
Setelah cukup lama dalam posisi seperti itu, Jackson Thompson pun bangun dengan hati yang agak lebih baik.
Pria itu keluar dari ruangan Gym menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia membuka seluruh pakaiannya dan bersiap untuk tidur.
Seketika ia mengingat jika handphonenya berteriak keras memanggilnya tadi tetapi tak ia hiraukan. Akhirnya ia berjalan ke arah ruangan gym untuk mencari benda pipih itu.
Perlahan ia membuka layar yang kemudian menampilkan begitu banyak panggilan dari orang kepercayaannya yang ia tugaskan untuk mencari Pretty Stewart.
Dengan cepat ia menghubungi kembali nomor itu tetapi sudah tidak aktif.
"Brengsek!" umpatnya karena kesal dan emosi. Meskipun ia maklum karena penanda waktu pada handphone itu menunjukkan dini hari, dan itu berarti orang-orang itu mungkin sudah tertidur.
Dengan tak sabar ia mencari informasi lagi di dalam benda elektronik itu dan menemukan sebuah pesan singkat dari nomor tersebut diantara laporan panggilannya yang sampai puluhan kali.
Orang yang anda inginkan sudah kami temukan Tuan, anda bisa datang ke tempat biasa untuk menemuinya.
"Oh, Shi*t! mereka ternyata sudah menemukan Prettyku." ujarnya dengan perasaan yang membuncah bahagia.
Ia lalu mengambil pakaian kaos dan celana jeans-nya dan segera meraih kunci mobilnya. Ia harus bertemu dengan gadis cerewet itu sekarang juga. Ia sungguh tidak ingin menunda sampai pagi.
Tidak sampai 10 menit, pria itu berkendara ke sebuah tempat yang mereka sepakati untuk bertemu. Jalanan lengang karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari membuat ia bebas berada di jalan.
Kakinya dengan ringan melangkah ke sebuah rumah mewah miliknya yang jarang ia datangi. Ia lebih sering berada di Apartemen atau di Mansion keluarga Timothy.
"Tuan Thompson!" ucap seorang security yang membukakan pintu untuknya. Ia hanya mengangguk pelan dan melajukan mobilnya untuk memasuki area rumah itu.
Kunci ia sudah bawa kemanapun, jadi ia tak perlu membangunkan semua orang untuk membukakannya pintu.
Dengan perasaan yang cukup deg-degan ia membuka pintu kamar pribadinya berharap apa yang dikatakan oleh orang kepercayaannya itu benar adanya.
Matanya terpaku pada sosok gadis cantik yang selama ini sangat ia rindukan. Tanpa sadar ia menghembuskan nafas lega dengan bibir melengkung membentuk senyuman.
__ADS_1
Orang-orang kepercayaannya itu pantas mendapatkan hadiah yang sangat banyak karena gadis yang ia inginkan ada di sini dalam keadaan baik-baik saja.
Pria itu membuka jaketnya dan melangkah ke arah ranjang dimana Pretty Stewart sedang tertidur dengan meringkuk. Ia pun naik kesana dengan pelan dan memeluknya erat. Berharap gadis itu tidak terbangun.
Pretty Stewart menggeliat kemudian balas memeluk tubuh kekar pria itu. Jackson Thompson tersenyum, ia yakin tidur gadis itu sangat nyenyak sampai tidak menyadari keberadaannya di sana.
Jackson Thompson mengecup kening gadis itu kemudian ikut tertidur. Mereka berdua meraih mimpi indah bersama sampai pagi datang menjelang.
"Tuan Thompson?!" Pretty Stewart melepaskan sebuah tangan besar yang sedang memeluknya dengan perasaan kaget dan tidak percaya.
Pria yang baru disebut namanya itu membuka matanya perlahan kemudian berusaha mengumpulkan nyawanya. Ia pun tersenyum seraya menatap gadis cantik yang baru bangun dari tidurnya itu.
"Pretty, kamu sudah bangun?" gadis itu tidak menjawab tetapi malah menatap tajam pria kepercayaan keluarga Timothy itu.
"Kalau aku mengganggu tidurmu, aku akan keluar dari sini." ujar Jackson seraya ikut bangun.
"Tunggu Tuan, jelaskan padaku kenapa aku bisa berada disini dan anda? apakah anda yang mengatur semua ini?" kening gadis itu mengernyit bingung. Ia sungguh tidak mengerti akan apa yang terjadi.
