
tokk..tokk..
saat membuka pintu ternyata yang bertamu ada mamanya Alvin bersama Vania adiknya Alvin .
" masuk ran , silahkan duduk " mama Meira mempersilahkan teman lamanya duduk.
" ini anak kamu Mei ?" ucap Rania yang duduk disampingnya chesa
" iya ran " jawabnya Meira
chesa pun Salim tangannya Rania dan begitu sebaliknya Vania Salim tangan Meira dan Liam.
" gimana sudah baikan ? " tanya Rania
" sudah Tante " jawab chesa
Rania pun menghampiri Meira yang tengah duduk bersama Liam dan kennan
keempatnya duduk bersama dan bercengkrama dengan tidak memperdulikan sekitarnya.
percakapan mereka tentang semasa sekolah.
sedangkan Vania duduk di samping chesa .
" sakit apa kak ?" tanya Vania.
" kemarin dokter bilang sakit tipes." jawbnya
"jadi sekarang sudah mendingan.? " tanya Vania sengaja basa-basi biar ga bosan
" mendingan, cuma kadang sering pusing kata dokter HB aku turun " jawab chesa
" kamu dokter Van ?" kini giliran chesa bertanya
" iya dokter spesialis anak kak ." jawab Vania
" mih , Ken gambar ini bagus tidak " kennan menunjukkan buku gambarnya.
" bagus , Ken gambar rumah siapa ?. " tanya chesa
" rumah impiannya Ken mih "serunya Ken
" pinter banget, Ken sudah sekolah ? kelas berapa ?." tanya Vania
" kelas 1 Tante." jawabnya
" mih, Ken warnai dulu ya rumahnya nanti baru kasih mamih lihat lagi " ucapnya kennan.
" Tante boleh ikut mewarnainya?" tanya Vania
" boleh ,yuk Tante " Kennan langsung menggandeng tangan Vania duduk di sofa.
chesa melihat ruangannya begitu ramai rasanya senang
tidak seperti sebelumnya hanya ditemani suara televisi.
ia melihat kennan tertawa begitu lepas dengan Vania sudah lama tidak dilihatnya.
tokk... tokk..
" permisi , Om Tan..te" Alvian terkejut melihat kedua orang yang melihatnya.
" eh ada nak Alvian masuk nak" jawab Meira
" Al , Abang " gumam barengan mama Rania dan Vania
papa dan mamanya chesa juga chesa bingung melihat ke-tiga orang ini yang saling melempar pandangan.
" ma " Alvian langsung menghampiri mamanya dan salim tangan mamanya , juga Vania Salim tangan Alvian.
lalu Alvian Salim tangan kedua orang tua chesa
Alvian berdiri kaku dihadapan mereka semua didalam hatinya dia sudah mengutuk dirinya sendiri kenapa bisa begitu ketepatan.
" ini putra kamu Ran ?." tanya papa Liam
" iya mas Liam ini anak sulung aku Alvian Clement Dharmawan
__ADS_1
" waah.. nggak sangka kok bisa kebetulan sekali ya " ucap mama Meira yang diselingi ketawa.
" kalian sudah kenal sama Alvian.?" tanya Rania
" gimana ya aku ceritanya , intinya anakku sama anak kamu itu teman sekantor ," jelas Meira
" wah, jadi ini kak chesa yang semalam Abang bilang itu ya ? , yang Abang jawab he'em saat aku tanya Abang su" ucapan Vania terhenti
Alvian yang duduk disampingnya chesa , langsung menghampiri adiknya dan menutup mulut Vania dengan tangannya.
" awas kalau kamu ceritain soal semalam , nanti Abang ceritain kelakuan kamu ke David yang kemarin ke klub" ancam Alvian yang berbisik ke vania
" sudah Mei , mas Liam abaikan saja , mereka kalau sudah ketemu selalu begitu." ucap Rania sengaja mengalihkan cerita.
" oh iya , kalau tidak salah yang dulu menikah itu Alvian ya ," tanya Liam
" iya ya , anaknya Alvian sudah berapa ran ?" tanya Meira
Rania yang mendapat pertanyaan itu hanya bisa tersenyum , sedangkan Vania pura-pura berbicara dengan kennan , dan Alvian hanya tertunduk disamping chesa.
" Alvian sudah cerai ,dan dia juga belum punya anak " jawab Rania
Meira dan Liam terdiam , sedangkan chesa melihat ke Alvian yang tertunduk.
tanpa sadar chesa mengelus tangan Alvian dan tersenyum padanya.
" tidak apa-apa , Alvian juga masih muda dan tampan nanti juga bisa nikah lagi ya kan pa " ceplos Meira yang ingin mencairkan suasana.
" mama ini ya , kok gitu ngomongnya " gumam Liam
" lah kan benar , Alvian sudah berapa lama jadi duda ran ? tanya Meira ceplos.
" mama ini ya selalu gitu " ucap Liam
" tidak apa-apa mas , mei dari dulu memang begini orangnya, Alvian sudah dua tahun bercerai dengan mantan istrinya " ujar Rania .
