
Keesokan harinya...
Tek...
Tek...
Tek...
"Permisi..."
Terlihat, seorang pegawai pos pun datang, dengan tangan itu sedikit membentur benturkan gembok yang bergelantungan pada besi pintu pagar itu, berharap ada warga pondok yang akan mendengarnya.
Markisa yang pada saat itu sedang asik menyiram tanaman hias di halaman pondok, tak sengaja mendengar tek-tekan suara yang di buat oleh pegawai pos itu. Sehingga dia pun langsung bergegas pergi menghampiri pintu pagar asramanya.
"Ya Pak, ada perlu apa yah?" tanya Markisa yang terlihat berdiri dari dalam pintu gerbang.
"Maaf Neng, saya mau mengantarkan surat ini," terang pegawai pos, seraya memamerkan surat itu di hadapan Markisa.
"Kalau boleh saya tahu, itu surat tertuju untuk siapa yah, Pak?" tanya Markisa sedikit lancang.
"Untuk Markisa..." jawab petugas pos dengan to the point.
Entah kenapa, mendengar surat itu untuknya, tiba-tiba perasan tidak enak langsung menghampirinya.
"Surat untuk saya? Siapa nama pengirimnya, pak?" tanya Markisa penasaran.
"Maaf Neng, saya tidak mempunyai banyak waktu untuk menjelaskannya. Masih banyak surat yang harus saya kirim dengan segera, untuk itu terimalah dan lekas tanda tangani kertas pengiriman ini sebagai bukti Neng telah menerima suratnya," terang Pegawai pos itu, terlihat terburu buru.
Markisa pun segera membubuhi kertas tersebut. Hingga pada akhirnya, sepucuk surat itu sudah di tangannya. Pak pos pun mengundurkan diri karena tugasnya sudah selesai.
"Surat dari siapa ya? Apakah dari Ayah?" gumamnya. Tak ingin penasaran lebih lama, Markisa pun segera membuka surat tersebut dan membacanya dalam hati.
Deg...
Deg...
Deg...
__ADS_1
Setelah selesai membacanya seksama, jantungnya seakan-akan mati rasa. Surat itu jatuh begitu saja dari tangannya karena terasa seluruh saraf-sarafnya pun ikut lemas.
"Ayah sakit keras?" gumamnya yang tak ingin mempercayainya. Namun stempel khusus milik sang Ayah memang ada tertera pada surat itu. Jadi tidak mungkin ini hanya lelucon semata.
Setelah sadar dari rasa kekalutannya, Markisa pun segera memungut surat yang sempat terlepas dari tangannya. Tak lama dia pun langsung berlari menuju keberadaan kamarnya, berniat untuk berkemas sesegera mungkin.
Namun ditengah perjalanannya menuju kamar, Markisa tanpa sengaja menubrukkan tubuhnya ke tubuh Bu Ustadza. Sehingga membuat tubuh keduanya langsung seketika itu nyungseb bersama sama.
"Auw..." pekik Bu Ustadza meringis kesakitan, yang tanpa sengaja tubuhnya di tabrak oleh Markisa.
Markisa pun mersakan hal yang sama, namun dia mencoba berdiri kembali dengan menahan sakit itu, karena kekalutanya yang menuntunnya harus secepat mungkin sampai ke kamar untuk segera mengemasi barang-barangnya.
"Maafkan saya Bu Ustadza, karena saya harus cepat cepat pergi." Ujar Markisa yang lantas main pergi begitu saja, meninggalkan Bu Ustadza yang terlihat masih duduk tergelepok di lantai.
"Tapi Iss... setidaknya tolong bantu Bu Ustadza untuk berdiri dulu." pinta Bu Ustadza yang dibuat terheran dengan Markisa.
Namun Markisa tak menghiraukannya dia terus berlari, sehingga tanpa sadar Markisa menjatuhkan sepucuk surat yang mengabarkan kondisi Ayahnya saat ini.
"Aneh, tak biasa-biasanya Markisa bersikap seperti itu. Apa yang sedang di alaminya, yah? sehingga dia sampai merubah sikapnya." gumam Bu Ustdaza, yang menggeleng geleng tidak percaya perubahan sikap Markisa.
Namun dengan sesaat langkahnya langsung terhenti, saat mata itu melihat sepucuk surat yang akan terinjak oleh kakinya.
"Surat apa ini?" gumamnya seraya berjongkok dan meraih surat itu dengan tangannya.
Merasa penasaran akan isi surat itu, Bu Ustadza pun langsung dengan seksama membaca satu persatu goresan tinta yang menempel di selembar kertas putih itu.
