HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 53


__ADS_3

Tak lama pria tua itu pun terbangun dari tidurnya. Keringat sebesar biji merica dia hela dari keningnya.


"Inikah mimpi yang terlihat nyata itu?" lirihnya di atas tempat tidur sederhana tersebut.


Pak tua itu pun turun dari kasur, bermaksud menghampiri Royco di kamarnya, di jam yang masih di sepertiga malam itu.


Ceklek


Perlahan pria tua itu membuka pintu kamar Royco.


Royco yang belum tertidur di jam tersebut dibuat terkejut akan kedaatangan pak tua itu.


"Pak," sapa Royco.


" Belum tidur?" tanya pak tua.


"Tidak bisa tidur, Pak." sahut Royco seraya menarik tubuhnya untuk duduk di tepi kasur.


Pak tua itu pun, ikut duduk di sisi Royco.


"Kenapa kamu tidak bisa tidur? apakah kamu masih memikirkan keris itu?" tanya Pak tua dengan menebak nebak.


"Iya Pak, sebab saya ingin bisa cepat sembuh dari penyakit kutukkan ini, karena syarat untuk bisa sembuh dari penyakit kutukkan ini, hanyalah dengan mendapatkan kembali keris itu kemudian menyatukannya bersama sarungnya." terang Royco jujur.


Untuk sesaat Pak tua itu langsung terdiam, dalam hatinya merasa iba melihat sekujur tubuh Royco di penuhi banyak bisul bernanah.


"kasihan sekali kamu Dek, saya akan membantumu sesuai dengan keinginan dari kakek buyutmu." batin pria tua itu.


"Baiklah saya akan memberikan keris itu, tapi... saya minta syarat dari kamu. Apakah kamu sanggup apapun itu syaratnya?" tanya Pak tua akan kesediaan Royco.


"Bersedia," jawab Royco cepat tanpa berfikir dahulu. "Apa syaratnya?" sambung Royco.


"Kamu hanya perlu mengembalakan semua hewan ternak milik saya, setelah itu, baru saya akan memberikan keris itu padamu." terang Pria tua itu.


"Baiklah Pak tua, sesuai keinginanmu. Saya akan mengembalakan semua hewan ternak milikmu, demi bisa terbebas dari penyakit kutukan ini. Apapun itu, asalkan tubuh saya bisa kembali sembuh," ucap Royco antusias.

__ADS_1


Melihat hal itu. Pak tua itupun terlihat senang, senyum bangga terpancar langsung pada bibirnya, saat mata tua itu, melihat kesungguhan hati dari Royco yang bersedia menerima syarat yang telah di berikan olehnya.


...****...


Siang hari itu, selepas menjalankan sholat dzuhur, terlihat Royco berjalan mendekati kandang hewan ternak milik Pak tua. Segerombolan kambing ternak milik Pak tua, mulai Royco keluarkan dari dalam kandangnya.


"Pak tua, saya pamit pergi untuk menggembalakan kambing kambing ini." teriak Royco yang akan pergi.


"Iya, pergilah! Tapi ingat, jangan sampai ada satu ekor kambing pun yang hilang. Kalau ada, saya tidak akan memberikan keris itu padamu." teriak Pak tua.


Mbeee...mbeee...mbe. Suara terdengar saling sahut menyahut, saat semua kambing kambing itu digiring oleh Royco menuju ke padang rumput yang sangat hijau.


Sesampainya di padang rumput itu, terlihat Royco membiarkan begitu saja semua kambing kambing itu, memakan rumput rumput yang tumbuh liar di padang itu.


"Hey, buruk rupa! jangan sampai kambing kambingmu masuk kedalam lahan singkong milik saya, kalau sampai ada satu ekor saja kambing kamu yang masuk. Saya akan menyembelih kambingmu langsung dihadapanmu, kamu paham itu?!" seru salah seorang petani dengan mengacungkan sebilah golok.


Gluk...


Royco langsung menelan ludahnya, hingga terlihat jakunnya naik turun sedikit takut akan ancaman petani itu.


"waduh, ngeri amat ya!" batinnya dibuat takut akan ancaman sadis dari si Bapak.


