
Valerie Dominguez melingkarkan tangannya dileher kokoh Bradley Timothy karena takut terjatuh. Sementara sang suami menatap dalam wajahnya dengan begitu banyak pertanyaan dibenaknya.
"Turunkan aku tuan, aku bisa jalan sendiri." cicit Valerie dengan hati berdebar tak karuan. Bradley Timothy mengabaikan keinginan perempuan itu, ia terus melangkah ke arah kamar pribadinya yang juga berada di lantai 2 Mansion itu.
Seorang pelayan segera mendorong pintu kamar itu untuk mereka. Dan Bradley Timothy pun melanjutkan langkahnya ke dalam. Meletakkan tubuh perempuan berbadan dua itu di atas ranjang king size miliknya dengan sangat pelan.
"Kamarku bukan di sini tuan. Aku ingin kembali ke kamar ku sendiri," ujar Valerie dengan berusaha untuk bangun dari posisinya saat itu tetapi Bradley Timothy langsung menahan tubuhnya dengan tangannya.
"Jangan kemana-mana dan tetap di dalam kamar ini, mengerti?" ujar Bradley Timothy dengan tatapan tajam pada perempuan itu. Nampak sekali kalau ia sedang tidak ingin dibantah oleh siapapun saat ini.
Valerie akhirnya tidak mengucapkan kata-kata lagi, ia sangat takut dengan tatapan tajam pria itu. Ia tahu dirinya bersalah karena telah berusaha kabur. Tetapi Entah kenapa keinginannya untuk melihat suasana taman disaat musim seperti ini membuatnya membuka mulutnya.
"Tapi tuan, aku ingin sekali berjalan-jalan di luar. Aku janji tidak akan pergi lagi." ujarnya dengan perasaan khawatir tetapi pria itu sekali lagi tidak mendengarkannya. Ia terus melangkah keluar dengan cepat.
Bradley Timothy kemudian meninggalkan Valerie Dominguez di tempat itu karena Ia harus mencari Jackson Thomson untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi.
Valerie Dominguez meraba perutnya yang tiba-tiba bergerak-gerak. Ia mulai merasa takut karena pria itu menemukannya di tempat itu. Iya yakin, sekarang ia sudah tidak bisa lagi pergi kemana-mana.
"Oh sayangku, tuan itu akan memisahkan kita. Dan aku akan tinggal sebatang kara, hiks." bisik Valerie sembari mengelus lembut permukaan kulit perutnya.
"Aku akan dibuang dan dicampakkan setelah kamu lahir, hiks." perempuan itu terus menerus menangisi nasibnya.
Sementara itu Bradley Timothy melangkah cepat menuruni anak tangga bagai berlari.
"Jack! Jackson! dimana kamu brengsek!" teriaknya dengan suara menggelegar marah.
"Jackson, keluar kamu!" teriaknya lagi sembari mengepalkan tangannya. Pria yang dipanggil itu dengan cepat berlari menghampiri cucu dari David Timothy itu.
"Saya Pak." jawabnya dengan nafas tersengal-sengal.
Bugh
__ADS_1
Satu Bogeman berhasil mendarat di wajah tampan asisten pribadi itu.
"Brengsek kamu Jack, kamu ternyata telah mempermainkanku hah!" teriak Bradley lagi dengan kedua tangan mencengkeram kerah kemeja asisten pribadinya itu.
"Tidak tuan. Bukan aku yang-, aaaakh" satu lagi pukulan mendarat dan berhasil membuat bibir pria itu pecah.
"Hentikan Bradley!" suara David Timothy yang berat dan keras langsung membuat tangan Bradley terlepas.
"Kakek harus menjelaskan ini padaku!" Bradley menatap tajam pria tua yang selama ini telah merawat dan mengatur seluruh hidupnya itu.
"Apa yang harus aku jelaskan anak nakal?!" tanya David Timothy dengan datar. Pria itu melenggang santai di hadapan cucunya kemudian duduk di sebuah sofa single.
"Katakan padaku kenapa Valerie, istriku ada di sini kakek? padahal aku diluar sana hampir gila mencarinya."
