Hanya Sekedar Melahirkan

Hanya Sekedar Melahirkan
Bab 35 HSM


__ADS_3

Jackson Thomson begitu kaget dengan apa yang baru ia dengar lewat telepon itu.


Suara itu benar-benar mirip dengan si cerewet Pretty Stewart.


Apa benar gadis itu sedang dalam bahaya sekarang?


Mobil yang baru saja ia parkirkan di Valet Mall terbesar di New York itu langsung ia hidupkan kembali untuk menyusul gadis itu yang katanya akan ke Bandara di kota itu.


"Aaawww tolong lepaskan aku, ampuni aku Steve!" di depan mobilnya tanpa sengaja ia melihat seorang perempuan diseret paksa oleh seorang pria dengan begitu kejamnya. Dan siluet tubuh Pretty Stewart ada di sana.


Bugh


Satu pukulan keras berhasil ia sarangkan di wajah pria asing itu. Hingga tangan yang sedang mencengkeram pergelangan tangan Pretty Stewart terlepas.


"Tuan!"


Deshhhh


Satu lagi tendangan keras ia arahkan ke perut pria hingga jatuh terjengkang menabrak bumper mobilnya sendiri hingga menimbulkan suara ribut karena alarm ikut berbunyi.


"Hey siapa kamu brengsek!" teriak Steven sembari memegang perutnya yang terasa sangat sakit itu.


"Kamu yang siapa berani menggangu wanitaku!" geram Jackson Thomson dengan satu lagi serangan ke arah dada pria itu.


Steven Brown meradang sembari berteriak meminta tolong. Ia sudah tiga kali mendapat 3 kali serangan dari seorang pria yang sepertinya mm pernah ia lihat tetapi entah dimana.


Dua orang security datang untuk melihat kejadian tersebut dan segera menolong Steven Brown untuk berdiri.


"Ayo lawan aku dengan adil." tantang pria itu setelah bisa berdiri dengan tegak.


"Baik." jawab Jackson Thomson dengan mempersiapkan dirinya dengan baik. Ia rasanya ingin membatahkan tangan pria itu yang telah berani menyakiti si gadis cerewet itu.


Bugh


Bugh


Desh


Mereka berdua kini berduel dengan sangat seru dan sepertinya mempunyai kekuatan yang sama. Jackson Thomson menyerangnya sedangkan Steven Brown dengan lihai menangkis dan bertahan.

__ADS_1


Sedangkan dua security yang tadi datang untuk mengamankan kejadian hanya bisa menonton acara live yang sangat menarik itu.


Bugh


Jackson Thomson terpental tiba-tiba karena tangan gesit Steven berhasil memukul perutnya. Pria itu segera melompat berdiri dan kembali menyerang dengan persiapan yang matang.


"Kyaaas!" Jackson Thomson melompat ke udara dengan tangan bertumpu pada bumper deretan mobil yang terparkir di sana, ia menyerang titik vital Steven Brown dengan satu tendangan keras.


"Aaaargh!" pria itu berteriak tertahan dengan rasa sakit yang teramat sangat di bagian dadanya. Steven Brown tersungkur ke lantai dengan darah segar keluar dari mulutnya.


"Tuan, kamu membunuhnya!" teriak Pretty Stewart dengan wajah takut. Ia hanya bisa berdiri di sana tatapan nanar.


"Pretty, kemarilah, tolong aku sayangku. Ayo kita pergi dari sini." panggil Steven pada gadis yang berdiri kaku itu tidak jauh dari dirinya itu. Meskipun dalam kesakitan ia tetap melangkahkan kakinya ke arah gadis itu. Ia menyeret langkahnya pelan untuk menggapai gadis itu.


"Hey berhenti!" teriak Jackson Thomson dengan rahang mengetat sempurna. Rupanya pria yang sudah sekarat itu masih ingin mendekati Pretty Stewart meskipun ia sudah memberinya pelajaran yang sangat berharga.


Dengan langkah cepat, Ia langsung mendahului langkah pria itu ke arah Pretty Stewart dan membawanya ke atas mobilnya.


"Kamu diam di sini dan saya akan membereskan pria itu." Pretty Stewart hanya mengangguk pelan. Gadis itu masih terlalu shock dengan apa yang ia lihat baru saja di depan matanya.


"Hey kembalikan Prettyku bajingan!" teriak Steven dengan wajah menghitam karena marah.


