
sesampainya Alvian dirumah , dia langsung mencari keberadaan istrinya dikamar.
terlihat orang yang dicarinya sedang tidur pulas, Alvian terus menatap wajah istrinya tersirat didalam hatinya ada rasa bersalah tapi disisi lain dia terus mengingat foto dan juga melihat istri yang sedang berduaan dengan seorang lelaki.
Alvian pun bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri
" si*alan David datang-datang langsung main tonjok saja " Alvian meringis kesakitan didepan kaca.
mendengar gemericik air membuat chesa terbangun dan melihat ke kamar mandi yang pintunya tidak tertutup rapat.
saat Alvian keluar dari kamar mandi dia terkejut namun sekita dia menjadi tenang,
" baru pulang yank ? " tanya chesa
" Hem.." jawab Alvian
" kamu berantem yank ?" tanya chesa ketika melihat sudut bibir Alvian ada sedikit memar
" tidak , tadi aku tidak perhatikan jalan jadi terbentur ditembok, ayo tidur lagi " Alvian merebahkan dirinya
chesa yang masih duduk di atas tempat tidur melihat suaminya yang tidurnya membalikkan badan tidak seperti sebelumnya.
dan ia juga merasakan perubahan sikap dari Alvian pada.
keesokan paginya seperti biasa chesa bangun pagi-pagi memasak sarapan namun hari ini pekerjaannya cepat selesai karena semalam bik Mina menginap dan tadi pagi saat ia bangun bik Mina sudah memasak nasi.
setelah selesai berkutat di dapur ,ia ke kamar untuk membangunkan suaminya.
" sudah bangun rupanya" gumamnya saat melihat ranjangnya sudah kosong.
ia pun mempersiapkan baju kerja Alvian, saat ingin mengambil ponselnya yang tepat bersebelahan dengan ponsel Alvian , chesa melihat ada chat masuk ke ponselnya Alvian
📨 maaf gara-gara aku kamu......
chesa hanya membacanya tanpa membuka chat masuk, penasaran chesa mengambil ponsel Alvian tapi baru saja pegang pemiliknya sudah berdiri diluar kamar mandi.
" kamu ngapain ?" tanya Alvian langsung merebut ponselnya.
" ta..tadi aku lihat ada chat masuk dan.. " ucapannya terhenti
" tidak apa-apa siapkan pakaian ku " ketus Alvian.
"ini , hmm nanti siang aku akan kerumah mama bersama Ken "
" hmm" jawab Alvian
melihat Alvian menjawabnya singkat membuat hati chesa agak terluka.
bola matanya yang sedang membendung air matanya pun tidak bisa tertahan lagi.
dengan cepat ia menghapus air matanya.
Alvian yang sedang menyisir rambutnya melihat chesa menghapus air matanya dari pantulan kaca.
" kamu kenapa tiba-tiba nangis " tanya Alvian
" nggak apa-apa " chesa menggeleng kepala.
" ya sudah aku berangkat sekarang ada meeting yang penting " ucapnya lalu pergi begitu saja
air matanya kembali mengalir dari pelupuk matanya.
****
tokk..tokk...
" eh non chesa ,masuk non sudah ditungguin ibu sama non Vania didalam " ucap mbok Yani
" terimakasih mbok " ucap chesa.
" Tantee... Oma.. " teriak kennan kegirangan
" aduh datang-datang bukannya Omanya dulu yang dipanggil malah tantenya dulu " ledek mama Rania
" nggak apa dong Oma , itu berarti Ken sayang banget sama Tante ya kan Ken " ucap Vania yang sudah memeluk Ken
" ma , " panggil chesa dan Salim tangan mertuanya.
" kamu kenapa nak ? sakit ?"tanya mama Rania melihat wajah chesa agak sembab.
" aku tidak apa-apa ma " jawabnya.
Vania yang terus melihat kakak iparnya membuatnya mengingat kembali kejadian saat di reunian.
" kakak habis nangis ?" tanya Vania langsung
" iya ! kamu berantem sama Alvian atau kamu dimarahinya " tanya mama dengan panik.
" Van , ambil ponsel mama biar mama tanya dia langsung kalau menantu mama ini tidak mau cerita " sambung mama
ketika Vania akan berdiri pun duduk kembali duduk saat chesa mencegahnya.
" tunggu ma , Van aku itu tidak apa-apa tapi " mata chesa tertuju pada kennan yang sedang duduk selonjoran dibawah sambil mewarnai.
" mbok... mbok tolong kamu bawa Ken ke taman belakang mengambar ya " pinta Mama Rania
" Ken , Ken ikut mbok ke taman belakang ya , nanti kalau kita sudah mau berangkat Oma panggilin kamu ya sayang" sambung Mama Rania
__ADS_1
setelah Ken dibawa mbok ke belakang chesa pun menceritakan semuanya dari perubahan sikap yang menjadi dingin dan juga menceritakan kalau ia tengah hamil sekarang.
