Haruskah Sesakit Ini

Haruskah Sesakit Ini
bab 27


__ADS_3

seminggu juga chesa dirawat dirumah sakit


kini dia pun diperbolehkan pulang oleh dokter Adrian walaupun beberapa hari lalu Alvian sempat cemburu pada dokter yang memeriksa istrinya itu.


kini alvian harus ikhlas dan rela berjauhan dengan istrinya.


yang hari ini pulang ke rumah orangtuanya yang tinggal di Medan.


keluarga Dharmawan turut mengantarkan besan serta menantu juga cucunya pulang.


disaat chesa sedang berpamitan dengan mama Rania


Alvian menuntun putranya dan berbicara.


" ken, papih titip mamih ya, kalau rindu sama papih jangan lupa telepon papih ya sayang " Alvian mencium kennan.


" iya papih , dadah papih" Ken melambai-lambai tangan


" jangan lama-lama ya kamu disana , aku sangat merindukanmu dan Ken " ucapnya yang ingin memeluk chesa namun mendapat penolakan.


" iya kamu jaga kesehatan disini " ucap chesa singkat


" pasti demi kamu Dan kennan " balasnya


kini Alvian beralih ke mama mertuanya


" ma ,titip chesa dan Ken ya ma " ucap Alvian sambil salim tangan mertuanya.


" tidak perlu kamu ingatkan aku juga akan menjaga mereka dengan sangat baik " ketus mama Meira


setelah selesai berpamitan ke-tiga pun masuk kedalam sedangkan Alvian terus menatap punggung isterinya yang berjalan kian menjauh dan menghilang dari pandangannya.


mama Rania sempat menangis melihat kepulangan menantu beserta cucunya itu , walaupun berat tapi dia juga harus rela demi cucu yang ada di kandungan menantunya.


soal kehamilan chesa semua keluarganya sudah tahu hanya Alvian yang tidak mengetahuinya karena chesa sudah meminta kepada mereka semua untuk tidak memberitahu Alvian sampai ia sendiri yang akan memberitahu pada Alvian.


Alvian pun langsung berangkat ke kantor saat selesai mengantar istrinya.


sesampainya di ruangannya


" surpriseeee!!! "


Alvian terkejut mendengar teriakkan orang yang tiba-tiba mengucapkan surprise


" lu tuh kagetin tahu gak" dumelnya


" Yeee gitu aja marah , make a wish dulu pak bos " ucap Gilang "


Alvian pun berdoa dan langsung meniup lilin yang diatas cake ulang tahunnya


" selamat ulang tahun pak " ucap sekretaris dengan gaya centilnya


"Hem terimakasih " jawabnya dan membalas salaman sekretarisnya


" selamat ulang tahun ya pak bos maaf telat ya ,gue baru balik dari luar kota " ucap Gilang


Alvian mencari keberadaan kedua temannya yaitu Edward dan David .


setiap dia ulangtahun kedua sahabatnya selalu turut hadir namun kali ini hanya Gilang yang datang


" sudah jangan di pikirin nanti mereka juga bakal luluh , hanya butuh waktu saja " jelas Gilang yang tahu apa yang dipikirkan sahabatnya ini.


" thanks bro , " jawab Alvian


" Viona sekarang kamu boleh keluar " ucap ketus Alvian pada sekretarisnya


Viona langsung menghentakkan kakinya dan berjalan keluar ruangan


" iya , seenggaknya lu tidak cerai sama chesa dan dapat kado apa lu sama dia ?" tanya Gilang antusias


"haiis.. " Alvian menghela nafas dan mengusap wajahnya


" Yee pak bos pamali tahu pagi-pagi gini Hela nafas"


" kado gue ya jauh sama istri dan anak " gumam Alvian yang masih dapat didengar Gilang


" apa ? maksudnya gimana ?" tanya Gilang bingung


" chesa pulang kerumah orang tuanya dan membawa Ken juga tidak tahu kapan mereka kembali " jelasnya


" what !!!" pekiknya Gilang


Alvian langsung menutup kedua telinganya


" kenapa sih lu tuh harus teriak segala" dumel Alvian


" serius lu , kasihan banget lu "


" apakah wajah gue terlihat sedang bercanda ?" ucap Alvian


Gilang hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala , dia tidak percaya jika sahabatnya harus menjabat duda tapi kali ini menjabat duda gantung


(😄😄😄)


" yang sabar ya ,gue mau pamit dulu mau antar bini gue cek kandungan " ucap Gilang


" Kirana sudah hamil , selamat ya "Alvian turut bahagia dengan kabar ini


Alvian tahu begitu sabarnya mereka menanti kehadiran anak dirumah tangga mereka.


