HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 65


__ADS_3

Di pendopo santri wanita, para santriwati itu sudah memulai aktivitas ngajinya bersama sama.


Terlihat, Markisa pun ikut mengaji tetapi pikirannya bercabang, setelah mendengar suara pria yang mirip milik Royco.


"Astagfirullah," batin Markisa menyadari kesalahannya, karena sudah tidak fokus dalam kajiannya, hanya karena memikirkan seseorang dari masa lalunya.


Sedang di pendopo santriwan, acara kajian mereka baru akan dimulai. Pak Ustadz baru terlihat duduk di antara para muridnya. Royco dan Amien juga Syarief pun sudah ada bundaran para santriwan itu.


Setelah memberi salam ke para muridnya, dan dijawab kompak pun dari para santrinya, Pak Ustadz pun bertanya sejenak, "Sebelum kita memulai pelajaran ngajinya, apakah ada yang ingin bertanya terlebih dahulu?"


Kesempatan empuk, Syarief yang masih saja ingin mencari gara gara dengan Royco, segera mengacungkan tangannya.


"Saya, Pak Ustadz."


"Ya, Syarief. Katakan!"


"Menurut peraturan yang ada dalam pondok ini, orang yang tidak menjalankan sholat sunah berjamaah, katanya akan mendapatkan sebuah hukuman. Apa itu benar Pak, Ustadz?" tanya Syarif dengan mata itu melirik ke arah Royco.


"Benar..." Jawab Pak Ustadz dengan singkat.


"Lantas... kenapa Royco tidak di hukum Pak Ustadz? dia 'kan tidak ikut sholat sunah berjamaah." terang Syarif. Dalam hatinya ingin sekali melihat Royco di hukum.


"Itu saja pertanyaanmu Rif? bagaimana dengan santriwan yang lainya? apa ada yang kalian ingin tanyakan juga?" tanya Pak Ustadz seraya menatap satu persatu wajah dari santrinya, sebelum menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Syarif.


Terlihat para santri yang lainnya langsung menundukan kepalanya, hanya Syarif seorang yang terlihat menegakkan kepalanya, saat mata Pak Ustadz dengan tajam menatap semua santrinya.


"Baiklah Rif, Ustadz akan menjawab pertanyaan mu sekarang. Kenapa Royco tidak di hukum? Itu karena... ada orang yang dengan sengaja menguncinya dari luar, pada saat dirinya lagi berada di dalam toilet. Sehingga membuatnya tak bisa keluar sampai tak ikut serta dalam menjalankan sholat sunah. Kesalahan Royco itu sangat bisa dimaklumi, makanya dia tidak mendapatkan hukuman apa apa. Jelas kamu, Rif?" terang Pak Ustad dengan panjang kali lebar, seraya bertanya balik ke Syarif.


"Tapi Pak Ustadz..."


Keprotesan Syarief terjeda dengan suara Royco.

__ADS_1


"Saya siap menerima hukuman itu, Pak Ustadz. Asal hukumannya bukan dikeluarkan dari pondok. Karena jujur, saya ingin sekali mengais ilmu dari para suhu di sini."


Dengan lapang dada, Royco siap menerima hukuman itu.


Lantas, membuat Pak Ustadz memuji Royco dalam hati akan kelapangan hati yang dimiliki Royco.


"Apa kamu dengar Syarief? dan semuanya wahai santriku? Kalian harus memetik satu pembelajaran sikap Royco hari ini. Kebanyakan dari kita hanya mau berani berbangga diri, tapi tidak berani menerima segala yang berbau kerugian ., termasuk mengakui kesalahan dengan alasan takut dihukum."


Para santri hanya mampu menundukkan kepalanya. Mendengar petikan sederhana Pak Ustadz, tapi aslinya memang sangat mengena di hati mereka.


Pada umumnya, manusia itu berlomba lomba ingin terlihat paling utama, namun bilamana ada kesalahan barang seupil pun, biasanya mati matian untuk menyembunyikannya, demi ingin terlihat sempurna di mata orang orang.


"Selesai sholat subuh dan usai sarapan. Kamu Roy, akan saya beri tugas memotong rumput yang sudah terlihat panjang di area asrama santriwati, karena kebetulan tukang kebun kita lagi sedang sakit. Bagaimana, Roy. Kamu tidak keberatan?"