"terimakasih Tuhan engkau telah mengabulkan doa hamba " ucap mama Rania dengan puji syukur.
" selamat ya kak , sudah berapa bulan kak ?" tanya Vania
" sudah mau 4 Minggu " jawab chesa.
" ya sudah sekarang kita berangkat yuk sebelum kesiangan " ajak mama Rania
mereka berempat pun pergi ke salah satu mall terlebih dahulu sebelum pergi memesan kue ulang tahun untuk Alvian.
serasa semua keperluan sudah beli mama Rania kembali mengajak anak , menantu juga cucunya pergi ke salah satu toko kue langganannya.
saat ibu mertua dan menantu tengah memilih kue yang berada di brosur dan Vania juga kennan sedang memesan minuman dingin juga kue.
****
"sya mungkin aku tidak akan bisa bertemu denganmu seperti ini lagi " ucap Alvian
" aku tidak tahu harus bagaimana, dan aku juga merasa bersalah atas yang terjadi kemarin" ucap Nisya tertunduk.
" sudah jangan kamu pikirin lagi , kamu memintaku kesini untuk apa ?" tanya Alvian
"apakah masih sakit " Nisya memegang sudut bibir Alvian
"hmm sudah tidak terlalu sakit ." Alvian mencegah tangan Nisya memegang wajahnya
" papih.." panggil kennan
mama , Vania juga chesa menoleh ke arah kennan begitu juga Alvian juga menoleh ke samping ketika seseorang memanggilnya " papih"
"sayang " gumam Alvian langsung melepaskan tangan Nisya dan berdiri dari duduknya
" Alvian apa maksudmu ini " tanya mama dengan emosi yang tertahan.
" ma ini ini... " Alvian gelagapan
dengan langkah kaki yang besar Vania menghampiri meja dimana kakak dan Nisya duduk
dengan cepat Vania meraih gelas ice cappucino latte yang berada di atas meja langsung ia tuangkan diatas kepala Nisya
" kyaa... mas " pekik Nisya
Alvian telat mencegah tangan Vania yang sudah menuangkan minuman diatas kepala nisya.
suasana ditoko bakery & cafe menjadi sebuah tontonan orang ramai melihat kericuhan disana
tapi tidak dengan chesa yang berdiri mematung melihat kericuhan didepannya sampai tanpa ia sadari air matanya jatuh menetes sendiri
" mama kecewa dengan Al , haruskah kamu melakukan ini " hardik mama
mamanya menepis tangan Alvian yang terus merangkulnya
sedangkan Ken menangis dan terus menggenggam tangan chesa
"kak, kak " Vania memanggilnya Namun diabaikan
" aku mau pulang " jawab chesa
" mamih.." kennan menangis
" sayang sini sama papih " Alvian
" lepaskan tanganmu dari anakku " ucap chesa tanpa melihat Alvian.
" apa ?" Alvian terkejut mendengar ucapan chesa
" jangan menyentuh anakku " teriak chesa
mama Rania yang tadinya berjalan terlebih dahulu pun kembali balik berjalan menghampiri menantunya yang tiba-tiba teriak
kennan menangis begitu kencang saat chesa tiba-tiba berteriak.
" chesa , kak " panggil mama dan Vania barengan
sedangkan Nisya yang entah kemana perginya sejak disiram Vania dengan minuman , ia langsung pergi meninggalkan cafe itu
"kyaaa.... " teriak chesa bersamaan dengan air matanya mengalir deras.
" Abang lihat ini semua perbuatan Abang " teriak Vania yang coba menenangkan kakak iparnya
" sayang kita pulang ya sekarang kasihan ken ketakutan " bujuk mama yang ikutan menangis
chesa langsung mencari keberadaan putranya yang sedang menangis ketakutan , yang kini sedang berada di gendongan supir pribadi mama Rania
"aww.. " chesa meringis kesakitan sambil memegang perutnya
" chesa , kak " teriak mama Rania
" kamu ngapain diam cepat kamu bawa istri kamu kedalam mobil " teriak mama pada Alvian
" aku tidak mau ikut dengannya ma " ucap chesa yang meringis kesakitan.
dengan sigap supir langsung memberikan kennan pada Vania ,lalu dia langsung membopong tubuh menantu majikannya kedalam mobil lalu diikuti mama dan Vania
sesampainya di rumah sakit , Vania langsung turun dari mobil dan berteriak pada perawat untuk membawa brankar.
