Hanya Sekedar Melahirkan

Hanya Sekedar Melahirkan
Bab 36 HSM


__ADS_3

"Kamu dimana Jack?" tanya Bradley dari ujung sambungan telepon.


"Saya ada di Apartemen Tuan." jawab pria itu dengan sikap siap seperti biasa ketika berbicara dengan bosnya itu.


"Cari tahu dimana keberadaan Nona Stewart sekarang juga! Pastikan keselamatannya! karena Valerie sangat mengkhawatirkannya."


"Baik Tuan." jawab Jackson Thomson dengan senyum samar diwajahnya. Ia menutup panggilan telepon itu dengan segala rencana dipikirannya.


"Katakan apa yang anda butuhkan Tuan. Setelah itu aku ingin menumpang untuk beristirahat di salah satu kamar di Apartemen anda." ujar Pretty Stewart sembari membuka lemari pendingin di ruangan itu.


"Anda butuh minuman dingin?" tanyanya sembari mengeluarkan minuman yang sering ia lihat diminum oleh pria itu.


"Atau butuh makan? akan aku buatkan Pasta. Karena hanya itu yang bisa aku masak, hehehe." gadis itu terkekeh kemudian melangkah ke arah kabinet dan mencari bahan untuk membuat pasta.


"Aku tidak butuh apa-apa, Nona Cerewet."


"Baiklah, kalau begitu aku sangat senang mendengarnya." jawab gadis itu kemudian meninggalkan pria itu di dalam dapur.


"Tunjukkan dimana kamar tamunya Tuan. Aku sangat lelah dan ingin tidur sebelum pulang ke Mansion."


Jackson Thomson mengikuti langkah gadis itu dan membuka pintu sebuah kamar yang sangat luas dan bernuansa maskulin.


"Masuklah. Kamu bisa tidur sepuasnya. Anggap saja sebagai kamarmu sendiri." ujar pria itu mempersilahkan.


"Terimakasih banyak Tuan. Aku akan menikmati semua fasilitas anda di sini tapi jangan potong gajiku ya?" gadis cerewet itu menatap Jackson Thomson dengan mata dibuat berkedip-kedip lucu. Dan berhasil membuat desiran aneh di dada pria itu.


Jackson Thomson berusaha menahan diri untuk tidak menyerang gadis yang sangat menggemaskan itu. Tangannya sampai ia kepalkan disamping kiri kanannya.


"Istirahatlah." ujarnya dengan senyum diwajahnya.


"Terimakasih banyak Tuan, anda banyak membantuku hari ini," ucap gadis itu kemudian memberikan sebuah kecupan singkat di pipi Jackson Thomson.


Setelah itu dengan wajah santai ia langsung melompat ke atas ranjang besar dan mewah milik pria itu

__ADS_1


Jackson Thomson merasakan jantungnya bekerja sangat keras memompa darahnya hingga hampir meledak sampai ke ubun-ubunya. Pria itu berdiri mematung sembari memandang gadis itu merebahkan dirinya di atas ranjangnya.


Sadarlah Jack!


Biarkan ia istirahat!


Pria itu menarik nafasnya dalam-dalam karena sudah mulai tergoda pada gadis yang sedang tidur pulas itu.


Ia segera keluar dari kamar itu dan membiarkan pintunya tetap terbuka agar ia bisa memantau penghuni ranjangnya itu dari jauh.


Pria itu pun melangkahkan kakinya ke arah lemari pendingin. Sekarang ia butuh minuman segar untuk meredakan gejolak hasrat yang tiba-tiba berkejaran dalam urat syarafnya.


Entah kenapa ia sangat menginginkan gadis itu saat ini. Kata-kata David Timothy terngiang-ngiang ditelinganya yang menyuruhnya untuk berkencan dengan seorang perempuan. Dan ia pikir Pretty Stewart lah yang paling cocok untuknya.


Tetapi jika ia mengingat kejadian yang menimpa gadis itu beberapa jam yang lalu, hatinya langsung dilanda keresahan. Pretty Stewart memiliki masa lalu dengan seorang pria psikopat.