Pak Ustadz sengaja mengatakan 'tugas' bukan hukuman, karena sebenarnya Pak Ustadz mentoleransi kesalahan Royco yang memang ada yang iseng kepadanya. Namun karena Royco bersedia, dia pun terpaksa menjatuhkan tugas tersebut.


"Dengan senang hati, Pak Ustadz. Jujur, saya sudah sangat bersahabat dengan rumput karena saya sebelumnya sering ngarit buat peliharaan kambing saya." Royco tersenyum lucu tatkala mengingat dia pernah jadi penggembala kambing. List hidup yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Itulah kehidupan...Misteri.


"Baiklah. kalau begitu mari kita mulai pelajaran kita. Dengarkan dan ikuti bacaan ayat yang akan Ustadz bacakan."


...****...


Seusai sholat subuh dan seusai melakukan sarapan pagi, Royco langsung pergi untuk menjalankan tugas yang Pak Usatdz sudah bebankan kepadanya.


Terlihat tangan itu menenteng sebuah gunting rumput, dan sebuah karung berukuran besar sebagai tempat untuknya dalam menaruh rumput rumput yang akan di potongnya.


"Roy..." Panggil Amien. Sontak membuat langkah Royco langsung terhenti, lalu menoleh ke sang empu suara.


"Ada apa, Mien?" tanya Royco penasaran.


"Saya ikut yah..." pinta Amien yang terkesan tak ingin jauh dari Royco.

__ADS_1


Royco hanya menatap penuh heran ke arah Amien, seraya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Hem... kamu pikir, saya mau pergi shopping apa. Hingga kamu ingin mengikuti saya." Royco tersenyum lucu sudah mencandai Amien.


"Huu, niat hati mau bantu kamu. Tapi kagak jadi deh.."Amien mencibikkan bibirnya.


"Heheh, wajahmu lucu, Mien. Dahlah...ini hukuman aku, jadi aku juga yang harus mengembannya. Lagian aku senang kok melakukannya. Aku pergi, ya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," sahut Amien. Royco pun sudah beranjak pergi menuju ke tempat yang dimaksud Pak Ustadz.


Yap...asrama santriwati, Royco pergi kesana untuk memotong rumput yang sudah meninggi.


Meskipun asrama itu di larang untuk para santriwan bisa memasukinya, namun karena Royco mendapatkan hukuman akhirnya dengan sangat mudah dia bisa menginjakkan kakinya masuk di pelataran asrama itu.


"Mulai dari mana yah? ah, dari sini saja dulu!" serunya sendiri yang langsung menaruh karung yang telah di bawanya.


"Hukuman yang begitu sangat menyenangkan ini mah." gumam Royco terlihat bersemangat, saat dirinya menjalankan tugas dari Pak Ustadz.


Dengan kebiasaannya dalam mencari rumput untuk hewan ternaknya dulu, Royco terlihat dengan sangat cekatan mencukur habis semua rumput rumput yang ada di asrama santriwati itu.


Hingga tak terasa karung yang di bawanya itu, sudah terisi penuh oleh rumput rumput yang sudah di potongnya.


"Waduh, bagaimana ini? karung itu sudah terisi penuh, sedangkan rumput yang di sebelah sana belum sempat saya potong." keluh Royco yang terlihat celangak celinguk kebingungan.


"Nih, saya bawakan satu karung lagi untukmu Roy." Pak Ustadz Leman yang tiba tiba muncul seraya tangan itu memberikan karung untuk Royco bisa pakai dalam menempatkan rumput rumput yang belum sempat di potongnya.


"Eh... Pak Ustadz. Makasih atas bantuannya." Royco tercengir bodoh dalam menerima karung itu.


"Sama sama Roy. Maaf Roy, sebenarnya saya tidak enak hati yang menyuruhmu untuk melakukan tugas ini. Tapi... agar tak ada kecemburuan sosial, terpaksa saya bebankan kamu memotong semua rumput yang ada di sekitaran asrama khusus wanita ini." terang Pak Ustadz yang mengungkapkan perasaan tidak enaknya kepada Royco.


"Sungguh, ini tak masalah bagi saya, Pak Ustadz. Hitung hitung olahraga pagi." Royco tersenyum tanda itu bukanlah masalah besar bagi nya.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau kamu tidak menaruh dendam ke saya. Kalau begitu, saya pergi ya. Assalamualaikum. "


"Waalaikumsalam." takzim Royco menyahut. Sejurus, dia pun kembali sibuk dengan tugas nya.


__ADS_2