Haruskah Sesakit Ini

Haruskah Sesakit Ini
bab 48


__ADS_3

alvian dan keluarganya yang lain sedang duduk menunggu chesa selesai diperiksa.


"al , sebenarnya apa yang telah terjadi, kenapa chesa menangis seperti itu , ada apa ?." ketus papa hans


ke-dua mertuanya juga penasaran apa yang telah terjadi dengan putrinya


namun mereka enggan untuk bertanya.


karena sejak pertengkaran chesa dan alvian kedua orang tua chesa tidak ingin mencampuri urusan anaknya selagi chesa tidak buka suara pertolongan pada mereka.


" pa , ma ..kenapa semuanya disini kok nggak masuk kedalam ?" tanya Erick yang baru saja datang


" kakak kamu sedang diperiksa sama dokter , karena bekas operasi Caesar tadi mengeluarkan darah." jelas mama Meira


" apa !!, kok bisa ?" erick terkejut mendengarnya


" sudah-sudah kita nunggu dokternya keluar dulu nanti dulu baru bahasnya." timpal papa Liam


20 menit kemudian dokter dan seorang perawat pun keluar dari kamar rawat chesa.


" bagaimana dok keadaan putri saya ." tanya mama Meira.


" pasien terlalu banyak stres , maaf sebelumnya kenapa bekas operasi pasien bisa mengeluarkan darah?"


tidak ada yang menjawabnya.


" maaf sebelumnya saya hanya tidak ingin terjadi hal buruk pada pasien saya , bagaimana pun bekas operasi pasien baru saja dijahit.


dan bila luka operasi pasien seperti itu lagi saya takut akan terjadinya infeksi dan bekas operasinya tidak bisa cepat kering , saya harap pak alvian dan keluarga lainnya mohon kerjasamanya.


" maaf dok kalau begitu, bagaimana keadaan pasien?" tanya alvian


" pasien tadi hanya pingsan dan kini dia sudah sadar, namun tadi dia berpesan pada saya kalau suaminya tidak boleh masuk." jelas pasien Adrian.


" apa !!" pekik Alvian


" maaf saya hanya menyampaikan apa yang dikatakan pasien pada saya ., maaf kalau begitu saya permisi dulu. "


" ayo pa kita lihat kakak dulu." ajak mama meira pada papa Liam dan diikuti erick dari belakang


kini tinggallah mereka bertiga diluar (alvian , papa hans , mama rania )


papa Hans terus menatap tajam pada putra sulungnya.


dia tahu pasti ada hal yang terjadi pada rumah tangga mereka.


" al, duduk." ketus papa hans

__ADS_1


alvian duduk disampingnya papa hans tanpa sepatah kata, dia hanya tertunduk dan sesekali menghela nafas beratnya.


" ceritakan pada papa apa yang terjadi." ketus papa hans


" apa perlu papa ulangi ucapa papa." papa melihat alvian hanya menatap ke bawah


"hulf.. sebenarnya..." Alvian membuka suara.


ketika alvian menceritakan permasalahan yang membuat chesa menangis histeris ,kini didalam ruangan chesa dirawat juga sedang duduk diam dalam pikiran mereka masing-masing.


"sayang , bagaimana keadaan kamu ?" tanya mama meira yang melihat putri yang terdiam dalam keadaan mata yang sangat bengkak.


" sayang , jangan nangis lagi nanti mata kamu bisa buta sayang , ceritakan sama papa apa yang telah alvian lakukan padamu " tanya papa yang melihat mata putri sulungnya terus mengeluarkan air mata.


" ma , pa a.. aku ingin pisah dari alvian ." isak chesa


erick , serta kedua orang tuanya terkejut mendengar kata yang keluar dari mulut chesa.


" hei sayang ada apa kenapa kamu ngomong seperti itu , pamali." mama Meira mencoba menepiskan ucapan putrinya.


" aku beneran ma , aku ingin bercerai darinya." ucap chesa sekali lagi.


" kak, kenapa cerita sama papa " papa Liam mengusap rambut putrinya yang panjang


tanpa kata-kata chesa langsung memeluk papanya dan menangis kencang di dada papanya tanpa berpikir kalau air matanya telah membasahi baju kemeja papa liam


seketika chesa pun terdiam saat papanya memintanya berhenti menangis'dengan membawa nama anak-anaknya.