" tidak apa-apa nanti juga dapat jodohnya, jangan seperti chesa sudah 4 tahun bercerai dengan mantan suaminya sampai sekarang belum ada tanda-tanda gebetan atau pacarnya." sindir mama Meira
" mama " timpal chesa
" Mei , mas aku pulang dulu ya , kalau ada waktu singgah dong kerumah ku " pamit Rania
" oh ya , sekarang saja pa kita kerumahnya Rania selagi ada Alvin disini , tidak apa apa kan Vin " seru mama Meira
" tidak apa-apa Tante , kebetulan aku juga sudah pulang jam kerja ." ucap Avian
chesa hanya bisa mendengus melihat kelakuan mamanya yang begitu rempong dan selalu berbuat sesuka hatinya.
" ya sudah barengan aja kita Tante , kennan ikut yuk kerumah Oma ran " ajak Vania
" Oma Ran ? , siapa Tante ? " tanya kennan bingung.
" mulai sekarang kamu Panggil nenek ini panggil omah juga ya lebih akrab ya ? ujar Vania
" iya tante, tapi nanti ken mau nonton kartun kesukaan Ken gimana ?" tanya kennan
" dirumah Oma Ran ada televisi juga nanti kita sambil makan es cream , mau gak ?" seru Vania
" mih , boleh tidak ken makan es cream ? " tanya Ken pada chesa
" boleh tapi jangan banyak-banyak , dirumah Oma tidak boleh bandel dan lasak ya Ken " pesan chesa
" kamu itu ya kak ,kan ada papa dan mama di sana , ya sudah papa sama Mama pergi dulu.
Alvin om Titip chesa ya " ujar Liam
mereka berlima pun berjalan keluar dari ruangan chesa , kini tinggal Alvian saja.
keduanya jadi saling diam , tidak tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dibicarakan
" ehem.. sudah makan ches ? " tanya Alvian sengaja
" sudahlah ," jawab chesa
" oh iya ini teman-teman kantor menitipkan hadiah untuk mu " Alvian menyerahkan sebuah paper bag
" apa ini kak ? bikin kakak kerepotan saja." ucap chesa tersenyum ceria saat melihat apa isi dalam paper bag
__ADS_1
" wah.. mereka benar-benar baik sekali pada mu , membuat aku iri saja" Alvian pura-pura berbicara seperti itu
" makanya kak ,kalau di kantor jangan terlalu dingin, jadi gini kan akibatnya " chesa menertawakan Alvian.
Alvian melihat wajah chesa yang tertawa begitu merah semu.
apakah segitu lucunya ?..
lalu kedua ngobrol dan diselingi tawa .
tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 sore , Alvian ingin pamit pulang tapi diurungkan karena chesa tengah tertidur pulas.
dia pun menatap keluar jendela terlihat beberapa gedung-gedung yang menjulang tinggi.
entah apa yang ada didalam pikirannya.
" kak" panggil chesa yang sudah terbangun dari tidurnya
Alvian terkesiap saat chesa memanggilnya, lalu berbalik menghampiri chesa.
" kenapa ? perlu bantuan apa ?" tanya Alvian
" aku mau ke toilet kak " jawab chesa.
" ya sudah sini kakak bantu " Alvian menuntun chesa ke toilet sambil memegang tiang infusnya.
saat chesa sudah kembali dan duduk di ranjangnya,
Alvian menarik nafas lalu menghela , beberapa kali dia menghela nafasnya.
chesa yang melihatnya pun bingung ada apa dengan orang yang didepannya.
" ches, ada yang mau aku bicarakan " ucap Alvian
chesa beberapa kali kejapkan matanya.
" kenapa ? kok jantungku berdegup seperti ini " batin chesa.
"ches, maaf bila aku lancang berbicara seperti ini padamu. apakah kamu sudah punya kekasih ?" Alvian menatap manik mata chesa.
seakan terhipnotis dengan tatapan mata Alvian chesa hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
" ches kamu mau jadi... , sebentar ches" ucap Alvian yang menggenggam tangan chesa
notifikasi WhatsApp Alvian berdering membuatnya mengehentikan pembicaraan dengan chesa
-vania z
" bang , kata mama 2 hari lagi papa pulang dan Abang akan dijodohkan sama anaknya rekan bisnis papa!!"
" kenapa jadi begini " lirihnya Alvin yang masih bisa didengarkan chesa
" kenapa kak ?" tanya chesa
" ha ? apanya ??" balik tanya
" tadi kakak bilang kenapa jadi begini , apa ada masalah ?" tanya chesa
" tidak apa apa , ches kakak pulang dulu ya ada hal penting yang harus aku urus , dan badanku terasa lengket , kamu disini sendirian tidak apa-apa kan ?!" tanya Alvian
" iya kak tidak apa-apa , terimakasih kak sudah nemenin aku." ucap chesa
"kamu istirahat ya , cepat sembuh " Alvian mengelus kepala chesa
" hati-hati kak dijalan " ujar chesa
" belum sempat ngomong sudah pulang , sebenarnya tadi mau ngomong apa ya ? lirih chesa.
Alvian yang sedang menyetir mobil menahan amarahnya didalam mobilnya.
ingin rasanya dia segera sampai di rumah bertanya langsung pada mamanya.
namun keadaan lalulintas tidak mendukung karena ini jam pulang kerja.
tapi hal itu dia urungkan karena dia mendapatkan pesan dari papanya.
kalau papanya besok beliau sudah pulang ke rumah , dia memutuskan akan pulang besok saja lalu dia membelokkan ke arah jalan apartemennya.
__ADS_1