
Jackson Thompson menatap wajah ayahnya dengan tatapan benci. Sedangan Bradley Timothy segera menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk segera datang membantu karena melihat ada banyak hal yang mencurigakan disekitarnya.
Beberapa pria berkostum hitam mulai mengepung keduanya dengan sikap siaga.
Keduanya mulai memasang kuda-kuda untuk melawan para suruhan Jeremy Thompson itu.
Bugh
Bugh
Desh
Bradley Timothy dan Jackson Thompson menangkis serangan-serangan yang datang dari lawan mereka yang berjumlah banyak itu.
"Aaaaargh!" Jackson Thompson menjerit kecil ketika orang kepercayaan ayahnya berhasil membuatnya terdesak ke dinding. Dadanya terkena tendangan yang cukup keras dari pria berkostum hitam-hitam itu.
Bugh
"Aaaargh!"
"Oh shi*t!" pria itu mengumpat kesal karena tiba-tiba saja juga jatuh tersungkur karena tendangan keras mengenai punggungnya dari kaki kuat Bradley Timothy.
Pria itu berusaha berdiri tetapi kembali terjatuh karena sekali lagi cucu David Timothy itu kembali menyarangkan satu pukulan telak diwajahnya.
"Awas Tuan!" teriak Jackson saat ia melihat salah satu penyerang melayangkan tendangannya ke arah tubuh Bradley Timothy.
Pria itu berhasil mengelak dan justru mendapatkan kesempatan untuk melumpuhkan lawan dengan tendangan kuatnya seperti biasa.
"Ayo maju kalian dan aku pastikan akan mendapatkan yang lebih buruk dari ini!" ujar Bradley Timothy seraya membuka jas yang sedang dipakainya dan melemparkannya ke sembarang arah. Lengan kemejanya pun ia gulung dan siap memasang kuda-kuda lagi.
Pria itu sudah sangat kesal dan marah dengan orang-orang suruhan dari Jeremy Thompson itu. Baginya saat ini adalah penentuan akan nasib mereka semuanya.
Jackson Thompson berusaha berdiri seraya memegang dadanya yang masih terasa nyeri. Ia menatap ayahnya tatapan tajam disertai kebencian yang teramat sangat di dalam dadanya.
"Aku tidak tahu apa alasanmu melakukan ini padaku Tuan Jeremy Thompson. Dan Jangan kira karena ada darahmu di tubuhku kamu bisa seenaknya melakukan hal seperti ini padaku." ujar Jackson seraya mendekati ayahnya.
"Aku tidak akan melakukan keinginanmu. Meskipun kamu membunuhku sekalipun!" tegas pria itu kemudian meninggalkan pria tua itu dengan sangat marah.
__ADS_1
Beberapa pria berkostum hitam-hitam kembali menghampirinya atas kode Jeremy Thompson sang ayah.
"Mau apa kalian!" teriak Jackson Thompson seraya memukul satu persatu orang-orang itu dengan membabi buta seperti orang gila.
Bugh
Bugh
Bugh
"Berhenti Jack!" teriak Jeremy Thompson dengan wajah dingin. Pria tua itu berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati putranya dengan menggapaikan tangannya. Diana, sang istri mengikutinya disampingnya.
Jackson dan Bradley mengabaikan panggilan pria itu dengan melanjutkan melumpuhkan semua orang suruhan Jeremy Thompson.
Bugh
Bugh
Desh
Mereka tidak ingin memberi ampun lagi pada orang-orang itu agar mereka bisa segera pergi dari sana.
Jackson Thompson menghentikan gerakan tangan dan kakinya untuk melumpuhkan para pria suruhan ayahnya.
Ia segera menghampiri sang ibu yang menangis histeris karena pria arogan dan kejam itu tak bergerak dengan darah yang terus mengucur keluar dari mulut dan lubang hidungnya.
"Ayo ibu, kita bawa suamimu ke rumah Sakit." ajak Jackson Thompson seraya menggendong tubuh ayahnya keluar dari lokasi bandara itu. Diana pun ikut dengan tangis yang semakin pecah. Nampak sekali kalau ia sangat ketakutan dengan apa yang terjadi.
