Hanya Sekedar Melahirkan

Hanya Sekedar Melahirkan
Bab 49 HSM


__ADS_3

Bradley Timothy memandang istrinya dengan senyum bahagia. Meskipun dirinya sendiri belum juga mendapatkan pelepasan tetapi dengan melihat Valerie sudah sampai berkali-kali, ia sudah sangat puas tak terkira.


Cuma yang sekarang yang takutkan adalah karena Valerie sudah hampir tak berdaya menghadapi dirinya yang mempunyai hasrat yang cukup besar, padahal dokter obgyn pernah memberinya ultimatum untuk tidak terlalu memforsir tenaga sang istri yang sedang hamil muda ini.


Valerie sudah berulang kali memohon ampun karena kelelahan tetapi ia belum juga bisa sampai pada titik ******* yang bisa membuatnya bisa bernafas lega.


"Val, maafkan aku sayang tapi kamu terlalu lezat, dan nikmat." bisik Bradley Timothy dengan suara bergetar seraya terus menerus menghentak dibawah sana dengan ritme yang bervariasi. Valerie hanya bisa tersenyum dalam kelelahan diiringi teriakan-teriakan kecil yang sungguh membuat Bradley Timothy diatas angin.


Perempuan cantik itu tetap mengikuti keinginan Bradley Timothy yang sangat ia cintai sampai pria itu bisa selesai dalam kunjungannya kali ini.


Setelah mencoba berbagai macam posisi barulah Bradley Timothy berhasil meledak didalam diri istrinya dengan sangat puas dan lega.


"Semoga kandunganmu baik-baik saja sayangku, maafkan aku ya," bisiknya lembut dengan nafas masih terengah-engah kelelahan. Pria mengelus lembut perut Valerie yang sudah mulai nampak membuncit dengan senyum bahagia.


Perempuan itu hanya tersenyum kemudian memeluk tubuh suaminya yang sudah tumbang dan kini berbaring di sampingnya.


"Aku ingin tidur Bradley. Aku ngantuk sekali." ujarnya seraya menutup matanya. Bradley mengecup keningnya lembut dan tak lama kemudian ia pun merasakan kalau istrinya jatuh tertidur dengan tangan memeluk tubuhnya dengan posesif.


Bradley Timothy tiba-tiba teringat pada asisten pribadinya yang ia tinggalkan di ruang kerjanya beberapa jam yang lalu.


Apakah Jackson sudah berhasil menikahi Pretty Stewart sesuai janjinya tadi padaku? ujarnya membatin.


Pria itu melirik handphone yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Ia ingin sekali menghubungi pria kepercayaannya itu tetapi ia tidak bisa bangun takut tidur istrinya jadi terganggu. Akhirnya, ia ikut tertidur karena mengalami hal yang sama, yaitu kelelahan.


Sementara itu, orang yang sedang ingin diketahui kabarnya ternyata sudah melakukan pernikahan sederhana di kantor catatan sipil New York.


Mereka berdua saling bertatapan dengan rasa yang tak bisa mereka lukiskan. Ada rasa bahagia yang mereka rasakan tetapi tak mampu mereka katakan.


Jackson Thompson menggenggam tangan istrinya dan membawanya ke tempat parkir. Pintu mobil ia bukakan agar gadis yang sudah ia nikahi itu bisa masuk dan duduk dengan cantik di dalam mobil.


"Ini terlalu mengejutkan Tuan. Aku sungguh belum bisa percaya." ujar Pretty Stewart dengan wajah yang nampak belum yakin dengan apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya.


"Aku sengaja melakukan ini sayangku, karena aku ingin membuktikan kalau aku serius dan ingin segera memilikimu seutuhnya." jawab Jackson Thompson tersenyum kemudian melanjutkan seraya memakai seatbeltnya.


"Kita makan dulu ya sebelum pulang. Kamu pasti belum makan."


"Baiklah Tuan, aku memang sudah sangat lapar." jawab Pretty Stewart dengan melakukan hal yang sama seperti yang pria itu lakukan, memasang seatbeltnya.


"Okey," Jackson Thompson tersenyum kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Ia menuju ke sebuah Restoran yang biasa ia datangi bersama dengan Bradley Timothy.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka pun sampai dan langsung menikmati hotdog dan juga minumannya.


"Aku akan membawamu ke tempatku terlebih dahulu sayang, jarimu ini terlalu polos. Aku ingin memasangkan sebuah cincin untukmu Pretty, supaya semua orang tahu kalau kamu adalah istriku." Pria itu meraih tangan Pretty Stewart kemudian menciumnya lembut.


"Pesta pernikahan akan kita rayakan secepatnya, bagaimana?"


"Aku serahkan semuanya padamu Tuan." jawab Pretty Stewart tersenyum.


Saat ini ia ingin menstimulasi otaknya untuk menerima kenyataan. Bahwa ada seorang pria baik yang ingin membahagiakannya meskipun ia belum seratus persen yakin. Masih banyak hal yang selalu mengganjal hatinya jika berhubungan dengan sebuah komitmen.


"Mulai saat ini, jangan lagi memanggilku Tuan. panggil namaku saja ya? Aku sekarang adalah suamimu." Pria itu menggenggam tangan istrinya dengan hati berdebar bahagia.


"Ah iya." Pretty ikut tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil. Hatinya juga berdebar keras. Jackson Thompson melajukan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan sedang.


