Hanya Sekedar Melahirkan

Hanya Sekedar Melahirkan
Bab 37 HSM


__ADS_3

"Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi Jack!" sebuah suara bariton tiba-tiba saja menggelegar di dalam kamar mewah yang sedang menjadi saksi pernyataan cinta seorang Jackson Thomson.


Pria itu tersentak kaget dengan suara yang sangat ia kenal itu. Perlahan ia melepaskan rengkuhannya pada Pretty Stewart kemudian berbalik.


Di depan pintu, Bradley Timothy menatapnya dengan tatapan membunuh. Apalagi keadaan dirinya sekarang yang hanya menggunakan bokser dan bertelanjang dada.


Pretty Stewart langsung menutup wajahnya karena takut dan malu. Gadis itu tidak tahu harus melakukan apa hingga ia hanya menundukkan kepalanya dan tidak bergerak.


"Aku menunggumu di luar Jack!"


"Baik Tuan!"


Jackson Thomson segera mencari kemeja dan celananya di lemari pakaiannya kemudian menghampiri gadis cantik yang sedang menunduk karena takut itu. Ia menyentuh wajah gadis itu kemudian berucap,


"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja, okey?"


"Aku harap begitu Tuan." jawab Pretty Stewart masih dalam keadaan menunduk. Untungnya ia belum tergoda untuk melakukan sesuatu dengan asisten pribadi Bradley Timothy itu. Jadi setidaknya ia terlalu tampak seperti gadis liar pada umumnya.


Pria itu pun keluar dari sana dan menyusul Bradley Timothy ke ruang tamu.


"Katakan padaku Jack, apa yang kamu lakukan dengan Steven Brown?!" Bradley Timothy langsung menyerangnya dengan pertanyaan saat ia baru saja muncul di Ruangan itu.


"Aku memukulnya sampai hampir mati Tuan." jawab Jackson Thomson dengan wajah datar dan tidak merasa bersalah sama sekali.


"Jack?! dimana dirimu yang selama ini bisa mengontrol emosi meskipun ada hal yang sangat genting sekalipun!" teriak Bradley Timothy dengan nada yang sudah mulai meninggi.


"Apa karena Nona Stewart?" tanyanya yang langsung dijawab anggukan oleh Jackson Thompson sang asisten.


"Oh ya ampun!" Bradley Timothy meraup wajahnya kasar. Ia tidak menyangka kalau pria dingin dihadapannya ini ternyata bisa juga jadi harimau jika menyangkut seorang gadis yang sudah menarik perhatiannya.


"Apa kamu mencintainya Jack?" tanya Bradley Timothy dengan tatapan tajam ke wajah datar sang asisten.


"Anda pasti sudah tahu jawabannya Tuan." jawab pria itu dengan sedikit lengkungan samar dibibirnya.


"Kalau begitu kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang?!" Jackson Thomson tersenyum.


"Ya, Aku tahu Tuan. Dan anda juga pasti sudah melakukan sesuatu bukan?"

__ADS_1


"Hey, kenapa otakmu bisa menebaknya Hah? padahal aku ingin membuat kejutan untukmu."


"Aku tahu anda tidak bisa hidup tanpaku 'kan? jadi anda pasti sudah melakukan semuanya." Jackson tersenyum samar dengan ekspresi Bradley Timothy yang nampak mencibir.


"Ya ya, kalau begitu kita ke kantor polisi sekarang." ujar Bradley Timothy dengan wajah berubah senang.


"Aku akan berpamitan pada Nona Stewart." ujar pria itu dan segera meninggalkan Bradley Timothy di Ruangan itu.


"Pretty, aku akan ke kantor Polisi. Kamu tidak takut sendirian di sini?" gadis itu tersenyum kemudian menjawab, " Aku ikut Tuan. Supaya urusan bisa cepat selesai."


"Urusannya bisa selesai tanpamu Pretty, kumohon tinggallah di sini."


"Aku tetap ikut, Tuan." jawab Pretty Stewart memaksa.


"Hum baiklah. Ayo kita berangkat." pria itu pun meraih tangan gadis itu dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


Mereka bertiga pun berangkat ke Kantor Polisi dengan menggunakan mobil mereka masing-masing.


"Halo Tuan Timothy! lama tak berjumpa ya." sapa seorang serif yang sedang bertugas pada sore itu.


