Hanya Sekedar Melahirkan

Hanya Sekedar Melahirkan
Bab 30 HSM


__ADS_3

David Timothy menjemput kedatangan Valerie dengan suka cita. Pria tua itu langsung meraih perempuan itu kedalam pelukannya saat baru tiba di Mansionnya.


"Aku sangat senang karena akhirnya kamu kembali ke Mansion ini, Valerie. Dan untungnya cucuku yang nakal itu yang pertama menemukanmu," ucapnya dengan mata berbinar bahagia. Wajah tuanya tampak lebih muda beberapa tahun daripada usianya karena bahagia. Hingga membuat Bradley Timothy mencibir.


Pria itu tidak suka kalau istrinya dipeluk oleh sang kakek. Ia sangat cemburu. Apalagi pria tua itu malah membawa Valerie ke dalam ruang kerjanya meskipun Bradley sangat keberatan.


"Andrew tidak akan marah kalau aku membawanya sebentar saja, Bradley." Jawab pria tua itu saat ia mengajukan protes dengan alasan ingin mempertemukan Valerie dengan Baby Andrew.


"Atau kamu yang mau menempel terus pada istrimu ya?" tanya sang kakek dan langsung membuat pria itu meremas tengkuknya karena ketahuan. Sedangkan Valerie hanya bisa tersenyum samar.


Tuduhan pria tua itu benar adanya. Ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan istrinya itu meskipun sedetik saja. Karena baru kali ini ia merasakan kalau sangat membutuhkan Valerie dalam hidupnya. Baginya perempuan itu mempunyai daya tarik tersendiri.


"Kamu bisa keluar Bradley!" titah David Timothy padanya saat mereka bertiga sudah berada di dalam ruang kerja pria tua itu.


"Aku tidak akan kemana-mana kakek. Aku tidak bisa mempercayaimu jika hanya berdua saja dengan Istriku." balas Bradley Timothy dengan tangan langsung merengkuh pinggang ramping Valerie.


"Heh, siapa bilang kami hanya berdua anak nakal. Kamu bisa lihat itu." David Timothy menunjuk beberapa orang pria berpenampilan rapih sedang duduk di kursi di dalam ruang kerja sang kakek.


"Halo tuan Bradley." sapa mereka kompak.


"Halo semuanya!" Bradley Timothy balas menyapa mereka dan baru menyadari kalau mereka semua adalah pengacara keluarga Timothy.


"Apa ada hal penting kakek?" tanyanya pada sang kakek yang sudah duduk di depan para pengacara itu.


"Aku hanya ingin membuat surat wasiat untuk semua harta yang aku punya, Bradley. Mansion ini aku serahkan untuk Valerie Istrimu."


"Apa yang kamu katakan Kakek?" tanya Bradley dengan tatapan tidak percaya.


"Kenapa? kamu tidak setuju?"


Bradley Timothy menatap istrinya yang masih berada dalam rengkuhannya itu kemudian menjawab.


"Aku tidak setuju kakek. Sebaiknya Mansion ini milik Andrew saja. Sedangkan Valerie akan aku belikan rumah yang sederhana saja. Yang isinya hanya satu kamar tidur agar kami bisa selalu bersama." jawab Bradley sembari mengecup lembut bibir istrinya di depan semua orang.


"Aaaww," pria itu berteriak nyaring karena merasakan pinggangnya dicubit keras oleh sang istri.


"Kamu keluar saja Bradley. Dan bawa istrimu bersamamu. Keputusanku tidak bisa lagi berubah." ujar sang kakek yang merasa malu dengan tingkah sang cucu yang nampak berubah tidak waras dan tidak punya malu karena mulai tergila-gila pada istrinya itu.

__ADS_1


"Itu ide yang bagus Kakek. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian. Yang terpenting bagiku sekarang adalah istriku dan juga putraku. Itu adalah hartaku kakek." jawab Bradley Timothy dibawah tatapan tajam sang kakek.


"Ah ya, pergilah. Kamu hanya membuat pekerjaan di sini jadi terhambat." jawab David Timothy sembari tersenyum kepada dua orang pengacaranya. Pria tua itu berharap dua orang tamunya bisa mengerti perasaan orang yang sedang jatuh cinta.


"Ayo sayang kita lihat apakah Andrew merindukanmu atau tidak." bisik pria itu dengan tangan meremas bagian belakang Valerie yang sangat montok dan kenyal.


"Kamu nakal Bradley," bisik Valerie dengan wajah memerah karena malu. Pria itu tersenyum kemudian berucap,


"Kamu terlalu menggemaskan sayang, aku sungguh tidak sabar melakukan hal lebih padamu." ujar pria itu sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja sang kakek dengan tangan tak lepas dari pinggang istrinya.


🍀


"Nyonya, aku senang sekali karena anda sudah kembali." Pretty Stewart menyambut kedatangan Valerie Dominguez dengan wajah bahagia. Ia langsung ingin memeluk perempuan cantik itu tetapi Bradley Timoty menatapnya dengan tatapan tajam.


Gadis itu akhirnya mundur dan memberi jalan pada dua orang Tuan dan Nyonya muda itu.


