Hanya Sekedar Melahirkan

Hanya Sekedar Melahirkan
Bab 51 HSM


__ADS_3

David Timothy menatap dua orang tamunya itu dengan wajah yang sangat kesal dan marah. Ia sampai berdiri dari duduknya dan mendekati Jeremy Thompson seraya berucap dengan nada suara tinggi.


"Jadi kalian datang setelah bertahun-tahun hanya untuk membuat putra kalian menderita hah??!"


"Jackson tidak akan menderita. Sehari dua hari ia pasti bisa melupakan teman kencannya itu. Dan kita akan lihat semuanya akan kembali normal." jawab Jeremy Thompson dengan wajah datar. David Timothy langsung terkekeh dibuatnya.


"Kamu tidak tahu ya bagaimana putramu sangat mencintai gadis itu. Ini sungguh tak pernah aku lihat sebelumnya pada diri Jackson."


"Cih cinta! ia juga pernah jatuh cinta pada seorang gadis dulu sewaktu masih remaja dan aku berhasil memisahkannya. Dan ia tidak apa-apa."


"Itu karena ia baru merasakan cinta ingusan. Waktu itu Dia belum serius Jery! beda halnya dengan yang sekarang ia rasakan. Ini serius!" ujar David berusaha menentang perkataan pria arogan di hadapannya.


"Sayang, coba dengarkan apa yang dikatakan Kak David." bujuk Diana ikut membujuk suaminya. Sepanjang waktu ia melihat bagaimana terpukulnya putranya karena keputusan Jeremy Thompson yang sangat kejam itu pada putranya sendiri.


"Pikirkan baik-baik dan jangan sampai kalian menyesal karena sudah merusak kebahagiaannya dengan gadis itu." lanjut David Timothy dengan suara yang sudah mulai agak tenang.


"Aku tidak akan menyesal dengan keputusanku ini tetapi seandainya ia berusaha untuk melawanku maka aku pastikan ia akan lebih menderita daripada hari ini." tegas Jeremy Thompson dengan rahang mengetat sempurna.


"Hey, kamu pikir aku akan tinggal diam jika kamu melakukan hal itu pada Jackson hah?!" cibir David sahabat lamanya itu. Suaranya kembali naik satu oktaf karena marah.


"Putramu sudah kuanggap sebagai cucuku sendiri seperti Bradley. Bertahun-tahun aku menempanya menjadi kuat dan bisa sukses lalu kamu datang kemari hanya untuk menghancurkan hidupnya?!"


"Lawan aku kalau begitu. Kamu sungguh tidak berhak untuk kehidupannya." Tantang David Timothy seraya meraih kelopak jas ayah dari Jackson Thompson itu.


"Jackson adalah putraku satu-satunya dan kami datang ke sini untuk membawanya pulang ke Inggris." jawab Jeremy tak bergeming. Ia melepaskan tangan David Timothy pada pakaiannya dengan wajah tenang.


"Usia Jackson bukanlah usia yang bisa kamu setir semaumu Jerry. Ia juga punya hak untuk bahagia." ujar David dengan tatapan tajam pada mata pria itu.


"Dia akan bahagia jika berkumpul kembali dengan kami. Semua yang ia inginkan akan aku kabulkan asalkan bukan gadis itu. Karena aku tidak suka."


David Timothy hanya bisa menarik nafas panjang. Rupanya bertahun-tahun ditinggalkan oleh sang putra dan lebih memilih untuk bekerja dengannya ternyata belumlah menyadarkan pria itu kalau ia sudah merusak kebahagiaan putranya sendiri.


"Baiklah, lakukan apa yang menurutmu baik. Tetapi ingat satu hal, David Timothy tidak akan tinggal diam. Ingat itu!" ancam salah satu orang berpengaruh di New York itu dengan nada tegas.


"Kamu pikir aku takut David?!" Tantang Jeremy Thompson dengan bibir terangkat. Ia lalu meraih tangan istrinya dan meninggalkan tempat itu dengan wajah tenang.

__ADS_1


Hari ini juga mereka akan kembali ke Inggris dan harus membawa Jackson Thompson bersama dengan mereka. Mereka berdua akan menunggu dan bertemu dengan putra mereka di bandara saja.


Jeremy Thompson sudah mengirim beberapa orang kepercayaannya untuk menjemput Jackson putranya di apartemen pria itu.


