
Bradley Timothy membantu Valerie mengambilkan perlengkapan baby Andrew dari dalam lemari putranya. Pria itu ingin membantu istrinya mengganti pakaiannya yang sudah basah dan agak kotor.
"Dimana gadis itu Val? baru kali ini aku tidak melihatnya disekitar baby Andrew." tanya pria itu sembari ikut menaburkan bubuk bedak ditubuh sang bayi.
"Apa maksudmu Pretty Stewart?"
"Ya, Pretty Stewart."
"Aku memberinya kesempatan untuk menikmati weekend di luar Mansion. Kasihan dia, tidak pernah mau berlibur karena takut gajinya dipotong oleh Jack, hahaha." Valerie tertawa dengan alasan gadis itu ketika ia memaksanya untuk jujur.
"Ah ya, kurasa gaji Jack yang harus kita potong karena itu. Dia bisa saja mendapatkan teguran dari dinas tenaga kerja karena memperkerjakan orang tanpa memberi istirahat." lanjut Bradley dengan semua diwajahnya.
"Brad, apa menurutmu Jack menyukai gadis itu?" tanya Valerie dengan wajah serius.
"Mungkin saja. Terus terang aku tidak pernah melihatnya berkencan dengan seorang perempuan pun. Aku sampai curiga dia itu normal atau tidak."
"Hah? itu adalah hal yang menakutkan sayang, kalau seandainya Jack memiliki kelainan seperti itu." timpal Valerie dengan wajah bergidik.
"Lihat, baby Andrew sudah sangat tampan seperti dirimu Bradley." Valerie mengangkat tubuh gembul putranya dan memberikannya pada suaminya.
"Sebenarnya, aku dan Pretty berencana mengunjungi Mall hari ini bersama baby Andrew tetapi karena kamu menahanku di tempat tidur tadi pagi jadi ya batal deh."
"Eh jangan menyalahkan aku sayang, bukankah kamu yang malah meminta tambah, Hem?" Bradley mengecup pipi istrinya yang tiba-tiba tersenyum malu.
"Dan aku juga tidak memberikan kalian izin untuk pergi tanpa aku bersama kalian." tegas Bradley Timothy kemudian membawa putranya keluar kamar. Ia ingin mengajaknya berjalan-jalan di sekitar taman samping Mansion.
Valerie hanya tersenyum dengan pengaturan suaminya itu. Ia akan melakukan perintah suaminya yang menurutnya pasti baik untuknya. Sekarang, ia ingin menikmati Me timenya dengan berselancar di dunia Maya mumpung sang suami sedang bermain dengan putranya.
Dengan wajah gembira ia meraih handphonenya yang selama bersama dengan Bradley harus dinonaktifkan agar waktu mereka benar-benar berkualitas.
"Pretty, kamu mengirim pesan ya," ujarnya sembari membuka pesan yang dikirimkan oleh asistennya itu.
Help!
"Apa maksud pesan ini? apa mungkin gadis itu sedang berada dalam masalah?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Padahal aku sangat berharap dia mengirimkan foto atau video saat sedang berbelanja, huh."
"Ehh, apa mungkin dompetnya sedang dibawa lari oleh pencopet? atau dia kehabisan uang karena ingin membeli semua barang mewah di Mall itu?" Valerie menggelengkan kepalanya keras-keras.
Berbagai persangkaan buruk tiba-tiba bermunculan didalam kepalanya.
"Aku telpon saja." akhirnya untuk mengobati rasa penasarannya perempuan cantik itu menghubungi nomor gadis itu berkali-kali tetapi sudah tidak bisa tersambung.
__ADS_1
"Heh, apa mungkin Pretty benar-benar berada dalam kesulitan. Oh tidak!" perempuan itu langsung keluar dari kamarnya dan menyusul suaminya ke arah taman.
🍀
Pretty Stewart tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah Steven Brown yang sedang menarik tangannya keluar dari Restoran itu. Berusaha kabur pun rasanya sudah tidak mungkin.
Ia hanya gadis miskin biasa yang tidak punya keluarga di kota besar ini. Dan juga tidak punya kekuatan untuk menolak ataupun memberontak.
