
Bradley Timothy menarik kaki Valerie Dominguez yang berusaha kabur karena ketakutan melihat inti dirinya yang menurut gadis itu sangat luar biasa.
"Tidak! lepaskan aku tuan. Uangnya akan aku kembalikan sungguh." Valerie Dominguez terus memberontak karena ketakutan.
"Diam kamu, gadis aneh! Sekali saja dan biarkan ini cepat selesai." pria itu tetap tidak mau melepaskan kaki gadis itu yang terus menerus memberontak.
"Tapi aku takut. Ya ampun. Kenapa bisa jadi sangat luar biasa seperti itu tuan." Valerie Dominguez menutup matanya karena sudah tak mampu memberontak. Tubuhnya sudah berada di sudut tempat tidur dan sudah sangat menempel di dinding kamar itu.
"Jangan mencoba mempermainkan aku ya?!" geram Bradley Timothy dengan wajah mulai kesal. Dengan cepat ia meraih tubuh gadis itu dan memberikan sentuhan-sentuhan lembut agar ia bisa rilex dan bisa menerimanya dengan sangat baik.
Valerie Dominguez menggigit bibirnya menahan rasa asing yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Seluruh sarafnya bahkan ikut merespon dengan sangat baik sampai ia tidak sadar sesuatu yang ia takutkan berhasil memasuki inti dirinya.
"Aaaaaaa," gadis itu berteriak keras karena merasakan sakit yang teramat sangat. Sampai ia kembali mendorong tubuh Bradley Timothy yang sedang melakukan tugasnya dengan baik itu tetapi tidak berhasil.
"Tuan. Hentikan! aku akan menerima setengah koper uangmu saja. Dan hentikan ini Aaaaaakh," Valerie Dominguez berteriak lagi tetapi kemudian diakhiri dengan dessahan yang begitu merdu ditelinga seorang Bradley Timothy.
Pria itu merasakan dirinya berada didalam lintasan yang begitu berbeda, asing, aneh, tetapi sangat luar biasa.
Dirinya bahkan berani melakukan sebuah manuver yang tak pernah ia lakukan selama ini bersama dengan Cassandra sang kekasih. Ia merasa seperti dimanjakan oleh oleh pijatan-pijatan yang sangat lembut tetapi terasa garang dan luar biasa.
Bradley Timothy mengerang nikmat saat ia berhasil meledakkan dirinya di sebuah tempat yang sangat sempurna dan luar biasa.
Keduanya saling bertatapan kemudian saling membelakangi. Mereka berdua saling meredakan debaran jantung yang terasa menggila.
Bradley Timothy segera bangkit dari tempat tidur itu dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian ia keluar dari sana dengan sudah berpakaian lengkap.
"Istirahatlah. Jackson Thomson akan mengantarmu ke Rumah Sakit kalau kamu sudah segar kembali." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Valerie Dominguez yang nampak kelelahan. Gadis itu tersenyum meringis kemudian jatuh tertidur.
🍀
Valerie Dominguez terbangun saat ketukan panjang di pintu kamar hotel itu terus-menerus berbunyi. Gadis itu menggeliat pelan dengan tubuh yang sangat sakit bagai dicabik-cabik oleh harimau lapar.
Ia tidak tahu jam berapa sekarang. Tetapi ia merasa sudah sangat lama tertidur. Akhirnya ia bangun dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket.
__ADS_1
Bathtub yang sudah ia coba sebelumnya, kini ia gunakan lagi untuk membuat tubuhnya gemetar. Ia mengisinya dengan air hangat untuk membuat dirinya kembali segar dan tidak kesakitan.
Lama ia berendam kemudian keluar dari sana dengan keadaan yang sudah lebih baik. Setelah memakai pakaiannya kembali ia membuka pintu kamar yang ia tempati.
"Nyonya, kami membawa makanan untuk anda." ujar Room Boy itu saat ia membuka pintu. Seketika ia tersadar kalau ia sudah menjadi seorang istri pria kaya. Dulu ia berada pada posisi Room boy dihadapannya ini dan melayani semua tamu hotel tempatnya bekerja.
"Nyonya? boleh saya masuk" tanya Room boy itu lagi karena ia sempat melamun.
"Ah iya silahkan masuk." jawab Valerie Dominguez kemudian segera bergeser dari tempatnya berdiri.
"Baik Nyonya," Room boy itu pun masuk dengan mendorong trolley berisi semua menu istimewa di hotel itu. Pria itu menata kemudian mempersilahkannya untuk menikmati semua hidangan itu.
