Hanya Sekedar Melahirkan

Hanya Sekedar Melahirkan
Bab 33 HSM


__ADS_3

Jackson Thomson meremas handphonenya dengan sangat kesal. Ia sampai melempar benda pipih itu ke atas sofa di dalam ruang keluarga di Mansion itu karena belum juga berhasil menghubungi gadis bernama Pretty Stewart itu.


"Pergi kemana kamu gadis cerewet?!" pria itu mondar-mandir di dalam Mansion tanpa sadar kalau sedang diperhatikan oleh seorang pria tua bernama David Timothy.


"Jack? apa ada masalah?" tanya pria tua itu penasaran. Ia sungguh tidak pernah melihat asisten pribadi cucunya itu bertingkah seperti itu. Biasanya ia sangat pintar menjaga emosinya.


"Ah tidak Tuan. Tidak ada masalah." jawab pria itu cepat. Tetapi mata tua David Timothy tidak percaya akan apa yang dikatakan oleh pria itu.


"Aku tidak pernah melihatmu seperti ini Jack. Jika ada hal yang ingin kamu katakan. Kamu bisa berbagi denganku."


"Bukan hal yang besar Tuan. Saya hanya sedang mencari gadis cerewet itu."


"Hah? gadis cerewet?" kening David Timothy mengernyit. Ia sedikit bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh pria muda dihadapannya itu.


Jackson Thomson langsung tersenyum kikuk kemudian meralat ucapannya.


"Maksud saya adalah nona Stewart, Tuan. Sejak tadi ia tidak berada di Mansion ini untuk melaksanakan tugasnya."


"Oh, nona cerewet Stewart, Hem?" David Timothy tersenyum sembari memandang wajah Jackson Thomson.


"Sepertinya gadis itu sedang menikmati weekendnya di suatu tempat Jack. Mungkin sedang berkencan dengan seseorang diluar sana. Jadi kamu tidak perlu mencarinya." ujar David Timothy dengan mata memperhatikan reaksi pria muda itu. Jackson Thomson tanpa sadar mengeratkan rahangnya beberapa detik kemudian kembali berwajah datar.


"Ah iya Tuan. Saya lupa kalau sekarang adalah weekend. Semua orang pantas menikmati weekend ini. Dan Saya juga ingin menikmatinya."


"Kamu benar sekali Jack. Pergilah juga melakukan kencan dengan gadis di luar sana. Dan berpikirlah untuk menikah. Kamu lihat bagaimana Bradley setelah menemukan perempuan yang sudah cocok dengannya? sampai siang seperti ini ia masih betah tinggal di kamarnya, hehehe." kekeh David Timothy sembari menepuk bahu asisten kepercayaannya itu.


"Iya Tuan. Saya juga sedang memikirkan untuk mencari teman kencan yang cocok." jawab pria itu tersenyum. Dan entah kenapa bayangan Pretty Stewart sepertinya sedang tidak ingin pergi dari kepalanya hingga dadanya berdebar tidak karuan.


"Ya, lakukanlah Jack. Selagi engkau masih muda."


"Baik Tuan. Well, kalau ada yang anda butuhkan katakan padaku. Sebelum aku menemui teman kencanku."


"Tidak Jack. Kamu bisa pergi sekarang. Saat ini Aku hanya ingin bermain-main dengan Andrew. Ia sudah tumbuh dengan sangat baik dan juga membuatku bahagia."


"Baiklah Tuan. Kalau begitu saya permisi." ucap pria itu kemudian pergi meninggalkan David Timothy yang sedang tersenyum samar. Pria tua itu tahu kalau kepala Jackson Thomson pasti sedang memikirkan gadis ceria yang bernama Pretty Stewart itu.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


"Ah itu pasti handphone Jackson. Baru kali ini anak itu sangat gegabah seperti ini." ujar David Timothy nada dering handphone dari arah Sofa yang ada di dalam ruangan itu.


"Hah, dimatikan." ujar pria tua itu sembari menatap layar handphone itu yang menunjukkan panggilan dari kontak yang bernama Miss Talkative (Nona Cerewet).

__ADS_1


"Ternyata mereka berdua saling mencari. Dasar anak muda!" David Timothy menggelengkan kepalanya sembari terkekeh. Ia pun menaruh handphone asisten kepercayaannya itu kedalam saku celana yang sedang ia pakai.


"Jack pasti akan kembali lagi mencari handphone ini." Pria itu pun berjalan ke arah kamar pribadi Bradley Timothy sang cucu. Bersama seorang pelayan pribadinya ia ingin menjemput cicitnya untuk bermain siang itu.


πŸ€


Oh my God. Kenapa Tuan Thompson belum datang juga? ujar Pretty Stewart dalam hati dengan perasaan yang sangat khawatir.


Gadis itu meremas jari-jarinya karena sudah mulai merasa takut akan nasib hidupnya hari ini. Sedangkan Steven Brown tidak membiarkannya keluar dari ruangan itu.


"Steve, izinkan aku pulang. Aku punya pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan seseorang."


"Diamlah sayangku. Jangan berusaha membohongiku. Aku tahu kamu bekerja dengan model bangkrut yang bernama Cassandra itu."


"Keluarlah dari pekerjaan itu. Memangnya Apa yang bisa diberikan oleh model miskin seperti itu. Tidak ada!"


