
Sekian menit dalam perjalanan, akhirnya Royco pun tiba di depan pintu gerbang sekolah. Dia pun langsung turun dari atas motor besarnya, dan berjalan pergi menghampiri pintu gerbang yang telah tertutup itu.
"Pak, security." panggil Royco. Dan security itu pun menoleh dan langsung menghampiri Royco.
"Eh, kamu Roy. Ngapain kamu kesini? bukankah kamu sudah tidak bekerja lagi di sekolahan ini?" tanyanya heran dengan kedatangan Royco.
"Iya nih, Pak. Saya kesini cuma ingin mau mencari barang saya yang hilang. Sebab saya sudah mencari ke setiap sudut kontrakan, tapi hasilnya nihil Pak. Barang kali saya bisa mencarinya di sekitaran sekolah ini, soalnya saya selalu membawanya kemanapun saya pergi." ucap Royco dengan mengutarakan maksudnya.
"Yasudah masuklah, tapi jangan lama-lama yah? saya nggak enak, sebab kamu 'kan bukan bagian dari sekolahan ini lagi." ucap security yang langsung membuka pintu gerbang itu.
"Makasih Pak, saya nggak akan lama kok." ucap Royco yang langsung melangkah masuk.
Dengan Mata itu, Royco tak henti-hentinya terus melihat sekeliling jalan yang dilaluinya, berharap dia bisa menemukan kerisnya yang telah hilang itu.
"Mudah-mudahan gue bisa menemukan keris itu di halaman sekolahan ini, ya Tuhan bantu saya untuk bisa menemukan keris itu di tempat ini." Royco membatin cemas.
Terlihat Royco langsung berjalan untuk mencari kerisnya yang telah hilang. Mulai dari lantai bawah hingga ke lantai yang paling atas semuanya Royco jelajahi, tanpa adanya rasa capek dalam dirinya.
Di setiap sudut yang ada di sekolahan itu pun, tak luput dari pandangan Royco dalam mencari-cari keberadaan kerisnya yang hilang, namun sampai saat ini dirinya tak bisa menemukan keris sakti itu.
"Astaga! kemana lagi gue harus mencari keris itu? semua tempat sudah gue jelajahi, tapi sampai detik ini gue belum bisa menemukan keberadaannya. Oh iya, kantor OB. gue kan pernah nyimpan keris itu dalam looker room, siapa tau keris itu tertinggal disana." batin Royco yang menduga-duga.
Tanpa pikir panjang lagi, Royco langsung bergegas lari pergi menuju kantor para OB, berharap dia bisa menemukan keris yang di carinya ditempat itu.
Sekian menit Royco berlari menuju kantor para OB, kini Royco pun sudah berdiri tepat di ambang pintu. Terlihat olehnya, Medi yang menjadi bekas atasannya itu sedang sibuk merapikan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya.
"Siang Pak," sapa Royco yang sedang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Siang, eh kamu Roy? ayo silahkan masuk Roy." pinta Medi seraya berjalan pergi menghampiri Royco.
Dengan perasaan hormat terhadap Medi, Royco pun melangkah masuk kedalam kantor itu, dan langsung menaruh bokonganya untuk duduk di atas kursi.
"Oh iya Roy, apa ada hal penting sehingga membuatmu datang kesini?" tanya Medi mengenai maksud Royco.
"Iya Pak, saya lagi kehilangan barang berharga kepunyaan saya. Yah siapa tau barang itu ada dalam loker bekas saya gunakan," ucap Royco dengan maksudnya.
"Kia-kira barang apa yah Roy?" tanya Medi penuh selidik.
"Wasiat dari Kakek Buyut saya Pak, dan maaf. Saya tidak bisa menyebutkan nama barang itu kepada Bapak." ucap Royco.
"Oke, baiklah. Silahkan kamu cari sendiri barang itu dalam lemari, bekas kamu pakai menaruh barang-barang mu." titah Medi sopan.
"Terimak kasih Pak, saya ijin pergi ke loker room yah Pak." ijin Royco.
