Hanya Sekedar Melahirkan

Hanya Sekedar Melahirkan
Bab 57 HSM


__ADS_3

Jackson Thompson mengatur nafasnya yang memburu karena rasa khawatir yang memuncak pada keadaan istrinya.


Di depan pintu kamar Pretty Stewart, ia mencoba mengatur perasaannya agar tidak tampak gugup karena baru akan bertemu dengan gadis cerewet itu setelah berbulan-bulan.


Setelah merasa lebih tenang, ia pun mendorong pintu yang tidak terkunci itu dengan pelan. Ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar itu dan memusatkan perhatian pada ranjang di dalam kamar itu.


Menurut informasi dari Bradley Timothy yang ia temui tadi, istrinya itu sedang tidak enak badan atau kurang sehat. Jadi kemungkinan besar adalah gadis itu pastinya sedang meringkuk di atas ranjang atau Sofa.


Kosong


Dimana gadis itu?


Jackson Thompson terus melangkahkan kakinya berkeliling tetapi tidak juga menemukan istri yang sangat dirindukannya itu.


Akhirnya ia membalikkan tubuhnya ke arah pintu keluar.


Ceklek


Kupingnya tiba-tiba mendengar bunyi pintu kamar mandi yang terbuka dari arah belakangnya. Hingga ia cepat mengurungkan niatnya untuk keluar.


Ia segera berbalik dan mendapati Pretty Stewart memandangnya dengan wajah dingin. Tak ada senyuman disana. Yang ada hanya wajah tirus dan tampak pucat.


Jackson Thompson merasakan rasa sesak di dalam hatinya. Pretty Stewart selama ini selalu tampak ceria dan segar meskipun ia banyak menyimpan masalah dan kesedihan.


Tetapi sekarang, wajah cantik itu tampak sangat kuyu dan tidak bersemangat. Tatapan matanya saja kosong dan tak memancarkan sebuah kehidupan.


"Anda siapa? berani masuk ke kamar orang lain tanpa izin?!" tanyanya seraya merapikan letak piyama yang sedang dipakainya. Jackson Thompson tidak menjawab tetapi malah semakin mendekat dengan tatapan penuh kerinduan.


"Kamu lupa siapa aku Pretty?!" pria itu balik bertanya dengan senyum samar diwajahnya.


"Aku tidak lupa. Bukankah anda Jackson Thompson mantan asisten kepercayaan keluarga Timothy?!"


"Hem."


"Anda bukan lagi majikan aku. Jadi ada perlu apa anda kemari?"

__ADS_1


"Aku harus kemari karena aku suamimu sayang," jawab Jackson seraya memeluk tubuh istrinya dengan penuh kerinduan.


"Suami? aku tidak pernah menikah dan pastinya tidak punya suami seperti anda!" teriak Pretty Stewart sembari berusaha melepaskan dirinya. Tetapi tangan kuat Jackson Thompson sepertinya tidak ingin membiarkannya lepas.


"Lepaskan aku Tuan! Anda menyakitiku!" pria itu akhirnya melepaskan rengkuhannya karena merasakan tubuh sang istri bergetar karena menangis.


"Pretty, maafkan aku sayang. Tapi aku adalah suamimu. Aku berhak atas dirimu."


"Tidak! jangan katakan itu lagi. Pernikahan kita batal d an aku bebas. Aku bukan siapa-siapa anda lagi. Pergi!" sekali lagi Pretty Stewart berteriak seraya menutup kupingnya.


Ia sangat membenci yang namanya sebuah ikatan yang pada akhirnya membuatnya kembali menderita.


Deg


Jackson Thompson merasakan dadanya sesak. Ia tak menyangka kalau istrinya masih mengingat apa yang telah dilakukan oleh ayahnya beberapa bulan yang lalu.


"Tidak ada yang batal sayangku. Tidak semudah itu Ayahku melakukannya. Aku suamimu dan akan selalu seperti itu selamanya." tegas Jackson seraya meraih kembali tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Ia tahu wanitanya ini sedang sangat sakit hati padanya.


