
Saat ini Adi masih saja menikmati keampuhan keris itu. Dia masih beraktivitas wik wik bersama Cherry di dalam kamar mandi mewah Cherry. Berbagai gaya mereka sudah lakukan, hingga baik Adi maupun Cherry terus saja mendesaah-desahhh tidak karuan.
Tanpa keduanya sadari, ada sekilas cahaya yang keluar dari kantong celana Adi, lebih tepatnya itu adalah keris Royco. Keris tersebut mengeluarkan kodamnya, dan kodam itu berwujud seorang kakek kakek tua, namun Adi dan Cherry tidak melihatnya.
"Dasar manusia tak berakhlak! tak sudih saya terus tinggal dalam keris ini, jika keris ini dipergunakan untuk berbuat maksiat terus. Cuih!" Kodam yang berwujud Kakek-kakek itu sangat marah, dan dengan sekelebat mata kodam itu pun pergi. Tak mau tinggal dan menetap lagi dalam keris sakti itu.
Adi tidak menyadari kalau kerisnya sekarang itu sudah kehilangan kesaktiannya. Dia terlihat masih asik memacu kejantanannya yang saat ini masih menindihi Cherry.
Seperkian menit, Cherry yang sudah sadar dari efek kesaktian keris itu, tetiba merasa linglung. Sejenak, Cherry terdiam... mencoba mencerna apa yang sedang terjadi? kenapa ada pria ingusan itu di atas tubuhnya? apakah dia hanya mimpi basah bersama bocah ini?
"Oh, Cherry ini sungguh enak sekali." racau Adi. Cherry lantas sadar seratus persen dari kelinglungannya. Dia segera mendorong dada Adi agar turun dari tubuhnya. Dan Adi pun terkejut yang terjungkal ke lantai.
"Auw!" pekik Adi.
"Bocah sialan! lo kok bisa di sini dan gilanya lagi, lo uda memperkosa gue!" maki Cherry.
"Cherry, itu--- Aku!" Adi tidak tahu harus ngomong apa. Ah, sial! kenapa malah begini sih? batinnya yang curiga kalau Cherry sudah tidak terefek oleh keris itu.
"Awas ya! Gue cabut anu mu itu!" Sarkas Cherry tidak main main yang ingin memberi Adi pelajaran. Cherry yakin kalau bocah ingusan itu pakai pelet.
"Cherry, jangan!" Adi bergegas memakai celananya ketika Cherry sibuk mencari benda tumpul yang berniat menyakiti kejantanannya.
"Eh, jangan lari kamu, bocah!" pekik Cherry. Adi tidak nafs lagi untuk menuntaskan hasratnya. Dia ngebirit keluar seraya memakai bajunya. Dari pada pisangnya ditebas mending kabur.
"Kalau kita bertemu lagi, gue gorok leher lo! pekik Cherry. Dia tidak mengejar Adi karena sadar akan penampilannya yang polos.
Sementara di sisi Royco. Saat ini, dia terlihat tidur meringkuk di dalam penjara, sangat menyedihkan keadaannya itu. Di sela terlelapnya, Kakek buyut pun datang kedalam mimpi.
"Kakek?" Sapa Royco kepada kakeknya yang sedang berdiri tepat membelakanginya. Dan tanpa ragu dirinya langsung menghampiri kakek itu berharap bisa mencium tangannya.
__ADS_1
Namun siapa sangka, sang kakek dengan tiba-tiba saja langsung menghentikan langkah Royco dalam mendekatinya.
"STOP! jangan coba-coba untuk mendekati saya!" ucap sang kakek dengan marah, sontak membuat Royco kaget.
Royco sadar betul kakeknya itu sedang marah besar terhadapnya, karena kesalahan dirinya yang tak bisa menjaga barang pemberiannya.
"Maafkan saya Kek, saya tidak bisa menjaga baik-baik keris itu. Saya bersedia mendapatkan hukuman dari Kakek, hukuman apapun pasti saya akan menerimanya kek. Asalkan kakek bisa memaafkan kesalahan saya," ucap Royco dengan pasrah.
