggup untuk berdiri. Perlahan tangannya menyentuh dinding untuk berpegangan.
"Katakan padaku nona Stewart, sejak kapan perempuan sialan itu berhubungan dengan pria keparat ini?!"
Pretty Stewart tak bisa menjawab. Lidahnya terasa keluh dan tak mampu untuk bicara.
"Katakan!" teriak Bradley Timothy sembari melempar gelas slokinya kearah kepala gadis itu tetapi hanya berhasil mengenai dinding.
"Sejak setahun yang lalu tuan, saat mereka mulai terlibat kerjasama." jawab gadis itu cepat. Bradley Timothy meraup wajahnya kasar. Ia merasa sangat bodoh sekarang.
Selama setahun ia merasa ditipu oleh model itu dan ia mau saja. Dengan wajah menghitam ia terkekeh dan menertawai kebodohannya sendiri.
"Sekarang pulanglah dan katakan pada perempuan sialan itu untuk menikmati hari-harinya yang akan sangat menyakitkan."
"Ba-baik tuan." jawab sang asisten dan segera berbalik dan lari meninggalkan apartemen itu. Jackson Thomson tersenyum samar dengan ekspresi horor yang ditunjukkan gadis itu padanya.
Sementara itu Bradley Timothy mulai merasakan kembali dadanya sesak. Rasa marahnya pada Cassandra kini beralih rasa rindu yang teramat sangat pada Valerie Dominguez yang sedang mengandung anaknya.
"Apa ada perkembangan pencarian Valerie?" tanyanya pada sang asisten.
"Belum ada perkembangan yang berarti tuan. Bahkan sekelas FBI saja tidak menemukan jejak dari Nyonya Valerie."
"Aaaargh! sial!" pria itu memukul dadanya dengan keras karena merasa sangat menyesal tidak mencurahkan perhatian yang sangat baik pada istrinya itu.
"Anda sebaiknya mulai bangkit. Atau big bos akan mencabut semua fasilitas yang telah diberikannya pada Anda." ujar Jackson Thomson dengan wajah serius.
"Mana aku bisa bangkit kalau kalian semua tidak becus mencari Valerie untuk ku!" teriak Bradley Timothy dengan pandangan mata tajam pada asistennya itu.
"Ia sedang hamil besar dengan membawa putraku dan tidak punya uang Jack! dimana FBI sialan itu! orang hamil saja tidak bisa ia temukan. Brengsek!" pria itu terus mengumpat dan menyalahkan semua orang.
🍀
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