Mobil mewah itu dikemudikannya membelah jalanan ramai kota New York untuk segera sampai di Apartemennya. Cincin pernikahan yang selama sudah ia siapkan untuk gadis Cerewet disampingnya ini.


Sekitar 15 menit perjalanan, mereka tiba di sebuah bangunan mewah yang berisi banyak penghuni dari kalangan jetzet New York yang juga tinggal disana.


Jackson Thompson selain memiliki satu unit rumah, ia juga memiliki satu unit apartemen itu sebagai tempat yang sangat private jika sedang ingin menyendiri dari kesibukan pekerjaan dan juga keluarganya.


Jackson Thompson meraih tangan gadis yang baru dinikahinya dan membawanya ke lantai teratas dalam bangunan itu. Mereka tampak sangat bahagia. Senyum cerah tak pernah lepas dari wajah mereka.


"Kami sudah lama menunggumu di sini, Jack," imbuh seorang perempuan paruh baya yang juga sedang berdiri di samping pria itu. Ia adalah ibu kandung yang telah melahirkan seorang Jackson Thompson.


"Ayah, ibu." Jackson Thompson melepaskan genggaman tangannya pada tangan Pretty Stewart lalu memeluk pria paruh baya itu bergantian dengan perempuan yang nampak sangat elegan itu.


"Ini adalah Pretty Stewart, ibu." ujar Jackson pada ibunya seraya meraih pinggang istrinya untuk diperkenalkan pada ibunya.


"Oh hai Nyonya. Senang berjumpa dengan anda," sapa Pretty Stewart dengan senyum cerahnya. Ia menyodorkan tangannya untuk menyalami Perempuan yang sangat elegan dalam penampilannya itu.


Diana Thompson membalas menggenggam tangan gadis itu seraya menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan mengintimidasi.


"Hai Nona Stewart, apakah kamu teman kencan putraku?"


Pretty Stewart tidak menjawab tetapi malah menatap wajah suaminya untuk meminta bantuan jawaban.


"Dia istriku ibu," jawab Jackson Thompson tersenyum.


"Apa?" Jeremy Thompson dan istrinya bagaikan tersambar petir dengan pernyataan putranya itu. Mereka menatap Jackson dan gadis itu bergantian dengan wajah kaget luar biasa.

__ADS_1


"Sejak kapan kalian menikah?" tanya Jeremy seraya meraih bahu putranya.


"Beberapa jam yang lalu ayah, maafkan aku karena tidak memberi tahu kalian."


"Ini tidak benar Jack, aku dan ibumu tidak akan menyetujui pernikahan ini."


Deg


Pretty Stewart menundukkan wajahnya dengan hati yang terasa sangat nyeri. Ia tak menyangka kalau keputusan yang sangat terburu-buru ini masih sangat riskan untuk hubungan mereka berdua.


"Aku akan membatalkan pernikahan kalian!" tegas Jeremy Thompson dengan ekspresi tak terbaca. Ia pun meraih handphonenya dan mulai menghubungi koneksinya di kantor catatan sipil di kota itu.


"Apa maksudmu ayah? aku mencintai Pretty Stewart dan ingin menjadikannya istriku. Kalian tidak berhak melakukan ini padaku!" teriak Jackson Thompson dengan tatapan tajam.


"Jaga sikapmu Jack. Kamu sungguh tidak pernah bertingkah seperti ini di depan ayahmu!" Diana Thompson menatap wajah putranya dengan tatapan tajam.


"Ayah, hentikan!" teriak Jackson lagi saat mendengar dan menyaksikan sendiri ayahnya itu menyebutkan identitasnya dan meminta agar pernikahan itu batal untuk tercatat dalam catatan sipil di kota itu.


"Sudah selesai! pernikahanmu sungguh tidak bisa dilanjutkan." jawab pria paruh baya itu dengan wajah tenangnya.


"Kalian berdua egois! Apa maksud kalian datang kemari hah?! hidupku sudah tenang tanpa kalian!" teriak pria itu dengan rahang mengetat sempurna. Ia bahkan meraih kelopak jas Ayahnya dan mencengkramnya kuat.


"Jack! tahan dirimu!" teriak Diana histeris saat melihat putranya sedang kalap dan ingin menyerang ayahnya sendiri.


"Aku tidak apa-apa, kalau kalian tidak menyetujui pernikahan ini. Aku akan pergi. Terimakasih banyak." ujar Pretty Stewart dengan suara tegasnya. Ia berharap dengan berkata seperti itu pertikaian keluarga itu bisa segera berhenti.


"Tidak Pretty, jangan pergi sayangku! kamu sudah menjadi istriku meskipun mereka tidak setuju." Jackson Thompson segera melepaskan ayahnya dan memburu gadis itu yang sudah berada di depan pintu.


"Ayah dan ibumu pasti mempunyai pertimbangan yang cukup baik. Jadi tidak apa-apa. Toh kita baru menikah beberapa jam. Dibatalkan pun tidak akan jadi masalah. Tidak ada yang rugi di sini." Pretty Stewart melepaskan tangan Jackson Thompson dan segera pergi dari sana.


Ia ingin sekali menangis tetapi tidak tahu apa yang harus ia tangisi, nasibnya yang burukkah atau ia memang diciptakan untuk hidup sendiri saja.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2