Haruskah Sesakit Ini

Haruskah Sesakit Ini
bab 25


__ADS_3

tercium bau aroma medis hingga membuatnya wanita paruh baya terbangun dari tidurnya dan mengedarkan pandangannya ke langit langit ruangan dan memelihara sekelilingnya.


"pah " panggilnya yang mencoba membuat untuk bangun


" ma , istirahat dulu " ucap papa Hans


" aku tidak apa-apa pah , gimana keadaan chesa pah ? dimana kennan ?" tanya mama Rania


"sstt Ken sedang tidur " tunjuk papa Hans disamping ranjangnya mama


terlihat seorang anak kecil dan wanita dewasa sedang tidur berpelukan diatas ranjang yang terbilang cukup luas.


" bagaimana chesa pa ?" tanya mama lagi


papa Hans tidak dapat menjawab pertanyaan istrinya yang terlihat begitu mengkhawatirkan menantunya.


" papa , kenapa diam saja?" mama Rania mulai hilang kesabaran.


" chesa belum sadarkan diri ma ," jawab papa Hans


" bagaimana dengan kandungannya ?" tanya mama Rania lagi.


" hulf.. chesa keguguran ma " jawab papa


" apa pah , mama mau pergi melihat chesa pa " mama panik dan ingin bertemu chesa


" tunggu ma ,kamu tenang dulu disana sudah ada Alvian yang menjaganya " jelas papa


" Alvian , tidak pa mama tidak percaya padanya " mama Rania memaksa dirinya turun dari ranjang.


mau tidak mau papa Hans pun mengalah karena mama Rania terus memaksa dirinya ingin bertemu dengan chesa.


sedangkan saat ini chesa masih betah memejamkan matanya dan Alvian terus menggenggam tangan chesa


" maafkan aku sayang maaf " Alvian terus mengucapkan itu.


tokk.. tokk..


" Al ada apa dengan wajahmu ?" tanya Gilang yang baru tiba bersamaan dengan Edward


" tidak apa-apa " jawabnya


" apa yang terjadi Al kenapa chesa bisa masuk rumah sakit ?" tanya Gilang lagi.


" silahkan duduk " Alvian mempersilahkan mereka.


Edward hanya berdiam diri melihat wajah sahabatnya yang lebam di bagian sudut mata dan sudut bibir.


" semua ini salah ku , jika aku tidak bertemu dengan Nisya maka chesa tidak akan berada disini " ucapnya Alvian matanya mulai memerah.


" maksud lu apa Al " tanya Gilang bingung.


baru saja Alvian akan menceritakan tentang kejadian di cafe tadi siang , karena mamanya datang yang sedang duduk di kursi roda dengan bantuan suaminya membuat Alvian berhenti bicara.


"loh Tante kenapa ?" tanya Edward terkejut dan langsung menghampiri kedua orang tua Alvian dan Salim tangan mereka


" tidak apa-apa Tante terlalu banyak pikiran saja , kalian kapan datang ?" tanya papa Hans


" barusan om " jawab Edward.


Alvian terus melirik mamanya yang terus menatap menantunya yang masih tidak sadarkan diri.


" bro kita ngobrol didepan saja " ajak Edward pada lavian dan Gilang.


Alvian dan Gilang pun langsung keluar.


****


ketiganya duduk di bangku taman rumah sakit dan ditemani tiga gelas cup kopi.


ketiganya terdiam tidak ada yang ingin memulai percakapan.


" jadi kita disini duduk diam minum kopi gitu ?" Gilang mulai bicara.


" kalau begini bagusan gue balik ajalah dapet kelonan juga " Gilang pun berdiri dari duduknya.


" chesa keguguran " ucap Alvian


Edward yang tadinya acuh dan lebih menikmati rokok yang berada ditangannya langsung tersedak.


sedangkan gilang duduk kembali.


" terus ?" sambung Gilang.


" semuanya adalah kesalahan gue " Alvian menghela nafasnya


kedua sahabatnya hanya diam menunggu kelanjutan cerita dari Alvian.


Alvian pun menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya secara detail.

__ADS_1


30 menit kemudian


ekspresi kedua sahabatnya benar-benar tidak bisa di lihat lagi , terutama Edward yang mengepalkan tangannya rasanya dia ingin menghajar orang yang dihadapannya saat ini.


tapi bagian mana mau dihajar , karena bisa dibilang hampir seluruh wajah Alvian sudah lebam akibat adik iparnya.


