
Crisstoffer Anderson meregangkan otot-ototnya kemudian segera ke kamar mandi. Pria itu membersihkan dirinya di sana sekaligus bersuci untuk melaksanakan sholat subuh.
Pakaian ganti ia ambil dari tas yang ia bawa bersamanya dari Birmingham. Rupanya persiapannya memang sudah matang saat Jackson Thompson menghubunginya untuk datang ke tempat itu.
Pria itu lalu melaksanakan sholat subuh di dalam ruang kerja itu dibawah tatapan aneh dari seorang Jackson Thompson. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya ini memiliki keyakinan akan adanya Tuhan.
Yang ia tahu adalah Crisstoffer Anderson tak pernah sedikitpun berbicara apapun tentang hal pribadinya kecuali tentang istrinya yang sangat ia cintai.
"Ayo cepat mandi dan kita sarapan." ujar Crisstoffer sembari tersenyum melihat wajah Jackson Thompson yang nampak bingung dengan apa yang ia lakukan.
"Ah iya. Dan mungkin kamu perlu menjelaskan sedikit tentang apa yang kamu lakukan tadi." ujar Jackson seraya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Crisstoffer Anderson hanya tersenyum samar.
Dua pria itu sarapan dengan roti isi daging sapi serta air mineral yang dibawa oleh pria asal Birmingham itu.
"Rotinya enak. Dan sejak kapan kamu membawa makanan dan minuman kemana-mana Criss?" tanya Jackson seraya mengunyah potongan demi potongan roti yang terasa sangat lezat di lidahnya itu.
"Aku membawa bekal makanan kemana-mana sejak menikah dengan Nikita. Ia begitu rewel dengan makanan yang sering aku beli."
"Oh, kuharap istriku juga akan serewel istrimu, Hem." Jackson Thompson tersenyum samar membayangkan Pretty Stewart yang cerewet itu benar-benar memanfaatkan kecerewetannya mengurus dirinya kelak kalau mereka sudah bisa hidup bersama.
"Aamiin." jawab Crisstoffer singkat.
"Criss? sejak kapan kamu beribadah seperti itu?"
"Sebelum menikahi Nikita aku sudah mempercayai adanya Tuhan sebagai pencipta alam dan segala isinya ini." Jackson Thompson hanya terdiam. Saat ini ia belum siap berbicara banyak hal tentang Tuhan.
"Nah, bersiaplah. Tikus-tikus itu sudah memasuki perangkap," ujar Crisstoffer Anderson seraya memantau laporan dari orang-orang kepercayaannya.
Jackson Thompson tersenyum kemudian berdiri dari duduknya. Ia menarik nafas panjang dan berharap semoga permasalahan di Perusahaan ini cepat teratasi dan ia bisa kembali ke New York untuk bertemu dengan Pretty Stewart sang istri.
Mereka terus memantau pergerakan tikus itu dengan kode-kode rahasia. Jutaan dollar tiba-tiba raib dari kas perusahaan dalam waktu beberapa menit saja.
"Got you!" teriak Crisstoffer Anderson setelah berhasil mengunci pergerakan mereka. Jackson Thompson tersenyum. Ia tahu Crisstoffer Anderson pasti bisa melakukan ini dengan sanga cepat.
__ADS_1
"Mereka sudah tertangkap Jack. Titik koordinat mereka sudah aku kirim ke kepolisian Inggris. Dan apakah kamu tahu? mereka ternyata juga menginap di Perusahaan ini malam ini, hahaha." jelas Crisstoffer Anderson dengan tawa di bibirnya.
"Ah benarkah?" tanya Jackson Thompson dengan wajah tidak percaya.
"Iya, mereka berada di sebuah ruangan di samping ruangan kerjamu, Jack. Mereka benar-benar tikus yang sangat percaya diri."
"Bagaimana kamu bisa tahu Criss padahal CCTV tidak berhasil memantau pergerakan mereka?"
"CCTV sudah mereka lumpuhkan tetapi akun dan sandi mereka bisa aku dapatkan dengan cepat." jawab Crisstoffer Anderson seraya berdiri dari duduknya.
"Sekarang mari kita lihat di luar bagaimana wajah mereka setelah gagal mentransfer jutaan dollar itu ke rekening lain." Jackson Thompson tersenyum kemudian mengikut langkah sahabatnya itu keluar ruangan.