" iya baru berusia 4 Minggu , oh ya gue mau ucapin selamat juga buat lu ya akhirnya dapat momongan lagi lu " ucap Gilang


"calon anak gue sudah tidak ada " lirih Alvian


"lu ngomong apa gue nggak kedengaran" gilang kembali duduk


" chesa keguguran " ucap Alvian


bak bagaikan disambar petir Gilang langsung mematung mendengar Alvian mengatakan hal itu dan betapa dia kasihan sekali dengan sahabatnya ini.


"gue turut berduka " ucap Gilang.


" ya sudah gue pamit dulu ya ,kalau butuh apa-apa hubungi gue " pesan Gilang sebelum pergi.

__ADS_1


sedangkan dilain kota


" mamih , Ken kok tidak sekolah ?" tanya kennan


" Ken , mamih sudah meminta izin beberapa hari nanti kita kembali ke Jakarta lagi kok " jelas chesa.


" oh ya , yeee Ken bisa ketemu sama Bian lagi " Ken melompat lompat diatas tempat tidurnya.


chesa pun tertawa sendiri melihat tingkah putranya , ia pun melanjutkan menyusun pakaiannya kedalam lemari


tidak terasa langit yang cerah kini bergantian menjadi langit pekat malam


sebuah mobil berhenti di garasi.


langkah kaki seorang lelaki yang baru turun dari mobil terasa berat untuk menapaki lantai rumahnya sendiri.


manik matanya menelusuri setiap ruangan rumahnya yang biasanya dia pulang disambut hangat oleh istrinya juga putranya


tapi kenyataannya kini dia sendirian di rumah yang baru ditempatinya beberapa bulan lalu.


berjalan dengan pelan menaiki tangga lalu berjalan menuju kamar putranya yang terlihat rapi pelupuk matanya mulai memerah


" Ken , papih kangen " gumamnya sambil menutup pintu kamar


kini manik matanya menelusuri seluruh kamarnya yang biasa dia tempati bersama chesa.


air mata yang ditahan sedari tadi tidak dapat dibendung lagi.


air matanya menetes langsung penyesalanlah yang sekarang ada dibenaknya.


drrtt...drrtt...


terlihat nama orang yang dirindukan tengah meneleponnya


📞 my wife Videocall


buru-buru Alvian menggeser panel hijau ke kanan.


" hallo papih " sapa kennan yang berwajah gembul memenuhi layar ponsel


" hallo juga sayang " sapa Alvian


" papih kenapa ? papih nangis??" tanya ken


" nggak papih baru cuci muka sayang tadi mata papih perih , lagi apa kamu ?" Alvian sengaja membohongi putranya


" lagi duduk saja pih , papih Ken rindu sekali sama papih , papih kapan datang ?" tanya ken


luruh sudah , sedari tadi Alvian mempertahankan diri untuk tidak menangis tapi kenyataannya dia tidak bisa menahannya.


"iya sabar ya , papih lagi sibuk disini , Ken mamih mana ?" Alvian sengaja mengalihkan pembicaraan


" mamih tuh lagi sisir rambut " ucap Ken yang sudah membalikkan posisi ponsel chesa


" hai " Alvian begitu kagum dan sangat merindukan wanita yang didepannya ini yang tengah menyisir rambut.


" hemm " chesa membalasnya dengan senyum


" sudah makan ? tanya Alvian "


belum sempat chesa selesai berbicara seseorang tiba-tiba datang masuk ke kamar chesa dan langsung memeluknya dari belakang


" surprise cinta " ucap Jonathan


" kamu ini jo bikin aku terkejut saja " dumel chesa yang sudah melepaskan pelukannya dan memukul tangannya.


