
"Kak Roy..." dengan lirih bibir itu memanggil nama orang tercintanya. Tak lama Markisa pun berjalan dengan perlahan menghampiri Royco.
Tap...
Tap...
Tap...
Langkah kaki Markisa berhenti, tepat di depan Royco. Untuk sesaat Markisa terdiam, seraya menatap dalam dalam wajah buruk rupa milik Royco.
Royco sendiri hanya diam seribu bahasa, dengan perasaan berkecamuk yang terasa.
Markisa sampai tak berkedik menatap, Kenangan indah waktu bersamanya pun, mulai bermunculan hadir dalam ingatan Markisa, sehingga tanpa sadar air matanya pun terlihat mengalir deras membasahi pipinya.
"kak Roy, benarkah ini kamu?" tanyanya dengan tangan itu terangkat ingin menyentuh wajah Royco.
Royco langsung mundur satu langkah, seakan menolak wajah buruk rupanya, di sentuh oleh tangan lembut Markisa.
Markisa langsung tertegun, dengan tangan itu masih melayang di udara.
"Kenapa, Kak?" tanya Markisa merasa ditolak.
"Saya tidak mau kalau sampai tangan Adek kotor, gara gara menyentuh wajah buruk ini," terang royco yang tertunduk malu.
"Kotor?"ulang Markisa mencerna. Sejurus menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak setuju dengan ucapan Royco. "Cinta tidak memandang fisik, kak Roy," sedih Markisa ingin mengeluarkan uneg-unegnya. "Aku sudah sangat merindukan hari ini. Hari di mana pertemuan kita untuk pertama kalinya lagi, dikala terpisah karena masalah. Tapi..." Markisa sejenak membuang nafas kasarnya baru melanjutkan ucapannya.
"Tapi aku serasa ditolak..." sambungnya dengan nada sedih.
Giliran Royco-lah yang menggeleng-geleng, tidak setuju dengan ucapan Markisa yang katanya ditolak. Itu sangat tidak betul..
__ADS_1
"Bukan begitu maksud saya. Tapi..."
"Tapi kenapa, Kak? Apakah kakak sudah punya penggantiku?" tuding Markisa yang main potong saja penjelasan Royco.
Mendengar itu, Royco tersenyum kecut. Lalu berkata, "Mana ada wanita bodoh yang mengingkan laki laki buruk rupa macam saya. Tidak ada, Dek!"
"Ada, dan itu aku!"
Deg...
Mendengar jawaban cepat Markisa yang amat jelas terdengar, membuat hati Royco lega nan senang. Amien pun yang sedari tadi menyaksikan dalam diamnya, ikut tersenyum. Bukan wajah saja yang terlihat cantik, tetapi Markisa memiliki sifat yang rendah hati, batin Amien memuji.
"Benarkah, kamu tidak jijik dengan wajah saya yang bukan Royco dulu lagi?" tanya Royco ingin memastikan.
"Iya. Aku masih Markisa yang sangat mencintaimu, kak. Dalam setiap penghujung sajadah ku, hanya namamu-lah yang terucap. Dan lihatlah, asa ku sudah ada di depan mataku saat ini. Dan itu adalah kamu, kak Roy! Hanya kamu-lah Pria pertama dan terakhir yang ada di dalam hatiku," jujur Markisa yang selama ini benar benar merindukan Royco dalam diamnya selama berada di pondok.
Untaian manis Markisa, membuat Royco terharu. Matanya sudah berkaca-kaca seraya maju kehadapan Markisa berniat memeluk wanita yang amat dicintainya.
Melihat tingkah Amien seperti itu, Royco terlihat menjungkitkan alisnya merasa heran. Lalu berkata, "Saya pria normal, ogah jika harus berpelukan dengan mu, Mien."
"Huuu dasar!" sambung Royco dengan sedikit menoyor jidat Amien yang bak lapangan bola itu.
Wajah Markisa yang tadinya sedih, seketika itu juga ingin tertawa lepas. Namun langsung di tahannya saat melihat kelakuan Amien serta Royco.
"Yaak, harusnya kamu itu bersyukur mempunyai teman seperti saya Roy, wajar jika mendapat pelukan dari kamu. Ini mah malah dapat toyoran jidat." keluh Amien seraya mengusap ngusap jidatnya.