" ini minum dulu .". mama meira memberikan segelas air pada putrinya


erick sedari tadi duduk diam terus menatap interaksi kakaknya dengan kedua orangtuanya.


dengan tangan yang bersilangan di dada dan kakinya yang besilang Erick sengaja tidak membuka suara , dia sabar menunggu sampai kakaknya menceritakan inti permasalahannya


" al..al.. Alvian mengkhianati aku , di...di..dia tidur dengan mantan istrinya." chesa mengatakan terbata-bata


" s**t" ucap erick langsung berdiri keluar mencari keberadaan alvian .


" pa , cegat adek pa, mama takut nanti dia kalap mata " mama meira tahu betul sikap putra bungsunya


papa liam langsung mengejar putranya sedang mama meira langsung memeluk putrinya yang kembali menangis.


papa liam terus memanggil erick namun erick mengabaikannya dan terus mencari alvian sambil menelepon alvian.


sedangkan seorang wanita paruh baya menangis di taman bersama 2 orang laki-laki


" Al , awal kamu merencanakan untuk menghancurkan chesa papa sebenarnya tidak setuju, tapi papa berpikir mungkin kamu bisa menjaga diri kamu serta bisa menglindungi anak dan istrimu. , tapi malah apa yang kamu rencanakan kita berbalik terjadi pada rumah tangga mu

__ADS_1


" Alvian, bren*** lu " Erick langsung menarik kerah baju Alvian dan langsung melayangkan tinjuan


terjadi keributan di taman rumah sakit hingga salah satu perawat memanggil satpam untuk mengamankan situasi.


erick yang terus berontak untuk dilepaskan, sedangkan Alvian terkapar di lantai dengan hidung serta mulut yang mengeluarkan darah segar.


kedua Alvian pun terkejut melihat aksi brutalnya erick , papa hans langsung meminta bantuan pada perawat laki-laki untuk membopong tubuh putranya yang terkulai lemas.


" erick ,tenangkan dirimu " papa liam terus mengingatkan putranya.


" lepasin biar aku habisi dia sudah pernah kukatakan jangan pernah menyakiti kakak tapi apa pa " hardik erick


" sudah erick , apa kamu mau memukulnya sampai mati baru puas hah, ingat mama mu dan juga kakak." hardik papa liam


erick langsung kembali menetralkan emosinya yang tadinya memuncak.


" ayo kembali ke kamar kakak, kasihan mama dan kakak mereka pasti khawatir sama kamu." pujuk papa liam


erick pun mendengar ucapa papanya dan mengikuti papanya kembali ke kamar chesa dimana sedang dirawat.


sedangkan dilain tempat, alvian mendapatkan penanganan serius karena hidungnya terus mengeluarkan darah hingga dokter harus melakukan CT-scan


dan ternyata hasilnya tulang hidung Alvian retak akibat tonjokkan brutal dari erick.


mama rania meminta alvian untuk pulang ke rumah dulu , dan membiarkan chesa untuk tenangkan pikiran juga batinnya.


namun Alvian tetap kekeuh tidak mau pulang


seperti saat ini dia berdiri didepan kaca transparan yang berukuran besar.


dia terus melihat bayi mungil yang ada disana dengan mata yang masih meram namun mulutnya seperti sedang mencari sumber energi yaitu seperti sedang ngedot


"sayang , maafkan papa " alvian terus mengatakan hal itu dengan suara lirih namun matanya terus menatap putrinya yang belum diberikan nama.


" permisi pak , apakah bayi yang ada di inkubator itu putri anda" tanya seorang suster


" iya , ada apa sus ." tanya Alvian


" ah.. apakah Anda sudah memutuskan nama untuk putri anda ?"


" saya ingin istri saya yang memberikan namanya." ucap Alvian


" baiklah , bila istri anda sudah memberikan nama untuk putri anda beritahu kami , permisi."


" baiklah , terimakasih suster.


alvian berdiri mematung menatap ke putrinya yang tertidur pulas disaana.

__ADS_1


................... bersambung...................


__ADS_2