Sejauh mana hubungan mereka berdua?


Jackson Thomson berusaha mencari kesibukan agar tidak memikirkan gadis yang sedang tertidur di dalam kamarnya itu. Ia mulai membuka beberapa email yang masuk dan mulai membalasnya.


Perutnya juga sudah mulai berteriak minta diisi. Akhirnya ia berdiri dari duduknya dan menutup layar laptopnya. Ia mulai mencari roti isi daging favoritnya kemudian membuat jus jeruk lemon.


Setelah menyelesaikan makannya ia pun masuk ke kamarnya dengan niat untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Penanda waktu dipergelangan tangannya ia pandang. Rupanya sudah sore dan gadis itu bahkan belum bangun juga.


Jackson Thomson keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bokser seperti kebiasaannya selama ini. Ia menggosok rambutnya dengan handuk kecil kemudian berjalan ke arah meja di depan ranjangnya.


Remote control Televisi ia ambil dan mulai menonton kabar terkini tentang kota New York. Di dalam sana ia melihat pria yang ia pukul tadi ada di dalam berita sedang melaporkan dirinya yang sudah melakukan tindakan penganiayaan kepadanya beberapa jam yang lalu.


Ia baru ingin mematikan berita itu hingga tiba-tiba ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


"Aku takut Tuan, Steven pasti akan mencari mu dan juga akan membawaku pergi." Pretty Stewart menangis dengan tangan tak lepas dari tubuhnya. Pria itu bisa merasakan dada gadis itu bergetar karena takut.


Jackson Thomson mengelus lembut tangan gadis itu kemudian berusaha untuk berbalik dan balas merengkuhnya dalam pelukan.

__ADS_1


"Tidak apa, kita akan menghadapinya di kantor Polisi." hibur pria itu dengan tatapan penuh perasaan.


"Tapi gara-gara aku anda mendapatkan masalah. Aku takut Tuan."


"Tidak akan ada masalah Pretty. Aku tidak suka kalau kamu menangis. Kamu jadi tidak cantik lagi, Hem." ujar pria itu dengan jari-jari menghapus air mata gadis yang sangat ingin ia nikahi itu.


"Katakan padaku apa hubunganmu dengan pria psikopat itu." Pretty Stewart terdiam. Ia tiba-tiba merasakan kembali ketakutan yang sangat jika mengingat hubungan mereka berdua.


Berkali-kali ia berusaha putus dengan pria itu tetapi tetap saja Steven Brown berhasil kembali dengan berbagai cara.


Untungnya pria itu suka bermain perempuan untuk waktu yang lama hingga ia kadang bisa bebas untuk pergi tetapi ketika Steven Brown punya masalah maka ia akan meminta untuk kembali.


"Pretty, kamu dengar aku?" tanya Jackson Thomson sembari mengarahkan wajah gadis itu agar menatapnya. Pretty Stewart mengangguk dengan lelehan air mata dipipinya. Ia takut Steven akan berhasil lagi kali ini. Dan mungkin ia akan bunuh diri saja jika itu terjadi.


Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya kemudian mengecup air mata gadis itu , kemudian berbisik pelan dengan suara parau.


"Aku tidak suka melihatmu menangis, Pretty." gadis itu merasakan tubuhnya membeku kemudian detik berikutnya ia berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu yang merupakan majikannya.


Ia sungguh tidak sadar telah melampaui batas hanya karena terbawa suasana. Cukup dengan Steven Brown ia pernah berhubungan dan ia tidak mau lagi mengulanginya dengan pria lain.


"Maafkan aku Tuan. Aku..." gadis itu berusaha turun dari tempat tidur dan ingin keluar dari kamar itu tetapi Jackson menariknya kembali dalam pelukan pria itu.


"Lepaskan aku Tuan. Tolong biarkan aku pergi. Aku tidak ingin kecewa untuk yang kedua kalinya." mohon Pretty Stewart sembari terus memberontak agar bisa terlepas tetapi tangan pria itu menahan pinggangnya dengan sangat kuat.


"Dengarkan aku Pretty. Aku menyukaimu dan aku ingin menikah denganmu."


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2