__ADS_1
dengan bantuan para perawat mereka membaringkan Chesa di atas brankar dan langsung mendorongnya keruangan perawatan intensif
" mama , kaki kak chesa banyak darah ma " teriak Vania
" apa , " mama yang melihat hal itu langsung pingsan
" mang, tolong mama " Vania memanggil supirnya untuk membopong mamanya
Alvian pun langsung menggendong mamanya dan membawanya keruangan yang ditunjukkan suster.
sedangkan kennan terus menangis di pelukan Vania dan terus meracau memanggil " Oma Meira "
" ssstt.. Ken sudah-sudah ada Tante disini sudah diam sayang " Vania memangku Ken dan duduk didepan ruang dimana chesa dibawa masuk.
" mang , tolong telepon papa sekarang ya , ponsel aku ada di mobil "
" baik non " supirnya pun langsung menelepon tuannya
10 menit berlalu tapi dokter yang berada didalam ruangan belum juga keluar.
Alvian yang terus mondar-mandir didepan ruangan terus melafalkan doa untuk istrinya.
" puas Abang puas buat kak chesa seperti ini " hardik Vania
" ini salah paham dek " Alvian duduk disampingnya Vania
" salah paham Abang bilang , lihat saja jika ada apa-apa dengan kandungan kak chesa aku tidak akan maafin Abang " ancam Vania
Alvian diam mematung saat Vania mengatakan KANDUNGAN , dia terus mencerna ucapan adiknya
" Alvian, Vania " papa Hans yang buru-buru datang
" bang apa yang terjadi sama kak chesa " tanya Erick panik
Erick datang bersamaan dengan besannya bertepatan disaat mang Udin (supir) menelpon tuannya dan mengatakan kalau non chesa masuk rumah sakit
dan di saat itu Erick sedang meeting dengan mertua kakaknya.
dia melihat wajah mertua kakaknya terlihat pucat dan suaranya meninggi saat seseorang menelponnya.
Hans pun menceritakan tentang chesa hingga hal itu membuat Erick ikut datang kerumah sakit.
Alvian tidak bisa menjawab pertanyaan adik iparnya malah dia tertunduk diam.
Vania yang melihat kedatangan papanya langsung berlari berhamburan kepelukan papanya.
" apa yang terjadi sayang , dimana mama dan dimana kennan " tanya papa Hans
" mama ada disana pa ," tunjuk Vania ke ruangan dimana mama nya dirawat.
manik mata papa mengikuti arah tangan Vania , terlihat mang udin sedang duduk sambil menggendong kennan yang sedang tertidur dipelukkannya.
" keluarga chesa Olivia ?" panggil dokter yang sudah keluar dari pemeriksaan
" saya dok " jawab mereka serempak (papa Han , Vania , Erick , Alvian )
" ehm maksud saya suaminya pasien " ucap dokter
" saya dok " tunjuk Alvian
" maaf pak, istri Anda keguguran dan saya akan melakukan tindakan dilatasi dan kuret untuk itu saya ingin menyampaikan hal ini pada anda dan harus dilakukan cepat karena pasien mengalami pendarahan" jelas dokter.
" apa dok , lakukan yang terbaik untuk istriku dok aku mohon "
" baiklah , anda silahkan isi formulir data pasien dan tanda tangan anda sebagai persetujuan " ujar dokte
suster pun memberikan selembar kertas formulir data pasien pada Alvian,
Alvian langsung mengisi semuanya dan juga dia langsung tanda tangan disana.
setelah menjelaskan hal itu dokter pun kembali masuk kedalam melakukan tindakan perawatan medis
" ini semua karena Abang , aku benci sama Abang " hardik Vania yang terus mendorong tubuh abangnya
"kenapa tidak ada yang memberitahukan pada ku tentang kehamilan chesa " gumam Alvian sambil menjambak rambutnya sendiri.
" apa yang terjadi Vania " tanya Erick yang sedari tadi mendengar ini semua salah Alvian
sedangkan papa juga menunggu penjelasan Alvian kenapa chesa bisa seperti ini.
" kenapa Abang diam ! apa perlu aku jelaskan pada mereka " Vania terus menerus memarahi abangnya
"baiklah aku akan menceritakan semuanya pada mereka " ucap Vania
Vania pun menceritakan semuanya cerita sedetail detailnya tanpa ditutupi.
sedangkan Alvian yang terus menatap pintu ruangan pasien dimana istrinya sedang ditangani.
*****
" br*ngsek " Erick langsung menarik kerah baju Alvian dan langsung meninjunya beberapa kali
Alvian tersungkur di lantai dengan wajah yang lebam .
dia tidak melawan Erick saat dipukuli.
papa yang mendengar hal itu langsung pergi ke ruangan istrinya dirawat dan disusul Vania
__ADS_1
setelah puas memukul Alvian , Erick pun pergi menelepon orang tuanya dan memberitahukan kabar tersebut.
................... bersambung...................