
Di tengah malam. Royco masih di dalam hutan, bersandar lemah dengan keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya yang penuh dengan bisul kutukan. Keringat itu semakin menambah perih luka bekas garuk yang gatal tiada henti.
Bibirnya pun pucat sesekali meringis menahan luka tembak di betis nya.
Lengkap sudah penderitaan yang dia rasakan. Seakan akan, bisikan hatinya berkata pasrah saja menerima takdir untuk mati perlahan lahan di tengah malam yang sunyi senyap itu.
"Tidak, a...ku masih mau hidup," lirihnya menyemangati diri sendiri.
Peralahan, Royco pun bangun dengan tangan lemah itu berpegangan kuat di pohon yang tadi dia senderin. Entah mau kemana langkah tertatih itu membawa tubuh yang lemah.
"Aku harus kemana? dan peluru ini harus keluar dari tubuhku, bagaimana pun caranya.
Setengah jam tertatih tatih di tengah malam yang kian menyelimuti kedinginan tubuh itu. Royco menemukan secerca harapan. Di depan sana ada sebuah gubuk yang entah berpenghuni atau tidak?
"Semoga ada orang yang bisa membantu ku."
Nyatanya, tidak ada siapa siapa di gubuk tersebut. Hanya ada peralatan seadanya yang mungkin sudah ditinggal oleh penghuninya sebelumnya.
Dia pun sejenak duduk di bale reot yang terbuat dari bambu.
"Auw, sakit!" teriaknya saat tangan itu mengangkat kakinya naik keatas bale reot itu.
Royco pun langsung membaringkan tubuh lemahnya pada bale itu, namun panasnya peluru dalam betisnya membuatnya tak bisa merasa nyaman.
"Ah, aku harus bisa mengeluarkan secepatnya peluru dalam kakiku ini. Tapi ... bagaimana caranya aku bisa mengeluarkan peluru ini? yah pisau, aku akan mengeluarkan peluru ini dengan pisau. Semoga saja di gubuk ini ada sebilah pisau yang bisa aku gunakan untuk mengeluarkan sebutir peluru yang bersarang di kakiku." Royco berbicara sendiri sambil celangak celinguk mencari benda itu.
Dengan langkah yang tertatih Royco pun mencari-cari sebilah pisau dalam gubuk itu, Royco mencarinya kesetiap sudut bahkan kolong bale yang sudah reot itu. Pencarian Royco tak sia-sia karena dirinya bisa menemukan sebilah pisau dari gubuk itu.
"Syukurlah, aku bisa menemukan pisau ini." ucapnya yang langsung menaruh bokongnya diatas bale reot itu.
__ADS_1
Dengan terduduk sambil sedikit dihampiri rasa ketakutan akan rasa sakit yang teramat, Royco sejenak memejamkan matanya, lalu kembali membukanya dan memberanikan mencongkel mengeluarkan sebutir peluru itu dari dalam betisnya.
" Aaaaarhgggg."
Royco melolong sakit teramat sakit, ketika pisau itu beradu dengan kulit serta puluru yang tertanam. Merasa tak kuat akan sakit itu, Royco langsung mencabut pisau itu dari betisnya.
Untuk sesaat Royco terdiam seraya mengatur nafasnya, untuk menguatkan energinya yang tinggal sedikit itu, sebelum akhirnya dia kembali menggerakkan tangannya untuk mencongkel peluru itu.
"Aaaaaaaaarrghhh."
Royco kembali meraung kesakitan, saat pisau itu kembali beradu dengan kulitnya. Namun dengan sedikit tenaga yang tersisa, Royco mencoba terus untuk bisa menahannya hingga akhirnya, pisau itu berhasil mencongkel peluru keluar dari dalam betisnya.
Seketika itu juga, tubuh Royco langsung terkulai lemas. Tak lama, dia pun jatuh pingsan terbaring di atas bale reot itu, karena tidak kuat lagi menahan rasa sakit itu.
...****...
Disisi Adi, anak remaja yang pergaulannya sangat bebas itu, masih tidak habis pikir, kenapa Chery tiba tiba saja sadar ditengah tengah pergulatan nikmat mereka.