" baru saja gue bilang sama lu Al , jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama , yang mau dibodohi oleh wanita j*lang itu " ucap Edward yang sudah mengertakkan giginya


" sumpah Al gue nggak habis mikir sama lu , apa sih yang ada didalam otak lu itu hah , sudah tahu wanita itu sudah khianati lu dan sekarang lu baik-baik'i lagi a**Jing" umpat Gilang.


" lu itu manusia paling tolol tau gak , kalau lu masih berharap sama dia untuk apa lu nikahi chesa " timpal Edward.


Alvian tidak mampu menjawab pertanyaan kedua sahabatnya.


" nyesal gue dukung lu terus , siap-siap aja lu kalau nanti chesa minta cerai sama lu , " ucap Edward dan langsung pergi begitu saja.


Gilang yang masih berdiri menatap sahabatnya yang tertunduk itu pun tidak tahu harus bicara apa lagi padanya


dia menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk bahu Alvian


" siap-siap lah lu di ceraikan chesa" Gilang langsung pergi meninggalkan Alvian duduk sendiri di taman.


Alvian yang tertunduk itu ternyata dia sedang menangis.


pikirannya berkecamuk


apalagi saat sahabatnya tadi mengatakan kalau dia harus siap jika chesa minta cerai padanya.


****


ruangan persegi dan bercat putih serta tercium bau-bau medis


membuat wanita yang terbaring tidak sadarkan diri kini sadar juga


" Ken.." gumam chesa


" kak , kak sudah sadar ? sebentar kak aku panggilkan dokter dulu " Erick langsung menekan tombol nurse call


" tunggu sebentar ya kak " ucap Erick sambil mengelus kepala kakaknya.


dokter dan juga perawat pun datang keruangan dimana chesa dirawat.


dan di belakang mereka seorang pria yang berpakaian berantakan tengah berdiri melihat kondisi istrinya.


" tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi pasien sudah tidak apa-apa , hanya butuh istirahat banyak dan untuk sementara pasien harus dirawat disini sampai diperbolehkan untuk pulang." ucap dokter.


dokter yang mendapat pertanyaan dari chesa hanya terdiam dan dia meminta izin pada Erick dan orang yang berada disan untuk memberikan waktu untuk berbicara berdua dengan pasien .


Erick dan juga perawat lainnya pun ke luar , serta Alvian juga terlebih dahulu keluar dan duduk dikursi dilorong rumah sakit.


setelah 30 menit kemudian dokter yang memeriksa chesa pun keluar dan pamit kalau besok dia akan memeriksa chesa kembali.


Erick pun langsung masuk kedalam dan langsung duduk disamping kakaknya yang sedang menangis.


" kak ..." Erick langsung memeluk kakaknya


chesa menangis tersedu-sedu didalam pelukan adiknya yang saat ini ia butuhkan.


" dek , dimana dia ?" tanya chesa yang sudah berhenti menangis


" siapa ?" tanya Erick


" Alvian " jawab chesa


" dia sedang diluar , ada apa kak ?" tanya Erick bingung


" tolong panggilkan dia ,aku ingin berbicara dengannya berduaan saja" chesa menatap wajah adiknya dengan melas


" baiklah kak, sebentar aku panggil dia " Erick beranjak keluar memanggil Alvian masuk kedalam.


" kak , " panggil chesa pada Alvian yang kini sudah duduk disampingnya.


" kak aku ingin kita pisah " ucap chesa


"tidak sayang , kamu jangan mengatakan itu" ujar Alvian yang terlihat panik mendengar chesa minta pisah


" aku capek kak, batinku ,hatiku mentalku semuanya dan aku juga harus kehilangan calon bayi ku " ucap chesa yang mulai meneteskan air mata.


" aku tidak sanggup ches, aku tidak ingin kita pisah please " mohon Alvian menautkan kedua tangannya


" aku janji akan berubah , aku mohon berikan aku kesempatan, aku akan melakukan apapun tapi aku tidak ingin kita pisah" ucap Alvian


"sayang, sekali lagi aku mohon maafkan aku kalau kamu ingin pulang ke Medan tidak apa-apa asal kita tidak cerai." ujar Alvian.


" aku tidak mengatakan kalau kita harus bercerai " ujar chesa.


" jadi ?" Alvian bingung maksud chesa.


" aku ingin kita pisah sementara tapi aku tidak tahu kapan aku akan kembali pulang " ucap chesa

__ADS_1


" tapi kamu tetap akan pulangkan biar kapan pun itu ?" tanya Alvian.


