
Keinginan David Timothy benar-benar berhasil. Cucunya yang merupakan pewaris satu-satunya untuk kerajaan bisnisnya kini mulai aktif bekerja sesuai dengan yang ia harapkan.
Ada banyak kemajuan di dalam perusahaan termasuk kedisiplinan dan kejujuran yang semakin meningkat. Pria muda itu tak segan-segan memberikan sanksi bagi karyawan yang melanggar aturan atau bahkan berani mencuri dari Perusahaan.
Bradley Timothy bekerja tanpa lelah dan bahkan lupa untuk beristirahat. Ia sendiri sudah lupa yang namanya weekend. Setiap hari adalah kerja dan kerja. Tujuannya adalah untuk melupakan semua pengkhianatan yang dilakukan oleh orang terdekatnya.
"Hari ini, anda diminta oleh tuan Timothy senior untuk mewakilinya mengunjungi Rumah Sakit yang dikelola dibawah naungan yayasan Timothy grup." ujar Jackson Thomson membacakan jadwal kerja bagi seorang Bradley Timothy.
Pria muda itu menarik nafasnya dalam-dalam. Ia baru saja tiba dari kunjungan bisnisnya di seluruh negara Asia dan sekarang ia bahkan belum beristirahat dan mendapat tugas baru lagi.
"Apa kakek tua itu menganggap aku ini mesin Jack?" tanyanya pada asistennya karena kesal. Tubuhnya sekarang sedang tidak bisa bekerjasama. Ia merasa sangat lelah begitupun dengan batinnya.
"Tuan Timothy sedang ada pertemuan penting lainnya pada waktu yang sama jadi kuharap anda bisa melaksanakannya tuan." Bradley Timothy kembali mengerang kesal.
"Baiklah, semua akan aku lakukan agar kakek tua itu memberikan semuanya padaku. Ayo kita berangkat." ujar pria itu dengan wajah mengeras. Terkadang ia sangat benci pada sifat pemaksa dari sang kakek yang membuatnya seperti sebuah mesin tanpa perasaan.
Jackson Thomson tersenyum kemudian melajukan mobilnya ke arah Rumah Sakit yang baru dibangun oleh Yayasan sosial Timothy Group. Rumah sakit untuk orang yang tidak mampu dengan fasilitas yang sama dengan Rumah Sakit mahal di New York.
"Setelah ini anda akan beristirahat tuan. Jadi tersenyumlah." canda Jackson Thomson pada tuan mudanya itu. Ia tahu kalau pria itu pastinya sangat kesal dengan semua pengaturan yang telah dibuat oleh seorang David Timothy pada cucunya.
"Aku mungkin baru mendapatkan cuti untuk istirahat saat aku sudah setua kakekku itu Jack," jawab Bradley Timothy sembari melihat keadaan kota New York yang sangat ramai siang itu.
"Tidak mempunyai pasangan dan hanya sibuk untuk mengejar Dollar. Apa ini yang akan aku alami Jack?" sang asisten tidak menjawab. Begitu banyak orang sukses dan kaya di negri ini menghabiskan kekayaannya untuk hal-hal yang baik tetapi tidak berpikir untuk membangun sebuah keluarga.
"Kenapa anda tidak mencari perempuan lain dan jatuh cinta lagi tuan?" tanya sang asisten tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang ada di hadapannya.
"Persetan dengan perempuan. Mereka semua pengkhianat. Mereka meninggalkan aku Jack! aku sangat membenci mereka." geram Bradley Timothy dengan tangan mengepal marah.
__ADS_1
"Anda yakin tidak ingin lagi mencintai?"
"Tidak. Cinta itu bulshi*t. Mereka membuat aku sakit. Mungkin aku akan tetap sendiri saja." jawab Bradley Timothy perasaan nyeri. Cintanya pada Cassandra dikhianati oleh perempuan itu dengan sangat menyakitkan.
Dan ketika hatinya mulai merasakan sesuatu yang berbeda pada Valerie Dominguez, perempuan itu juga meninggalkannya dengan membawa putranya bersamanya.
"Jangan bahas mereka lagi Jack, aku benci!"
"Baik tuan."