Dengan berusaha menyemangati dirinya sendiri, ia terus melangkahkan kakinya yang terasa sangat berat. Gadis itu cuma bisa berharap akan ada pertolongan disaat-saat terakhir seperti dikisah-kisah fiksi pada umumnya.
Hidup bersama dengan psikopat seperti Steven Brown adalah pilihan terburuk yang ia punya tetapi ia bisa apa. Ia tidak punya kesempatan untuk memilih.
Dan sekarang, saat ia sangat membutuhkan pertolongan dari semua orang tak ada seorang pun yang bersedia menolongnya.
Gadis itu bahkan sudah mengirimkan pesan singkat pada Jackson Thomson dan juga Valerie Timothy sebelum Steven mengambil handphonenya tetapi sampai saat ini mereka belum datang juga.
"Ayo naik Pretty!" titah Steven sembari membukakan pintu mobil itu gadis itu. Pretty Stewart memandang berkeliling tempat parkir itu berharap ada orang yang ia kenal.
"Ayo cepat naik. jadwal check in di Bandara sebentar lagi akan habis." lanjut pria itu dengan nada memerintah.
"Steve, beri aku izin ke Toilet terlebih dahulu setelah itu kita berangkat, okey?" Pretty Stewart berusaha mengulur waktu dan tetap masih mempunyai harapan ada orang yang ia kenal ada di sekitar tempat itu.
Pekerjaannya dulu sebagai asisten artis membuatnya banyak mengenal orang meskipun orang lain tidak mengenalnya.
"Cepatlah! dan jangan lama-lama." ujar Steven Brown dengan wajah tidak sabar.
"Iya, aku tidak akan lama." jawabnya kemudian mengambil tas tangannya yang berisi alat-alat makeupnya.
"Hei, untuk apa bawa tas?" tanya pria itu dengan wajah curiga. Pretty Stewart hanya tersenyum kemudian menyentuh bibirnya dengan sensual.
"Aku ingin memberikan warna pada bibirku Steve."
"Ah ya baiklah. Tapi cepatlah kembali."
"Iya," jawab gadis itu dan segera berlari ke arah Toilet di dalam Valet itu. Setelah membasuh wajahnya dengan air dingin. Pretty Stewart memperhatikan keadaan sekeliling.
Ia melihat seorang gadis yang juga baru saja dari dalam bilik Toilet itu dan sedang menggunakan handphonenya untuk menelpon seseorang.
"Permisi Nona, bisakah aku meminta tolong padamu?" pinta Pretty dengan wajah tak sabar. Ia menunggu gadis itu sampai selesai menelpon.
"Ya, katakan saja." jawab gadis itu kemudian menyimpan handphonenya di dalam tasnya.
"Aku punya ini, " Pretty Stewart memberikan beberapa lembar uang di hadapan gadis itu kemudian meminta handphone gadis itu untuk mencoba menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Nona." ucap Pretty saat gadis itu menyerahkan handphonenya.
"Aku sebenarnya tidak ingat berapa nomornya tetapi aku akan mencoba." lanjut gadis itu sembari mengingat-ingat nomor handphone yang paling sering menghubunginya.
Tok
Tok
Tok
"Pretty! kamu masih di dalam 'kan?" teriak Steven dari arah depan pintu Toilet. Pretty Stewart langsung menatap gadis pemilik handphone itu dengan wajah khawatir.
"Oh my God, semoga nomor ini benar." keringat dingin pun sudah keluar dari pori-pori kulitnya karena tegang. Dengan jari-jari yang gemetar ia terus menunggu sampai panggilan itu tersambung.
"Pretty! aku dobrak pintunya kalau kamu tidak mau keluar!" teriak Steven lagi dengan nada emosi. Ia terus-menerus menggedor-gedor pintu itu hingga Pretty merasa sebentar lagi pintu itu pasti akan roboh.
"Kumohon angkatlah. Plis!" gadis itu terus berbicara pada layar handphone itu berharap seseorang di sana mendengarnya.
"Pretty!"
"One!"
"Two!"
"Halo, ini aku Pretty Stewart. Tolong datang kemari secepatnya. Aku akan menuju Bandara di New York.."
"Brakkkk!"
"Awwww!"
"Lepaskan aku Steve. Ampun!"
Tutt Tutt Turut
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Apakah yang terjadi pada Pretty? adakah seseorang yang akan datang membantunya?"
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1