
"Astagfirullah..." Pak Ustadz yang bernama Leman itu terus saja istigfar, tersadar karena sudah dibuat dongkol oleh tiga pria yang ada di hadapannya.
"Kalian tentu saja tahu, kalau agama kita membenci permusuhan? atau kalian masih ingin mengulang pembelajaran dasar itu, Amien? Syarief?" Pak Ustadz menatap satu persatu sang empu nama. Lalu, menatap Royco yang kiranya inilah anak baru yang sudah diceritakan Pak Kyai kepadanya.
Tidak ada jawaban dari anak didiknya, yang keduanya hanya sibuk menatap lantai di bawah sana, Pak Ustadz kembali istighfar dalam hati. Menghela nafas sejenak lalu berkata, "Saling meminta maaflah! Saya mentoleransi kesalahan kalian kali ini. Tetapi kalau sampai saya melihat lagi kejadian yang tidak baik seperti tadi ataupun kelakuan unfaedah lainnya, maka maaf... saya akan bertindak tegas sesuai peraturan pondok kita. Paham?"
"Paham," kompak Amien dan Syarief berseru. Kecuali Royco yang belum tahu peraturan pondok tersebut, memilih diam karena tidak mau dianggap ikut ikutan.
Amien dan Syarief pun saling berjabat tangan di depan Ustadz, pertanda urusan alot mereka selesai. Itu menurut Amien, tapi menurut Syarief tidaklah semudah itu. Syarief masih menaruh kemarahan untuk Royco.
Ya....Roycolah yang disalahkan Syarief, karena gara gara si buruk rupa lah dia dan Amien jadi cekcok dan berakhir dicap jelek oleh Pak Ustadz, yang sebelumnya dia tidak pernah menjadi badboy dipondok tersebut.
"Oke, ikhlas ya?" tanya Pak Ustadz. Amien dan Syarief mengangguk patuh.
"Dan kamu anak baru itu, ya?" lanjut Pak Ustadz Leman ke Royco.
"Iya, Pak Ustadz. Saya Royco, anak baru di sini. Mohon bimbing saya agar lebih paham lagi akan segala sesuatu yang menyangkut agama kita," ujar Royco memperkenalkan diri, di sambung dengan untaian keinginannya yang terdengar bersungguh sungguh dalam belajar tentang hal agama. Dia ingin bertobat, agar segala dosa-dosanya yang hina itu diampuni oleh sang Maha Pencipta.
"Saya sudah tau namamu dari Pak Kyai," terang Pak Ustadz seraya tersenyum ramah ke Royco.
"Saya kesini hanya ingin mentitah Amien untuk membawamu berkeliling pondok, seraya menjelaskan dengan detail segala peraturan yang berlaku di pondok kita. Baik itu dalam pembelajaran maupun dalam bentuk kedisiplinan sebagai penghuni pondok. Bagaimana, Amien? kamu mau membantu Royco?" kata pak Ustadz itu panjang kali lebar.
"Saya bersedia, Pak Ustadz." ujar Amien menyanggupi. "Kalau begitu, saya dan Roy segera beranjak." lanjutnya undur diri amat takzim.
"Silahkan!" sahut Pak Ustadz.
Royco dan Amien pun keluar dari kamar itu terlebih dahulu, meninggalkan Syarief dan Pak Ustadz.
__ADS_1
"Itu adalah toilet plus kamar mandi para santri di sini," Amien menunjuk bangunan yang tersekat sekat kecil.
"Kamu harus bangun sebelum jam tiga pagi, segera mandi, lanjut sholat sunah, belajar mengaji, sholat subuh, baru boleh sarapan. Setelahnya kita juga wajib bergotong royong segala urusan pondok ini, seperti bersih bersih dan lain sebagainya. Nanti aku kasih jadwal untuk kamu....bla, bla, bla...."
Amien terus saja berceloteh riang di sela jalan santai mereka, untuk menjalankan segala tugas tugas santriwan di tempat itu.
Royco mencerna seksama, sesekali bertanya yang belum dia pahami. Sampai akhirnya, ada suara orang yang sedang mengaji mengusik telinganya.
