
Mobil polisi yang membawa Royco telah tiba di pelataran kantor tersebut.
Mantan OB itu keluar dari kabin dengan kaki berat. Tidak ada angin, tidak ada hujan pun namun tetiba badai menyerangnya. Sungguh hidup itu tidak bisa ditebak, kadang bisa beruntung, kadang juga bisa buntung.
Seperti halnya yang sedang terjadi menimpa pada diri Royco, kemarin Royco bisa beruntung dengan bantuan keris saktinya. Beruntung bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, namun sekarang, justru Royco mendapat kesialan. Kesialan buah dari hasil perbuatan Adi yang telah menyalahgunakan keris sakti miliknya.
"Mohon ya, Pak. Tolong kerjasamanya!" Briptu itu memberi peringatan awalnya untuk Royco yang susah amat hanya sekedar berjalan masuk ke kantor.
"Pak Polisi! sumpah demi apapun, saya tidak bersalah!" Royco kembali membela diri.
"Tenang saja, Pak. Anda di sini memang awalnya sebagai saksi sekaligus calon tersangka. Jadi sebelum Anda dinyatakan sebagai tersangka, untuk tindak pidana yang disangkakan kepada Anda, maka mari ikut saya untuk memberi pembelaan Anda. Dan sebagai prosedur kantor polisi, salah tidaknya orang itu, maka diwajibkan untuk tinggal 24 jam terlebih dahalu.
Royco kembali pasrah saat Briptu ini menggiringnya masuk ke kantor dan menyuruhnya duduk di sebuah kursi. Seorang juper pun sudah ada di meja tersebut.
"Mohon kerja samanya ya, Pak!" sang juper ingin memulai pekerjaannya.
Royco hanya mengangguk, dia pun menjelaskan kejadian di sekolahan tanpa di kurangi dan tanpa dilebihi. Mulai awal niatnya mencari barangnya yang hilang, berpamitan dengan Medi dan berakhir kebelet, hingga dia menemukan Leci yang sudah tergepar di lantai tanpa sehelai benang pun.
Royco belum sadar kalau di belakangnya sudah ada Papa Leci dan Pak Komite yang tidak akan membiarkan Royco bebas dari penjara. Ayah Markisa itu amat masih marah dan benci kepada Royco yang sudah berani memakan tubuh anaknya. Hingga, saat ini dia terpaksa mengasingkan Markisa jauh dari OB sok tampan itu. Cih!
"Kemarin, aku tidak melaporkanmu ke polisi karena otomatis akan membuat nama baikku tercoreng. Tetapi kali ini kesempatan aku untuk membalas mu." batin Pak Komite.
"Begitu, Pak, ceritanya!" Royco sudah selesai bercerita.
"Bohong, Pak Juper! Dia itu sudah berkelit sok jadi Pria polos. Aku saksinya! Mata kepala saya sendiri melihat dia menjamah tubuh Leci!" serga Pak komite membuat Royco segera menoleh kaget. Royco juga melihat kemarahan seorang pria setengah bayah yang ada di samping Pak Komite sedang menatapnya murka.
__ADS_1
"Anda tenang dulu Pak, saya belum menyuruh anda untuk memberikan keterangan, nanti akan ada giliran untuk Bapak dalam memberikan keterangan mengenai kejadian itu. Jadi, biarkan saya menginterogasinya sampai selesai dulu. Bapak duduklah saja dengan tenang." pinta sang Juper dengan sopan.
"Pak, Juper! saya mohon sama Bapak. Berikan hukuman yang setimpal kepada orang ini, karena orang ini sudah merusak masa depan dari anak saya. Bila perlu, penjarakan saja dia sampai seumur hidupnya, biar dia membusuk dan mati dalam penjara ini!" Papa Leci dengan emosi yang tersulut.
"Maaf Pak, saya tidak bisa langsung menghukumanya begitu saja, karena statusnya belum menjadi tersangka. Jadi, Bapak tenang yah. Biarkan saya memeriksanya dulu," terang Juper seraya menatap layar komputer di depanya dengan tangan itu menari indah di atas tombol keyboard mencatat semua ucapan dari Royco dalam layar monitor.
"Baiklah, sekarang giliran Anda Pak komite. Silahkan Anda menceritakan semua apa yang telah Anda lihat paskah kejadian itu." pinta Juper dengan memperbaiki posisi duduknya.