"Pergilah. Aku sudah cukup bahagia sendiri." gadis itu mendorong tubuh Jackson Thompson lagi agar bisa terlepas.


"Tetapi Aku yang tidak bisa hidup tanpamu sayangku." balas Jackson dengan wajah sendu.


Hanya keluarga Timoty yang meraihnya ketika ia sedang dalam keterpurukan.


"Pretty, ada banyak hal yang terjadi sayang, bukan karena aku mau." Jackson meraih wajah istrinya, membingkainya dengan kedua telapak tangannya.


"Look at me." Pretty Stewart mendongak dan menatap mata abu-abu Jackson Thompson. Mereka berdua saling bertatapan dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dada mereka berdua.


"Aku sangat mencintaimu Pretty dan Aku sangat merindukanmu sayangku. Tetapi kamu tahu 'kan kalau musibah sedang menimpa keluargaku?"


"Tapi kamu jahat. Kamu bahkan tidak mencariku sekalipun."


"Kamu tidak menganggapku ada Tuan. Kamu biarkan aku sendiri sedangkan dirimu menanggung semuanya juga sendiri." pipi gadis itu kembali basah. Air mata sekali lagi tumpah tanpa meminta izin.


"Maafkan aku Pretty, aku tidak bermaksud seperti itu." ujar Jackson Thompson seraya menghapus cairan bening pada pipi istrinya.

__ADS_1


"Aku ingin semua urusan berat itu selesai tanpa melibatkanmu sayang."


"Urusan berat apa? kamu berkabung dan mempunyai masalah besar dan tidak mengajakku bersamamu. Dan kamu menganggap aku istrimu?" emosi Pretty Stewart Kembali memuncak.


"Aku orang lain bagimu Jack. Pergilah. Hubungan kita ternyata memang sudah selesai saat itu juga." ujar Pretty Stewart dengan tatapan tajam pada mata suaminya.


Jackson Thompson merasakan bahagia sekaligus nyeri di hatinya. Sekarang Ia jadi tahu kalau istrinya ini sedang merasa sangat kesal karena tidak dilibatkan dalam masalah yang sedang ia hadapi beberapa saat yang lalu.


Perlahan ia meraih pinggang istrinya agar jarak mereka berdua semakin dekat. Tatapannya dalam pada mata biru gadis itu. Ia rasanya ingin tenggelam dalam netra yang masih menyimpan banyak airmata itu.


"Aku mencintaimu Pretty. Dan maafkan aku sayang kalau hal itu membuatmu kesal dan marah padaku." ujarnya kemudian melabuhkan sebuah ciuman penuh kerinduan pada bibir sang istri.


Awalnya Pretty menolak dengan berusaha mendorong tubuh suaminya tetapi tangan kanan Jackson Thompson menekan tengkuknya agar ia bisa menguasainya.


Sedangkan tangan kirinya merengkuh pinggang ramping gadis itu dengan sangat kuat agar istrinya tidak bisa memberontak.


Pretty Stewart tanpa sadar mendesah nikmat saat tangan suaminya meremas bagian belakangnya dengan sangat lembut. Apalagi bibir suaminya sekarang sedang bergerak ke arah leher jenjangnya. Ia merasakan geli dan juga nikmat secara bersamaan.


"Aaaakh Jack," gadis itu meremas rambut suaminya karena tak sanggup menahan sensasi nikmat luar biasa yang diberikan oleh seorang Jackson Thompson.


Pria itu tersenyum bahagia. Perlahan tangannya membuka piyama yang sedang dipakai istrinya dan melemparnya ke sembarang arah.


Dengan tangan kokohnya ia mulai mengangkat tubuh polos sang istri ke atas ranjang di dalam kamar itu. Pretty Stewart bergelayut pada leher kuat sang suami dengan bibir mereka berdua yang saling bertaut.


Cut dulu eh, bentar kita lanjutkan.


Jangan marah ya, soalnya othor mau mandi dulu hehehe.


Jadi sembari menunggu, readers bisa ngopi-ngopi dulu.


Jackson Thompson: Ah kebiasaan di Cut saat lagi Fanas-Fanassnya. Hem 🙄🤧😅😬


🍀


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2