
Setelah berfikir sangat keras, akhirnya Briptu itu pun mengijinkan Royco turun dari mobilnya untuk menuruti keinginan Royco dalam membuang air pipis.
"Baiklah, saya akan mengijinkan mu turun dari mobil ini. Tapi ingat yah, jangan pernah Anda mencoba-coba untuk kabur dari saya. Kalau Anda kabur, sampai ke lubang semut pun saya pasti akan mengejarmu." ucap Briptu dengan mengancam.
"Waduh sial ! ternyata polisi itu bisa mengendus keniatan ku." batin Royco
"E--nggak lah Pak, ngapain juga saya kabur?" ujar Royco dengan gugup.
"Yasudah cepat turun! dan jangan lama-lama!" seru Briptu itu.
Royco pun langsung turun, dan melangkah pergi meninggalkan mobil itu menuju ke semaka-semak. Dan di susul Briptu juga yang ikut turun dan mengekor di belakang Royco, berharap tahanan nya akan bisa terpantau olehnya.
Di malam yang gelap gulita itu, dengan hanya mengandalkan sedikit penerangan dari sang rembulan. Terlihat Royco sedang membuang air pipisnya di balik pohon besar namun dengan tetiba saja, hati kecilnya merasa ragu untuk kabur dari Briptu itu.
Ayo, Roy kabur saja! ngapain kamu terus menanggung kesalahan yang kamu tidak lakukan? mau kamu? jika seumur hidupmu membusuk dalam penjara itu. Tidak 'kan? batin itu terus menyuruh Royco untuk kabur.
Sejenak Royco berfikir, apakah dia harus menuruti saja bisikan dalam hatinya untuk kabur. Atau akan tetap tinggal dan terus menanggung kesalahan yang tak pernah dia lakukannya.
"Hey, sudah belum? lama amat sih buang air nya?" seru Briptu yang tidak sabaran.
"Ahh, kalau saya tidak kabur sekarang, bagaimana cara untuk mencari keberadaan keris dan juga sarungnya itu? sehingga saya bisa sembuh dari penyakit kutukan yang kakek berikan? baiklah, demi bisa mencari keris itu dan demi bisa sembuh dari penyakit ini, saya harus kabur mumpung ada kesempatan." batin Royco.
"Belum Pak, sedikit lagi nih." jawab Royco.
Akhirnya demi bisa mencari keris dan juga bisa sembuh dari penyakit kutukan yang di berikan oleh Kakek buyutnya, dengan memantapkan hatinya Royco pun akhirnya berencan untuk kabur dari Briptu itu.
Disaat Briptu itu lengah, dan tidak lagi mengawasi dirinya. Royco pun sedikit demi sedikit pergi meninggalkan Briptu itu, namun sayangnya bunyi langkah Kaki Royco mampu di dengar sangat baik oleh Briptu itu.
"Hey, tunggu! kamu jangan coba-coba lari dari saya!" seru sang Briptu.
Namun, bagi Royco dirinya sudah kepalang basah. Demi bisa mencari keris dan demi bisa sembuh dari penyakit kutukannya itu. Mau nggak mau dirinya harus kabur dari Briptu itu, meskipun Briptu itu telah memberi peringatan kepadanya.
"Hey, jangan bergerak! Berhenti sekarang! kalau tidak berhenti, terpaksa saya akan melepaskan tembakan kearah tubuh mu." Ancam sang Briptu, dengan siap-siap menarik pelatuk pistolnya.
__ADS_1
Namun Royco terlihat terus berlari, menjauh dari kejaran Briptu itu. Sang Briptu pun tak tianggal diam, dia juga terus berlari mengejar Royco seraya terus meneriakan ancaman untuk menembak.
"Hey, tunggu! jangan bergerak!"
Dor...
Satu tembakan keatas, sebagai tanda peringatan untuk Royco. Agar dirinya bisa berhenti sebelum timah panas yang kedua bersarang mengenai anggota tubuhnya.
Namun tembakan yang di lepaskan oleh Briptu itu, sedikit pun tak bisa menurunkan mental Royco untuk bisa kabur. Royco masih terus saja berlari sekuat tenaganya demi bisa lepas dari kejaran Briptu itu.
Tak mau kehilangan buruannya, sang Briptu pun langsung memasang kuda-kudanya. Dan dengan keahlian yang di punyai, sang Briptu lantas membidik kaki Royco.
Dorr...
Gubrakk...