" aku tidak tahu, tapi aku takut jika hatiku ini tidak bisa kembali seperti sebelumnya kamu harus terima jika suatu saat aku minta cerai" terang chesa


Alvian menggelengkan kepalanya dan menautkan jarinya di jari-jari chesa.


dengan cepat chesa melepaskan jarinya Alvian


" baiklah kalau kamu mau pisah sementara waktu tapi harap kamu terima nafkah dari ku setiap bulannya dan setiap aku merindukanmu dan kennan izinkan aku menghubungi kamu , boleh ?"


chesa tidak menjawabnya.


" dan mulai besok berhentilah untuk kesini " ucap chesa tegas.


"apa ? jadi aku tidak boleh bertemu dengan mu mulai besok ?, terus kalau aku mau ketemu sama Ken gimana " tatapn Alvian menjadi sendu.


" sayang , aku tahu kesalahan ku ini ,tapi aku tidak ingin berjauhan dengan Ken , aku mohon izinkan aku ketemu kalian sebelum kamu pulang ke Medan ." Alvian menggenggam tangan chesa.


" baiklah, aku mau istirahat kamu pulanglah disini sudah ada Erick " ujar chesa


" tapi aku.." ucapnya terhenti


" temani kennan dirumah mama , mungkin dia membutuhkan kamu " chesa berbicara tanpa melihat Alvian.


" ya sudah kalau begitu aku pulang dulu." Alvian mengacak rambut istrinya.


Alvian pun berjalan keluar sesuai ucapan chesa dia pun langsung pulang ke rumah orangtuanya karena ada kennan disana.


setelah Alvian pergi , Erick pun masuk kedalam.


" kak , kata mama besok sama papa akan kesini " Erick memberitahukan chesa yang membalikkan badannya.


Erick tahu jika kakaknya itu tidaklah tidur ,tapi dia tidak ingin mengganggu kakaknya yang sedang kehilangan calon bayinya.


sedangkan dibalik punggungnya chesa , ia tengah meneteskan air matanya dan mengelus-elus perutnya.


"maaf sayang ,mamih lakukan demi kamu Dan mami " batinnya.


flashback


*saat chesa yang baru sadar dari siuman ,Erick langsung menekan tombol nurse call dan tidak lama dokter yang menangani chesa tadi datang langsung bersama perawat.


" tidak perlu khawatir,pasien sudah tidak apa-apa dan hanya butuh istirahat yang banyak." ucap dokter yang selesai memeriksa chesa.


" maaf apakah saya bisa bicara berdua secara pribadi dengan pasien saya ?" tanya dokter.


" boleh dok " chesa menjawabnya dan memberikan kode pada Erick untuk tunggu diluar.


setelah perawat dan Erick juga Alvian yang sedari tadi berdiri mematung di ambang pintu pun ikut keluar.


dokter melihat semuanya sudah keluar dari ruangan chesa dia langsung duduk disamping chesa.


" perkenalkan aku dokter Adrian Martadinata " dokter memperkenalkan dirinya


"apakah anda tahu kalau anda keguguran " ujar dokter langsung.


"a.. apa.. " chesa langsung menetes air matanya dan langsung memeluk perutnya yang masih rata


"iya , tapi anda kehilangan salah satu janin anda ," dokter langsung memberikan secarik foto USG


dengan tangannya yang gemetar memegang foto yang diberikan dokternya ia mencari tahu apa yang ada difoto tersebut


" ma... maksud dokter " tanya chesa masih menatap foto ditangannya.


" hulf ..anda hamil anak kembar , namun salah satu janinnya tidak terselamatkan, dan apakah sebelumnya anda belum pernah periksa kandungan anda ?" Adrian terus melihat chesa.


" sebelumnya aku hanya cek biasa dan tidak USG " jelas chesa.


" baiklah ,jaga baik-baik calon bayi anda ini , disaat seperti dia sangat rentan dan sebisa mungkin hindari stres dan tekanan berat . baiklah cukup ini yang akan saya sampaikan pada anda, saya permisi dulu " pamit dokter.


" tunggu dok , apakah aku bisa meminta satu permintaan pada anda " chesa yang sudah menatap dokter Adrian yang sudah berdiri.


"apa ?" tanya dokter


" aku hal ini disembunyikan dari suami saya dok ," ucap chesa.


" sudah saya lakukan sejak anda masuk ruangan intensif sesuai permintaan dokter Airin , baiklah saya undur diri dulu , semoga lekas sembuh" dokter Adrian pun keluar*.


**flashback off


................... bersambung...................


terima kasih semuanya yang sudah like , komentar juga .


tapi bolehkah aku minta votenya agar aku bisa semakin semangat membuat ceritanya buat kalian semuanya


💗💗💗💗💗💗💗💗💗


jangan lupa vote yang banyak-banyak ya**

__ADS_1


__ADS_2