HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 62


__ADS_3

Di sepertiga malam menjelang subuh...


Satu persatu santri pun mulai terlihat bangun dari tidur nyenyaknya. Tidak bagi Royco yang terlihat masih tertidur pulas, karena dari mimik tidurnya terlihat mulut itu terbuka alias mangap.


Hoaaaaaaam....


Amien langsung menguap seraya menutup mulut dengan telapak tangannya. Dia sudah terbiasa bangun di jam sepertiga malam, jadi mudah baginya untuk membuka matanya tepat waktu sebelum mendapat hukuman dari para Ustadz.


Sebelum turun dari kasurnya, Amien melirik terlebih dahulu ke arah kasur Syarief yang ternyata sudah terbangun juga. Bahkan, Syarief sudah menarik handuknya yang akan bersiap siap mandi.


"Pagi!" sapa Amien ramah. Syarief tidak menjawab, dia hanya melirik sinis ke orang yang menyapanya. Lalu, keluar kamar tanpa satu katapun terucap dari mulutnya.


"Tidak biasanya bersikap dingin seperti itu? Apa masih marah soal kemarin kali, ya? hmm, pantas saja dari semenjak cekcok itu, Syarief terkesan menjauh dariku." Amien bertanya tanya sendiri.


Tidak mau mengambil pusing, Amien pun melirik ke arah tempat tidur teman barunya....Royco.


"Astagfirullah...tidurnya gaya apa itu? Donald duck, sepertinya." Amien berucap di iringi tersenyum lucu, karena Royco tidur tidak mengondisikan mulutnya yang terbuka lebar minta nasi panas sesuap, mana ngeces lagi tuh.


"Roy, bangun! waktunya memulai hari sepertiga malam." seru Amien yang masih duduk di atas bed miliknya.


Royco sedikitpun tak bergerak dari posisi tidurnya, sepertinya dia tidak mendengar suara Amien yang sedang membangunkannya.


"Ya elah! ni anak tidurnya kaya kebo yah, susah amat untuk dibangunin." keluh Amin yang kemudian menyeret tubuhnya untuk turun, lalu pergi menghampiri tempat tidur milik Royco.


"Roy, ayo cepat bangun! serunya dengan tangan itu terus mengguncang guncangkan tubuh Royco.


"Hmmmm... nyam... nyam." Royco bergerak pindah posisi tidurnya. Dengan mulut itu terlihat seakan sedang mengunyah, seraya tangannya meraih bantal guling untuk kemudian dipeluknya.


"Astagfirullah... belum bangun juga yah!" Keluh Amien yang kemudian langsung berfikir keras, cara agar Royco bisa terbangun dari tidur nyenyaknya.

__ADS_1


Cling...


"Aha... saya punya ide." Amien yang beranjak pergi, berniat mencari kemonceng kemudian mencabut bulunya untuk menjahili Royco agar bisa terbangun dari tidurnya.


"Awas kau Roy! saya akan ngerjain kamu. Lagian kamu sih dibangunin susahnya minta ampun." Amien tersenyum licik, seraya ibu jari dan telunjuknya menggapit bulu ayam yang baru dicabutnya dari kemonceng.


Kilik... kilik... kilik


Amien yang langsung memasukan bulu kemonceng ke lobang hidung milik Royco, terlihat Royco langsung terbangun dengan mata yang masih terpejam.


"Ha... ha... ha..." Royco seakan ingin bersin namun tidak jadi. Tak lama diapun kembali merebahkan tubuhnya untuk lanjut tidur karena matanya sangat berat untuk di buka. Amien yang melihat itu langsung tergelitik geli. "Hik... hik... hik..."


"Yaelah... kok, dia malah lanjut tidur lagi sih? ini nggak bisa di biarkan. Sebelum Pak Ustadz datang, Royco sudah harus bangun dari tidurnya. Kalau enggak, matilah saya yang jadi ikut kena hukuman karena belum sholat sunah tahujjud di sepertiga malam ini." Amien berbicara sendiri saat tidak berhasil membangunkan Royco dari tidurnya.


"Roy ayo. cepat bangun! Kita harus sholat sunah berjamaah di masjid sekarang!" seru Amien dengan tangan itu menarik narik tangan Royco sangat memaksa.