" namanya juga kejutan , wah kamu semakin cantik ya cinta " Jonathan kembali memeluknya


sedangkan orang yang melihat interaksi mereka mengepalkan tangannya dan menahan amarahnya


" Che..."


belum sempat berbicara Ken membalikkan ponsel menghadapnya


" papih , sudah dulu ya Ken mau pergi dulu sama om Jo dan mamih , bye bye papih " Ken langsung mematikan ponselnya sepihak.


" cih , itulah kenapa aku tidak suka berjauhan denganmu sayang " gumam Alvian dan membanting tubuhnya di atas kasur empuknya.


*****


hari demi hari berlalu komunikasi dia dan chesa juga menjadi dingin namun sebisa mungkin Alvian terus memberi perhatian pada istrinya yang jauh disana.


namun beberapa hari ini chesa tidak sempat mengangkat panggilan video call dari Alvian


hingga membuat Alvian berpikiran yang tidak-tidak tentang istrinya.


ingin menghubungi mama mertuanya namun ada keraguan dihatinya.


dia pun meletakkan ponselnya dan kembali berkutat dengan laptop serta file map yang menumpuk disampingnya.


namun dilain tempat orang yang dikhawatirkan


" kamu datang-datang kok tidak kabarin sih " ucap nama meira melihat kedatangan sahabatnya sekaligus besannya


" aku tidak mau ngerepotin kamu atau pun yang lainnya " jelas mama Rania sambil memeluk Ken


" omah kok datangnya sendiri ? Tante Vani kok tidak ikut ?" tanya ken


" Tante Ken kerja sayang ,lagian omah kesini juga sekalian mau jemput kalian " jawab mama


" maksudnya apa Ran ? " tanya mama Meira


" kamu belum cerita ke mama kamu ?" mama Rania langsung melirik menantunya


mama Meira langsung menatap putrinya , bingung apa maksud dari ucapan besannya yang mengatakan datang untuk menjemput putri juga cucunya .


" ma , mungkin lusa aku akan balik kembali ke Jakarta " ucap chesa


" apa ? kok cepat banget kamu balik dan kenapa mertuamu yang datang jemput ? kenapa bukan suami kamu ?" mama memberikan pertanyaan yang begitu membuatnya bingung.


" ma , chesa akan balik ke Jakarta tapi aku tidak akan memberitahukan pada Alvian tentang kepulangan aku dan aku juga sudah meminta izin sama papa untuk menempati apartemen yang papa beli dulu " jelasnya


mama Meira benar-benar dibuat bingung oleh chesa , ia tidak mengerti kenapa putri sulungnya menyembunyikan kepulangannya dari Alvian.

__ADS_1


" ches , bisa kamu jelaskan semuanya sama mama , mama tidak mau ada yang kamu sembunyikan lagi " tegas mama Meira


dengan rasa takut takut chesa menceritakan persoalannya.


namun sebelumny ia meminta mbok membawa Ken kedalam kamar.


lalu ia pun menceritakan semuanya hal yang mengakibatkan ia keguguran.


" ya ampun chesa Olivia , kenapa kamu tidak mengatakan pada mama " pekik mama Meira


" maafin chesa ma " chesa menangis dan bersimpuh di kaki mamanya


" eh.. eh.. chesa hati-hati kamu sedang hamil " panik mama Rania melihat chesa membungkukkan badannya


" apa kamu bilang Ran ?" tanya mama Meira yang suaranya terdengar bergetar


" loh kamu tidak tahu kalau chesa sedang hamil ?"


mama Meira menggelengkan kepalanya ,lalu menoleh ke putrinya yang kini berada dihadapannya.


tangis pecah dari chesa yang tidak menceritakan tentang rumah tangga yang harus kehilangan salah satu calon bayi kembarnya.


