HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 64


__ADS_3

Syarif yang tiba tiba muncul dibelakang Royco menjadi sangat marah, saat secara tak di sengaja Royco menabrak dirinya.


"Ma--maaf, Rif. Saya tidak sengaja." Royco dengan gagap langsung meminta maaf atas kesalahan yang tak disengajanya.


Namun Syarif hanya terdiam, seraya menatap tajam wajah Royco. Tak menanggapi permintaan maaf yang terucap dari mulut Royco.


"Maaf, katamu...? enak saja, tidak semudah itu. Terlebih dulu kamu harus bersujud dan mencium kakiku. Baru saya bisa memaafkanmu."


Syarif dengan rasa tidak sukanya, mencoba memanfaatkan kesalahan kecil yang di perbuat oleh Royco. Dia berbisik ke Royco tentang syarat nya itu, karena tidak mau didengar oleh orang lain yang memang lagi ramai keadaan sekitanya.


"Maaf Rif, saya tidak bisa melakukan hal hina itu. Sujudku hanya untuk kedua orang tua serta Tuhanku. Tak pantas hanya karena kesalahan kecil, kamu menyuruh saya untuk bersujud dan mencium kakimu." tolak Royco dengan tegas.


Sontak membuat Syarif langsung meradang, namun mencoba menahannya, lalu kembali berbisik dingin ke Royco.


"Kamu itu masih baru di pondok ini. Bahkan, ilmu kamu itu belum ada apa apanya jika dibandingkan dengan ilmu saya, tak pantas kamu menggurui saya!" bisik nya.


Tersadar dirinya masih baru di pondok itu, Royco pun langsung terdiam.


"Kenapa diam? ayo kita ke tempat sepi dan mulai lah meminta maaf dengan syarat seperti tadi yang saya bisikan," ajak Syarief. Dia tidaklah bodoh meminta terang terangan di depan santri banyak. Adanya dapat masalah, nanti.


"Enggak Rif, saya nggak bisa melakukan hal itu." Royco berusaha terus menolak keinginan Syarif, yang menurutnya sangatlah hina untuk dilakukannya.


"Itu... Syarif lagi ngapain dengan Royco yah? apa jangan jangan..." Amien berbicara sendiri karena dari kejauhan dirinya yang tak sengaja melihat Syarif bersama Royco, dia pun bergegas langsung berlari pergi menghampirinya. Merasa cemas Syarif akan melakukan hal buruk terhadap Royco.


Syarif terlihat terus memaksa dengan cara menarik narik tangan Royco, untuk ikut bersamanya ke tempat yang lebih sunyi. Namun dengan keukeh, Royco pun terus sekuat tenaga berusaha untuk menolaknya.

__ADS_1


"Rif..." teriak Amien yang tengah mengikis jaraknya dengan berlari menghampiri kedua temannya.


Sontak Syarif dan juga Royco sedikit terkejut dibuatnya, terdiam untuk sesaat melihat Amien tengah berlari menghampirinya.


"Rif, lepaskan tangan kamu dari Royco! Kamu mau apakan Royco?" tanya Amien penuh selidik.


"Sudahlah Mien, kamu jangan ikut campur akan hal ini. Buruk rupa ini telah membuat satu kesalahan, untuk itu salahkah jika saya menyuruhnya untuk meminta maaf padaku?" terang Syarif dengan tangan itu, masih mencengkeram kuat tangan Royco.


"Roy..." teriak Amien dengan menatap mata Royco, seakan menanyakan tentang kebenaran akan ucapan Syarif.


Royco terlihat diam hanya mengangguk tanda setuju, untuk mewakili ucapannya. Tak lama diapun mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya telah terjadi.


"Tapi... saya sudah meminta maaf Mien, sama Syarif untuk kesalahan itu. Masa gara gara hal sepele, Syarif sampai menyuruh saya untuk bersujud dan mencium kakinya. Apakah itu pantas untuk saya lakukan Mien? jelas saya menolaknya, namun Syarif terus saja memaksa saya untuk melakukan hal itu." terang Royco dengan mengatakan hal yang sebenarnya.