Royco terlihat duduk, dengan mata itu masih sangat berat untuk di bukanya. Terlihat sesekali Royco menjatuhkan kepalanya ke kiri dan, ke kanan sangat sulit untuk bisa ditegagakkan.


"Belum sih Roy. Cuman... ini waktunya untuk para santriwan atau santriwati menjalankan sholat sunah berjamaah di masjid Roy. Kalau kita nggak ikut sholat, nanti kita akan mendapatkan hukuman dari Pak Ustadz." terang Amien yang menjelaskan.


Mata Royco pun tiba tiba langsung terbuka dengan terbelalak, sangat terkejut sekali akan ucapan Amien barusan tadi.


"Tadi kamu bilang apa Mien? coba sekali lagi ulangi perkataanmu yang tadi." Pinta Royco yang takut salah mendengar. Dan untuk lebih pasti lagi Amien langsung disuruh untuk mengulangnya.


"Kalau kita tidak ikut sholat sunah berjamaah, nanti kita akan di hukum oleh Pak Ustadz, Roy." Amien turut mengulang ucapannya.


"Bukan yang itu Mien!" seru Royco menolak.


"Yang mana sih Roy? perasaan saya tadi... saya cuma ngomong itu saja." ucap Amien yang terlihat bingung di depan Royco, seraya menggaruk tengkuk yang tidak gatal.

__ADS_1


"Kalau saya tidak salah mendengar, kamu sempat ngomong. Soal santriwan dan juga santriwati, akan menjalankan sholat sunah berjamaah di masjid'kan?" terang Royco seraya kedua tangannya memegang lengan Amien.


"Iya benar, tadi saya ngomong seperti itu. Memangnya kenapa Roy?" tanya Amien yang terlihat tidak mengerti.


Sontak membuat Royco terlihat kegirangan senangnya bukan kepalang.


"Yehaaa! yes... yes... yes..." Royco dengan refleks menari nari senang di atas tempat tidurnya. Amien yang melihat itu, hanya terdiam penuh kebingung tidak mengerti akan ungkapan rasa kegembiraan Royco.


"Aneh ! bukannya hal biasa untuk para santriwan dan, juga santriwati menjalankan sholat sunah berjamaah di masjid? lantas kenapa Royco begitu sangat senang sekali? " batin Amien yang tidak mengerti.


Tak ingin hatinya di penuhi rasa penasaran tingkat tinggi akan luapan, kegembiraan yang sedang Royco tunjukan di depannya. Amien pun dengan cepat menepiskan kebingungannya, dan langsung menanyakan alasan dibalik rasa senang Royco.


"Roy... sungguh saya tidak mengerti dengan ini semua. Memangnya apa yang membuatmu sampai senang seperti ini? bukankah para santriwan dan juga santriwati, sudah biasa menjalankan sholat sunah berjamaah di masjid. Lantas apa yang membuatmu begitu sangat senang sekali?" cerca Amien.


"Masa kamu tidak mengerti sih Mien?" tanya Royco yang terlihat senang dengan kebingungan yang menghampiri Amien.


"Sungguh Roy... saya benar tidak mengerti. Bisa kamu jelaskan, agar saya tidak terlihat seperti orang bodoh ini." pinta Amien.


"Suara itu Mien... suara orang mengaji yang tadi siang itu loh Mien, sebentar lagi saya akan melihat wajah empu yang punya suara itu." terang Royco. Dia amat yakin akan bertemu pada sosok wanita itu.


"Ohhh itu...? pantas saja kamu begitu sangat senang sekali, tapi... kenapa yah, kok saya baru ngeh? bodohnya diri saya." Amien yang baru tersadar dari kelemotannya, langsung ikut berjingkrak jingkrak riang di atas tempat tidur milik Royco.


"Hore... hore... hore..."


Ceklek...


Kegembiraan mereka pun langsung terhenti, saat pintu kamar itu terbuka. Sontak Amien dan juga Royco langsung terdiam terpaku, melihat Syarif melangkah masuk ke kamar setelah selesai mandi.


Tatapan Syarif pun begitu sangat tajam langsung tertuju pada Royco, seakan tatapan itu menunjukan kesiapan Syarif untuk langsung menerkamnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2