
Setelah Royco pamit kepada Medi dan berniat meninggalkan sekolahan sehabis mencari kerisnya yang berujung nihil pencariannya, dia tiba-tiba kebelet buang air kecil.
Kaki itupun melangkah terlebih dahulu ke toilet yang ada di ujung sana.
Di dalam ruangan khusus petinggi sekolahan, Pak Komite bin Ayah Markisa juga kebetulan kebelet BAB.
"Hais, toiletnya 'kan lagi mampet belum sempat di sedot ya. Aduh...mules lagi." Proot, Preet,Priiuut, prooott. Karena mules tidak karuan, bolongan bokong itu pun menyemburkan gas beracunnya. Dia mengeluh karena toilet yang ada di dalam ruangannya macet.
"Uh, syukur para guru tidak ada di kantor." kata Pak Komite berbicara sendiri seraya celingak-celinguk. Dia tidak tau aja kalau ada Pak Kepsek yang sudah pingsan di sela-sela para meja guru yang kosong karena tidak kuat dengan bau busuk gas itu.
Karena tak kunjung selesai mulesnya, Pak Komite ngebirit keluar menuju toilet siswa saja.
Di sisi Royco, laki laki itu baru tiba di depan toilet. Dia pun masuk ke dalam dengan langkah cepat karena hasrat membuang air seninya sudah di ujung tanduk.
Deg...
Untuk sesaat jantung Royco pun berpacu dua kali lipat lebih kencang dari biasanya, saat dirinya melihat seorang gadis terbaring lurus tanpa busana di lantai toilet.
"Astaga!" Royco yang kaget.
Dengan cepat Royco pun langsung menghampiri tubuh polos gadis itu, lagi-lagi dirinya dibuat terkejut saat melihat wajah gadis itu dari dekat.
"Leci?" gumamnya meyakinkan penglihatannya seakan akan tidak percaya kalau sahabat Markisa terlihat menyedihkan saat ini.
Sesaat, Royco terpaku, dia bingung harus berbuat apa? ingin menyentuhnya untuk sekedar menolong, takut disalahkan nanti. Jadi, dia harus bagaimana?
"Baju! ya, aku harus menolongnya!"
Saat mau berbuat baik, yang ingin meraih seragam Leci. Pintu toilet terdengar terbuka dan pelakunya adalah Pak Komite.
"KAMU!"
__ADS_1
Rasa mulas Pak Komite akhirnya menguap karena terkejut melihat Royco berjongkok di sisi terbaringnya Leci dengan tangan Royco membawa seragam gadis malang itu.
Royco jelas panik karena delikan pak Komite seakan-akan menuduhnya sebagai pelaku yang tidak senonoh pada Leci.
"KURANG AJAR KAMU!!!" Pak Komite mengikis jarak ke Royco. Mencengkeram kerah kemeja Royco. " Setelah anakku kamu puas memakainya, sekarang Leci pun kamu tega menggaulinya. Sialan!!!"
Bugh...
Satu bogeman mentah Pak Komite jatuh keras mengenai pipi kanan Royco. Terlihat Royco pun sampai sempoyongan, terpental setengah langkah jaraknya dengan Pak komite.
"Maaf Pak komite, ini tidak seperti apa yang telah Bapak lihat. Ini salah paham," ucap Royco mencoba membela diri.
"Sudah tertangkap basah, kamu masih saja mengelaknya. Dasar kamu OB sialan!!! ayo cepat ikut saya, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu." maki Pak komite dengan langsung mencengkeram kuat tangan Royco.
"Tidak, Pak komite. Ini salah paham. Saya tidak melakukan perbuatan apa-apa terhadap Leci, lepaskan tangan saya." Royco mencoba menarik tangannya agar terlepas dari cengkeraman itu. Ini tidak adil baginya! kenapa dia yang harus disalahkan? atas perbuatan yang tidak ia lakukan.
Pak komite terus menulikan telinganya, tidak mau mendengar alasan yang di berikan Royco. Seraya tangan itu terus mencengkeram dan menarik kuat tangan orang yang paling di bencinya, keluar dari toilet menuju ke pos security.
Tepat setelah Pak komite berada di lorong depan kelas, tiba-tiba Ibu Nur pun datang. Dia langsung terheran dengan apa yang dilakukan oleh Pak komite terhadap OB Royco.
