HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 52


__ADS_3

"Apa saya harus jujur saja sama pak tua itu? kalau keris itu kepunyaanku, yang telah hilang. Tapi... Apa mungkin nanti pak tua percaya? sedangkan saya tidak punya bukti yang menunjukan kepemilikan keris itu. Saya takut, takut dibilang hanya mengaku ngaku saja oleh pak tua itu. Oh tuhan, bantu saya untuk bisa mengungkapkanya kepada pak tua itu tanpa menyinggung perasaanya, kalau sebenarnya keris itu adalah kepunyaan saya yang hilang." batin Royco seraya menatap terus keris emas berbentuk semar yang sedang dilap oleh pria tua itu.


"Dek!" Panggil pak tua. Sontak Royco terkejut dari lamunannya.


"Oh iya pak tua, maaf saya melamun. Saya terlalu asik melihat keris itu." ucap Royco yang salah tingkah.


"Kenapa kamu melamun? kamu penasaran dengan keris ini? jika iya, kamu boleh kok menyentuhnya." izinnya, seraya tangannya menyodorkan keris itu di hadapan Royco.


"Benarkah aku boleh memegangnya?" Royco memastikan izin itu.


"Eum, boleh!" seru pak Tua.


Dengan perasaan campur aduk antara senang dan takut, Royco pun meraihnya dengan tangan gemeteran. Matanya berkaca kaca seraya menatap keris tersebut.


"Wahai keris, maafkan atas kesalahanku yang telah menghilangkanmu," batin Royco dengan rasa sesal yang merasa lalai di hari kemarin.


Sebagai rasa hormatnya kepada Sang kakek buyutnya, Royco pun mencium hormat keris tersebut.


Lantas, membuat Pak tua tersebut megerutkan kening curiganya. Ketika anak muda yang ada di hadapannya itu, paham betul mengenai cara menghormati barang pusaka tersebut.


"Heemm, memangnya kamu tau benda itu barang pusaka?" tanyanya seakan menguji Royco.


Sejenak Royco terdiam, berfikir apakah dia harus jujur saja mengenai keris tersebut atau menyembunyikan kebenarannya? dari pria tua itu.


"Sebenarnya... sebenarnya... " ucap Royco ragu.


"Kamu ini mau ngomong apa sih? dari tadi hanya sebenarnya, sebenarnya terus yang kamu katakan." tanya pak tua merasa bingung dengan gelagat aneh Royco.

__ADS_1


"Sebelumnya saya minta maaf, bukan maksud saya lancang terhadap pak tua. Sebenarnya keris ini kepunyaan saya yang hilang, sekali lagi maafkan saya pak tua, bukan maksud saya untuk mengaku ngaku memiliki benda pusaka ini. Tetapi kenyataannya memang seperti itu." terang Royco.


Pak Tua itu pun tertegun, antara percaya tidak percaya terhadap pria muda yang buruk rupa ini.


"Apa buktinya?" pinta pak tua itu, menguji.


Royco menggeleng karena memang dasarnya tidak mempunyai bukti apapun kecuali satu....dia harus menceritakan kesaktian keris itu. Tetapi pikirnya...nanti pak tua itu semakin tidak mau mengembalikkan kepadanya.


"Saya tidak mempunyai buktinya pak tua, tetapi saya tidak berbohong. Sungguh, keris itu punya saya dari pemberian kakek buyut saya untuk menjaganya, Pak tua," terang Royco mencoba menyakinkan orang tua itu.


Untuk sesaat pak tua itu tidak bisa menerima penjelasan dari Royco tanpa bukti yang kuat, karena sulit bagi orang tua itu untuk bisa langsung saja percaya kepada Royco.


"Sudahlah, saya nggak bisa percaya begitu saja sama kamu. Lebih baik sekarang kamu pergi masuk kamar, istirahatlah agar kondisi tubuhmu bisa fit dan kamu bisa secepatnya pergi dari rumah saya." ucap pak tua yang terlihat kecewa dengan Royco.


"Kek, datanglah. Bantu saya untuk membuat pak tua ini percaya, kalau keris itu benar pemberian kakek untuk saya jaga serta merawatnya." batinnya memanggil kakek buyutnya datang.