"Kamu salah karena telah mengganggu wanitaku. Kalau kamu masih sayang pada nyawamu, maka cepat pergi dari sini atau aku akan mematahkan tanganmu itu!"


"Awwwwa!" pria itu berteriak keras karena lawannya berhasil memutar tangannya dengan keras hingga patah. Jackson Thomson mendorong tubuh tak berdaya itu hingga terjerembab ke lantai Valet itu.


"Bawa dia ke Rumah Sakit!" titahnya pada dua orang security yang hanya menjadi penonton kejadian itu.


Jackson Thomson menarik nafas panjang kemudian meninggalkan pria tak berdaya itu yang berteriak memanggil-manggil nama Pretty Stewart.


"Kita pulang!" ujarnya kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan keluar dari Valet itu. Sedangkan gadis yang berada disampingnya tidak bereaksi. Rupanya ia masih masih sangat shock dengan apa yang terjadi.


Sepanjang jalan itu keduanya diam. Jackson Thomson tidak ingin bertanya tentang apa yang telah dialami gadis cantik yang sedang menutup wajahnya itu dengan kedua telapak tangannya.


"Apa aku harus menggendongmu untuk turun?" tanyanya setelah kendaraan roda empat itu berhenti di depan apartemennya.


Pretty Stewart tersentak. Ia memandang pria yang telah menyelamatkan dirinya itu dengan tatapan bingung. Gadis itu menggelengkan kepalanya lantas berucap,


"Aku bisa turun sendiri Tuan."

__ADS_1


"Bagus." ujar pria itu tersenyum samar. Ia pun membuka pintu mobilnya dan segera turun. Gadis itu pun mengikutinya.


"Dimana ini? kenapa kita berada di tempat ini? bukannya kita mau pulang ke Mansion?"


Jackson Thomson tersenyum kemudian menarik tangan gadis itu ke dalam gedung Apartemennya.


"Kamu ingin menikmati Weeknd 'kan? nah sekarang kita akan menikmatinya bersama dengan berkencan!"


"Apa? kencan? apa maksud anda Tuan? Bawa aku pulang. Aku tidak mau!" teriak Pretty dengan suara melengking. Ia sudah sangat trauma dengan yang namanya menjalin hubungan khusus dengan pria.


"Dasar Cerewet. Nikmati saja!" tangannya terus ditarik oleh pria itu menuju lantai tertinggi gedung itu dengan menggunakan lift.


Tring


Jackson Thomson menarik kembali tangan Pretty Stewart yang selalu berusaha memberontak.


"Nah silahkan masuk Nona Stewart!" ujar pria itu setelah pintu ia buka dengan menggunakan access Card-nya.


"Tidak! Aku ingin kembali ke Mansion saja. Aku tidak mau masuk." gadis itu bertahan di depan pintu dan tidak ingin masuk. Ia takut kalau ia baru saja keluar dari mulut harimau malah masuk lagi ke mulut buaya. Baginya para pria gampang bersikap manis kalau menginginkan sesuatu.


"Awwwwa!" gadis itu berteriak tertahan karena tiba-tiba tubuhnya melayang ke udara. Jackson Thomson telah menggendongnya ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam apartemen yang sangat luas dan mewah itu.


"Turunkan aku Tuan, aku bisa jalan sendiri!" Jackson Thomson tersenyum tetapi tetap mengabaikan ucapan gadis itu. Ia baru menurunkannya ketika sampai di sebuah ruangan yang terdapat deretan sofa yang sangat empuk dan nyaman.


"Nah duduk dengan tenang. Aku akan melayanimu."


"Apa? telingaku sedang tidak salah dengar 'kan? Anda mau melayaniku? tidak! Aku tidak mau!" jawab Pretty kemudian berdiri dari duduknya. Ia mengikuti pria itu ke dalam sebuah dapur minimalis yang sangat rapih dan cantik.


"Hey, kenapa kamu ikut ke sini Nona Cerewet?!"


"Aku tidak mau dilayani karena anda pasti akan memotong gajiku! Hem enak saja!"


"Anda tahu? aku sudah membelanjakan semua uangku di Mall tadi? dan semua barang-barangku malah tidak aku dapatkan. Handphoneku pun sudah hilang. Aku tidak mau rugi lagi!"


Jackson Thomson tersenyum samar. Ia sangat senang karena gadis itu kembali cerewet seperti biasa, itu artinya keadaan tadi tidak mempengaruhi pikirannya.


🍀


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2