Saat sedang asyik mengembala, Royco tiba tiba terhipnotis akan sayup sayup suara merdu, orang yang sedang melantungkan ayat ayat suci alquran.


Penasaran, akan suara itu berasal dari mana? mata Royco pun menggerlya ke sana kemari untuk mencari asal suara merdu tersebut.


"Bangunan apa tuh?" tanyanya sendiri saat matanya melihat bangunan tinggi, lain dari pada bangunan lain yang ada pada sekitarnya.


Mata Royco tak henti hentinya menatap terus ke arah bangunan tinggi itu, hingga tiba tiba saja timbul dorongan yang sangat kuat, menyuruhnya untuk menghampiri tempat itu.


"Aneh, kenapa hati ini seakan akan menyuruh saya untuk menghampiri tempat itu? ada apa di tempat itu yah?" tanyanya sendiri dalam hatinya.


Mbeee...mbee...mbe....


Sontak, suara kambing tersebut menyadarkan lamunannya.

__ADS_1


"Hais, saya 'kan sedang mengembala, tidak mungkin saya melalaikan tugas saya demi rasa penasaran ke bangunan itu. Yang ada nanti pak tua bisa kehilangan kambingnya.


Untuk sesaat Royco langsung menepis keinginan itu, dan kembali fokus menjaga kambing yang sedang digembalakannya.


Dirasa semua kambing kambing itu tidak mengganggu tanaman orang, Royco memutuskan mencari tempat untuk beristirahat.


Dilihatlah pohon besar nan rindang tak jauh dari tempatnya berdiri, Royco pun langsung menghampirinya kemudian menyandarkan tubuhnya ke batang pohon tersebut.


"Ahhh, biarlah saya mengawasi kambing kambing itu dari sini saja. Sekalian meneduh dari terik matahari yang seakan membakar kulit yang penuh bisul ini." gumam Royco.


Beberapa menit meneduh, mata itu seakan akan terhipnotis oleh rasa ngantuk yang ditimbulkan oleh angin sepoi sepoi.


Perlahan mata itu pun kian berat saja, hingga keseluruhan netranya terpejam nyaman, melupakan kambing kambing yang sedang digembalanya.


Kak Roy!


Dugh...


"Markisa!"


Baru beberapa menit terpejam, Royco pun terganggu dan terkesiap hingga tubuhnya terjatuh ke samping. Pendengarannya itu seakan akan ada suara Markisa yang amat nyata terdengar memanggil namanya.


"Markisa, bagaimana kabarmu? kita sudah lama tidak berjumpa, aku merindukanmu. Di manakah dirimu sekarang?" lirihnya yang seraya mendongak ke atas langit yang cerah.


"Entah, kamu masih ingat denganku atau sudah melupakanku? Yang jelas, aku masih setia akan perasaan cinta ini," ucapnya lagi.


"Tapi, apakah kamu masih mau bersamaku, bila mana mengetahui keadaanku yang sekarang buruk rupa ini?" Royco inscure sendiri dengan luka lukanya. Bibir itupun tersenyum kecut, dan berkata kemudian, "Jelas, kamu pasti tidak akan menerima orang buruk rupa yang tidak bisa dibanggakan dari segimanapun."


Saat sibuk berandai andai sendiri terhadap Markisa. Suara lantunan ayat suci yang dibawakan oleh seorang perempuan, kembali terdengar.


"Kenapa suara itu sangat menyejukkan hatiku? Rasa ini, sangat damai nan tentram mendengarnya. Dan kenapa kaki ku seakan akan terhipnotis ingin melangkah pergi ke sana? sebenarnya ada apa? dan siapa pemilik suara itu?" berbagai macam pertanyaan langsung muncul di benak Royco, saat suara itu kembali terdengar sampai ke telinganya.


Mbee...mbee...mbeee.


"Ahh, sial! kambing kambing itu?" umpat Royco saat mengetahui semua kambing yang digembalanya, mencoba pergi menuju lahan singkong milik petani yang sudah mengancaamnya.

__ADS_1


Dengan sangat cepat Royco pun berlari untuk menahannya.


"Hay, kambing.... stop! jangan pergi kesitu!" teriak Royco sambil berlari menuju ke arah kambing kambingnya.


__ADS_2