
Satu malam naas Royco sudah lalui di dalam bui, karena fitnah keji pak Komite yang melebih-lebihi sebagai saksi, yang sengaja memberatkannya.
Royco terancam menjadi tersangka seutuhnya tanpa ada cela jalan keluar, kecuali saksi dari Leci. Dia hanya menaruh harapan penuh ke sahabat Markisa itu. Hingga di pagi hari ini, Royco sudah membuat keributan di dalam sel dengan teriakannya ke pak polisi yang sedang bertugas.
"Pak! Pak!" pekik Royco dengan kedua tangannya berpegangan di sela sela besi sel.
Briptu yang sebentar lagi sift tiganya selesai, segera mendekat ke arah Royco.
"Ada apa?" tanya petugas tersebut seraya melepaskan jaketnya karena suhu malam sudah berganti pagi.
"Saya ingin menanyakan kondisi Leci, Pak. Bagaimana dia? apakah sudah sadar? pasti sudah 'kan? ayo! bebaskan saya, Pak! saya tidak bersalah. Pasti Leci sudah bersaksi 'kan?"
Royco mengguncang besi kokoh itu, seraya memberondong cercaan ke pak polisi.
"Hoaaamm... Saya tidak tahu, karena kasusmu bukan saya yang mengurusnya. Sabar saja sampai pergantian sift," sahut Briptu tersebut dengan sesekali menguap karena mengantuk.
"Sudah ya, jangan membuat keributan lagi. Saya mau kebelakang." Pak Polisi tersebut bergidik karena menahan hasrat air kecilnya. Ia pun berlalu cuek, tidak memperdulikan Royco yang nampak air muka itu sudah prustasi sendiri, karena belum ada kepastian jalan keluar akan musibah yang menimpanya saat ini.
"TUHAN!" pekik Royco seraya menjambak rambutnya geram sendiri. Dia seakan akan jatuh masuk ke lumpur hidup, ingin naik kepermukaan tetapi tidak bisa, kakinya yang tidak salah menjadi korban lumpur hidup tersebut. Itulah perumpaannya.
...****...
Hari sudah siang. Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit yang menjadi tempat Leci dirawat. Nampak dua orang polisi sedang berjalan dengan langkah demi langkap menghentak tegas menuju ruangan mawar no tiga VVIP, tempat tersebut adalah ruangan rawat inap Leci.
Kedatangan dua polisi itu mempunyai tujuan. Mereka akan meminta keterangan jelas tentang insiden toilet itu.
Tok tok tok...
"Masuk!"
Kedua polisi itu pun mendorong pintu ruangan tersebut setelah dipersilahkan oleh suara tegas papa Leci.
"Selamat siang, Pak!" sapa sang polisi. Papa Leci menyambutnya dengan anggukannya.
"Kami datang ke mari untuk meminta langsung pernyataan korban, boleh kami bertugas, Pak?" izin pak polisi itu. Matannya sejenak melirik Leci yang memang sudah sadar. Tapi anehnya, wanita malang itu hanya diam dengan terbaring , matanya nampak kosong.
__ADS_1
"Tapi, Pak. Anak saya sedari sadar, Ia tidak mau berbicara satu kata pun." Sendu sang Papa itu. Hatinya amat miris karena anaknya menjadi korban keji dari birahi laki laki sialan itu.
"Saya meminta dengan tegas agar pelakunya di hukum setimpal timpalnya, Pak! Jangan kasih ampun, karena saya akan membunuhnya bila mana pencabul itu Anda-Anda bebaskan."
Saking murkanya, Papa Leci tidak takut mengeluarkan ancamannya ke petugas berwajib tersebut.
"Sabar ya, Pak. Hukum negara ada pasalnya tersendiri. Jadi kalau memang Pak Royco terbukti bersalah, maka hukum serta pasal di dalamnya siap memfonisnya." Terang Pak polisi itu. Ia paham perasaan orang tua ini, makanya mereka berdua memaklumi ucapan sarkas ancaman itu.
"Saya akan memulai bertugas, Pak. Mohon ijinnya.
"Silahkan." ujar Papa Leci.
Dan kedua polisi itu pun melangkah pelan ke brankar Leci.
"Dek, Leci." panggil pelan Pak polisi terhadap gadis yang sedang terbaring, dengan tatapan kosong itu.
Namun gadis itu masih terdiam tidak ada reaksi sedikit pun darinya, sehingga membuat Pak polisi pun sedikit bingung.
"Dek, Leci. Apakah Adek bisa mendengar saya?" tanya Pak polisi mengulang.
