
"Sebagai orang tua saya merasa gagal Bu mendidik Markisa, saya tidak pantas menjadi orang tua yang baik untuknya." Pak Komite dengan rasa bersalahnya.
"Kenapa Bapak bisa menyimpulkan hal itu? apa Markisa telah membuat kesalahan besar, sehingga membuat Bapak merasa bersalah?" tanya Ibu Nur penasaran.
"Semalam saya menggrebek Markisa di sebuah hotel, dia sedang melakukan hubungan terlarang dengan seorang laki-laki yang selama ini saya benci Bu." Ucap Pak Komite sedih.
"Astagfirullahalazim," Ibu Nur terkejut seraya menaruh telapak tangan dimulutnya, dia tidak menyangka kalau Markisa sampai melakukan hal buruk itu di usianya yang masih belia.
"Ini semua terjadi karena kesalahan saya Bu, saya lalai menjaga Markisa, saya lalai mengawasi pergaulannya Bu. Saya orang tua yang gagal Bu untuk Markisa, saya tidak bisa mendidik anak saya Bu," ucap Pak Komite larut dalam sedihnya
"Saya turut prihatin yah Pak, Bapak harus sabar. Anggap saja ini sebuah pembelajaran untuk kita, agar kita para orang tua lebih bijak lagi dalam mengawasi seluk beluk pergaulan anak-anak kita. Agar kelak nanti kita orang tua tidak menyesalinya," ucap Bu Nur menenangkan.
"Iya Bu, Ibu bisa mengerti 'kan kenapa saya ingin mengirim Markisa ke pondok pesantren? itulah alasannya, dan saya ingin di pesantren nanti Markisa bisa belajar banyak mengenai ilmu agama. Agar dia bisa menjadi diri yang lebih baik lagi, agar dia tidak tersesat seperti sekarang ini." ucap Pak Komite dengan harapannya.
__ADS_1
"Saya setuju Pak, tapi ... bagaimana dengan Markisa, apakah dia sudah tau mengenai rencana Bapak ini? dan apakah dia nanti mau di pesantren 'kan?" tanya Ibu Nur penasaran.
"Dia belum mengetahui tentang rencana saya ini Bu, dan saya masih bingung untuk menjelaskannya ke Markisa. Mungkin saat ini Markisa masih sangat marah terhadap saya," ucap Pak Komite.
"Hem, kalau tidak keberatan. Bisa saya bantu kok Pak, dalam memberi pengertian kepada Markisa." ucap Ibu Nur menawarkan diri.
"Dengan senang hati Bu saya menerima bantuan Ibu, mungkin dengan Ibu memberi pengertian kepada Markisa. Dia bisa menerimanya dan mau untuk di pesantren 'kan." ucap Pak Komite menerima terbuka bantuan Ibu Nur.
"Oke, nanti sepulang sekolah saya langsung mengunjungi rumah Bapak. Biar saya bisa langsung menemui Markisa, sekaligus memberi pengertian kepadanya." ucap Ibu Nur.
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya pamit pergi yah Pak." ucap Ibu Nur pamit.
"Oh, silahkan Bu." ucap Pak Komite dengan hati senang.
__ADS_1
Ternyata niat baik Pak Komite untuk memasukan Markisa ke sebuah pondok pesantren, mendapatkan dukungan penuh dari Ibu Nur selaku wali kelas dari Markisa. Dan dengan rasa tulus ikhlas Ibu Nur mau membantu Pak Komite dalam memberikan pengertian serta membujuk Markisa, untuk bersedia di kirimkan ke sebuah pesantren, tempat Ibu Nur menuntut ilmu agama.
Disisi lain...
Tepatnya di sebuah rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari sebuah hotel, yang menjadi tempatnya Royco mendapatkan perlakuan tidak Baik dari Ayahnya Markisa.
Terlihat Royco masih terbaring lemah dengan beberapa bekas luka sisa semalam, terlihat sendirian tanpa ada orang yang menemaninya.
"Dimana saya sekarang?" tanyanya terdengar serak.
"Tenang lah Pak, Bapak sekarang lagi ada di rumah sakit. Luka bapak sangat serius, jadi Bapak tenang saja yah, jangan banya bergerak dulu. Tunggu sampai luka Bapak mendingan," ucap salah satu perawat yang terlihat memasang cairan infus terhadap nya.
"Tapi sus ... " Royco dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Sudah Pak, lebih baik Bapak istirahat saja. Jangan memikirkan apa-apa lagi, ini demi kebaikan Bapak juga." ucap perawat dengan menyelimut kan kain ke Royco.