
"Waalaikumsalam," sahut dari dalam ruangan yang tak lain adalah Pak Kyai. Laki laki yang sudah baya itupun kembali berkata, "Masuklah!" serunya mempersilakan orang yang sudah mengucapkan salam.
Pintu bercat putih itupun dibuka oleh santriwan yang telah mengantarkan Royco dan si Bapak. Terlihat santriwan itupun langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan Pak kyai dengan sopan.
"Pak kyai," sapa santriwan itu dengan tangan kanannya terlihat langsung meraih tangan Pak Kyai kemudian langsung menciumnya.
"Ada apa, Nak?" tanya Pak kyai.
"Maaf, Pak kyai. Ada pria yang sudah baya dan didampingi satu pria buruk rupa, ingin menemui Pak kyai. Apa Pak kyai bersedia menemuinya?" tanya santriwan penuh hormat.
Mendengar itu Pak kyai langsung menjungkitkan alisnya, merasa heran dengan ucapan santrinya yang seakan menghina salah satu tamu yang akan menemuinya.
"Nak, jaga ucapan mu. Jangan sekalipun kamu berkata seperti itu. Perkataanmu barusan itu sama saja dengan kamu menghina makhluk ciptaan tuhan. Baik atau buruknya fisik sesorang, yang berhak menilainya hanya sang pencipta. Kita sebagai makhluk ciptaannya, tak berhak berkata seperti itu," terang Pak kyai.
"Maafkan saya, Pak kyai. Mulut saya tanpa sadar mengucapkan hal buruk itu," ucap santriwan dengan rasa bersalahnya.
"Jangan kamu meminta maaf kepada saya, kamu minta maaflah kepada Tuhan dengan mengucap kalimat istighfar, dan jangan kamu sekali kali lagi mengulanginya," terang Pak kyai membimbing santrinya itu.
"Astaghfirullahalazim... astaghfirullahalazim... astaghfirullahalazim," ucap santri dengan menengadakan tangan serta kepalanya ke atas, memohon ampun atas ucapannya yang salah.
"Semoga Tuhan mengampuni semua dosa dosa mu. Sekarang kamu pergilah, dan bawa masuk tamu tamu itu dengan sopan," pinta Pak kyai.
"Amin. Baik, Pak kyai," jawab santriwan itu. Kemudian berlalu, untuk membawa tamu Pak kyai masuk.
"Silahkan, Pak. Anda sudah diperbolehkan untuk menemui beliau," ucap santri itu mempersilahkan Pak tua dan juga Royco masuk.
Dan dengan sopan santriwan itupun langsung menuntun masuk Pak tua dan juga Royco menemui Pak kyai pemilik dari pondok pesantren itu.
"Assalamualaikum," salam Pak tua untuk Pak kyai saat melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Waalaikumsalam," jawab Pak kyai yang sontak langsung terkejut, saat melihat orang yang mengucap salam itu ternyata salah satu teman sebayanya.
"Khusnadi...?" gumam Pak Kyai yang memanggil Pak tua itu dengan menyebutkan namanya. Dan langsung beranjak menghampiri kawan lamanya, untuk memeluk erat tubuh Pak tua itu.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu? setelah lama tak berjumpa?" tanya Khusnadi saat Pak kyai masih dengan erat memeluk tubuh tuanya.
"Alhamdulillah, akhirnya Tuhan masih memberikan kesempatan kita untuk berjumpa lagi. Saya masih sangat sehat. Kalau kamu sendiri bagaimana, Khus?" tanya Pak Kyai seraya melepaskan pelukannya.
"Sehat! Sama sepertimu," jawab Khusnadi.
"Oh iya, siapa pemuda ini, Khus?" tanya Pak kyai seraya mendelik kearah Royco.
"Namanya, Royco. Dia sudah saya anggap seperti Cucu saya sendiri," ujar Pak tua memperkenalkan. "Ayo, Roy. Beri salam sama Pak Kyai," sambung Pak tua.
Dengan sopan, Royco langsung meraih tangan Pak Kyai, kemudian langsung mencium punggung tangan itu.
"Saya Royco, Pak Kyai. Salam kenal," ucap Royco memperkenalkan dirinya.
"Nak, kenapa tubuhmu bisa seperti ini?" tanya Pak Kyai saat melihat tubuh Royco yang buruk rupa.
"Sa--saya dikutuk, Pak Kyai. Karena dosa besar membuat saya menjadi seperti ini," terang Royco. Matanya terlihat sendu terpancar sebuah sesal, saat teringat akan dosa besar yang pernah dilakukannya.