Suasana Perusahaan yang masih sepi oleh karyawan kini diramaikan oleh beberapa orang dari kepolisian Inggris khusus khusus untuk kejahatan Cyber crime.
Bugh
Bugh
Dua kali Jackson Thompson melayangkan pukulan pada rahang pria yang bernama Jeffrey McLaren itu dengan emosi didadanya.
"Biarkan Polisi yang menanganinya Jack, kamu tidak perlu mengotori tanganmu." ujar sang sahabat berusaha untuk menenangkan.
"Silahkan Pak, bawa tikus ini dan kawan-kawannya ke kantor Polisi. Aku takut tidak bisa menahan diriku." ujar Jackson Thompson pada para polisi itu.
"Aku hanya mengambil hak aku dari Jeremy keparat itu!" teriak Jeffry McLaren ketika diborgol tangannya oleh polisi. Pria itu menatap tajam Jackson Thompson dan juga Crisstoffer Anderson dengan tatapan benci.
Bugh
Sekali lagi Jackson Thompson melayangkan satu pukulan keras pada perut pria perampok itu karena emosi.
"Sekali lagi kamu mengumpat ayahku. Maka aku akan robek mulutmu brengsek!" Crisstoffer Anderson segera memberi kode pada polisi itu untuk segera membawa tikus-tikus itu keluar dari sana.
Pria itu khawatir Jackson Thompson akan mendapatkan masalah baru jika tidak bisa mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Nah, aku akan pulang Jack. Semua masalah itu sudah selesai." ujar Crisstoffer Anderson setelah beberapa saat mereka diam dengan pikiran masing-masing.
"Jangan pergi dulu. Apakah kamu tidak ingin menemui ibuku terlebih dahulu Criss?"
"Oh ya baiklah. Aku akan menemui bibi Diana. Aku juga ingin meminta maaf padanya karena tidak sempat datang waktu ayahmu di makamkan." Jackson Thompson tersenyum kemudian menepuk bahu sahabatnya itu.
"Ayo kita ke ke rumahku dulu. Ibuku pasti akan sangat senang melihatmu." ajak Jackson kemudian melangkah lebih dulu keluar dari ruangan itu.
Tak cukup 30 menit mereka berkendara, mereka pun sampai di Rumah peninggalan ayahnya.
"Halo bIbi, apakah kamu masih mengingatku?" sapa Crisstoffer Anderson seraya memeluk tubuh perempuan paruh baya yang masih sangat cantik itu.
Diana menatapnya dengan senyum diwajahnya. Ia sepertinya masih sangat mengenali sahabat dari putranya ini.
"Ah ya kamu cucunya William Anderson 'kan? tentu saja aku mengenalmu nak. ayo silahkan masuk." Diana mempersilahkan tamunya itu masuk dengan wajah yang sangat bahagia.
"Apa aku bilang Criss, daya ingat ibuku lumayan bisa diandalkan." ujar Jackson Thompson sembari melengkungkan bibirnya tersenyum tetapi kemudian wajahnya berubah warna karena seorang gadis, teman masa lalunya ada di dalam ruang tamu di rumahnya.
"Hai Criss, Jack!" sapa Ashley Cole dengan wajah ceria. Gadis itu langsung berdiri dari duduknya kemudian bersiap untuk memberikan ciuman sapaan pada Jackson dan juga Crisstoffer Anderson.
Crisstoffer Anderson langsung mengangkat tangannya di depan dadanya pertanda ia tidak ingin bersentuhan dengan gadis itu.
Jackson Thompson pun melakukan hal yang sama, ia menolak untuk bersentuhan dengan gadis yang pernah menjadi teman dekatnya sewaktu masih remaja itu.
"Bibi, ada apa dengan semua pria ini? apakah tubuhku bau dan aku sudah tidak cantik lagi?" gadis itu menghentakkan kakinya merajuk.
"Maaf Ashley, kami semua sudah menikah. Dan tak ingin bersentuhan dengan perempuan lain." ujar Crisstoffer Anderson tak enak hati.
Ashley Cole langsung menatap wajah Jackson Thompson dengan wajah berubah kecewa. Ia tidak menyangka kalau pria yang ia tunggu selama ini malah pulang dengan status sudah menikah.
🍀
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