"Maafkan aku Pretty, tapi tolong jangan pergi. Kami semua membutuhkanmu."
"Bukankah anda sendiri yang memecatku? dan anda yang mengatakan aku tidak boleh berada di sekitar keluarga Timothy?"
"Lalu kenapa anda memintaku untuk kembali?" tanya gadis itu kemudian turun dari ranjang. Rasa sedih dan kecewanya kini muncul lagi ke permukaan.
"Aku minta maaf karena mengatakan itu. Aku pikir kamu sengaja mempertemukan Nyonya Valerie dengan Cassandra." gadis itu langsung menatap tajam pria tinggi besar yang sedang menatapnya itu.
"Jadi begitu pikiran anda tentangku?" gadis itu tampak semakin kecewa karena mendapatkan tuduhan seperti itu.
"Meskipun aku sangat menyayangi Cassandra tetapi aku lebih sayang lagi pada Nyonya Valerie. Aku tahu semua rahasia Tuan Bradley Timothy dengan Cassyku tetapi tak pernah sedikitpun aku ingin merusak hubungan majikanku sendiri," dada gadis itu nampak turun naik karena emosi di dadanya.
"Cukup aku yang pernah merasakan sakit hati karena pria yang aku cintai sering bersama dengan perempuan lain. Dan aku tidak mau itu terjadi pada Nyonya Valerie. Aku ingin ia lebih baik tidak tahu semuanya, agar ia tenang dan bahagia."
__ADS_1
"Tetapi kalian semua menuduhku!" Pretty Stewart berteriak keras dan berusaha meninggalkan kamar itu tetapi dengan cepat Jackson Thompson merahnya dalam pelukan.
"Maafkan aku Pretty, aku tahu kalau kamu sangat kecewa padaku. Tapi plis jangan pergi. Aku tidak bisa hidup tanpamu."
"Tidak. Biarkan aku pergi jauh dari sini. Tidak ada orang yang benar-benar tulus padaku. Aku ingin hidup sendiri saja." gadis itu berusaha melepaskan rengkuhan tangan pria itu yang sepertinya sangat keras memeluknya.
"Kamu tidak akan kemana-mana Pretty, aku sangat mencintaimu. Maafkan aku sayang. Maafkan aku," mohon pria itu seraya mengarahkan wajah gadis itu padanya.
"Ya, aku memaafkanmu tetapi lepaskan aku. Aku ingin pergi dari sini." jawab gadis itu dengan wajah yang sudah sangat dekat dengan wajah Jackson Thompson.
Pria itu dengan cepat meraih bibir Pretty Stewart dan mengulumnya lembut. Tangannya menekan pinggang gadis itu yang berusaha melepaskan dirinya sedangkan tangan yang satu menekan tengkuknya agar ia bisa menciumnya lebih dalam.
Tubuh Pretty Stewart yang tadinya berusaha menolak dan memberontak lama kelamaan jadi rileks dan menikmati permainan lidah seorang Jackson Thompson.
Tanpa sadar ia pun membalas membelit lidah pria itu dengan sangat agresif tatkala gadis itu mulai ikut terbakar hasrat.
Jackson Thompson tersenyum dalam hati, tangannya segera bergerak kebawah, ke kedua buah daging kenyal montok dan meremasnya lembut hingga tanpa sadar gadis yang ada dalam kekuasaannya bergerak gelisah.
"Nyonya Valerie sampai sekarang belum membaik, ia mencarimu, Pretty," bisik pria itu dengan suaranya yang parau dan langsung membuat gadis itu mendorong tubuhnya menjauh.
"Kalau begitu bawa aku untuk bertemu dengan Nyonya Valerie Tuan," ujar gadis itu seraya merapikan pakaian dan rambutnya. Gadis itu sekarang tampak sangat malu karena telah ikut terbuai dengan perlakuan pria itu padanya.
Jackson Thompson mendekati lagi gadis itu dan mengecup bibirnya lembut.
"Aku mencintaimu Pretty, dan jangan ragukan itu." ucapnya kemudian meraih tangan gadis itu dan membawanya keluar. Mereka berdua akan pergi ke Mansion dan bertemu dengan Nyonya Valerie yang masih belum mempercayai suaminya.
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