"Maaf Pak, kenapa Bapak memperlakukan OB Royco dengan sangat buruk sekali? apakah dia telah melakukan kesalahan yang sangat besar? sehingga Bapak tega memperlakukannya sampai seperti itu?" tanya Ibu Nur penasaran. Dia tidak suka melihat kekerasan sehingga memberanikan diri untuk menengahi.
"Ibu coba saja masuk dan lihat ke dalam toilet, apa yang barusan OB sialan ini lakukan di dalam sana?!" ucap Pak komite tegas. Iris hitam pekat Pak Komite itu kini mendelik tajam ke Royco, karena kemarahan yang mengubun. Dia tidak mau nama sekolahannya yang dipimpin beberapa tahun menjadi tercemar citranya karena ulah OB sialan ini.
"Ini 'kan toilet pria, Pak? apa maksud Bapak menyuruh saya untuk masuk ke dalam toilet itu?" tanya Ibu Nur yang tidak mengerti.
"OB sialan ini telah memperkosa Leci di dalam toilet itu, Bu," ungkap Pak Komite.
Deg...
Seketika itu juga jantung Ibu Nur seakan berhenti berdetak, hatinya pun seakan tertusuk ribuan jarum. Betapa sangat terluka dirinya sebagai sesama perempuan, saat mendengar muridnya yang bernama Leci, telah diperkosa oleh OB Royco.
__ADS_1
Kini, mata Ibu Nur pun seakan akan tidak mau menatap Royco yang menurutnya tidak mempunyai kelakuan moral.
"Bu, ini fitnah! saya tidak melakukan tindakan pemerkosaan itu," terang Royco yang mencoba membela diri di depan Ibu Nur.
Namun Ibu Nur hanya terdiam seakan dirinya tak mendengar pembelaan Royco, Ibu Nur memilih pergi untuk melihat keadaan Leci dalam toilet itu.
Dan Pak komite pun terus menarik dan membawa pergi Royco, menuju pos Security untuk dimintai pertanggung jawabannya.
"Pak, Security. Cepat hubungi kantor Polisi sekarang juga. Saya mau OB ini dipenjarakan, sebab OB ini telah memperkosa salah satu murid yang ada di sekolah ini!" pinta Pak komite tegas.
Sontak saja membuat Security itu menjadi kaget, tidak menyangka OB yang dikenal baiknya telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh terhadap salah satu murid yang ada di sekolahan ini.
"Baik Pak," jawab Security menurut patuh.
"Tolong Pak Security, jangan laporkan saya kepada Polisi. Saya tidak mau dipenjara untuk kesalahan yang tidak pernah saya lakukan, saya tidak bersalah. Ini fitnah," ucap Royco memohon.
"Jangan hiraukan perkataan OB sialan ini, cepat hubungi kantor polisi sekarang juga!" titah Pak komite tegas.
Tanpa banyak kata-kata lagi, Security itu pun langsung menghubungi kantor polisi dan menyuruh polisi itu untuk datang secepat mungkin.
Aku tidak bersalah!
Royco terus saja berucap seperti itu dalam pengamanan Security dan Pak Komite di dalam pos penjagaan. Tetapi kedua pria tersebut sama sekali tidak mempercayainya. Serasa mulutnya pun capek memohon, Royco pun akhirnya diam pasrah.
Sampai mulutku berbusa pun, Ayah Markisa tidak akan melepaskan ku karena dendam pribadinya. Ah, sial benar hidupku hari ini. Keluh Royco dalam hatinya.
Setelah menunggu beberapa menit, sebuah mobil Polisi pun datang yang memang sudah ditunggu-tunggu. Bukan hanya mobil polisi saja. Dari arah belakang, satu ambulance pun berhenti untuk membawa Leci yang diurus Ibu Nur.
Dari sekian banyak siswa siswi di gedung itu, semuanya tidak ada yang mengetahui kekacauan tersebut karena waktu memang sedang dalam jam pelajaran.
Royco hanya terlihat pasrah namun kesedihan di wajahnya terpancar sangat jelas, ketika kedua tangannya di borgol dan di giring masuk ke dalam mobil.
__ADS_1