Untuk sesaat Leci pun menoleh, namun tiba-tiba saja mata itu melotot liar sana sini seperti pancar mata ketakutan.
"Jangan takut ya. Kami hanya ingin meminta pernyataan mu." Pak polisi itu masih kekeuh membujuk Leci padahal mereka tau Leci sudah merasakan ketakutan. Mungkin trauma, pikir pak polisi itu.
Tetapi, bukannya Leci tenang, wanita itu semakin ketakutan membuat polisi tersebut bingung sendiri.
"Tolong ya, Pak! Anda-Anda tidak boleh memaksa anak saya untuk bersuara. Anda tentu paham betul sekarang kondisinya kalau mental anak saya dalam keadaan buruk." Lerai Papa Leci.
" Aaarghhhh, hiks hiks. Jangan sentuh aku! sakit...."
Sekonyong-konyongnya, Leci berteriak dan meracau tidak jelas. Dia ketakutan, bayangan Adi seakan akan mau memakannya lagi.
"Anda lihat sendiri bukan?" Kesal Papa Leci ke polisi itu karena terlihat sangat memaksa Leci untuk bersuara. "Suster!" lanjutnya berteriak ke petugas medis karena Leci semakin tidak bisa mengontrol diri sendiri. Kadang terlihat takut, dan kadang berteriak membahana, layaknya orang yang terganggu mentalnya.
"Suster!" teriak Papa Leci mengulang karena petugas medis tak kunjung datang, dirinya panik melihat Leci terus meraung ketakutan.
__ADS_1
Dari arah belakang sang Suster dan didampingi oleh seorang dokter pun datang, sambil membawa perelengkapannya.
"Dok, tolong anak saya!" dengan panik Papa Leci pun meminta.
"Loh! kenapa bisa seperti ini, Pak?" tanya sang Dokter heran melihat keadaan pasiennya.
"Saya tidak tau Dok, tiba-tiba saja putri saya menjadi seperti itu, setelah kedua polisi itu menghampirinya. Dok, tolong Anak saya, saya tidak ingin terjadi hal buruk menimpanya," ucap Papa Leci.
"Iya Pak, saya akan berusaha untuk itu. Sebaiknya Bapak-bapak menunggu di luar saja. Biar kami yang menangani putri, Bapak. "Suster, tolong siapkan suntikan penenang," sambung Dokter.
"Baik Dok," jawab suster yang langsung berlalu pergi.
Dengan terlihat panik Papa Leci pun pergi keluar bersama dua orang polisi itu, harap-harap cemas mulai terpancar dari wajahnya, saat rasa kekhawtiran akan Leci Anak tersayangnya kehilangan kewarasannya.
"Pak, Bapak yang sabar yah," ucap polisi mencoba menenangkan orang tua itu.
"Ini semuanya karena Anda yang memaksa anak saya untuk memberi pernyataannya. Sudah cukup jelas... kalau bajingan itu adalah pelakunya. Jadi pergilah! jangan sampai membuat mental anak saya tidak dapat tertolong karena paksaan Anda."
Papa Leci mengamuk dengan suara tegasnya.
"Kami mengerti keadaan ini, tetapi sesuai hukum... pasti kami akan datang lagi bila mana kondisi korban sudah stabil. Mari!" Pak polisi itu pun pergi membawa tangan kosong akan kasus Royco yang belum ada hilalnya.
...****...
Ditempat lain, Adi yang sudah merasakan sendiri kesaktian dari keris itu. Dibuat semakin terbuai oleh keampuhannya, sehingga Adi ingin kembali bisa mencoba tuah dari keris itu terhadap gadis lainya. Karena Adi semakin nyandu akan kenikmatan tubuh dari seorang wanita, sehingga membuatnya menjadi lupa daratan.
Saat ini Adi berada di sebuah cafe bersama teman sebayanya, nampak begitu menikmati olahan jus yang disediakan cafe tersebut.
Shuit shuit...
Suara siulan nakal pun terdengar dari teman Adi untuk menggoda seorang wanita yang baru duduk di table cafe.
Wanita karier itu pun menoleh ke asal suara. " Anak bau kencur kok sudah berani menggoda. Bisa apa kalian, eum? bukannya kalian masih suka ngempeng di ketiak ibu kalian." Wanita itu tidak suka digoda, hingga untaian sarkas pun keluar.
Jelas, Adi merasa terhina dan tertantang.
__ADS_1
Lihat saja, aku tidak akan mengempeng di Mamaku, melainkan di bongkahan besar mu.
Seringai Adi pun tersungging tajam penuh arti.