Melihat itu Royco pun langsung tersenyum, seraya memberikan pelukan hangat untuk Amien. Lalu berbisik lirih ke telinga Amien, "Makasih Mien, sudah mau menjadi teman terbaik dalam hidup ku. Saya tidak akan pernah melupakan apa yang telah kamu lakukan ini Mien."
"Sama sama Roy, Saya sangat senang bisa melakukan ini semua." ujar Amien seraya tangannya mengusap lembut punggung Royco.
__ADS_1
Tak lama Royco pun langsung melepaskan pelukannya terhadap Amien, kemudian pergi menghampiri Markisa.
"Dek, kemaren kakak sempat melihat Adek menyimpan benda kecil yang berwarna kuning keemasan. Apa Adek masih menyimpan benda itu?" tanya Royco penuh selidik.
"Benda...? benda apa yah Kak? sungguh aku tak mengerti mengenai benda yang kakak tanyakan itu." terang Markisa yang belum ngeh tentang benda yang dipegangnya kemaren.
"Iya Roy, benda apa yang kamu bicarakan itu?" sambung Amien yang penasaran.
"Itu loh... benda kecil, mirip sebuah keris." terang Royco.
Sontak membuat Markisa langsung terdiam, seraya berpikir keras mencoba mengingat ngingat kembali. Apakah dia mempunyai benda yang sedang ditanyakan Royco itu.
"Oh iya kak, aku baru ingat sekarang. Ada... dan aku masih menyimpannya sampai saat ini. Memangnya kenapa dengan benda itu, Kak?" tanya Markisa penasaran.
"Berikan sama kakak yah benda itu, karena dengan benda itu konon katanya wajah serta tubuh Kakak, akan kembali seperti sedia kala lagi. Jika nanti benda itu disatukan dengan keris yang Kakak pegang ini," terang Royco seraya memamerkan keris sakti yang dia punya, di depan Markisa dan juga Amien.
Melihat keris sakti yang sedang Royco pamerkan, seketika itu juga membuat Amien dan juga Markisa langsung terkesiap hebat.
Apalagi Markisa, dia sampai sok dibuatnya. Saat melihat sendiri keris yang pernah hadir melalui mimpinya itu, kini nyata di lihat oleh matanya.
Markisa pun langsung teringat akan pesan seorang kakek tua yang dulu pernah hadir di mimpinya. Berpesan untuk menjaga sarung keris tersebut. Katanya lagi, akan ada orang sebagai pemilik keris sakti itu, datang untuk mencarinya. Lebih mengejutkannya bagi Markisa, pemilik keris itu akan menjadi jodohnya kelak nanti.
"Ba--ba--bagaimana, keris itu bisa berada di tangan, Kakak?" tanya Markisa terlihat gugup, seraya menatap penuh heran keris yang ada di genggaman tangan Royco. Dia juga ingin memastikan, apa betul pemilik sesungguhnya dari keris itu Royco apa bukan? Mana tahu Royco hanya sekedar menemukan barang keramat tersebut tanpa sengaja.
"Keris ini, kepunyaan Kakak Dek. Dan keris ini,, pemberian kakek buyutku yang hadir melalui mimpi kakak. Dan karena keris ini juga, sampai membuat kakak harus dihukum hingga seperti sekarang ini. Menjadi sosok yang buruk rupa, karena kesalahan kakak yang menyalahgunakan kesaktian nya. Keris ini pula yang menuntun jalan kakak, hingga bisa bertemu denganmu di pondok ini," terang Royco dengan panjang lebar.
"Berarti..." Markisa sejenak terjeda, karena ingin mengeluarkan sarung keris itu dari dalam sakunya yang memang selalu dibawanya kemana-mana, sebagai tanda dia amat menjaga amanat dari kakek tua yang pernah hadir dalam mimpi tapi terkesan nyata itu.
"Biar tidak membuat ku semakin bingung, bagaimana kalau kita satukan keris itu pada tempatnya yang saya pegang ini?" Markisa ingin bukti nyata dari segalah ucapan Royco.
__ADS_1
"Baiklah..." setuju Royco. Tanpa ingin berlama-lama lagi, dia berangsur mendekatkan keris miliknya ke sarung keris punya Markisa.
Dan....Apa yang terjadi?