
Pagi itu Jackson Thomson mendampingi Bradley Timothy menghadiri banyak acara perusahaan. Pria itu dipaksa untuk bangkit dari keterpurukannya karena dikhianati oleh dua orang perempuan yang telah mengisi hatinya.
David Timothy sudah memberinya waktu beberapa hari untuk berkabung dan bersedih. Dan sekarang kakeknya itu sudah tidak mau melihatnya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang merugikan perusahaan.
"Selamat pagi Bradley!" sapa sang kakek saat ia muncul di ruangannya pagi itu.
"Selamat pagi kakek!" jawab Bradley Timothy dengan senyum diwajahnya. Tampilannya sudah kembali segar setelah beberapa hari mengurung diri dengan sesal dan sedih.
"Baguslah, karena kamu masih punya semangat untuk hidup. Waktu terus berjalan Bradley dan aku tidak ingin melihatmu hancur hanya karena perempuan."
"Iya kakek. Aku sekarang sudah siap bekerja."
"Keluarga David Timothy tidak mengenal kata jatuh hanya karena cinta yang tidak jelas. Sekarang mulailah bekerja. Dan aku mau kamu membawa surplus untuk perusahaan ini."
"Baik kakek."
"Nah, bekerjalah dengan tenang," David Timothy menyentuh bahu cucunya itu kemudian keluar dari ruangan itu.
Bradley Timothy menarik nafas panjang dan memandang punggung pria tua yang telah membuatnya seperti sekarang ini.
"Apa kegiatan aku hari ini Jack?!" tanyanya pada asisten pribadinya yang selalu siap dibelakangnya. Pria itu membuka smartphonenya dan mulai mencari jadwal kerja bosnya itu.
"Pukul 11 siang, Launching beberapa produk baru di hotel Ritz Carlton New York kemudian setelah itu pada pukul 4 sore meeting dengan para CEO terbaik di seluruh New York untuk kegiatan amal."
"Baiklah, kalau begitu kita masih mempunyai waktu sekitar 2 jam. Berikan semua berkas yang harus aku tandatangani."
"Baik tuan." asisten itu segera memanggil sekretaris Bradley Timothy untuk membawa berkas-berkas yang harus diselesaikan oleh pria itu.
Seorang perempuan cantik dengan tampilan yang sangat rapih melangkah ke dalam ruangan itu dan menunjukkan beberapa berkas yang sudah lama menuggu untuk ditandatangani oleh Bradley Timothy.
"Terimakasih banyak Liz," ujar Jackson pada sang sekretaris.
__ADS_1
"Sama-sama pak Thomson." jawab perempuan itu tersenyum dan kembali ke tempat duduknya. Ia akan masuk kembali jika sang bos sudah memeriksa dan menandatanganinya.
"Apa ini Jack?" tanya Bradley Timothy saat melihat ada yang tidak beres dengan beberapa berkas yang sedang ada dihadapannya. Jackson Thomson segera menghampiri sang bos dan memperhatikan apa yang ditunjukkan oleh pria itu.
"Ada yang sepertinya sedang berusaha bermain dengan keuangan perusahaan tuan."
"Kamu benar sekali Jack. Orang-orang ini sengaja membuat proposal yang sangat tidak masuk akal seperti ini. Lihatlah Anggaran yang mereka cantumkan. Sangat tidak masuk akal untuk kegiatan yang cuma beberapa hari ini."
"Iya tuan. Untungnya anda sangat teliti sebelum menandatanganinya." ujar Jackson Thomson dengan wajah serius. Pria itu bersyukur karena bosnya itu sudah kembali normal dan sehat setelah beberapa hari terpuruk karena cinta.
"Panggil George Wisely ke ruangan ini. Manager itu harus menjelaskan apa maksudnya memasukkan Anggaran yang sangat tidak masuk akal ini."
"Baik tuan. Aku akan meminta Liza untuk menghubunginya saat ini juga." ujar Jackson Thomson dan segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
"Liz, panggil George Wisely ke ruangan tuan Timothy sekarang juga."
"Baik pak." sang sektretaris dengan cekatan menghubungi manager George Wisely dengan mengunakan sambungan telepon.
Sementara itu Jackson Thomson kembali lagi ke dalam ruangan Bradley Timothy.
"Iya tuan, Sebentar lagi pasti datang dan menjelaskan kesalahannya."
Tok
Tok
"Itu pasti tuah Wisely." ujar Jackson Thomson sembari melangkah ke arah pintu dan membukakannya untuk pria yang sudah lama ditunggu-tunggu itu.
"Selamat datang tuan Wisely, silahkan duduk." ujar Bradley Timothy dengan senyum diwajahnya. Pria yang bernama George Wisely itu nampak dan melakukan perintah sang bos untuk duduk.
"Aku tahu anda adalah orang yang sangat teliti. Dan aku berharap apa yang ada di dalam berkas proposal ini hanyalah kesalahan ketik," Bradley Timothy menyerahkan berkas proposal itu kehadapan pria paruh baya yang sudah lama bekerja di Perusahaan itu.
__ADS_1
Deg
George Wisely merasakan kalau kesalahannya kali ini sudah jelas bisa ditebak dan diketahui oleh seorang Bradley Timothy.
"Maafkan saya tuan. Saya pasti sedang tidak sehat saat membuat proposal ini hingga bisa salah ketik seperti ini. Maafkan saya sekali lagi tuan."
"Bagus tuan Wisely. Lain kali usahakan untuk tetap fit saat mengerjakan sebuah proyek yang menggunakan uang. Karena ini jelas bisa merugikan perusahaan. Kesalahan ketik ini terlalu fatal."
"Baik tuan. Saya akan memperbaikinya. Terimakasih banyak."
"Sekarang Keluarlah. Dan mulai saat ini akan ada auditor yang akan memeriksa semua berkas yang sudah terlewat. Jangan sampai anda selalu tidak fit pada saat mengerjakan itu semua."
"Baik tuan. Terimakasih banyak atas petunjuknya."
"Kalau begitu silahkan kembali ke tempat kerja anda. Dan proposal itu harus selesai hari ini juga."
"Baik tuan." George Wisely pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan tidak nyaman. Ia merasa kesalahannya selama ini sepertinya akan mulai terbongkar.
"Jack, aku sudah lama mencurigai Wisely tetapi untuk saat ini, pria itu benar-benar ingin merampok perusahaan ini tidak tanggung-tanggung."
"Iya tuan. Aku juga sudah lama menerima laporan itu. Tetapi selama ini anda kurang peduli karena disibukkan oleh cinta, UPS." Jackson langsung menutup mulutnya karena tidak sadar menyinggung perasaan sang bos.
"Jackson!"
"Maafkan aku tuan."
"Ayo kita berangkat sekarang juga " Bradley Timothy segera berdiri dari duduknya dan segera melanjutkan jadwalnya hari ini. Ia harus bergerak dan aktif agar bayangan Valeria tidak selalu mengganggunya.
🍀
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