"Baiklah, jika itu kemauan mu. Demi menebus kesalahanmu itu, Kakek akan mengukummu. Jadilah kamu manusia penuh bisul yang bernanah, dan sebagai obatnya kamu harus mencari keris itu. Dan kamu harus menyatukan keris itu pada sarungnya."
Deg...
Di dalam mimpi itu, Royco seketika berlutut lemas di depan sang kakek. Dia menangis mendengar rutukan naas yang menghardiknya.
"Kakek, ku mohon beri petunjuknya, kek. Agar memudahkan ku mendapat keris dan sarungnya kembali." pinta Royco memelas.
"Kakeeeeeek...!" teriak Royco terbangun dari mimpinya.
Lantas teriakan itu membuat teman satu selnya ikut terkejut. Dan berkata, "Woi berisik tau! lo kira ini di hutan, hah? hingga lo bisa teriak seenak hati, ck. Ganggu tidur orang aja!" bentak teman satu sel Royco.
"Maaf bro, gue kagak berniat ganggu elo tidur." ucap Royco seraya mengusap keringat dinginnya.
"Yasudah! lanjut tidur lagi sana," ucap teman satu selnya.
"Elo duluan aja bro, sekarang gue udah kagak ngantuk lagi," sahut Royco dengan nada bergetar.
Untuk sesaat Royco melamaun, memikirkan mimpi yang baru dialaminya. Sementara temannya itu sudah kembali terlelap.
Tetiba, Royco merasakan gatal yang teramat sangat menyerang seluruh tubuhnya, bahkan gatel itu semakin tidak bisa di tahannya. Semakin dia menggaruknya semakin menyebar luas gatel pada tubuhnya.
__ADS_1
"Astaga! kenapa tiba-tiba saja seluruh tubuh gue menjadi gatel yah? apa mungkin kutukkan kakek dalam mimpi itu nyata?" batin Royco seraya menggaruk-garuk seluruh tubuhnya yang terasa gatal.
Terlihat, Royco terus menerus menggaruk tubuhnya. Hingga kulitnya terlihat memerah dan timbul bintik-bintik bisul disertai nanah.
"Auw sakit! bro tolongin gue, bantu gue ngegarukin tubuh gue yang gatal," pinta Royco yang tak henti-hentinya terus menggaruk seperti monyet.
Namun, sang teman terlihat asik terlelap, sehingga teriakan Royco tak sampai menembus telingannya.
Semakin lama bintik bintik itu berubah menjadi bisul, dan lama-lama bisul itu pun pecah mengeluarkan cairan nanah. Bahkan, cairan nanah itu mengeluarkan bau amis yang begitu menyengat.
"Auw sakit, tolongin gue bro!" pekik Royco seraya mengguncang-guncangkan tubuh teman satu selnya.
"Ada apa sih bro? ganggu gue tidur aja, gue ngantuk tau. Bisakah elo nggak ganggu gue," ucap teman satu selnya seraya mengucek matanya.
Tetiba hidung teman satu sel Royco mengendus aroma amis yang sangat luar biasa, seakan dengan sekejap mampu mengocok-ngocok isi perutnya.
"Hoowek...hoowek, bro ini bau apa'an sih? gue sampai ingin muntah mencium bau ini." tanya teman satu selnya Royco yang belum sadar.
Sang temen pun terus mengendus bau itu, mencari asalnya dari mana.
Ia terkejut seraya mimik jijik terpancar langsung pada wajah sang teman, saat melihat wajah serta kulit Royco dipenuhi bintik-bintik bisul disertai bau amis itu.
"Bro, wajah dan kulitmu...? kok tiba-tiba saja di penuhi bintik dan bisul, bahkan baunya sungguh sangat tidak enak sekali. Sono jauh-jauh dari gue! gue kagak mau sampai tertular oleh penyakit elo itu."
Orang itu bergidik jorok seraya menutup hidungnya.
Sementara Royco terus saja menggaruk garuk kulitnya, berharap rasa gatal itu menghilang. Tapi naas, selama dia menggaruknya, maka rasa gatal yang luar biasa itu kian bertambah menyerang semua bagian tubuhnya.
" TOLONG!" Pekik Royco. Berharap sang petugas sel datang membantunya.
__ADS_1