
Mendapat aduan dari wanitanya, jelas membuat pria itu langsung tersulut emosinya. Terlihat, rahang sang pria langsung mengeras hingga terdengar gemeretak gigi yang saling beradu, pertanda betapa sangat marahnya pria itu terhadap Adi.
"Sialan, Lo. Bocah ingusan sudah berlagak Don Juan. Punya apa lo, hah? kesaktiankah?"
Bugh...
Bugh...
Adi dihajar. Jab demi jab membabi buta jatuh pada pipinya.
Bugh...
Saat Adi bermaksud untuk melawan pria yang berotot itu, dia malah mendapatkan tendangan memutar tepat jatuh mengenai rahangnya.
Bugh...
Seketika juga tubuh Adi langsung ambruk, bak mendapatkan tendangan KO dari sang pria. Sementara orang orang di sekitar hanya terdiam, sebab mereka tau perbuatan kurang ajar dari ABG itu.
"Sudah, mas. Sebaiknya kita langsung pergi saja dari sini," pinta sang wanita seraya menarik tangan sang kekasih.
"Mampus! lo bocah ingusan, cuih!" umpat kasar sang pria sebelum sepasang kekasih itu pergi membiarkan Adi tergeletak tak berdaya.
Merasa iba, akhirnya salah satu pedagang yang berjualan di taman itu pun, langsung menghampiri Adi.
"Mas, ayo bangun. Kamu nggak apa apa kan?" ucapnya seraya menyentuh lengan Adi yang tersungkur di tanah.
"Aww..." ringis Adi seraya mencoba untuk duduk.
"Mas tidak apa apa?" ulang pedagang itu.
"Nggak kenapa-kenapa apanya? sudah babak belur begini malah ditanyain pertanyaan bodoh," Adi berketus kesal.
"Ck, uda diberi rasa iba malah nyolot, nyesel saya. Ternyata orang sombong!" Pedagang itu pergi setelah membalas keketusan Adi.
"Gue nggak butuh diberi rasa iba. Aww...." ringis Adi tetiba. Ternyata sudut bibirnya berdarah.
"Sial benar sih hari ini!" Adi marah marah sendiri seraya mencoba berdiri pelan. Rasa tubuhnya saat ini seperti dalam keadaan remuk.
__ADS_1
"Apa lihat lihat!" ketus Adi ke pengunjug taman yang setia menatap dirinya. "Lo lo pada pikir gue tontonan, hah?"
Huuuuu... sorak beberapa pengunjung. Mereka jadi menyoraki Adi. Memang pantas untuk dihajar, pikir mereka.
"Ini semua gara gara keris ini." Adi menatap sangat marah keris yang di genggamnya, dan tak lama, dia pun melemparkan jauh jauh keris sakti yang sudah hilang tuahnya itu.
"Enyah kau dari kehidupanku dasar keris jelek! keris nggak berguna, keris yang hanya mampu menghadirkan kesialan bagiku." umpat Adi setelah melemparkan keris itu entah kemana.
Tring...
Keris itu tak sengaja jatuh tepat di depan pria tua, yang hobby mengumpulkan barang barang antik, atau bisa disebut sebagai kolektor barang barang unik.
"Ahh, benda apa ini?" gumamnya seraya berjongkok untuk mengambil keris yang tergeletak di tanah.
Dengan rasa penasaran pria itu pun terus menatap penuh selidik benda kramat itu, dengan terus membolak balikan benda yang sekarang lagi berada dalam genggamannya.
"Astaga! benda ini? i---ni, keris sakti yang berbentuk semar itu. Keris yang konon katanya, mampu membuat hati setiap wanita bertekuk lutut terhadap sang pemiliknya. Kenapa benda keramat ini terbiarkan terbuang begitu saja di jalanan? ini sangat sungguh disayangkan sekali, bagaimana coba? jika keris ini jatuh ke tangan yang salah, mungkin keris ini akan disalahgunakannya." batinya yang langsung menyimpan benda itu dalam saku jaketnya.
Tak lama, sambil membawa keris itu, akhirnya pria tua itu pun pergi meninggalkan tempat itu. Entah kemana pria itu akan membawanya pergi keris sakti itu bersamanya.