Penasaran, dia pun ingin mengetesnya. Hingga dia memberhentikan laju kendaraannya di sebuah taman. Ada cewek cantik yang telah duduk sendiri di kursi taman tersebut.
Tanpa pikir panjang lagi, Adi langsung memegang erat keris itu seraya mengucapkan mantra untuk memikat gadis yang di tunjuknya.
"Wahai keris ajaib, tolong buat wanita yang sedang duduk sendiri di kursi taman itu. mau menuruti segala keinginanku," batin Adi.
Untuk mengetahui gadis itu sudah terkena efeknya apa belum? dari kerisnya, Adi pun langsung turun dari kuda besinya dan pergi menghampiri gadis cantik itu.
"Halo, cantik. Kok, kamu sendirian saja sih? boleh aku temenin nggak nih?" ucap Adi yang langsung menaruh bokongnya duduk tepat di samping gadis cantik itu duduk.
Namun, sang gadis malah menggeser, menjauh dari duduk Adi. Sepertinya sang gadis terlihat tidak nyaman, saat Adi tanpa ijin langsung duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kenapa ya cowok ini? kok, dia tiba-tiba saja seenak hatinya menggoda dan main duduk aja di samping gue sih? itu 'kan tempat duduk cowok gue, kalau cowok gue tau pasti dia langsung menghajar cowok aneh ini." batin sang gadis seraya menatap tidak suka terhadap Adi.
"Heem, kok diam saja sih? kenapa tidak menjawabnya? boleh dong aku temenin kamu, biar kita bisa mengobrol. Yah siapa tau dengan mengobrol kita bisa lanjut terus ke ranjang," ucap Adi memulai kemodusannya tanpa basa basi.
Perkataan Adi sontak membuat gadis cantik itu langsung terkejut, marah serta rasa dongkol menghampiri gadis itu.
"Apa yang kamu bilang barusan tadi? kamu mau mengajakku ke ranjang?" tanya sang gadis marah.
"Iya, kamu mau'kan?" jawab Adi yang tidak tau kalau gadis di hadapannya itu terlihat marah.
Sontak saja membuat sang gadis, langsung berdiri dari duduknya dan langsung melayangkan tangannya itu ke arah Adi.
Plaak...
Plaak...
Dengan sangat keras sekali tangan lembut sang gadis langsung menampar bolak balik pipi Adi, karena dengan sangat lancang sekali mulut Adi mengajaknya ke ranjang.
Adi langsung tertegun, tidak menyangka gadis cantik itu akan menampar bolak balik pipinya. Kaget serta malu dirasakan oleh Adi, hingga sontak dirinya ikut bangun dari tempat duduknya.
"Dasar pria mesum! berani beraninya kamu berbicara seperti itu, kau pikir saya ini wanita murahan apa? wanita gampangan, yang seenak hatimu bisa kamu ajak bermain ke ranjang mu, cuih! tak sudih yah." sang gadis yang sangat marah sekali terhadap Adi.
Perkataan sang gadis, sontak membuat emosi Adi langsung meluap-luap. Bahkan sampai naik keubun ubunya, tak mampu lagi di tahannya dan berniat menutup mulut gadis itu dengan tamparan juga.
"Dasar! kamu wanita sialan!" ucap Adi seraya melayangkan tangannya ke arah pipi gadis itu.
Namun, tetiba tangan Adi langsung berhenti tepat melayang di udara, oleh cekeraman tangan pria yang notabenenya adalah sang pacar wanita tadi.
"Berani beraninya yah kamu mau menampar cewek saya?" Marah sang pria itu yang semakin kuat mencengkeram tangan Adi.
__ADS_1
"Sayang, kenapa pria bau kencur ini sampai mau menamparmu?" tanya pria itu kepada pacarnya.
"Dia sangat kurang ajar mas, masa Dia berani mengajak saya ke ranjang. Saya marah lah mas, terus menampar pipinya. Apa itu salah?" jelas sang wanita itu, mengaduh.