
Jason Derylo memasuki kamar Cassandra dengan hati-hati. Langkahnya begitu pelan agar tidak menggangu istirahat perempuan yang sedang tertekan itu.
Pria itu menatap perempuan cantik yang sedang mengandung bayinya itu dengan senyum diwajahnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi perempuan cantik itu secepatnya meskipun hujatan semakin hari semakin banyak. Karir mereka berdua juga sudah sangat hancur.
Perlahan ia naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh sang model yang nampak sangat kurus itu.
"Bradley, aku merindukanmu sayang, tolong peluk aku lebih erat lagi," gumam Cassandra sembari menarik tangan Jason agar mendekapnya lebih erat.
Deg
Jason Derylo tak bergerak. Ia menahan tangannya yang sedang ditarik oleh Cassandra sang kekasih. Hatinya tiba-tiba terasa sakit karena perempuan itu masih mengharapkan pria lain yang jelas-jelas sudah membuang dan mencampakkannya.
"Bradley," panggil Cassandra lagi tetapi Jason tidak menjawab. Hingga Cassandra berusaha berbalik untuk melihat siapa yang sedang berada di tempat tidur dan bersamanya.
"Cassy, ini aku Jason." akhirnya pria itu bersuara. Tubuh Cassandra menggeliat berusaha untuk bangun.
"Jason? apa yang kamu lakukan di tempat tidurku hah?!" pergi dari sini!" teriak Cassandra dengan suara melengking. Ia berusaha mendorong tubuh pria itu agar pergi dari hadapannya.
"Cassy, aku tak akan pergi dari sini. Aku akan selalu menemanimu sampai kapanpun."
"Tidak! aku tidak mau. Pergi dari sini. Hanya Bradley Timothy yang akan bersamaku. Kumohon pergi dari sini!" sekali lagi perempuan itu berteriak-teriak. Ia sungguh tidak mau menerima kenyataan yang ada dihadapannya.
"Cassy, apa kamu tidak sadar kalau Bradley Timothy tidak mengakuimu sebagai kekasihnya? ia bahkan sudah melakukan jumpa pers dan menolak anak itu."
"Tidak Jason, anak ini adalah miliknya. Pria itu sangat menginginkan anak dariku." Cassandra berusaha menolak semua yang dikatakan oleh pria itu padanya. Ia sampai menutup kupingnya dan tak mau mendengarkan kata-kata partner kerjanya itu.
Obsesinya pada Bradley Timothy dan status sosialnya membuatnya lupa diri.
"Hanya aku yang sangat dicintainya Jason, dan kamu datang merusak hubungan kami. Aku benci padamu! pergi dari sini!" Cassandra kembali mendorong tubuh pria itu agar keluar dari tempat tidurnya.
"Cassy, dengarkan aku sayang. Anak itu adalah anakku. Dan aku akan menjaganya bersamamu."
"Tidak! kamu jahat! kamu kenapa tidak menjaganya sebelum ini terjadi! aku membencimu Jason huaaaaa." Cassandra merasakan tubuhnya bergetar karena emosi. Airmatanya pun kini tumpah ruah.
Bayangan karir yang cemerlang dan juga status sosial yang akan bagus jika berhasil menjadi menantu keluarga kaya dan terkenal seperti David Timothy kini sudah hangus tak bersisa.
"Kemarilah Cassy sayangku." ujar pria itu sembari menarik tubuh Cassandra kedalam pelukannya.
"Aku membencimu Jason, hiks." perempuan itu tidak menolak tetapi malah semakin menangis.
__ADS_1
"Kamu tahu Cassy, kenapa aku terjun dari dunia Modeling? karena aku sudah lama jatuh cinta padamu. Aku mengatur semua pekerjaan ini agar bisa bersamamu. Dan aku berhasil mendapatkan tubuhmu tetapi ternyata tidak hatimu." jelas Jason yang langsung membuat Cassandra melepaskan dirinya dari pelukan pria itu.
Bugh
Plak
Perempuan itu memukul keras-keras pria itu karena merasa tertipu dan dibodohi.