"Terimakasih banyak." ucap Valerie sembari memberi tips untuk room boy itu. Perempuan itu duduk menghadapi meja yang sudah dipenuhi oleh makanan yang sangat lezat dan menggugah selera.
Ia melahap semua makanan itu bagaikan seorang yang tidak pernah makan sebelumnya. Perempuan cantik itu merasa sangat kelaparan.
"Oh My God." Valerie menutup mulutnya tak menyangka ia bisa menghabiskan semua makanan itu tanpa sisa. Dalam hati ia tersenyum karena senang karena sudah sangat kuat untuk menemui ibunya dengan membawa uang sekoper.
"Apa semudah ini mendapatkan uang?" tanyanya pada dirinya sendiri sembari menatap wajahnya yang tampak berseri-seri di dalam cermin.
"Nyonya," Jackson Thomson menyambutnya di depan pintu kemudian segera mengantarnya ke Rumah Sakit. Dalam hati perempuan itu ingin sekali menanyakan keberadaan Bradley Timothy tetapi ia segan dan juga malu.
Sesuai perjanjian mereka hanya akan melakukannya sekali dan setelah itu ia akan menunggu dan merawat benih yang sudah ditanam oleh pria itu yang merupakan suaminya sendiri. Untuk itu ia tak perlu tahu dimana keberadaan pria itu sekarang ini.
"Kalau saya boleh usul. Sebaiknya nyonya menyimpan uang anda di Bank. Akan sangat berbahaya membawa uang sebanyak itu kemana-mana Nyonya." ujar Jackson Thomson saat melihat istri dari bosnya itu membawa koper yang sama dengan yang ia bawa kemarin.
"Ah itu betul sekali. Aku juga mempunyai rekening saat aku bekerja. Bawa aku ke Bank tuan Thomson."
"Baik Nyonya."
"Tapi bagaimana dengan pembayaran operasi ibuku?" tanyanya setelah lama berpikir.
"Tidak perlu anda pikirkan. Tuan Timothy sudah membayar semua biaya perawatannya jadi uang anda tidak akan berkurang sedikitpun."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya Nyonya."
"Apakah kalian menguasai sepertiga negara ini? kenapa kalian mempunyai uang banyak sekali?" Jackson Thomson tersenyum samar dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari perempuan cantik itu.
"Tidak perlu kamu jawab tuan Thomson. Aku tahu kamu tahu siapa diriku kan? Jadi berdoalah aku segera hamil dan melahirkan seorang bayi untuk tuan Timothy aneh itu." sekali lagi Jackson Thomson tersenyum. Ia jadi penasaran dimana kira-kira tuan Bradley Timothy menemukan gadis sepolos ini.
"Terimakasih tuan Thomson. Anda bisa pulang dan kembali saat usia kandunganku berusia 9 bulan." ujar Valerie Dominguez saat mereka sudah sampai di Rumah Sakit tempat ibunya dirawat.
"Ah iya Nyonya. Jaga kesehatan anda." ujar asisten pribadi Bradley Timothy itu dan meninggalkan perempuan itu di depan Rumah Sakit. Ia akan menuju bandara saat itu juga untuk mendampingi Bradley Timothy melakukan kunjungan bisnis ke seluruh negara di Eropa atas perintah sang kakek David Timothy.
Valerie Dominguez melambaikan tangannya ke arah mobil yang sudah menjauh itu. Ia pun melangkahkan kakinya dengan ringan ke arah kamar sang ibu yang sebentar lagi akan memasuki ruang operasi.
"Ibu, aku datang." ujarnya pada saat ibunya sudah bersiap di dorong ke dalam ruang tindakan.
"Valerie, putriku. Sejak tadi ibu menunggu kedatanganmu nak."
"Sekarang aku sudah ada di sini ibu. Aku akan menemanimu terus sampai kamu sehat kembali." jawab Valerie sembari menciumi seluruh permukaan wajah sang ibu.
Aku sudah tidak bekerja ibu tetapi aku mempunyai uang yang banyak.
Seluruh waktuku akan aku habiskan bersama ibu.
Doakan aku cepat hamil dan segera menyelesaikan tugas ini. ujarnya membatin dengan senyum diwajahnya.
"Kamu akan sehat kembali ibu. Aku yakin itu." ujarnya lagi sembari ikut mendorong tempat tidur ibunya ke dalam ruang operasi.
"Terimakasih do'anya sayang. Aku akan hidup untuk melihatmu bahagia."
"Iya ibu." jawab Valerie dengan melambaikan tangannya pada ibunya yang lambat laun tidak kelihatan lagi karena pintu ruang operasi itu mulai ditutup.
*Bersambung
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