Terlihat pria tua itu berjalan pergi meninggalkan Royco seorang diri, dan pria tua itu pun terlihat melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk menyimpan keris sakti berbentuk semar itu.


Sementara Royco, terlihat sedikit menyesal telah menyinggung perasaan pria tua itu. Dengan nafas gusarnya, dia pun meninggalkan ruangan tersebut menuju kamar yang menjadi tempat peristirahatannya.


...****...


Jam dua belas malam, tepatnya di sebuah kamar yang berukuran kecil, terlihat pak tua itu sedang terlelap dalam tidurnya. Selang beberapa saat kakek buyut Royco pun datang menghampiri pak tua itu dalam mimpinya.


"Assalamualaikum," salam kakek buyut yang langsung membuat pak tua itu sampai terkejut.


"Wa-waalaikumsalam," jawab pak tua itu, tergagap.

__ADS_1


"Anda si-apa?" sambungnya bertanya seraya menggerlya tempat yang ia pijaki. Di atas awan? saya di atas awan? Pak tua itu tidak percaya kalau kakinya menginjak awan. Memang hanya mimpi, tetapi nampak terasa nyata baginya.


"Sayalah pemilik keris yang saat ini Anda simpan," sahut kakek buyut itu. " Anak muda yang Anda tolong kemarin adalah benar cucu saya," sambungnya menjelaskan.


Pak tua itu terdiam, masih enggan untuk mempercayainya. "Maaf, saya masih tidak percaya. Tunjukkan satu buktinya." Tantang sang Pria tua meminta dengan takzim.


"Sebenarnya, tanpa buktipun saya bisa mengambil keris itu dari tangan Anda, tetapi karena saya sangat menghargai Anda sebagai penolong cucu ku, maka saya tidak semena mena. Namun karena anda meminta buktinya maka saya akan mengabulkannya." terang kakek.


Sejurus kemudian, sang kakek buyut pun terlihat berkomat kamit bibirnya. Seakan mengucap suatu mantra, entah mantra apa yang di ucapkannya. Sehingga dengan sekejap mata, keris yang sekarang di pegang oleh pria tua itu mengeluarkan kepulan kepulan asap yang berwarna putih.


Sontak membuat pria tua itu langsung terkejut, sehingga dengan tidak sengaja tangan itu menjatuhkan kerisnya yang tadinya digenggam.


Dan tak lama keris itupun berubah wujud menjadi, sesosok kakek kakek yang berpakaian serba putih. Lagi lagi pria tua itupun dibuat terkejut oleh perubahan wujud dari si keris.


"Ko-kok be-berubah?" kaget pak tua itu seraya menunjuk ke arah wujud keris tersebut yang ternyata adalah wujud manusia.


"A--Anda siapa? dan mana keris itu?" sambung pria tua dengan gugup.


"Saya adalah perubahan wujud dari keris itu, dan memang benar kakek buyut itu adalah tuan ku. Dan bocah yang Anda tolong kemaren itu adalah tuan ku yang baru, apa Anda masih belum bisa percaya dengan itu semua?!" seru kakek wujud asli dari keris sakti itu.


Sejenak pak tua itu tertegun, lalu menjawab dengan suara terbata bata, " Sa-saya percaya sekarang. Ma-maaf sebelumnya sudah meragukan Anda. Dan se-segerah, saya akan mengembalikkan keris itu ke cucu Anda."


"Ya, terimakasih sudah mempercai kami. Tentang pengembalian keris itu, tidak usah terburu-buru. Karena saya sebenarnya ingin meminta tolong ke Anda," kata Kakek Buyut itu.


"Minta tolong?" ulang pak tua itu sedikit bingung.


"Iya, saya minta tolong untuk membantu cucu saya masuk ke jalan yang benar. Kemarin kemarin ia telah berada di jalan yang salah dengan menyala gunakan keris sakti itu. Tolong bimbing dia, terserah Anda mau mendidiknya secara halus ataupun secara kasar, Saya tidak keberatan dengan itu," pinta sang kakek buyut.

__ADS_1


"Saya bersedia, hitung hitung biar saya tidak kesepian karena punya kesibukan," setuju pak tua.


"Terimakasih!" kata kakek buyut. Setelahnya, dia menghilang. Sejurus, sosok manusia itupun kembali berwujud keris yang kembali digenggam oleh pria tua.


__ADS_2