"Pergi kamu Jason sialan! aku tidak mau melihatmu di sini!"
"Aku tidak akan pergi Cassy. Aku tidak akan pergi darimu."
"Pergi! atau aku akan bunuh diri. Karirku hancur karena ulahmu!" Jason tersenyum miring lalu berucap.
"Kamu juga yang salah, kenapa mau menyerahkan tubuhmu padaku hah?!"
"Itu karena kamu yang merayuku. Kamu...huaaaaa." Cassandra kembali berteriak histeris dan memukul dadanya keras-keras.
Ia baru merasakan penyesalan karena telah mengkhianati cinta tulus Bradley Timothy padanya. Semua yang diberikan oleh pria itu melebihi penghasilannya di Dunia modeling ini dan ia mengkhianati pria itu dengan sangat kejam.
Jason Derylo berdiri dan keluar dari kamar itu. Ia segera menuju ke bar mini di dalam apartemen itu kemudian meminum bir untuk menenangkan dirinya.
"Aaaargh!" Jason Derylo meraup wajahnya kasar. Untunglah ia masih mempunyai bisnis kecil-kecilan untuk hidup dikota yang sangat mahal ini.
Aku tidak mungkin bisa melawan keluarga Timothy.
Pria itu kemudian melangkahkan kakinya kembali ke dalam kamar Cassandra. Ia berharap perempuan itu sudah lebih tenang sekarang dan bisa menerima keadaan.
"Cassy," panggilnya pada perempuan itu yang kembali meringkuk di atas tempat tidur.
"Sayangku." panggilnya lagi sembari mengelus lembut punggungnya.
Tok
Tok
Tok
Jason Derylo menoleh ke arah pintu dimana ada Pretty Stewart sedang berdiri di sana dengan membawa kopernya.
__ADS_1
"Petty?"
"Aku ingin berpamitan pada Cassy. Kurasa aku sudah tidak dibutuhkan lagi disini. Dan katakan padanya kalau aku harus pergi untuk mencari pekerjaan baru."
"Terimakasih banyak Pretty, semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan." jawab Jason Derylo tersenyum.
"Jaga Cassy dengan baik Jason." pesannya lagi dengan mata berkaca-kaca. Bertahun-tahun bekerja dengan model itu kini berakhir dengan airmata dan kemiskinan.
"Ah iya, tentu saja." jawab Jason sembari memandang tubuh Cassandra yang masih meringkuk dibawah selimut. Ia tahu perempuan itu tidak tidur dan pasti mendengarkan percakapan mereka berdua.
Gadis itu pun pergi dari sana dan berharap bisa mendapatkan pekerjaan lain untuk membantunya menyambung hidup.
Semua gaji yang ia kumpulkan bersama Cassandra selama ini ia gunakan untuk membantu model itu untuk membayar pinalti dari beberapa Agency dan juga rumah produksi.
Gadis itu terlalu menyayangi Cassandra hingga tidak pernah melarangnya untuk berselingkuh dengan pria lain saat sedang menjalin hubungan dengan seorang Bradley Timothy.
Dan sekarang ia juga yang merasakan dampaknya. Ia kehilangan pekerjaan dan juga uang tabungannya.
"Tak apa, akan aku jadikan ini pelajaran yang sangat berharga," ujarnya untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Jangan rakus dan tamak atau kamu tidak akan mendapatkan sesuatu pun."
Senyum ceria kembali terbit dari bibirnya. Setelah itu ia akan mencari rumah kontrakan murah untuk sekedar tempat untuk beristirahat.
"New York, ramahlah padaku!" teriaknya ke udara berharap penguasa dunia mau mendengarkan keinginannya.
Sebuah Taksi pun berhenti di hadapan gadis itu.
"Kemana Nona?" tanya sang sopir saat ia membuka pintu dan memasukkan barang-barangnya.
"Bawa aku mencari kontrakan murah di kota ini Pak." jawabnya dengan senyum diwajahnya. Ia berharap disisa hari ini, ia masih mendapatkan banyak kebaikan.
🍀
Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1