"Ba--baik, Pak Kyai. Saya mohon bimbingannya, agar hidup saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi," ucap Royco.
Pak Kyai terlihat menggangguk disertai dengan senyuman, mengiyakan akan ucapan Royco yang meminta bimbingan darinya.
"Yusuf, pemuda ini mempunyai keinginan besar untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Degan itu, saya sengaja membawa pemuda ini ketempatmu dan berharap kamu bisa mengizinkannya tinggal di pondok ini, untuk mendapatkan banyak pengetahuan mengenai ilmu Agama," sela Pak tua. Begitu takzim meminta izin pada pak Kyai yang bernama Yusuf.
Belum menjawab, Pak Kyai berjalan pelan dengan memegangi tasbih, seraya berpikir keras untuk menimbang nimbang akan permintaan dari Khusnadi.
"Duduklah terlebih dahulu," kata Pak Kyai mempesilakan keduanya dengan tangannya itu menunjuk sofa.
Royco duduk, begitupun Pak Tua itu.
Setelah menghela nafas, Pak Kyai pun memjawab permintaan sahabatnya.
"Baiklah, saya akan mengijinkan mu tinggal di pondok ini, tapi... bisakah kamu mematuhi segala peraturan yang ada dalam pondok ini?" tanya Pak Kyai ragu akan Royco.
__ADS_1
"Bisa Pak Kyai, saya bisa mematuhi segala peraturan yang ada dalam pondok ini. Saya janji Pak Kyai, saya tidak akan melanggar satupun peraturan yang ada dalam pondok ini." terang Royco dengan antusiasnya seraya meyakinkan Pak Kyai.
"Baiklah, sekarang kamu boleh tinggal di pondok ini. Belajarlah dengan sungguh sungguh agar kelak nanti, kamu bisa menjadi seorang ahli agama yang bisa mengharumkan nama baik pondok pesantren ini." ucap Pak Kyai menaruh harapan lebih pada diri Royco.
"Amin. Terima kasih atas doanya Pak Kyai." ucap Royco terlihat senang.
Pak tua pun langsung menghampiri Royco seraya berucap. "Roy, jangan kecewakan saya. Buat agar orang tua ini bangga, jangan buat pengorbanan orang tua ini menjadi sia sia."
"Pak tua, hiks..." Royco yang langsung menangis seraya memeluk tubuh Pak tua.
"Sudah Roy, jangan menangis. Jangan kamu menjadi pemuda cengeng," ucap Pak tua seraya mengusap punggung Royco memberikan ketabahan untuknya.
Royco pun langsung melepaskan pelukannya, tak lama dia pun langsung mengusap air mata kesedihannya sambil terisak isak.
"Pak tua, terima kasih atas segala kebaikan yang Anda berikan kepada saya. Jika saya tak bertemu dengan Anda, entahlah diri ini akan seperti apa jadinya hiks..." ucap Royco terisak sesekali mengusap air matanya.
"Sudah Roy, jangan berlebihan seperti ini, tak baik. Sekarang jaga diri kamu baik baik Roy, turuti segala nasehat nasehat penting dari gurumu. Dan belajarlah dengan sungguh sunguh, jangan sampai membuat kesalahan yang bisa merusak nama saya juga karena sayalah yang merekomdesikan kamu di sini." Pinta Pak tua.
"Min," panggil Pak Kyai kepada salah satu santrinya yang setia berdiri dalam diamnya.
"Saya, Pak Kyai," jawab santri itu yang bernama Amin.
"Tolong kamu bimbing Royco, dan tempatkan dia satu kamar denganmu. Pergilah sekarang," titah Pak Kyai.
"Ba--baik, Pak Kyai," setuju Amin terlihat ragu karena merasa aneh pada tubuh Royco.
Karena sungguh sangat sulit bagi Amin, bisa membantah perintah Pak Kyai, meskipun rasa keberatan yang sangat besar yang harus sekamar dengan Royco yang buruk rupa itu.
"Sudahlah, apa boleh buat ini perintah telak," keluh Amin dalam hatinya.
"Mari Roy, saya antar kamu ke kamar," ajak Amin terhadap Royco.
Setelah pamit kepada Pak tua dan Pak Kyai, Royco pun berlalu mengikuti langkah Amin, dengan wajah terus tertunduk ke lantai, karena di sela langkahnya selalu mendapat tatapan jijik nan tidak bersahabat dari para santri lainnya.
__ADS_1