Mendengar itu, sontak Amien langsung menghampiri Syarif seraya menghempaskan tangan Syarif hingga melepaskan cengkeramanya.


"Bulsit lah, Mien! terserah kamu mau menilaiku seperti apa?" umpat Syarif merasa kesal yang kemudian berlalu pergi, merasa malas ketika mendengar ucapan Amien yang seakan mengguruinya.


Tanpa melihat ada orang didepannya, Syarif pun berlari pergi meninggalkan Royco dan juga Amien. Alhasil tanpa disengaja Syarif pun sampai menabrak salah satu santriwati yang sedang berjalan pergi menuju ke sebuah pendopo untuk belajar mengaji.


Gubrakk...


"Auw..." pekik Markisa kesakitan.


Melihat itu, sontak hatinya Royco merasa tersentak ingin pergi menghampiri serta menolongnya.

__ADS_1


"Markisa..." teriaknya dengan refleks dan langsung berlari pergi menghampiri Markisa yang tengah terjatuh itu. Sementara Amien dibuat terdiam karena merasa heran dengan Royco, saat mendengar nama yang mencuat dari mulut Royco memanggil santriwati yang jatuh akibat di tabrak oleh Syarif.


"Markisa... apakah Royco sangat mengenal santriwati itu? bukankah Royco masih baru di pondok ini? tapi kenapa dia tahu nama dari santriwati itu? " dalam hati Amien langsung bertanya tanya akan kejadian yang baru saja di lihatnya.


Sementara Syarif yang menabraknya, langsung bangun dan berlalu pergi begitu saja, tanpa menolong bahkan meminta maaf untuk kesalahan itu terhadap Markisa.


"Markisa... kamu nggak kenapa napa?" tanya Royco cemas. Tak lama diapun langsung membereskan peralatan sholat Markisa yang berserakan menyentuh tanah.


Royco dibuat kaget saat dirinya melihat suatu benda yang berwarna kuning keemasan, yang dilihatnya tidak jauh dari tempat Markisa terjatuh.


Penasaran dengan benda itu, akhirnya Royco pun langsung meraih benda itu.


"Astaga! bukankah ini sarung dari keris yang saya punya? tapi kenapa benda ini ada pada Markisa? apakah Markisa pemilik dari benda ini?" batin Royco yang bertanya tanya akan benda yang baru saja ditemukannya, seraya menatap penuh selidik benda yang sekarang lagi di pegangnya.


Melihat barangnya disentuh oleh pria asing, tapi suara itu sangat familiar di telinganya. Markisa bergegas menyerebut benda itu dari tangan Royco.


"Maaf, ini punya saya. Dan terima kasih sudah membantu saya. Mari...."


Markisa bergegas pergi tanpa ingin berlama lama berbicara bersama seorang pria yang memang sudah lama dihindarinya. Selama berada di pondok, pribadinya seketika menjadi tertutup. Bahkan, Markisa tidak mau berlama lama menatap Royco. Bukan karena pria itu terlihat buruk rupa, melainkan kerena memang menjaga diri dari yang namanya dosa.


"Markisa tunggu---"


"Ehem, santri yang bukan muhrimnya dilarang keras saling mengobrol santai."


Sontak Royco terpaku dari langkahnya yang ingin mengejar Markisa, karena suara Pak Ustadz Leman terdengar tepat di dibelakangnya.

__ADS_1


Royco pun langsung berbalik, menatap sejenak pak Ustadz Leman yang sudah berdiri bersama Amien pun. "Maaf, Ustadz. Saya tidak bermaksud demikian. Tadi saya hanya membantu sekedar membantunya tadi karena terjatuh, itu saja." Terang Royco sedikit berbohong yang tidak mungkin mengatakan secara gamblang kalau wanita tadi adalah wanita istimewanya.


"Eum, saya melihat itu." kata Ustadz lalu tersenyum penuh arti. "Kalau begitu, mari kita ke pendopo. Kita mengaji bersama sama." Ajak Pak Ustadz Leman. Royco dan Amien pun setuju akan hal itu. Tapi jujur, perasaan Royco saat ini berkecamuk. Dua hal otak Royco menjadi tidak sinkron, yakni keberadaan Markisa dan sarung kerisnya?


__ADS_2