Sementara itu, Bradley Timothy dan Jackson Thompson sudah siap untuk menemui baik-baik kedua orang itu dengan niat untuk membujuk dengan cara apapun agar hubungannya dengan Pretty bisa dilanjutkan.


"Tuan, Thompson menunggu anda di Bandara." sapa seorang pria berkostum hitam-hitam saat mereka berdua membuka pintu Apartemen.


"Kenapa di Bandara? bukannya ayah dan ibuku sedang ada di Mansion Tuan Timothy?" tanya Jackson dengan wajah bingung.


"Tidak Tuan, hari ini anda akan dibawa ke Inggris."


"Hah?" Jackson dan Bradley kaget dengan keputusan sepihak dari Seorang Jeremy Thompson. Mereka berdua saling bertatapan dengan wajah mengeras.


"Aku tidak mau ikut." ujar pria itu menolak. Ia langsung pergi meninggalkan pria berkostum hitam-hitam itu bersama dengan Bradley Timothy sang majikan.


Bugh


Jackson Thompson berbalik dengan marah karena ia merasakan seseorang memukulnya dari belakang.


Kyaaaa


Dua pria lainnya segera menyerang mereka berdua. Bradley Timothy tidak tinggal diam. Ia juga balas menangkis dan menyerang balik pria suruhan ayahnya Jackson.


Bugh


Bugh


Desh


"Aaaaaaaa, ampun Tuan!" pria yang Jackson tak tahu namanya itu berteriak keras saat ia berhasil memutar tangannya ke belakang.


Bradley Timothy tersenyum puas karena berhasil melumpuhkan satu orang lagi dengan kakinya yang kuat.


"Kalian pikir siapa kami hah? anak kecil yang bisa kalian bawa paksa?" tanya Jackson dengan senyum miringnya.

__ADS_1


"Aaaaargh!" terdengar saru teriakan keras dari arah belakangnya ketika orang itu ingin memukul tengkuk Jackson tetapi berhasil dihalau oleh tendangan keras dan cepat dari seorang Bradley Timothy.


"Terimakasih banyak Tuan," ujar Jackson Thompson seraya membungkuk dihadapan Bradley Timothy.


"Ish, ucapan terimakasihmu terlalu berlebihan Jack hahaha!" ujar Bradley Timothy dengan tawa di bibirnya.


"Sekarang, ayo kita temui kedua orang tuaku yang baik hati itu Tuan." ujar Jackson seraya melirik Beberapa tubuh pria berkostum hitam yang bergelimpangan di lantai depan kamarnya.


"Ayo!" Bradley Timothy melangkah terlebih dahulu ke arah Lift dan diikuti oleh sang asisten.


Sekitar satu jam mereka berdua sampai di Bandara dan menemui dua orang yang sudah lama menunggunya di tempat itu.


"Akhirnya kamu datang Jack," ujar Jeremy Thompson dengan senyum tipis dibibirnya. Ibunya berdiri dari duduknya kemudian meraihnya dalam pelukan.


Perempuan itu sangat terpukul dengan masalah dua orang ayah dan ini. Tetapi ia bisa apa. Ia tidak bisa berbuat banyak.


"Iya. Aku datang tetapi tidak untuk ikut denganmu." jawab Jackson dengan tatapan tajam pada wajah pria itu. Tubuh ibunya ia peluk karena ia juga merasa rindu.


"Lalu kamu datang untuk apa heh? kamu pasti sudah tahu maksud aku 'kan?" balas Jeremy Thompson dengan melipat kakinya ke atas.


"Aku kesini hanya ingin memberitahumu kalau aku tidak akan mau meninggalkan istriku yang ada disini." ujar Jackson tegas.


Tadinya ia ingin mengikuti semua perintah ayahnya agar ia bisa hidup bersama dengan Pretty Stewart sepanjang hidupnya.


Tetapi melihat ayahnya membawa beberapa orang untuk memaksanya tadi, Ia pun terpaksa harus melawan. Sikap Ayahnya sudah sangat berlebihan padanya.


"Oh ya?"


"Aku mencintainya ayah. Dan aku bisa mati kalau tidak bersamanya, jadi camkan itu?"


"Cih cinta! persetan dengan kata cinta. Pokoknya hari ini kita akan kembali ke Inggris!" tegas Jeremy Thompson dengan bibir tersenyum miring.


🍀


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2