
David dan cucunya, Bradley Timothy ikut mengantarkan jenazah Jeremy Thompson ke Inggris sebagai tanda perasaan duka yang mereka rasakan pada orang yang cukup mengesalkan itu.
"Aku tahu diakhir hidup ayahmu, ia tidak memberikan kesan yang baik padamu Jack, tetapi sayangnya ia adalah orang yang punya hubungan darah denganmu jadi kamu tetap harus mengantarnya pada peristirahatan terakhirnya." ujar David pada asisten kepercayaannya itu.
"Iya Tuan. Aku akan melakukan penghormatan terbaik untuk ayahku." jawab pria itu dengan wajah datar. Sungguh ia tidak tahu apakah ia merasa sedih atau kehilangan atas perginya laki-laki yang tak pernah baik padanya itu.
Tetapi jika melihat tangisan ibunya, ia jadi merasa ikut merasakan kesedihan dari perempuan yang sudah melahirkannya itu.
"Temani ibumu Jack, karena hanya kamu yang ia miliki di dunia ini." ujar David Timothy seraya menyentuh bahu asistennya yang sudah ia anggap sebagai cucunya itu.
"Iya Tuan."
"Kamu bisa mengundurkan diri dalam melayani keluarga Timothy. Usaha yang ditinggalkan ayahmu di sini banyak yang perlu kamu urus. Sedangkan ibumu tidak mungkin melakukannya sendiri."
Jackson Thompson menatap wajah David Timothy dengan tatapan tak rela. Pria itu sudah puluhan tahun bersama dengan keluarga Timothy dan juga sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.
"Ibumu lebih membutuhkanmu daripada kami Jack. Dan ya, Aku baru ingat kata-kata ayahmu dulu. Kalau semua yang ia usahakan di sini adalah untuk masa depanmu dan keluargamu kelak."
Jackson Thompson tertunduk. Hatinya tiba-tiba merasakan sesak yang teramat sangat.
"Kamu tahu Jack? Jeremy dulu adalah pria yang sangat miskin dan sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari banyak orang. Hingga ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bekerja dengan giat supaya kelak anak cucunya tidak diperlakukan sama seperti dirinya."
"Ayahmu punya banyak cinta dan harapan untukmu, Jack. Tetapi ia tidak tahu cara menunjukkannya." David kembali menyentuh bahu Jackson dengan lembut.
"Dan aku tahu itu pasti sangat menggangunya sampai emosinya tidak bisa ia bendung dan berakhir pembuluh darahnya pecah karena tekanan darah yang sangat tinggi pada saat itu."
Jackson Thompson merasakan tubuhnya membeku. Ia kini sedang berada pada sebuah rasa asing yang tak ia kenali. Entah kenapa ada rasa sesal muncul di permukaan hatinya.
"Jaga ibumu Jack. Buat ia bahagia disisa hidupnya."
"Iya Tuan."
"Dan urus perusahaan ayahmu dengan baik. Ada banyak karyawan yang membutuhkamu di sana." Jackson Thompson mengangguk patuh.
__ADS_1
Baginya David Timothy adalah kakek dan juga pimpinan perusahaan yang sangat disiplin dan pantas untuk ia dengarkan nasehatnya.
"Dan kalau semuanya sudah beres disini, kamu bisa datang ke New York untuk menemui kami." ujar David Timothy seraya memeluk pria muda yang sangat disayanginya itu.
"Terimakasih banyak Tuan. Aku berjanji akan menjaga ibuku dan juga melaksanakan wasiat ayahku." jawabnya sembari tersenyum tipis.
Bradley Timothy ikut memeluk asisten pribadinya dengan senyum diwajahnya.
"Jack, aku juga akan kembali ke New York bersama dengan kakek."
"Terimakasih banyak Tuan." balas Jackson Thompson seraya membalas pelukan majikannya itu.
"Ingat untuk menjaga kesehatanmu. Sekarang pekerjaanmu lebih banyak daripada di New York."
"Ah iya, kita lihat saja nanti. Apakah pekerjaanku disini lebih dari 24 jam atau tidak hahaha," Jackson Thompson tertawa mengingat pekerjaannya mengurusi keluarga Timothy ia rasakan lebih banyak. Karena selain persoalan Perusahaan, urusan Asmara Bradley Timothy saja ia pun ikut mengurusnya.