...****...
Dalam alam bawah sadarnya, Royco langsung terkejut saat melihat jasad nya sendiri tengah terbujur kaku di hadapanya.
"Astaga! kenapa pakaian ku serba putih? apakah sekarang saya sudah mati? " gumamnya dengan bingung
Tak lama seberkas cahayapun datang menyinari Royco, seakan cahaya itu menariknya dengan sangat kuat tubuhnya terbang ke awan.
Alangkah terkejutnya diri Royco saat sinar itu menarik dan membawanya ke tempat yang paling indah, tempat yang belum pernah dia kunjungi. Bahkan, dia tidak perna melihat sama sekali di dunia.
"Wow menakjubkan! tempat apa ini? terlihat begitu sangat indah sekali!" serunya mencoba meresapi kesejukan dari tempat itu.
"Dasar cucu gendeng! orang di suruh mencari keris, malah main-main ke tempat ini." suara sang Kakek Buyut begitu sangat menggelegar, membuat Royco kaget bukan kepalang.
"Kakek Buyut!" seru Royco merasa kaget sangat luar biasa.
"Ngapain kamu datang ke tempat ini, Cu? bukanya Kakek menyuruhmu untuk mencari keris itu?" tanya kakek Buyut.
__ADS_1
"Maafkan aku Kek, a---aku tidak tau. Kenapa aku bisa sampai berada di tempat ini?" Royco dengan gugup.
"Mendekatlah Cu," pinta Kakek Buyut.
Royco pun turut mendekati sang Kakek Buyutnya.
"Kek, kenapa saya tiba tiba bisa berada di tempat yang sangat indah ini? saya jadi kepingin tinggal di tempat yang indah ini bersama Kakek." pinta Royco.
"Kamu belum pantas tinggal di tempat ini Cu," ucap Kakek Buyut.
"Kenapa Kek, kenapa saya tindak pantas tinggal di tempat ini?" tanya Royco.
"Karena, kamu belum waktunya untuk tinggal di tempat ini. Hidupmu masih di penuhi dengan banyak dosa dosa besar, tak pantas untuk kamu tinggal tempat suci ini." terang Kakek Buyut.
"T--tapi kek? saya ingin sekali bisa tinggal di tempat ini bersama kakek." pinta Royco kekeuh.
"Baiklah, untuk itu kamu harus mencari keris pemberian Kakek yang kamu hilangkan itu. Dan kamu harus bisa menyatukan keris itu bersama dengan tempatnya. Kelak nanti, keris itu akan menuntunmu pada jalan kebaikan serta merubah hidupmu menjadi lebih baik lagi. Sehingga suatu saat nanti, kamu bisa tinggal bersama kakek di tempat yang indah ini." terang sang Kakek Buyut.
"Baik kek, saya akan terus berusaha mencari keris itu dan menyatukannya bersama tempatnya juga. Jika saya berhasil menemukan keris itu, saya akan langsung mengembalikannya ke Kakek." ucap Royco.
"Kembalilah kamu pulang ke ragamu, sebelum ragamu itu habis dimakan oleh binatang buas." titah kakek Buyut.
"Baik Kek," ucap Royco.
Tak lama Royco pun langsung tersadar dari pingsannya, saat sukmanya kembali masuk kedalam raganya.
"Auw, sakit! saya harus cepat keluar dari dalam hutan ini sebelum fajar tiba." gumamnya.
Dengan berjalan sambil tertatih tatih, Royco pun langsung berjalan dengan menyeret satu kakinya menuju keluar dari hutan.
Setengah jam Royco berjalan dengan susah payah keluar dari hutan, akhirnya dia pun telah berhasil melewati hutan itu.
Gubrak...
Royco kembali menjatuhkan tubuh lemasnya ke tanah, karena tak sanggup lagi berjalan dengan kondisi tubuh yang memperihatinkan itu.
"Tolong," paraunya berteriak. Namun suara lemah itu tak mampu didengar oleh siapa pun.
__ADS_1
Merasa percuma dalam berteriak, dia pun bangkit lagi dan tertatih tatih tanpa arah tujuan.