HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 63


__ADS_3

"Roy... sebaiknya kita langsung pergi mandi yuk! agar kita bisa langsung pergi ke masjid sebelum terlambat nanti." Ajak Amien yang kemudian beranjak turun menggapai handuknya. Begitupun Royco yang terlihat langsung mengangguk setuju, dan melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Amien.


Setelah itu, tak lama.... Royco dan juga Amien melangkah keluar dari kamar, seraya menutup kasar daun pintu itu seakan dengan sengaja memancing kemarahan Syarif.


Brakk...


Sontak membuat Syarif langsung terkejut dan kesal.


"Hei! bisa pelan nggak sih?! seru Syarif yang merasa dongkol oleh tingkah Amien serta Royco. "Dasar buruk rupa! awas yah kalian berdua! saya akan membalas perlakuan ini. Lihat saja nanti!" sambungnya dengan nada mengancam.


"Hik... hik... hik... rasain! makan tuh daun pintu." Di luar kamar Amien tertawa senang, melihat Syarif yang sangat marah.


"Heemmmm...." Royco berdehem. seraya mengalihkan perhatian Amien agar tertuju padanya.


"Kenapa Roy? ada yang salah dengan sikap ku?" tanya Amien seraya menatap wajah Royco dengan heran.


"Kamu senang Mien, membuat Syarif marah lagi?" tanya Royco menggeleng geleng kepala yang seakan akan tidak setuju dengan tingkah iseng Amien.


"Yuk, ah...kita ngantri kamar mandinya. Nanti bisa telat ke masjidnya," kata Amien mengalihkan mengabaikan pertanyaan Royco.


Royco hanya menghela nafas pelan seraya mengekori Amein.


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di depan kamar mandi yang tersekat berjejer banyak. Antrian santri santri lain terlihat panjang. Royco mengantri paling belakang yang memilih kamar mandi paling ujung. Sedang Amien memilih kamar mandi paling tengah.


"Jangan lama lama dong!"


"Woy, pengen BAB nih, buru dong!"


Dor...


Dor...


"Di dalam sana, siapa sih? mandi apa tidur? kok tidak ada suara percikan airnya?"


Banyak lagi keluhan keluhan santri yang sedang mengantri, di depan pintu demi pintu kamar mandi yang berjumlah lima belas pintu tersebut.


Royco pun melirik ke arah Amien, yang sama saja mengeluh tidak sabaran ingin segera dapat bagian.

__ADS_1


'Ternyata, santri itu tidaklah sesabar perkiraanku. Mereka masih labil dalam berperilaku," batin Royco yang tidak sesuai ekspektasi nya. Dia kira semua santri yang sudah banyak belajar ilmu Agama itu, selalu berperilaku baik. Hm....Manusiawi, benar kata Pak tua, kalau tidak ada orang yang sempurna. Semuanya mempunyai kekurangan dan kesalahan serta kelebihannya. Royco kembali bergumam.


Hingga pada akhirnya, dia pun mendapat kesempatan untuk masuk ke kamar mandi tersebut.


Amien sudah dari tadi bebersih tubuh yang hanya mandi bebek karena waktu kian mepet memburunya.


"Royco uda selesai apa belum ya? Ah, nanti juga pasti menyusul," lirihnya. Kemudian, dia pun berlalu.


"Bagus!" Kepergian Amien dan semua santri di kamar mandi tersebut. Syarief mendekati tempat itu. Dia tersenyum devil ke pintu coklat i yang digunakan Royco.


"Mampus! telat telat deh kamu, dan siap siap dapat hukuman dari Pak Ustadz." Syarief mengunci pintu itu dari luar tanpa sepengetahuan orang lain, apalagi Royco yang sedang bersiap siap memakai bajunya di dalam sana.


Syarief pun pergi setelah menjahili Royco.


"Kok...?" Royco di dalam sana kebingungan karena pintu tidak bisa terbuka.


"Apa ada orang di luar? tolong bukain!" pekik Royco seraya menarik narik gagang pintu itu dari dalam.


"Astagfirullah, apa ada yang iseng kah? atau memang karena pintunya macet?" Royco bertanya tanya sendiri seraya mencari cara untuk keluar dari ruangan tertutup tanpa ada celah untuk keluar. Di atas sana pun sangat rapat. Bagaimana dong?