Pak Komite pun langsung mulai memberikan keterangannya dengan melebih-lebih 'kan ucapanya, mulai dari Royco yang menarik Leci masuk ke dalam toilet, sampai memaksa Leci untuk melayani nafs nya. Hingga, terlihat tubuh Royco yang sedang menindih tubuh Leci dibawahnya.
Keterangan Pak komite itu sontak membuat Papa Leci langsung kembali terbangun dari duduknya, dan langsung mengikis jaraknya dengan Royco.
"Kurang ajar!!!"
Papa Leci langsung menghantam kepala Royco dengan bertutubi-tubi, hingga akhirnya salah satu Briptu yang ada di situ pun sontak langsung melerainya.
"Hentikan Pak, hentikan, hentikan sekarang juga. Ini kantor polisi, Bapak jangan main hakim sendiri." ucap Briptu yang langsung menarik tubuh Papah Leci menjauh dari Royco.
Terlihat Royco menaruh kedua tangan menutupi kepalanya, saat Papa Leci berkali-kali menyerangnya. Sambil melirik tidak terima ke arah Pak Komite.
Pak Komite terlihat senang dalam hatinya berkata, Mampus, kau OB sialan !!! Saya sengaja melebih-lebihkan ceritanya, berharap kamu untuk dihukum seberat-beratnya.
"Bohong Pak Juper! Yang dikatakan oleh Pak, komite itu semuanya tidak benar. Bukan seperti itu kejadiannya," Royco mencoba menepis cerita palsu dari Pak komite.
"Pak, Juper! Tunggu apa lagi? semuanya sudah sangat jelas, OB sialan ini sudah terbukti bersalah. Sudah cepat masukan saja Dia ke dalam jeruji besi tahanan," desak Papa Leci terlihat marah.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang tinggal menunggu kesaksian dari korban. Untuk sementara Pak Royco harus bermalam dalam sel tahanan dulu, sampai benar-benar Pak Royco tidak terbukti bersalah. Briptu, bawa Pak Royco masuk kedalam sel tahanan." titah sang Juper.
"Pak, saya mohon. Jangan penjarakan saya, saya tidak bersalah, saya tidak pernah memperkosa Leci." Royco kembali membela dirinya.
Namun, itu sia sia saja. Tidak ada yang mendengarkannya. dia terus saja digiring menuju sel tahanan yang dingin dan kotor itu.
Pak Komite yang melihat itu menyeringai puas, dia amat senang melihat Royco dalam kesusahan. Mampus!
"Kenapa masalah gue rumit begini sih? apa karena efek keris itu yang hilang dari tangan gue? Aaargh, pusing! pusing! pusing! hanya kesaksian Leci nanti yang akan menolongku karena gue yakin, Leci tahu pelaku aslinya."
Di dalam sel, Royco bergumam sendiri seraya mondar mandir cemas seperti setrikaan. Di ruang sempit itu ada satu tahanan lainnya yang memperhatikan Royco dengan aneh.
"Hei, Bung! sampai kaki kamu lepas dari tubuhmu pun, mereka tidak akan melepaskanmu. So, welcome di hotel bintang lima yang makanannya paling buruk karena gratis. Hahaha." Tahanan itu tertawa meledek penghuni baru hotel gratis.
Royco hanya diam membisu, walaupun di dalam hatinya terasa dongkol.
"Eh, Bung! kamu bisa di sel karena berbuat apa? Rampok ayam? judi? OTT? membunuh, memperkosa atau---?"
"Di fitnah!" dengus Royco menserga pria cerewet di hadapannya. Royco akhirnya duduk pasrah di sudut ruang sempit tersebut.
"Oh, hahaa... fitnah? fitnah memang kejahatan orang yang sesunggunya. Dua kali menyakitkan bagi kita terima, Bung! Misalkan di fitnah memperkosa gadis di bawa umur....sudah tidak merasakan tubuh gadis itu, eh... dipenjara. Kan ngenes ya? mendingan sekalian memperkosanya. Iya nggak, Bung? dapat enak-enak dahulu tetapi berujung di sini."
Racauan pria tersebut yang sialnya betul banget dalam memberikan contoh, membuat Royco mengeraskan rahangnya menahan emosinya agar tidak meledak.
Cepatlah sadar, Leci. Aku menaruh harapan besar kepadamu, ini tidak adil bagiku. Batinnya.
__ADS_1