Bradley Timothy ikut tertawa dengan lelucon Jackson Thompson sang asisten.
🍀
Hari-hari Jackson Thompson tidak terlalu berbeda dengan kebiasaannya selama ini di New York. Motto hidupnya untuk bekerja dan bekerja sepanjang waktu ternyata turun dari sifat ayahnya yang seorang pekerja keras.
Ibunya sampai menegurnya karena terkadang lupa untuk beristirahat. Perempuan itu takut kalau putranya akan sama dengan suaminya yang seorang workaholic.
"Jack, jangan seperti ini nak, ingatlah juga untuk beristirahat."
"Aku sudah biasa bekerja ibu, jadi kamu tidak usah khawatir. Apalagi suasana baru yang sedang aku hadapi di Perusahaan. Aku harus lebih banyak waktu untuk mengenal dan mempelajarinya." jawab Jackson Thompson tersenyum.
"Tapi Jack, ibu juga membutuhkanmu nak. Sempatkanlah waktumu untuk ibu di weekend ini." Diana meraih tangan putranya yang baru pulang dari perusahaan itu diwaktu yang sangat larut.
"Oh ya ampun. Maafkan aku ibu. Aku lupa padamu." ujar Jackson seraya meraih tubuh perempuan itu kedalam pelukannya. Hatinya jadi merasa sangat bersalah karena telah melupakan sang ibu karena banyaknya pekerjaan yang diwariskan oleh ayahnya.
Setelah beberapa hari bekerja di Perusahaan besar milik Jeremy Thompson, ia sudah menemukan banyak penyelewengan yang terjadi disana. Hingga ia berusaha sekuat tenaga untuk memulihkannya tetapi justru melupakan satu hal yaitu perasaan sang ibu.
__ADS_1
"Baiklah ibu. Aku tidak akan kemana-mana besok. Dua hari ini kita akan menghabiskan waktu bersama." ujar Jackson tersenyum miris.
Diana merasakan hatinya menghangat. Puluhan tahun adalah waktu yang sangat lama dan ia sendiri sudah tidak mengenali putranya sendiri. Seorang pria dewasa yang pernah lahir dari kandungannya kini kembali bersamanya menggantikan sosok Jeremy Thompson sang suami.
"Tidurlah ibu, besok pagi kita akan melakukan apa saja yang ibu inginkan." ujar Jackson seraya mencium kening sang ibu.
"Good night, Jack." ucap Diana kemudian meninggalkan putranya di dalam ruangan itu. Ia kembali ke kamarnya dengan begitu banyak rencana yang sudah ia susun untuk mengenang kembali masa-masa kebersamaan mereka beberapa tahun yang telah lewat.
Jackson Thompson memandang punggung ibunya yang semakin menjauh kemudian melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya. Karena terlalu lelah ia pun tertidur tanpa mengganti pakaiannya.
Esok pagi pun tiba, Diana sudah bersiap dengan sangat cantik hari itu. Dengan langkah ringan ia membuka pintu kamar putranya untuk membangunkannya. Tetapi ternyata pria itu sudah mandi dan nampak sangat tampan dengan pakaian kasualnya.
"Selamat pagi ibu," sapa pria itu dengan senyum cerah di wajahnya.
"Selamat pagi Jack, kamu ternyata sudah sangat siap pagi ini." ucap Diana membalas sapaan putranya.
"Iya ibu, hari ini dan esok adalah waktu untukmu. Jadi katakan padaku apa yang akan kita lakukan pagi ini?" Tanya pria itu seraya mendekati ibunya.
"Kita akan mulai hari ini dari dapur. Dan ibu akan memasak makanan kesukaanmu sejak kamu masih kecil." jawab Diana seraya meraih tangan putranya untuk keluar dari kamar itu dan membawanya ke dapur.
"Dari dulu kamu suka pasta Jack, apa sekarang kamu masih menyukainya?" tanya Diana dengan tangan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat pasta favorit puteranya.
"Iya ibu, aku suka Pasta." jawab Jack tersenyum dengan hati tiba-tiba merasa sangat rindu pada seseorang.
🍀
Siapakah yang dirindukan oleh Jackson Thompson???
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1