"Tidak Steve. Aku sudah tidak bekerja di sana. Aku sekarang mempunyai keluarga jadi tolong biarkan aku pergi."


"Keluarga apa maksudmu?, jangan pernah mengatakan hal itu. Hanya Akulah keluargamu. Dan kita akan menikah serta hidup bersama sampai tua."


"Oh tidak. Aku tidak bisa percaya padamu lagi Steve. Kamu sering membohongiku. Dan aku tidak mau itu. Jadi kumohon carilah perempuan yang lain."


Brakk!


Steven Brown memukul meja yang ada dihadapannya dengan keras hingga membuat gadis itu terjingkat kaget. Pria itu menatap Pretty Stewart dengan tatapan nyalang.


Pretty Stewart menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Tidak. Kumohon biarkan aku pergi Steve Aku tidak ingin menikah denganmu!" Pretty Stewart akhirnya menekuk lututnya dihadapan pria itu. Ia memohon agar dilepaskan.


"Aaawww, lepaskan Aku!" tiba-tiba gadis itu berteriak nyaring karena rambutnya ditarik keras oleh Steven Brown hingga ia rasakan seperti ingin terlepas dari kulit kepalanya.


"Sudah kubilang aku tidak akan membiarkanmu pergi Pretty, sayangku. Hanya kamu yang bisa mengerti diriku. Semua perempuan itu hanya menginginkan uangku. Mereka semua meniggalkan aku!" pria itu kemudian mencengkram wajah gadis itu keras hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Kamu menyakitiku Steve!" gadis itu mendesis kesakitan. Air mata tiba-tiba saja keluar dari kelopak matanya.


"Maafkan aku sayangku, aku tidak akan melakukannya lagi." pria itu melepaskan cengkramannya dirahang sang gadis. Ia kemudian melangkah ke arah meja kerjanya dan meraih sebuah botol anggur dari dalam lacinya.


Steven Brown menenggak minuman itu untuk meredakan emosinya yang sempat tersulut oleh penolakan kekasih hatinya.


"Kita akan segera meninggalkan tempat ini Pretty. Rumah dipinggir danau yang sangat kamu inginkan sudah selesai sayangku. Kita akan tinggal disana dan menikmati hari tua kita." Pretty Stewart tidak menjawab.


Dadanya turun naik menahan emosi dihatinya. Airmata yang terus menganak sungai dipipinya menunjukkan begitu bencinya ia pada pria yang sedang menatapnya itu.


Ia sungguh tidak ingin pergi bersama dengan pria pembohong dan sangat kasar itu. Dulu ia pernah mencintainya tetapi ketika pengkhianatan itu dilakukan di depan matanya, ia berjanji untuk tidak menerima kembali pria itu.

__ADS_1


Tetapi sayangnya pria itu selalu datang kembali dengan segala bujuk rayunya terutama kepada ibunya yang sangat matre itu.


Tuan Thomson dimana kamu? plis tolong aku.


bisiknya dengan cairan bening yang terus menetes dari kelopak matanya.


πŸ€


"Oh, Shi*t!" Jackson Thomson memukul stir mobilnya dengan perasaan kesal. Ia memutar kembali kemudinya ke arah Mansion yang sudah ia tinggalkan puluhan kilometer.


Pria itu baru menyadari kalau ia melupakan handphonenya di Mansion Tuan Timothy. Hidup tanpa handphone baginya seperti makan roti tanpa butter, terlalu hambar. Karena hampir semua pekerjaan yang akan ia lakukan itu sesuai dengan petunjuk dan perintah keluarga Timothy melalui benda pipih itu.


Sesampainya di Mansion, ia lalu mencari benda itu di ruang keluarga tetapi tak ia temukan.


"Tuan Timothy pasti tahu dimana handphoneku berada." ujarnya sembari melangkahkan kakinya menuju tempat bersantai yang biasanya pria tua itu datangi.


"Tuan."


"Jack? kamu kembali? apa kencannya batal heh?"


"Tidak Tuan. Saya belum sempat berkencan."


"Oh iya, Kamu melupakan handphonemu dan si gadis Cerewet itu menghubungimu terus-menerus. Ini ambillah." David Timothy tersenyum kemudian menyerahkan alat komunikasi itu kepada pemiliknya.


"Terimakasih banyak Tuan. Saya permisi." ujar pria itu dengan hati berdebar. Ternyata Pretty Stewart menghubunginya setelah mengatakan tidak ingin diganggu.


Awas kau gadis kecil, aku pastikan akan memberimu hukuman!


Jackson Thomson tersenyum kemudian membuka layar handphonenya.


Hei dia mengirim kata Help. Apa maksudnya ini.


Dengan cepat ia menghubungi kembali nomor itu tapi sudah tidak tersambung. Tiba-tiba rasa khawatir menghinggapi hatinya. Ia pun segera melacak keberadaan gadis itu melalui GPS.


Dengan langkah cepat bagai berlari, ia menuju mobilnya dan mengemudikannya dengan cepat.


Apa yang terjadi padamu gadis Cerewet?


πŸ€


*Bersambung.


Hai sayangku semuanya. Ada yang belum mampir gak di lapak Back To Mantan? mampir dong plis. Kisah hasil imajinasi othor juga bagus lohπŸ˜† iklan ni yeee , ya emang🀭


Okey deh tetap dukung karya ini ya gaess. Like dan komentar dong supaya aku tidak merasa menghalu sendiri 😍.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2