"Innalillahi wainnailahi rojiun, semoga beliau lekas sembuh..." doanya yang sekarang sudah mengetahui masalah Markisa. Ia pun tidak jadi menyusul Markisa melainkan berbelok haluan menuju ruangan para petinggi pondok. Berniat untuk membantu Markisa ijin ke Pak Kyai.
Di sisi Markisa, gadis itu sudah selesai berkemas. Tak ada sedikit pun pikiran untuk berpamitan ke para guru-gurunya, karena sumpah demi apapun, dia amat cemas pada kesehatan sang Ayah yang katanya sedang sakit parah.
Sampai pada akhirnya, Markisa sudah di dekat gerbang siap untuk membukanya. Namun terhenti karena ada suara Royco yang memanggilnya.
"Dek, mau kemana?" tanya Royco yang melihat tas besar Markisa yang dijinjingnya.
Markisa pun menjelaskannya dengan tergesa gesa pada pasal Ayahnya itu.
"Kakak ikut," mantap Royco yang tidak mungkin membiarkan pujaan hatinya pergi seorang diri.
__ADS_1
"Tapi, Kak__" Markisa sempat menolak. Tetapi Royco segera menarik tas bawaannya dan segera menuntun tangannya untuk segera berlalu pergi.
...*****...
Beberapa jam perjalanan, Markisa dan Royco pun sampai di kota. Markisa segera saja menuju rumah sakit, tempat Ayahnya dirawat,
dengan setia Royco terus menemani Markisa dan sesekali menyuruh wanitanya itu bersabar akan segala musibah yang menerpa.
"Sus, VVIP 3 sebelah mana ya?" tanya Markisa pada suster yang berjaga di bagian administrasi.
Sang suster itupun menunjukkan arah pada Markisa.
"Terimaksaih," kata Royco. Sedang Markisa sudah ngebirit duluan.
Ceklek...
"Ayah...!" seru Markisa setelah membuka pintu. Tanpa mau peduli di dalam ruangan sudah ada Madu bersama Adi.
"Ayah," lirih kaget Adi. Sedang Madu hanya terpaku seraya menatap lekat Markisa yang notabenenya adalah putri kandungnya dan juga sebagai kembaran Adi yang sejak dari bayi mereka sudah berpisah, dengan alasan perceraiannya bersama sang suami yakni Ayah Markisa.
Markisa sudah menangis seraya menggenggam lembut tangan Ayahnya yang terasa dingin. Air mataya itu sudah tumpa ruah membasahi pipi.
"Ayah...A-ayah ke-kenapa? Ayah sakit apa? dan mengapa baru mengabariku?" hiks
hiks... Markisa bertanya seraya menangisi tubuh lemah Ayahnya yang dipenuhi alat alat medis untuk sekedar membantu pernafasannya itu.
"Ma-maafkan A-yah, Nak. Ayah merasa nafas ini sudah tidak lama ini. Dengan itu Ayah akan mengungkapkan sebuah fakta tentang Ibu kandungmu. Ibu kandungmu masih hidup, Markisa. Ayah berbohong selama ini padamu yang telah menyatakan kematian palsunya. Dan Ibu mu itu..." Ayah Markisa menjelaskan dengan nafas itu terasa tercekat. Ia menunjuk lemah ke arah Madu saat ini. "Dan Adi ternyata saudara kembar mu. Ayah pun baru mengetahuinya," terangnya.
"Nak..." Madu menghampiri Markisa yang sedang tertegun dengan mata itu menatapnya, juga menatap Adi yang tertohok akan kenyataan hidupnya yang baru terkuak.
"Maafkan Ibu, Nak. Karena kami bersepakat sebelumnya untuk membawa kalian secara hidup masing masing dengan alasan suapay adil dalam membagi hak asuh anak." terang Madu dengan mata itu berkaca kaca menahan tangisnya.
"Ibu? jadi ini adalah kenyataannya bahwa Anda ibu saya?" tanya Markisa seraya menghadap ke Madu. Orang tua itupun mengangguk. Sejurus...grebbb, Markisa yang memang merindukan sosok seorang ibu, dengan mudah menerima Madu. Dia sudah berpelukan dengan erat. Sedang Adi hanya sibuk mencerna permainan kronologi hidupnya ini.
'Ternyata selama ini, gue mendamba saudara kembar gue sendiri? Astaga...' batin Adi menjambak jambak prustasi rambutnya.
Royco yang sedari tadi menguping dari balik pintu yang sedikit terbuka itu, dibuat terkejut hebat. Lalu bergumam, "Astagfirullahadzim, ternyata Madu dan Markisa...? Dosa ku memang susah untuk diampuni ya Allah."
__ADS_1