Suasana di dalam kendaraan roda empat itu kembali sepi. Tidak ada lagi yang mencoba memancing pembicaraan diantara mereka berdua. Sampai mereka sampai di sebuah lokasi Rumah Sakit yang nampak masih sangat baru itu.
"Kita sudah sampai." ujar Jackson Thomson sembari membuka seatbeltnya kemudian turun untuk membukakan pintu untuk Bradley Timothy.
Bradley Timothy disambut oleh beberapa tim dokter dan pengurus rumah sakit itu di depan pintu gerbang mobilnya.
"Selamat datang tuan Timothy junior. Kami sangat senang karena anda yang mewakili kakek anda." ujar pimpinan Rumah Sakit itu yang ternyata lumayan dekat dengan Bradley Timothy.
"Karena semua orang disini ingin melihat tampang segar seperti anda tuan, hahaha." tawa renyah kembali hadir dari pria bernama Zack Snyder itu.
"Jangan katakan ini pada tuan Timothy senior ya, aku takut bantuannya akan ia hentikan hahaha." pria itu kembali tertawa dan membuat wajah kusut Bradley kembali cerah. Rupanya ia juga butuh hiburan setelah musibah percintaannya yang cukup menguras tenaga dan pikirannya.
Mereka semua memasuki sebuah aula di dalam Rumah Sakit itu untuk memulai acara pembukaannya.
Bradley Timothy yang didaulat untuk menyampaikan pidato singkat sekaligus meresmikan pembukaan Rumah Sakit tampil dengan sangat baik. Pria itu menyampaikan banyak kalimat motivasi untuk semua orang yang hadir.
Semua orang bertepuk tangan dengan penampilan pria yang sangat terkenal itu. Kasak-kusuk mulai terdengar. Bahwa Bradley Timothy bisa menggantikan popularitas seorang David Timothy sang kakek.
__ADS_1
Acara selanjutnya adalah penyerahan hadiah bagi pasien pertama yang hadir pada saat itu. Beberapa orang pasien dipanggil ke atas panggung dari jenis layanan atau penyakit yang diderita.
Bradley Timothy merasakan kakinya tak mampu bergerak untuk memberikan hadiah itu ketika mendapati Cassandra dan pria selingkuhannya ada disana sebagai salah satu pasien yang akan mendapatkan hadiah darinya.
Perut Cassandra yang sudah sangat besar membuatnya kembali sakit. Bukti pengkhianatan perempuan itu sangat jelas di depan matanya dan ia sangat tidak suka itu.
"Selamat ya." ujarnya pada Cassandra dan juga Jason Derylo sembari menyerahkan sebuah bingkisan dan juga uang pada pasangan itu. Meskipun sakit, ia tetap harus bersikap professional.
"Terimakasih banyak Bradley," jawab Cassandra dengan air mata yang menggenang dipipinya. Perempuan hamil itu langsung memeluk tubuh kekasihnya karena tidak sanggup menahan rasa sedihnya.
Bradley Timothy hanya menunjukkan ekspresi dingin. Ia tidak boleh terpengaruh, meskipun tangannya sudah sangat gatal untuk memukul pria itu. Tetapi ia sadar kalau ia adalah orang yang berpendidikan dan juga dihormati. Ia tidak boleh melakukan sesuatu yang akan merusak reputasinya.
Pria itu segera turun dari panggung dan meminta Jackson Thomson untuk membawanya pulang ke rumah sang kakek. Ia ingin tidur dan beristirahat di sana.
"Baik tuan." mereka pun kembali dengan keheningan yang kembali tercipta di dalam kendaraan itu.
"Jack, kira-kira usia kandungan Valerie juga seperti perempuan brengsek itu ya?" tanya Bradley Timothy yang langsung membuat sang asisten terhenyak kaget.
"Iya mungkin saja tuan." jawabnya dengan suara rendah.
"Apa itu berarti anakku akan segera lahir Jack?" tanya pria itu lagi dan membayangkan perut besar Valerie ada di depan matanya. Rasa rindu kembali datang tanpa diundang. Ia ingin sekali menyentuh perut itu dan menyapa putranya.
Jackson Thomson tidak menjawab. Ia tidak tahu apakah harus mengatakan sebuah rahasia besar pada tuannya ini.
🍀
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