Royco dengan sekejap langsung tersungkur jatuh ke semak-semak, saat dengan sekejap tembakan yang di lepaskan Briptu itu langsung bersarang tepat mengenai kaki Royco.
"Auw, sakit!" pekik Royco dan langsung berusaha untuk bisa berdiri lagi.
Briptu itupun tidak mau menyerah, dengan tenaga primanya, ia terus mengejar Royco di tengah gelapnya malam.
"Sial! kemana tahanan itu?"
Sang Briptu itu mengerang marah, dia kehilangan jejak Royco.
"Cepat amat larinya, padahal kan dia itu terluka."
Briptu itu mengambil jalan utara, di mana Royco sebenarnya bersembunyi di semak semak yang akan di tuju sang polisi.
" Jangan sampai tertangkap, Tuhan." Doa Royco dalam hati. Dia menahan nafas serta rasa nyeri luka tembak itu, di saat Brtiptu tersebut berdiri tepat di sebelah semak semak yang menjadi persembuyiannya.
"Awas saja tertangkap! aku akan memberimu isolasi yang setimpal." ucap polisi itu dengan langkah menjauhi tempat persebunyian Royco.
__ADS_1
Akhirnya, Royco pun menghela nafas leganya. "Aku harus pergi jauh jauh dari sini sebelum polisi itu bisa menangkap saya," lirihnya.
Dengan kaki terpincang pincang, Royco berjalan terus ke arah barat.
Lama kelamaan, kaki yang tertembak itu semakin membuat tubuhnya serasa lemas. Tak sanggup lagi untuk di bawah berjalan jauh.
Panas serta dingin dengan sekejap langsung menyerang tubuh Royco, karena virus akibat luka tembak itu sedang berkelahi dengan anti body yang ada di dalam tubuh Royco.
Sehingga membuat suhu tubuh Royco langsung naik yang mengakibatkan demam tinggi pada seluruh tubuhnya.
"Oh, ya tuhan. Tolong saya, saya sudah tidak kuat lagi." lirihnya dengan menggigil kedinginan. Seraya menyandarkan tubuh lemasnya pada pohon besar.
"Auw, sakit. Haa haa haa," pekik Royco di saat dirinya memindahkan kaki yang kena tembak ke posisi yang lain.
Dan dengan sedikit menyobek kain yang sedang di pakainya itu, Royco langsung mengikatkan kain itu pada kaki yang terkena tembak. Berharap dengan itu darah akan berhenti mengalir, sehingga dia pun tidak akan kehilangan banyak darah.
"Tolong..." teriak Royco dengan suara seraknya.
Namun gelapnya malam, dan hutan yang begitu sangat luas. Suara itu tak mampu memanggil satu warga pun untuk bisa menghampiri serta menolong dirinya, karena letak hutan yang jauh sekali dari tempat permukiman tempat tinggal para warga.
Sementara sang Briptu, terlihat sudah kembali lagi kedalam mobilnya. Dia pun seakan dibuat menyerah oleh Royco, karena gelapnya malam serta lebatnya semak-semak membuat sang Briptu sangat kesulitan dalam mencari keberadaan Royco.
"Ah, sial! ternyata pria itu mengibuli saya. Bagaiman memberitahukan tentang hal ini kepada atasan nanti? bisa-bisa saya kena semprot karena lalai dalam menjalankan tugas, apes sungguh apes nasib saya. Coba saja, saya tidak tertipu sama tahanan itu." Sang Briptu yang terus meracau menyesali kelalaiannya.
Terlihat sang Briptu pun, langsung menjalankan mobilnya untuk pergi meninggalkan hutan itu menuju ke kantornya lagi. Dan mungkin esok pagi, baru dia akan melaporkan tentang kaburnya tahanan yang bernama Royco ke sang atasan.
Mohon beri kritik yang membangun, bukan kritik yang menjatuhkan mental author.
Karena susah payah author membuat cerita ini, jadi mohon hargai. Selama ini kan author nggak pernah minta like komen vote dan gift, dari kalian. Jadi kalau kalian tidak suka sama karya author tinggalkan saja, nggak usah komen yang menjatuhkan mental author.
Untuk yang masih setia mendukung karya author, mohon maaf author nggak bisa rajin up. Karena author sibuk kerja di dunia nyata, author hanya mempunyai sedikit waktu untuk menulis.
Untuk para readrs setia, menurut kalian author lanjutin cerita ini? apa di hiatus saja? author tunggu jawabannya pada kolom komentar.
__ADS_1
maksih...