Sedangkan Bradley Timothy meraih handphonenya yang masih tergeletak di lantai bersama jasnya yang ia lemparkan tadi. Pria itu kemudian berlari mengikuti Jackson Thompson yang membawa ayahnya ke dalam mobil.
"Masuklah ibu dan jangan menangis. Berdoalah suamimu masih diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan." ujar Jackson Thompson dengan wajah datar. Ia tidak tahu apakah masih punya rasa kasihan pada pria yang sangat ia benci ini.
Pria itu naik ke mobil diikuti oleh Bradley Timothy yang duduk disampingnya. Jackson Thompson melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap pria tua yang sedang sekarat itu masih bisa mendapatkan pertolongan untuk hidup.
Ciiiiiit
Tak cukup lima belas menit mereka sampai di sebuah Rumah sakit di dekat Bandara John F Kennedy.
__ADS_1
Beberapa petugas Rumah Sakit sudah menunggu mereka di depan ruang Emergency Room.
Dengan sigap para petugas kesehatan itu segera mengangkat tubuh Jeremy Thompson ke atas brangkar dan membawanya kedalam ruangan tindakan.
"Jack, maafkan ayahmu nak." ucap Diana seraya memeluk tubuh putranya dengan tangis sesenggukan.
"Iya Ibu. Aku tidak punya pilihan lain untuk itu." jawab Jackson dengan tangan mengelus lembut punggung sang ibu. Ia berusaha memberikan rasa nyaman agar ibunya bisa tenang.
Seorang dokter membuka pintu ruangan tindakan dan meminta untuk berbicara kepada anggota keluarga pria tua Itu.
"Pasien mengalami pecah pada pembuluh darahnya dan kami mohon maaf karena tidak bisa menolongnya. Ia sudah tidak bernyawa beberapa menit yang lalu." ujar sang dokter yang bagaikan sebuah petir disiang hari.
Diana tak sanggup mendengar berita buruk itu dan langsung jatuh terduduk. Ia sungguh tak sanggup menopang tubuhnya yang tiba-tiba terasa sangat berat dan layu.
"Ibu!"Jackson Thompson meraih tubuh ibunya dan menggendongnya ke arah kursi panjang di depan ruangan tindakan itu.
Pria itu menciumi wajah ibunya dan membisikkan kata-kata penghiburan. Meskipun ia tidak begitu dekat dan sudah lama tidak berjumpa dengan perempuan yang telah melahirkannya itu, tetapi rasa sedih yang dirasakan olehnya bisa juga ia rasakan.
"Semua akan baik-baik saja ibu, ada aku disini yang akan selalu bersamamu." hibur Jackson Thompson dengan tangan menggenggam tangan sang ibu.
"Maafkan Ayahmu Jack." ucap Diana dengan lelehan airmata dipipinya.
"Iya ibu. Sudah kukatakan bukan? Aku tidak punya pilihan lain selain memaafkannya."
"Terimakasih Jack. Sesungguhnya Jery sangat menyayangimu tetapi ia tidak tahu cara menyatakannya." ucap Diana dengan hati teriris pedih. Jackson hanya bisa terdiam dengan dada yang sangat sesak.
Pria itu tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang. Sungguh ia tidak pernah punya kenangan yang menyenangkan dengan pria yang sudah meninggalkan dunia itu.
Selama ia bersama dengan Jeremy Thompson di Inggris hanya kekejaman yang ia dapatkan. Tak pernah ia merasa dicintai dan diharapkan oleh pria itu. Hingga ia memutuskan untuk mengikuti David Timothy saat sahabat ayahnya itu berkunjung ke Inggris.
"Jack, Ayahmu meninggalkan banyak usaha untukmu di Inggris. Untuk itulah ia ingin kamu mengikuti kami kembali ke rumah masa kecilmu." Jackson Thompson menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
Peristiwa beberapa hari ini terlalu mengejutkan untuk hidupnya. Ia tidak tahu harus berkata apa hingga dokter memanggil mereka berdua untuk mempersiapkan kremasi untuk jenazah Jeremy Thompson sebagai Anggita keluarga terdekat dari pria tua itu.
🍀
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