"Suara perempuan itu lagi?" gumamnya seraya kepalanya itu celingukan mencari sumber suara. Amien yang melihat tingkah Royco yang terkesan konyol, jadi tersenyum geli. Ternyata teman barunya lucu juga. Kesan Amien dalam hati.
"Min, suara itu...?" ujar Royco seraya berjalan mondar mandir di depan Amien, tiba tiba hatinya pun di buat gelisah ingin menghampiri suara itu.
"Iya Roy, kenapa dengan suara orang mengaji itu?" tanya Amin nampak bingung saat melihat tingkah Royco.
"Suara itu darimana, Min? tolong bawa saya menuju ke suara itu!" seru Royco yang tidak sabaran seraya kedua tangannya memegang lengan Amien.
"Aku harus pergi, Min. Aku harus cepat pergi untuk menghampiri suara itu..." Royco meracau sendiri. Tak lama dia pun melangkah pergi mengikuti suara yang hingga saat ini masih terdengar jelas di telinganya.
"Roy, tunggu dulu! Kamu mau pergi kemana? jangan tinggalin saya Roy!" seru Amin yang langsung berjalan cepat mengekor dibelakang Royco.
"Suara itu... aku harus pergi ke suara itu." Royco masih meracau sendiri seraya berjalan cepat, menghampiri suara yang membuatnya penasaran.
Dengan tergopoh gopoh Amien terlihat masih berjalan mengekor mengikuti Royco.
"Roy, tunggu dulu! kamu mau pergi kemana sih?"
Royco menulikan telinganya, seraya terus berjalan untuk menghampiri suara itu. Dia tak menghiraukan Amien, yang kini masih terlihat berjalan mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Tetiba langkah Royco langsung terhenti, saat suara yang dikejarnya itu menghilang tepat dibalik dinding pembatas, yang menjulang tinggi menghalangi langkahnya dalam mencari sumber suara itu.
"Min, di balik dinding ini ada bangunan apa?" tanya Royco penasaran seraya meraba raba dinding beton yang ada dihadapannya.
"Kalau nggak salah sih, di balik dinding itu ada asrama khusus wanita Roy. Kita kita ini, dilarang untuk menginjakkan kakinya masuk ke dalam asrama itu. Begitupun sebaliknya, wanita dilarang masuk ke asrama kita." terang Amien menjelaskan peraturan yang ada di asrama wanita maupun di asrama pria.
Sontak Royco pun langsung menjungkitkan alisnya, merasa heran dengan peraturan pondok yang menurutnya tidak masuk diakal.
"Lantas, bagaimana kalau kita sampai melanggar peraturan itu?" tanya Royco penuh selidik.
"Yang jelas, sudah pasti di hukum dong Roy. Kamu mau tahu, hukumannya apa jika kita melanggar peraturan itu?" Amin seraya melihat dinding menjulang tinggi yang ada dihadapannya.
Royco hanya menggangguk setuju, sembari melirik kearah Amien. Royco seakan sudah siap membuka lebar lebar telinganya.
"Dikeluarkan dari pondok pesantren ini..." terang Amien seraya melirik kearah lawan bicaranya.
Dalam hati Royco langsung kaget, saat mendengar Amien memberitahukan hukuman orang yang melanggar peraturan ketat, yang dibuat oleh pengurus pondok pesantren itu.
Pesan dari Pak tua pun langsung terngiang ngiang di telinga Royco.
"Roy, jangan kecewakan orang tua ini..."
"Roy, jangan sia siakan pengorbanan orang tua ini..."
"Roy, belajar dengan sungguh sungguh. Buat orang tua ini bangga dengan pencapaianmu selama belajar di pondok..."
Teringat akan pesan Pak tua yang memasukan dirinya ke pondok itu, Royco pun langsung berjalan mundur sedikit menjauhi dinding pembatas itu.
__ADS_1
"Min, ayo kita pergi dari sini." ajak Royco dengan wajah sedikit kecewa. Kemudian memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan dinding itu.