"Amien? Amien? siapapun, tolong bukain?"


Royco berteriak seraya menggedor kencang daun pintu itu.


Dari arah lain, ada pak Ustadz Leman yang lewat dengan jalan terburu buru seperti sedang dikejar kejar waktu.


"Ah, BABnya di kamar mandi santri ajalah yang dekat." Ustadz Leman pun berjalan menuju kamar mandi dimana ada Royco pun masih kesulitan ingin keluar dari ruangan sempit itu.


"Tolong!" braak braak... "Royco memukul mukul daun pintu itu dengan telapak tangannya. Sangat keras!


"Tolong...!" pekik nya lagi.


"Tol---"


"Siapa? dan kenapa ---eh kok di ikat dari luar?" Pak Ustadz Leman segera melepas tali yang membelenggu pintu tersebut setelah menyadari keanehan tali itu.


"Alhamdulillah..." Royco mengelus dadanya sebagai tanda syukur nya. "Terima kasih, Pak Ustadz." lanjutnya kemudian.

__ADS_1


"Sama sama. Tapi, siapa yang iseng terhadap mu?"


Royco menggeleng tidak tahu.


"Aduh," hasrat poop Pak Ustadz Leman sudah di ujung tanduk. "Nanti, Roy. Saya..." saking tidak tahannya, Pak Ustadz sampai menjeda ucapan nya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Royco tersenyum tipis di buatnya. "Aku telat nggak ya ke masjid nya?" Royco bertanya tanya sendiri seraya berlari cepat.


Sampai di area masjid besar itu, Royco di buat bengong. Banyak juga santri dan santriwatinya yang sudah pada menjalankan kewajibannya.


"Ahhh... saya telat deh. Entah hukuman apa yang telah menanti saya?" gumam Royco.


Royco hanya berdiri diam, seraya menatap satu persatu sastrawan dan, juga santriwati yang telah selesai menjalankan sholat sunah berjamaah. Sambil berfikir keras hukuman apa yang dia dapat karena tidak menjalankan aturan yang ada dalam pondok pesantren.


Pasrah, itulah kata yang sempat terlontar dari bibir Royco, saat semua santriwan dan juga santriwati mulai pergi meninggalkan area masjid besar yang ada di pondok menuju pendopo khusus untuk mengaji bersama. Namun, tentu saja santriwati dan santriwan terpisah pendoponya.


"Astaga! apa saya tidak salah lihat?" guman Royco yang tetiba melihat seorang santriwati, yang tak asing dalam penglihatannya.


Untuk menyakinkan, Royco pun sampai beberapa kali mengusap ngusap kedua matanya, untuk memastikan dengan benar wajah seorang santriwati itu.


"Markisa...? apakah itu benar kamu?" Royco bertanya sendiri saat melihat dari ke jauhan, sesosok wanita yang selama ini tinggal dan menetap di relung hatinya.


Sontak kaki itu terlihat reflek melangkah, ingin menghampiri Markisa. Sosok kekasih hati yang baru pertama kali lagi di lihatnya, setelah sekian lamanya.


"Tapi... "


Royco tetiba menghentikan langkahnya dalam menghampiri Markisa, yang terlihat sibuk mencari alas kakinya.


"Tapi... dengan wajah buruk rupa ini, apakah Markisa mengenaliku? atau mungkin dia malah ketakutan saat melihat wajah yang sangat menyeramkan ini?" Royco bertanya tanya sendiri dalam ke-insecure-nya.


"Pasti! Markisa tentu saja ketakutan seperti Madu dikala itu yang sampai tega mengatai saya setan."


Perlahan, kaki Royco mundur pelan. Bibirnya tersenyum kecut, tatkala menyadari betapa buruknya dia saat ini.


Dalam hati, rasanya Royco ingin bertegur sapa ke wanita yang selama ini sudah memenuhi hati dan otaknya. Namun, tentu dia sadar diri dengan keadaannya.


Bugh...

__ADS_1


"Aduh...Roy, kamu pikir punggung mu ada matanya, hah? seenaknya saja nabrak orang. Dasar buruk rupa, jelek!"


__ADS_2