"Halo Pretty, aku juga sangat senang bisa kembali ke sini dan bertemu dirimu. Bagaimana kabar putraku? apa ia sehat-sehat saja?" Valerie tersenyum sembari melangkahkan kakinya ke arah box bayi dimana baby Andrew berada.


"Kamu bisa meninggalkan kami Pretty," ujar Bradley Timothy pada asisten pribadi istrinya itu.


"Baik Tuan." gadis itu langsung keluar dari kamar itu dan berjaga di depan pintu. Jika sewaktu-waktu Nyonya Valerie membutuhkannya maka ia bisa langsung bertindak.


Valerie yang sedang memandang penuh rindu pada putranya itu tersentak karena suaminya langsung melingkarkan tangannya diperutnya.


"Kamu mengagetkan aku sayang," ucap Valerie sembari mengelus lembut tangan besar dan berotot milik suaminya itu.


"Mulai sekarang, kamu akan selalu mendapatkan hal yang seperti ini setiap saat, jadi kamu harus mulai belajar dari sekarang." pria itu kemudian menggigit pelan kuping sang istri sampai Valerie mendesis pelan sembari menutup matanya.


Ia takut kalau putranya itu akan bangun dengan kenakalan semua anggota tubuh suaminya yang tidak pernah membiarkannya bebas.


Akhirnya keluar juga dessahan nikmat saat tangan suaminya mulai bergerilya kemana-mana sedangkan lidah pria itu terus bermain-main di area kupingnya.


"Ooooeek Oeeeek Oeeeek," tangisan melengking baby boy berusia 4 hari itu menghentikan kegiatan menyenangkan yang mereka berdua lakukan. Bradley Timothy segera melepaskan dirinya dengan perasaan tak rela.


"Oeeeek Oeeeek Oeeeek," kembali Baby Andrew menangis dengan suara yang cukup keras. Valerie segera memperbaiki letak pakainya yang sudah terbuka dimana-mana.


Perempuan itu meraih putranya dari dalam box Bayinya dan membawanya ke ranjangnya. Ia ingin memberi nutrisi yang sangat menyehatkan untuk putranya tersebut.

__ADS_1


Bradley Timothy menyaksikan bagaimana putranya itu sangat lahap menghisap bagian dari tubuh istrinya itu. Tanpa sadar ia tersenyum samar membayangkan dirinya yang melakukan hal yang sama sepanjang perjalanan dari LA sampai ke New York.


Karena setiap Valerie Dominguez mengeluh sakit dan keram, maka ia dengan senang hati membantu istrinya itu agar lebih nyaman. Dan sekarang ia malah merasakan cemburu pada baby Andrew.


Dengan bermaksud bercanda ia pun mengganggu baby kecil itu sampai menangis keras. Ia sengaja melepaskan mulut putranya yang sedang asyik menghisap dengan sumber nutrisi yang berwarna merah muda itu.


"Ooooeek Oeeeek Oeeeek," Andrew berteriak menangis karena terganggu disaat-saat sedang lahap.


"Bradley kamu benar-benar nakal sayang." tegur Valerie dengan melototkan matanya yang bulat pada suaminya.


"Tapi Itu milikku Val." jawab Bradley dengan wajah merajuk bagai anak kecil. Valerie menatap suaminya dengan tatapan tajam. Tetapi tersenyum dengan hati menghangat. Perempuan itu semakin merasakan kebahagiaan yang sangat lengkap dari sebuah keluarga yang utuh.


"Oeeeek Oeeeek Oeeeek,"


"Bradley! kamu benar-benar nakal sekali." pria itu tersenyum sembari mengelus punggung istrinya. Sedangkan di depan pintu kamar itu, Pretty Stewart sudah tidak sabar untuk masuk ke kamar Nyonya mudanya. Ia sangat terganggu dengan tangisan Baby Andrew.


"Mau kemana?" tanya Jackson Thomson sembari menarik tangan gadis itu yang sudah bersiap meraih handle pintu kamar itu.


"Anda tidak dengar, tangisan Baby Andrew Tuan? Aku khawatir kalau Nyonya muda kewalahan di dalam sana." jawab Pretty dengan wajah khawatir.


"Aku ingin membantunya, Tuan." lanjut gadis itu dan melanjutkan niatnya untuk membuka pintu kamar.


"Aku pikir kamu sudah hafal bagaimana sifat tuan Bradley, Pretty. Ia tidak suka diganggu disaat sedang bersama dengan istrinya. Jadi sekarang sebaiknya kamu ambilkan aku minuman segar. Dan bawa ke kamarku, okey?"


"Tapi Tuan?"


"Pretty!"


"Ah iya, Aku akan ambilkan." jawab gadis itu dengan cepat tetapi sebelumnya malah menempelkan kupingnya pada daun pintu itu. Ia ingin memastikan kalau Baby Andrew benar-benar sudah tenang sekarang.


"Pretty!"


"Ah iya, Tuan!" gadis itu langsung lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu dan berhasil membuat Jackson Thomson tersenyum samar.


🍀


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, Okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2