"Dan anda bersama Jackson Thomson. Aku sudah dengar laporan dari Steven Brown. Silahkan duduk dan jelaskan apa yang terjadi Jack!" Serif itu kini mengarahkan pandangannya ke arah sesosok pria yang sangat ia kenal karena merupakan salah satu anggota pasukan khusus di Kepolisian New York. Tetapi lebih memilih bekerja pada keluarga Timothy.


"Steven Brown melakukan tindakan kekerasan pada seorang gadis, Sir!" Serif Robin itu langsung tertawa terbahak-bahak kemudian memandang gadis muda yang sedang duduk menunduk di samping pria itu.


"Aku tidak menyangka Jack, kamu bisa juga tertarik pada seorang perempuan. Pasti Nona cantik ini sangat istimewa ya?" canda sang Serif dengan tatapan tertuju pada wajah partner kerjanya itu. Jackson Thomson tidak menjawab.


Ia hanya menyerahkan semua bukti kejahatan Steven Brown selama ini. Termasuk rekaman CCTV pada saat kejadian itu terjadi.


"Tangkap orang itu, Sir. Atau aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri." ujar Jackson Thomson dengan wajah mengeras.


"Sabar Jack, biarkan ia mengobati luka-lukanya terlebih dahulu sebelum masuk ke kandang harimau di sini, Hahahaha." Serif itu tertawa terbahak-bahak dengan ketidaksabaran Jackson Thomson hanya karena wanitanya diganggu.


Jackson Thomson memandang wajah Bradley Timothy yang ikutan tertawa menemani Serif Robin.


Sungguh ia harus berterimakasih pada pria itu yang sudah mengumpulkan bukti-buktinya sesaat setelah mendengar kabar ini. Semua media juga diperintahkan untuk tidak lagi menayangkan cerita bohong dari Steve Brown. Ia percaya kekuatan keluarga Timothy tidak bisa diragukan lagi.


"Well, jika kamu tidak keberatan, bisakah aku berkenalan dengan wanitamu Jack?" Serif Robin kembali mengarahkan pandangannya pada gadis muda yang masih betah menundukkan wajahnya itu.

__ADS_1


"Dia Pretty Stewart, Sir. Tetapi maaf, bisakah anda tidak memandangnya seperti itu?" Jackson Thomson merasakan tangannya sedikit gatal jika melihat cara Serif itu memandang gadis cerewetnya. Ia tahu betul bagaimana sifat Serif itu jika melihat gadis cantik.


"Hahahaha," Serif Robin kembali tertawa. Ia suka sekali melihat kekesalan wajah pria itu.


"Aku khawatir Tuan Robin akan melihat harimau ini mengaum di dalam ruangan ini kalau anda tidak menarik pandangan anda, Hahaha." timpal Bradley Timothy sembari melirik Jackson Thomson yang sedang mengepalkan tangannya.


"Ah ya aku percaya. Steven Brown saja sudah hampir mati seperti itu. Dan untungnya kamu tidak mengeluarkan senjata pada saat itu."


"Well, Tuan Robin. Kami permisi. Dan terimakasih." Bradley Timothy segera berpamitan untuk segera pulang. Ia sangat yakin Valerie pasti sudah tidak sabar menunggu kabar darinya apalagi ini berhubungan dengan Pretty Stewart, asisten pribadi Istrinya.


"Sama-sama Tuan Timothy. Kami juga berterimakasih karena anda berdua membantu pihak kepolisian New York menemukan banyak kejahatan dari Steven Brown itu."


Mereka bertiga pun keluar dari sana dengan nafas lega dari seorang gadis Pretty Stewart.


"Aku ingin pulang ke Mansion Tuan," cicit gadis itu saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


"Kamu kan masih ada izin untuk menikmati weekend ini Pretty, bisakah kita berdua saja?" Jackson Thomson memandang gadis itu yang sedang menjalin jari-jarinya.


"Tidak Tuan. Aku tidak ingin berdua dengan anda. Aku takut." jawab gadis itu dengan tetap menunduk. Ia benar-benar trauma untuk membuka hatinya pada seorang pria. Dulu Steven Brown juga berlaku sangat lembut padanya tetapi lama kelamaan sifat buruk pria itu pun keluar satu persatu.


Jackson Thomson menghentikan mobilnya di jalanan sepi lalu menatap gadis itu,


"Kamu tidak percaya padaku Pretty?" gadis itu mengangguk. Jackson Thomson menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang."


"Terimakasih banyak Tuan." cicit gadis itu dengan suara pelan. Pria itu tersenyum kemudian melajukan mobilnya. Ia bertekad untuk mendapatkan hati Pretty Stewart secepatnya.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Kasih Rate bintang lima dong 😍


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2