" kenapa kamu seperti ini chesa , kenapa kamu tidak pernah mau menceritakan tentang apa yang kamu alami nak kenapa " mama Meira menangis


mama Rania yang awalnya duduk disampingnya langsung berpindah duduk dekat dengan besannya dan menariknya ke pelukannya


" maafin aku juga Mei maaf " ucap mama Rania


"kenapa dia tidak pernah mau menceritakan padaku ran , aku ini mamanya kenapa dia menyembunyikan hal ini dariku , aku tahu aku salah ran, aku terlalu memperhatikan adiknya sampai aku tidak memberikan kasih sayang yang seimbang padanya" mama Meira merutuki dirinya sendiri


" sudah Mei sudah.. ssstt.. kasiha chesa lihat dia menangis seperti itu dia sedang hamil " ucap mama Rania


menyadari apa yang dikatakan besannya mama meira langsung menuntun Putri sulungnya duduk disampingnya dan langsung memeluknya.


keduanya menangis tersedu , mama Rania pun ikut menangis melihatnya


flashback


tokk.. tokk..


" wah ramai ada kamu Mei" sapa mama Rania yang datang bersamaan dengan Robin dan disusul papa Liam juga Alvian


" Tante " sapa Robin lalu Salim tangan mama Meira


" hei , gimana sudah mendingan " tanya Robin


" sudah jauh lebih baik , kamu apa kabar ?" tanya balik chesa


keduanya pun mengobrol dengan asyik tidak berselang lama mama Meira membawa Ken dan meminta Alvian mengantarkannya ke supermarket untuk membeli makanan stok


" ma , pa " panggil chesa


" ya sayang " jawab mama Rania


" ma , aku mau kasih tahu sesuatu tapi aku mohon hal ini jangan sampai Alvian tahu "


Robin yang duduk disampingnya pun beranjak naik dari duduknya namun di cegat oleh chesa karena bagaimanapun Robin juga termasuk adalah keluarga dari mama Rania


Robin pun kembali duduk ditempatnya.


seketika ruangannya menjadi hening dan hanya terdengar deru anginnya AC saja


" apa yang mau kamu katakan ?" papa langsung membuka pembicaraan


" kemarin disaat aku sadar dari pingsan dokter Adrian yang menangani aku memberitahukan pada ku kalau kemarin aku hamil anak kembar , namun aku harus kehilangan salah satu dari bayi kembar ku " ucap chesa


mama Rania langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya seolah ia tidak percaya dengan penuturan menantunya


" apa ?" papa Liam terkejut dengan yang chesa katakan


sedangkan Robin mencoba menenangkan dirinya sendiri pada awalnya dia sempat terkejut mendengarnya


"iya pa , aku kehilangan calon bayiku namun Tuhan masih memberikan kepercayaan padaku untuk terus menjaga dan merawat saudara kembarnya" chesa mengelus perutnya yang masih rata.


" sayang " mama Rania berjalan dan memeluk chesa langsung


" maafkan Mama sayang andaikan kita tidak pergi saat itu mungkin dia masih ada " ucap mama Rania yang terus memeluk menantunya


" tidak apa-apa ma , mungkin ini sudah jalannya dan aku mau mama dan papa juga Robin tolong rahasiakan hal ini dari Alvian , " pinta chesa


" kenapa ? apa alasannya ?" tanya papa


" aku ingin menenangkan diri dan juga dokter mengatakan kondisi janinku masih sangat rentan" jelas chesa


" baiklah kalau begitu , kamu ikut mama pulang kemedan saja " ucap papa


" iya pa , tapi aku hanya seminggu disana dan kemudian aku akan kembali lagi tapi aku akan pulang ke apartemen yang papa beli , bolehkan pa ?" tanya chesa


" sampai kapan kau akan menyembunyikan ini dari Alvian" kini ganti Robin yang berbicara


" sampai waktu yang tepat untuk ku beritahu padanya " jawabnya


" Baiklah mama menyetujui keputusan kamu " ucap mama Rania


" papa juga setuju " ucap papa Liam


" aku juga " timpal Robin


" tapi pa, mama kan tidak tahu soal ini bagaimana kalau---" ucapannya terpotong


" serahkan sama papa saja biar papa yang mengatasinya dan papa juga yang akan menjelaskan ini semua pada mamamu " ucap papa Liam


keempatnya pun sepakat untuk menjaga rahasia yang diminta chesa


**flashback off


................... bersambung...................


🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀


Terimakasih yang masih mendukung novel ku ini.


dengan sangat sangat mohon untuk vote nya ya

__ADS_1


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰**


__ADS_2