"Silahkan Roy, nggak usah sungkan-sungkan." ucap Medi yang memberikan ijinnya.
Brakk...
Seketika itu juga tulang belulang milik Royco terasa lemas dan terpancar raut wajah yang terlihat sangat kecewa, ketika dirinya melihat isi lemari lokernya yang kosong tanpa ada satu pun barang mengisi loker itu.
"Hancur lah hidup gue sekarang ini. Kek, maafkan lah kesalahan Cucu Buyut mu ini. Cucu mu ini telah lalai dalam menjaga barang yang telah kau amanat 'kan itu, sekarang Cucu mu ini pasrah, dan Cucu mu ini siap menerima hukuman dari mu Kek. Cucu mu ini memang layak di hukum," batin Royco sangat menyesal.
"Bagaimana Roy? apakah ada barang berharga yang hilang itu di lemari loker mu?" tanya Medi.
"Nggak ada Pak," jawab Royco dengan tertunduk lesu.
__ADS_1
"Yasudah, kamu jangan kecewa. Kamu cari yang benar dulu di kontrakan, siapa tau terselip oleh barangmu yang lain." ucap Medi.
"Iya Pak, kalau begitu, saya pamit pergi ya. Makasih sudah memberi ijin saya untuk bisa melihat loker saya," ucap Royco pamit.
"Sama-sama Roy," jawab Medi seraya menepuk bahu Royco.
Ditempat lain, tepatnya di dalam sebuah toilet pria, terlihat Adi begitu sangat senang sekali bisa membuktikan kesaktian dari keris itu.
Dengan keris sakti itu dirinya berhasil membuat Leci pasrah dalam tindihan napsu nya, bahkan dengan keris itu Adi bisa merasakan membobol gawang perawan dari seorang gadis.
Setelah Adi selesai menyemburkan lahar putihnya di dalam rahimnya Leci, dan dengan perlahan-lahan Adi mencabut pisang ambon
Tak lama Adi pun langsung mengeluarkan pisang ambon miliknya, setelah pisang itu menyemburkan lahar putihnya dalam rahim Leci.
Mulai nampak terlihat cairan putih yang sangat kental mengalir keluar dari liang nikmat Leci, saat pisang ambon Adi keluar dari sana. Untuk sesaat Adi langsung terdiam, merasakan sisa-sisa denyutan dari pisang ambon miliknya. Sebelum akhirnya Adi mengambil baju seragamnya untuk di pakainya lagi.
"Ci, bangun. Sebelum anak-anak yang lain pada istirahat, kita sudah harus secepatnya pergi dari sini. Ayo cepat pakai seragammu," ucap Adi tanpa menoleh seraya memakai kembali baju seragam sekolahnya.
Leci hanya terdiam seakan tak mendengar ucapan Adi yang menyuruhnya untuk bangun dan lekas memakai baju seragam sekolahnya.
"Kok, lo malah diem sih Ci? ayo bangun Ci, cepat pakai baju seragamu." ucap Adi seraya menggoyangkan tubuh Leci.
Namun tetap saja Leci tak bergeming, meskipun tubuhnya diguncang-guncangkan oleh Adi.
"Yah, kok elo malah pingsan sih Ci? baru di
bobol perawannya saja elo sudah pingsan. Yasudah lah, jangan salahin gue jika gue tinggalin elo sendirian dalam toilet ini. Gue mau pergi dari sini sebelum siswa siswi yang lain pada istirahat," racau Adi yang mengancam.
__ADS_1
"Maafin gue yah Ci, terpaksa gue ninggalin elo dalam keadaan begini. Sebab gue kagak mau jika orang-orang mengetahui perbuatan kita dalam toilet ini." batin Adi yang berlalu keluar dari toilet.
Akhirnya Adi pun pergi meninggalkan Leci yang sedang terbaring pingsan, dengan keadaan tubuh yang polos seluruhnya. Adi tak mau kalau sampai perbuatannya dengan Leci, akan bisa diketahui oleh siswa-siswi yang lainnya kalau dirinya terus berada lama dengan Leci dalam toilet itu.