"Tentu saja Valerie pantas tinggal di sini karena ia adalah cucuku yang sedang mengandung pewarisku. Lalu apa masalahmu?" jawab David Timothy dengan seringaian diwajahnya.
Errrr
Bradley Timothy mengerang kesal dengan jawaban kakeknya yang begitu santai dan terkesan tidak punya perasaan itu.
"Kamu berhutang penjelasan padaku Jack!"
"Iya tuan." jawab Jackson Thomson dengan wajah meringis. Bradley Timothy meninggalkan ruangan itu dan kembali lari ke lantai 2 Mansion itu. Ia harus menemui perempuan yang sedang mengandung putranya itu.
Valerie Dominguez segera menghapus airmatanya ketika ayah dari janin yang dikandungnya itu sudah berdiri dihadapannya dengan ekspresi tak terbaca.
"Maafkan aku tuan, aku akan mengganti sisa uang anda yang sudah aku gunakan untuk pemakaman ibuku," ujar Valerie Dominguez dengan wajah menunduk. Ia sangat ketakutan kini.
"Tetapi biarkan aku pergi dari sini bersama bayiku." lanjutnya dengan air mata yang kembali berderai.
"Aku akan bekerja setelah ini dan mengumpulkan uang untuk anda. Tuan bisa menunggu 'kan?" Bradley Timothy tersenyum samar kemudian menghampiri perempuan cantik itu.
__ADS_1
"Kamu berani lari dari perjanjian kita hah? kamu tidak tahu siapa aku?!" tanyanya sembari meraih dagu Valerie supaya perempuan itu mau menatapnya.
"I-iya aku tahu, anda orang terkenal di kota ini. Dan juga mempunya bayi dari perempuan lain, jadi kumohon belas kasihmu untuk memberikan anak ini untukku saja." jawab Valerie dengan tatapan lurus kedalam mata abu-abu Bradley Timothy.
"Enak saja kamu bicara seperti itu, kamu pikir aku mau menyerahkan anak yang sudah aku buat dengan susah payah itu kepadamu hah?"
"Eh? susah payah? anda hanya melakukannya sekali tuan!" protes perempuan itu karena tidak suka mendengar kata-kata pria itu. Ia yang sebenarnya sangat susah payah dalam hal ini.
"Iya, satu kali dan langsung jadi. So, Jangan mimpi kamu akan memiliki anak itu, Valerie Dominguez!" Valerie mulai merasakan sesak didadanya. Ia tahu usahanya untuk kabur ternyata pada akhirnya berakhir seperti ini.
"Anak ini akan kamu lahirkan dan akan aku miliki seperti aku akan memilikimu juga."
"Eh?" Valerie nampak bingung dengan kata-kata pria yang sedang ada di hadapannya ini.
"Apa maksud anda tuan?" Bradley Timothy tidak menjawab, ia hanya mulai mengikis jarak diantara mereka berdua kemudian meraup bibir perempuan cantik itu dengan sangat lembut penuh perasaan.
"Tuan?" Valerie Dominguez merasakan wajahnya memanas. Hatinya berdebar sangat kencang. Ia sampai tidak sadar telah mengacaukan tatanan rambut pria itu yang selama ini selalu tersisir dengan rapih.
Bradley Timothy kembali melabuhkan ciuman panjang dan lama pada bibir yang sangat manis dan legit itu. Sampai ia merasakan gelombang dahsyat telah menyerang urat-urat syarafnya.
"Valerie, aku-," ujarnya pelan dengan suara bergetar penuh hasrat. Pria itu tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia sudah sangat terbakar sekarang. Pandangan matanya sudah sangat sayu begitu pula dengan mata biru Valerie.
"Tuan, aku-," Valerie Dominguez merasakan hal yang sama. Tubuhnya merespon sangat baik meskipun suaminya baru menyentuhnya lewat bibir saja. Rupanya ia juga menginginkan lebih.
Tangan Bradley Timothy mulai bergerak membuka kain yang menutup tubuh sang istri.
Cut!
🍀
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